Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kenyataannya


__ADS_3

"Anda?" Ucap Arif, seraya melepaskan tautan tangannya dengan Ardi.


"Iya. Saya yang dicurigai oleh besan Anda, atas kasus hilangnya putri dan menantu Anda, satu minggu yang lalu." Jawab Ardi yakin.


Semua segera menatap Ardi dengan bingung.


"Apa maksudmu, Mas?" Tanya Aini segera.


"Maaf Sayang, aku tidak memberitahumu tentang itu. Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir dan gelisah, hingga mengganggu proses pemulihanmu." Jawab Ardi sendu.


"Apa maksudnya, Mas? Mbak Ratri dan mas Adit hilang?" Tanya Aini makin bingung.


"Iya, Ni. Ratri dan Adit hilang sejak satu minggu yang lalu. Kami sudah melaporkannya pada polisi. Tapi belum ada hasilnya sampai saat ini." Jawab Heni sedih.


"Hilang bagaimana, Ma?" Tanya Aini panik.


"Menurut cerita bu Harti, satu minggu yang lalu, asisten pribadi pak Ardi datang ke rumah untuk menjemput mereka. Dia bilang, pak Ardi ingin menemui mereka untuk mengatakan sesuatu mengenai dirimu. Dan mereka tidak pulang dan tidak ada kabar sejak malam itu." Tutur Heni sedih.


"Iya, waktu itu. Aku ingin mengatakan, jika aku berhasil menemukanmu. Dan mencoba menanyakan kebenaran dari pernyataan anak buahku, yang mengatakan bahwa mereka adalah pelaku penculikan Aini, karena Aini belum sadar waktu itu. Tapi karena kondisimu yang belum stabil, aku tidak jadi menemui mereka. Aku meminta Dika untuk menjadwalkan ulang pertemuan itu." Tutur Ardi datar.


"Penculikan?" Ulang Arif bingung.


"Iya. Aini baru saja diculik. Dia disekap dan disiksa oleh penculiknya hingga seperti ini." Ucap Ratna sambil menahan geram.


"Jadi, kondisimu seperti ini karena kamu baru saja diculik, Ni?" Tanya Heni tak percaya.


"Iya, Bu Heni." Jawab Ratna datar.


"Apa belum ada kabar sampai sekarang?" Sela Aini makin cemas.


Aini tetaplah wanita berhati baik. Meski ia sudah diperlakukan sangat buruk oleh Adit dan Ratri, tapi ia tetap mencemaskan keadaan kedua orang itu, yang ia dengar, ternyata mereka hilang begitu saja.


"Belum. Kami juga sudah berusaha kembali menanyakan pada polisi, tapi masih belum ada hasilnya." Jawab Arif sedih.


"Maass,," Panggil Aini lirih.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Ardi perhatian.


"Tolong bantu papa dan mama mencari mbak Ratri dan mas Adit, Mas!" Pinta Aini lirih.


"Aku tidak bisa, Sayang. Aku dicurigai sebagai salah satu tersangka atas kasus ini. Jika aku sampai menemukan mereka lebih dulu dari polisi, itu akan sangat mencurigakan. Aku harus menjalani serangkaian pemeriksaan panjang nantinya." Kilah Ardi dengan wajah datar.


"Tapi Mas,,"


"Benar yang dikatakan pak Ardi, Ni. Akan sangat merepotkan bagi pak Ardi nantinya jika ia harus menjalani pemeriksaan panjang." Ucap Arif tulus.


Arif dan Heni sudah mendengar beberapa hal tentang Ardi semenjak mereka tahu, siapa saja yang berkaitan dengan hilangnya Adit dan Ratri. Mereka cukup tahu, jika Ardi bukanlah orang biasa. Ia memiliki beberapa anak buah dan koneksi yang bagus di beberapa tempat dan bidang.


Jadi, Arif cukup paham, jika Ardi akan sangat kesulitan jika harus kembali berurusan dengan pihak berwajib untuk kasus yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadinya.


Tapi Arif tidak menyangka, jika Ardi adalah kekasih Aini saat ini.


"Tapi Pa,,"


"Nggak papa, Ni. Kamu tenang saja! Adit dan Ratri, pasti segera ditemukan." Hibur Arif.


