Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Permainan Kata Part 3


__ADS_3

"Toko itu memang milik istri Anda, Pak Adit. Dia dan ibu mertuanya memulai bisnisnya, setelah berhasil menjual rumah yang Anda berikan pada Aini sebagai harta gono gini, dua tahun lalu. Anda tidak tahu itu, bukan?"


"Anda jangan bercanda, Pak Ardi! Ratri tak mungkin melakukan itu."


"Tanyakan sendiri pada istri Anda!" Sahut Ardi makin kesal.


Adit segera menoleh pada Ratri, yang terlihat jelas di layar, sedang tertunduk diam.


"Yang dikatakan pak Ardi, tidak benar bukan, Rat?" Tanya Adit segera.


Ratri masih tetap diam.


"Anda pasti memfitnah istri saya, Pak Ardi. Anda ingin membalas perbuatannya pada Aini, bukan?" Tuduh Adit kesal.


"Saya? Apa untungnya bagi saya memfitnah istri Anda?" Jawab Ardi sedikit santai.


"Tapi, Anda lihat sendiri. Istri saya tidak menjawabnya. Itu berarti tidak benar. Dan lagi pula, dari mana Anda mendapatkan informasi sepert itu? Pasti hanya karangan Anda sendiri bukan? Demi bisa menyudutkan dan menyalahkan istri saya."


"Saya memang memiliki sisi gelap, Pak Adit. Tapi saya tidak sepicik itu, hanya demi menjatuhkan seseorang." Aku Ardi tanpa ragu.


"Jika memang begitu, dari mana Anda mendapat informasi itu? Pasi dari orang yang tidak dapat dipercaya bukan? Dan para karyawan tadi, Anda bayar untuk mengatakan itu tadi."


"Pak Adit, Pak Adit! Bisa-bisanya Anda berpikiran sejauh itu." Cibir Ardi heran.


"Anda yang memulai, Pak Ardi."


"Anda pasti mengenali bu Ratna dan pak Imron, bukan?" Sahut Ardi serius.


"Maksud Anda, kakak perempuan Aini dan suaminya? Iya, saya mengenalnya. Apa jangan-jangan, Anda mendapatkan informasi itu dari mereka?"


"Iya. Saya mendapatkan informasi itu dari mereka. Mereka mengaku, jika Aini yang mangatakan hal itu. Dan itu didapat Aini, dari Umar, yang pernah diajak oleh bu Ratri mengunjungi toko untuk urusan toko."


"Apa? Umar?"


"Iya. Anak buah saya juga telah memastikannya, bahwa itu adalah toko milik istri Anda. Dan rumah yang Anda berikan pada Aini dulu, sudah berganti nama pemiliknya saat ini. Sesuai nama orang yang telah membelinya."


Adit terdiam. Ia lalu kembali menoleh pada Ratri dan kembali kesal karena Ratri masih tetap tertunduk.


"Ratri, jawab aku! Yang dikatakan pak Ardi tadi tidak benar, bukan?" Marah Adit.


Ardi jelas tersenyum puas melihat adegan itu. Ia perlahan-lahan, berhasil membongkar semua hal yang telah menyudutkan Aini tanpa ampun.


"Ratri!" Teriak Adit makin keras.


Ratri yang tertunduk pun, sampai berjingkat karena terkejut. Ia lalu mengangguk pelan, tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Apa maksudmu?" Bentak Adit.


Ratri hanya mengangguk lagi.


"Apa yang dikatakan pak Ardi tadi benar semua?" Cecar Adit marah.


Ratri masih tetap tertunduk, dan kembali mengangguk.


"Kamu dan ibu merebut rumah itu dari Aini? Rumah yang aku berikan untuk Umar?" Tanya Adit tak percaya.


Ratri tak menjawab.


"Kenapa kalian melakukan itu? Dan kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar itu dariku, Rat?" Tanya Adit putus asa.


"Jelas dia menyembunyikan hal itu dari Anda, Pak Adit. Karena jika dia memberitahukannya pada Anda, jelas Anda akan menanyakan dari mana ia mendapatkan uang untuk memulai usahanya itu. Dan ia tak mau, jika sampai Anda tahu, bahwa uang itu adalah uang hasil penjualan rumah lama kalian."

__ADS_1


Ardi menjeda ucapannya. "Bukan begitu, Bu Ratri?"


Adit dengan ragu memikirkan setiap kata yang Ardi ucapkan. Dan jelas, yang diucapkan Ardi tadi sangat masuk akal.


"Tadi Anda mengatakan, Aini menjual Umar pada neneknya, demi biaya rumah sakit ibunya saat itu, bukan?" Imbuh Ardi lagi.


"Apa Anda tahu, bagaimana cerita sebenarnya? Aku rasa, Anda jelas tidak tahu tentang itu." Cibir Ardi.


Adit makin kebingungan. Ia pun akhirnya tak menjawab Ardi.


"Asal Anda tahu, Pak Adit! Aini tak pernah menjual Umar pada neneknya. Karena dia juga diminta oleh ibu kandung Anda, untuk mengganti uang yang Anda bayarkan untuk biaya rumah sakit mantan mertua Anda dahulu."


"Ibu kandung Anda dulu memberikan pilihan pada Aini. Jika ia ingin ibunya selamat, ia harus bercerai dan merelakan Umar bersama Anda, dan ibu Anda yang akan menjamin biaya rumah sakit. Atau, jika ia ingin bersama dengan Umar, maka ibunya tak akan tertolong saat itu, karena uang yang Aini miliki tidak cukup untuk biaya operasi ibunya saat itu."


"Aini berpikir, saat itu Umar masih balita, jelas hak asuh akan jatuh ke tangannya. Jadi, ia menyetujui tawaran ibu Anda. Tapi diluar dugaan. Anda merebut hak asuh Umar dan bahkan, ibu Anda juga meminta uang biaya rumah sakit diganti oleh Aini."


"Pada akhirnya, ia harus merelakan tabungan yang ia miliki selama ini, dan bahkan, ia juga masih harus mencicilnya setiap bulan untuk melunasi uang itu selama dua tahun terakhir. Karena tabungan miliknya, tidaklah cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit ibunya saat itu." Jelas Ardi lagi.


"Apa maksud, Anda?" Tanya Adit makin bingung.


"Kenapa Anda mendadak jadi bodoh, Pak Adit?" Ejek Ardi.


"Setelah Umar hak asuhnya jatuh ke tangan Anda, ibu dan istri Anda pasti berpikir, bahwa Aini tidak berhak mendapatkan rumah dan uang itu begitu saja. Jadi, mereka meminta kembali rumah itu, beserta uang yang Anda bayarkan untuk biaya rumah sakit. Dengan rayuan, bahwa Aini tetap bisa menemui Umar kapanpun dia mau."


"Tapi nyatanya, tidak. Anda melarang Aini menemui Umar meski hanya sebentar. Secara tidak langsung, Anda telah memisahkan seorang anak dari ibunya. Seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang ibu kandungnya."


Adit terdiam. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang diucapkan Ardi tadi. Karena, ia tak pernah berpikir sejauh itu sampai sekarang. Ia hanya tahu, Aini mengkhianatinya dan bahkan berusaha merebut Umar darinya. Jadi, ia berusaha melindungi Umar dari Aini.


"Anda juga pernah berkata pada saya, Pak Adit. Aini adalah penyebab ayah Anda meninggal dunia, karena dia merebut Umar dari Anda. Benar, bukan?"


"Tapi apa Anda sadar, sebenarnya, Andalah yang menyebabkan ayah Anda meninggal secara perlahan?"


"Kenapa? Apa Anda tidak percaya?" Remeh Ardi.