Nafas Aini mulai sedikit tersengal-sengal. Rasa terkejut dan cemasnya, membuat kondisinya sedikit memburuk.


"Tenanglah, Sayang! Kamu jangan cemas! Kondisimu belum pulih, Sayang!" Ucap Ardi, seraya mengusap pelan kepala Aini.


Aini berusaha mengatur nafasnya dengan susah payah. Ia berusaha menstabilkan pernafasannya yang mendadak tak beraturan karena terkejut atas berita tadi.


"Kamu kenapa, Ni?" Tanya Heni perhatian.


Heni sangat tahu, Aini tidak memiliki masalah pernafasan selama ini. Jadi, ia terkejut saat Aini nafasnya tersengal-sengal dan Ardi berusaha keras menenangkannya.

__ADS_1


"Paru-paru Aini sedikit bermasalah setelah penculikan itu. Karena ia dibiarkan di lantai yang dingin sepanjang waktu, selama satu minggu ia disekap." Jelas Ratna lagi, sambil menahan geram pastinya.


"Siapa yang tega melakukan itu padamu, Ni?" Ucap Heni iba.


Heni tak tahu, bahwa pelakunya adalah anak dan menantunya sendiri, yang saat ini sedang sibuk dicarinya.


Ratna jelas mendapat kesempatan yang ditunggunya. "Mereka adalah,,"


"Mbak Ratna!" Sela Aini segera.


Ratna menoleh pada Aini. Aini menggelengkan kepalanya sambil mencari ide untuk mengalihkan perhatian.


"Bantu aku ke toilet, Mbak!" Ucap Aini sekenanya.


"Mama bantu ya, Ni?" Tawar Heni.


"Nggak usah, Ma. Aini sama mbak Ratna saja." Jawab Aini sungkan.


"Kamu udah nggak papa kan, Sayang?" Tanya Ardi cemas.


"Iya, Mas. Aku udah nggak papa." Jawab Aini menenangkan.


Ratna dan Ardi paham dengan maksud Aini. Ratna akhirnya menuruti permintaan Aini. Dan perlahan, membantu Aini turun dan berjalan ke kamar mandi.


"Jangan bilang ke mama dan papa, Mbak! Aku mohon!" Pinta Aini saat ia sampai di kamar mandi.


"Memangnya kenapa?" Sahut Ratna kesal.


"Mereka sedang mencemaskan mbak Ratri dan mas Adit, Mbak. Kasihan, Mbak."


"Apa dua orang itu kasihan padamu saat melakukan semua itu padamu kemarin?"


"Itu biarkan menjadi urusanku dengan mbak Ratri dan mas Adit, Mbak."


"Mereka nanti juga akan tahu kebenarannya, Ni." Sanggah Ratna.


"Sama saja, Ni."


"Mbaakk,,"


Ratna memilih diam dan tak menggubris Aini. "Sudah, ayo!"


Ratna dan Aini lalu kembali ke ruang rawat. Aini dibantu Ardi untuk kembali naik ke ranjangnya.


"Jadi, apa Pak Ardi tahu, siapa yang menculik Aini hingga membuat Aini seperti ini?" Tanya Arif serius.


Arif tetaplah Arif yang dulu. Yang tetap menyayangi Aini seperti Ratri. Ia juga tetap tak rela, jika ada yang memperlakukan Aini dengan begitu kejamnya.


"Iya, saya tahu." Jawab Ardi yakin.


Aini segera meraih tangan Ardi yang ada di dekat tangannya. Ia sedikit meremas tangan Ardi untuk memberi kode.


Ardi merasakan tangan lembut nan lemah itu mencoba meremas tangan kekarnya. Ia tahu, Aini sedang berusaha mencegahnya untuk mengatakan kebenaran itu.


"Siapa dia, Pak Ardi?" Tanya Arif makin tak sabar.


Ardi berusaha bersikap polos pada Aini. "Mereka,,"


"Maaass,," Panggil Aini pelan.


Ardi segera menoleh. Tapi tidak dengan Ratna yang memang sudah merasa geram sejak tadi.


"Adit dan Ratri." Sambung Ratna tiba-tiba.


"Mbak!" Bentak Aini sedikit keras.

__ADS_1


Arif dan Heni jelas bingung dengan apa yang mereka dengar. Mereka langsung menoleh pada Aini.