"Anda mungkin lupa, bagaimana Anda melakukan segala cara agar bisa dekat dengan Umar, bukan? Anda bahkan membuat bukti palsu, agar hakim menjatuhkan hak asuh Umar pada Anda saat itu. Dan itu jugalah yang Aini lakukan. Ia hanya ingin bisa bersama dengan putranya yang telah dipisahkan secara paksa darinya, karena ketidakberdayaannya saat itu."


"Pengadilan saja memutuskan untuk tetap mengijinkan Aini menemui Umar. Tapi Anda malah melarangnya dengan keras. Jadi, bukan salah Aini jika ia menggunakan cara lain agar tetap bisa bertemu dengan Umar. Termasuk dengan cara yang tidak Anda duga, menemuinya diam-diam di sekolah."


"Aini hanya seorang ibu biasa, Pak Adit. Yang ingin bertemu dan bersama dengan putranya. Kalau saja Anda tidak melarangnya menemui Umar saat itu, mungkin Aini tidak akan menyetujui penawaran saya saat itu. Penawaran yang cukup gila pastinya."


Ardi menyeringai kecil menatap Adit.


"Saya menawarinya hak asuh Umar kembali ke tangannya. Dengan imbalan, dia bersedia menjual tubuhnya. Atau lebih tepatnya, salah satu bagian tubuhnya, untuk didonorkan pada putra saya, Kenzo."


Keempat orang yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama itu, akhirnya menatap Ardi dengan penuh keterkejutan. Mereka tak menyangka, Aini melakukan perjanjian seperti itu dengan Ardi.


"Ya. Putraku mengidap sebuah penyakit sejak ia masih kecil. Dan sayangnya, orang yang seharusnya bisa menolongnya sebagai pendonor, tak mau melakukan itu, demi mengejar karirnya. Bukan begitu, Liv?" Remeh Ardi.


"Aku mau, Mas. Aku mau jadi pendonor buat Kenzo, Mas. Makanya aku kembali." Bela Oliv cepat.


"Iya. Sekarang kamu mau, setelah aku dapat pendonor yang cocok untuk Kenzo. Tapi sayangnya, aku sudah tidak lagi tertarik dengan hal itu. Karena, aku tahu, maksudmu kembali pada Kenzo hingga mau menjadi pendonor untuk Kenzo." Jawab Ardi sinis.


"Aku tulus Mas, mau menjadi pendonor untuk Kenzo. Aku sadar, aku melakukan kesalahan karena dulu menolak untuk menjadi pendonor untuk putraku sendiri. Aku sekarang sudah sadar, Mas." Bantah Oliv dengan wajah setulus mungkin.


"Benarkah? Bukankah kamu kembali karena ingin menjadi istriku lagi? Karena karirmu jatuh, setelah skandal perselingkuhanmu dengan salah seorang produser diketahui publik, hingga membuatmu tak laku lagi menjadi seorang model. Dan bahkan, kamu juga harus membayar penalti dari sebuah brand yang sudah kamu tandatangani. Kamu hanya butuh ATM berjalan, yang bisa kamu manfaatkan untuk memenuhi semua kehidupan glamormu. Bukan begitu?" Tuduh Ardi santai.


"Ap,, apa maksudmu, Mas? Aku tak pernah berpikiran seperti itu." Bantah Oliv gelagapan.


"Terserah. Tapi satu hal yang pasti, aku tak akan mau lagi kembali padamu. Dan bahkan, putramu saja sudah tak lagi mengharapkanmu seperti dulu. Karena dia sudah memiliki seseorang yang begitu tulus menerima segala yang ada pada dirinya. Tanpa tahu, dia adalah putraku." Jawab Ardi tegas.


Oliv tak lagi dapat membantah. Ia tak mengira, Ardi bisa tahu maksud hatinya yang sebenarnya. Ia juga tak menyangka, bahwa Aini awalnya tak tahu, jika Kenzo adalah putra dari seorang Ardiansyah El Baraja.

__ADS_1


Ardi lalu kembali menoleh pada Adit yang masih memikirkan semua ucapan Ardi tadi.


"Bagaimana, Pak Adit? Apa Anda sekarang sudah menyadarinya? Andalah penjahat yang sebenarnya di sini." Tegas Ardi penuh penekanan.


Adit masih terdiam.


"Anda terlalu mudah mempercayai ucapan ibu dan istri Anda, hingga melupakan fakta, bahwa ibu Anda tidak menyukai Aini sejak dulu. Dan Anda juga terbutakan oleh rayuan istri Anda, yang juga dibutakan oleh keegoisannya untuk memiliki Anda seutuhnya, tanpa mau berbagi."


"Andai saja, Anda tidak merebut Umar atau sekedar mengijinkan Aini menemui Umar dengan lebih leluasa, saya yakin, Anda tidak akan berada di tempat ini sekarang. Atau bahkan, mungkin kondisi ayah Anda, sedikit membaik kemarin, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya."


"Bapak!" Gumam Adit lirih.


Pikiran Adit segera melayang pada sosok laki-laki yang selalu menasehatinya agar lebih lunak pada Aini setelah badai besar menerpa rumah tangganya dulu. Ia selalu dinasehati dengan penuh perhatian oleh ayahnya itu.


Tapi sayangnya, hati Adit tertutupi oleh kabut dendam yang begitu pekat saat itu. Hanya karena, hasutan dan rayuan dua orang wanita yang begitu ia percayai. Tapi ternyata, malah mereka yang menusuknya secara halus.


"Jadi, bukan Aini yang membunuh ayah Anda, Pak Adit. Tapi, Anda beserta ibu dan istri Anda sendirilah yang membunuhnya perlahan. Dan Aini, yang kalian jadikan kambing hitam." Jelas Ardi geram.


Adit dan Ratri jelas tertunduk dalam. Mereka benar-benar menyesal dengan apa yang telah mereka perbuat pada Aini dulu.


"Oh iya Pak Adit,,"


Ucapan Ardi, tiba-tiba terpotong karena suara dering ponsel miliknya yang tadi ia titipkan pada Dika. Dika pun segera melihat nama penelepon dan segera mendekati Ardi untuk memberitahunya.


"Umar menelepon, Pak." Bisik Dika.


Ardi mengangkat alisnya dengan senyum jahat. Ia pun segera meminta ponselnya yang masih berada di tangan Dika. Ia sedikit melirik ke arah Adit. Lalu segera menjawab telepon yang masuk, dan memasang mode loud speaker pada ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Pa."


Suara Umar, menggema jelas di ruangan itu. Adit yang jelas mengenali suara itu, segera mengangkat kepalanya. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah Ardi yang terlihat begitu bahagia sedang menerima telepon.


"Wa'alaikumussalam, Umar. Ada apa, Sayang?" Jawab Ardi sedikit keras.


"Pa! Kenzo bilang, bunda udah di Surabaya. Umar kangen sama bunda, Pa. Umar bolehkan Pa, mengunjungi bunda ke rumah sakit?"


"Iya, Sayang. Bunda udah di Surabaya sekarang."


"Umar pengen ketemu bunda, Pa."


"Iya, boleh."


"Kenzo juga mau, Pa!" Sela Kenzo tiba-tiba.


"Kenzo kan tadi udah dari rumah sakit?"


"Tapi Kenzo mau ketemu bunda lagi."


"Yaudah! Papa selesaiin urusan Papa dulu, ya? Setelah itu, Papa pulang jemput kalian. Nanti kita ke tempat bunda sama-sama. Oke?"


"Oke, Pa." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.


"Oke. Sebentar lagi, Papa pulang."


"Oke. Makasih, Pa. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan pun terputus. Ardi segera melihat Adit, yang sedang menatapnya dengan tatatap tak percaya.


"Ada apa, Pak Adit? Anda pasti mengenali suara anak kecil tadi bukan?" Remeh Ardi.

__ADS_1


__ADS_2