"Jangan dengarkan mbak Ratna, Pa, Ma! Mbak Ratna hanya bercanda." Pinta Aini cepat.


"Untuk apa ditutup-tutupi, Ni? Itu kenyataannya bukan? Bahkan ada saksi yang juga menguatkan pernyataanmu." Sanggah Ratna cepat.


"Apa maksud kalian? Ada apa dengan Adit dan Ratri?" Tanya Heni bingung.


"Yang menculik Aini adalah Adit dan Ratri. Mereka juga,,"


"Mbak Ratna, cukup!" Sela Aini dengan sedikit membentak.


"Jangan asal bicara kamu, Na! Adit dan Ratri tak mungkin melakukan itu." Bantah Arif tak terima.


"Iya, Pa. Jangan dengarkan mbak Ratna! Dia hanya asal bicara." Sahut Aini panik.


"Tapi itu kenyataannya, Ni. Mereka membayar orang untuk menculikmu dan menyekapmu kemarin." Ratna membela diri.


"Kamu boleh mengatakan apapun tentang putri dan menantuku, tapi tidak dengan hal seperti itu!" Ancam Heni penuh penekanan pada Ratna.


"Itu faktanya, Bu Heni. Bahkan, anak buah pak Ardi yang menemukan keberadaan Aini kemarin, juga dengan jelas melihat putri dan menantu Anda di sana." Balas Ratna tak terima.


Heni menoleh dan menatap tajam pada Ardi. Arif pun tak kalah kesal dengan apa yang didengar dari mulut Ratna.


"Polisi sedang menyelidiki kasus ini, Pak Arif, Bu Heni. Mereka juga sedang mencari bukti lain yang mungkin terlewat, meski, para anak buah dari penculik itu sudah diamankan oleh pihak polisi." Tutur Ardi tegas.


Siang tadi, Reno menyerahkan beberapa anak buah Reni yang sempat ditahan Ardi selama beberapa hari. Ia jelas memberikan alibi bahwa ia dan para rekannya, baru saja menemukan mereka, tapi belum menemukan pemimpinnya. Dan pastinya, itu juga bagian dari rencana Ardi.


"Apa maksud Anda, Pak Ardi?" Tanya Arif sambil menahan geram.


"Anak buah saya, berhasil menemukan para pelaku penculikan yang dibayar pak Adit. Meski, mereka belum bisa menemukan pemimpinnya, yang aku dengar adalah seorang wanita." Jelas Ardi.


"Kita hanya tinggal menunggu pengakuan mereka saja sekarang. Dan kita akan tahu, siapa yang sebenarnya membayar mereka. Apakah benar pak Adit beserta istrinya, seperti yang Aini katakan. Atau memang orang lain." Imbuh Ardi yakin.


"Kenapa Anda mencampuri urusan polisi, Pak Ardi?" Tuduh Arif.


"Jika itu bersangkutan dengan Aini, saya jelas tidak bisa tinggal diam. Saya pasti akan memastikan, para pelaku itu, mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada Aini." Jawab Ardi yakin.


"Akan kupastikan, Adit dan Ratri tidak ada hubungannya dengan semua itu." Sahut Arif geram.


"Kita lihat saja, Pak Arif!" Timpal Ratna tak kalah geram.


Ratna jelas makin geram, karena secara tidak langsung, Arif menuduh Aini berbohong.


"Pa! Ma! Jangan,, dengarkan mereka! Mereka,, hanya bercanda, Pa, Ma,," Ucap Aini sedikit terbata.


"Ayo kita pergi, Ma!" Ajak Arif cepat.


Aini menggelengkan kepalanya dengan keras. "Pa! De,, dengarkan Aini, Pa!"


Arif tidak menggubris panggilan Aini. Ia dengan cepat berbalik badan dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang rawat. Heni pun akhirnya juga mengikuti langkah Arif.


"Maa,," Panggil Aini lirih.


Arif dan Heni yang kecewa karena mendengar hal yang tidak mereka inginkan itu, tak mau berbalik sama sekali.


Dan karena hal itu, Aini mencoba untuk turun dari ranjang dan mengejar mereka. Tapi sayang, nafasnya makin pendek dan tak beraturan. Ia malah tergeletak lemas di tepi ranjang dengan nafas yang makin tersengal-sengal.


"Sayang! Tenanglah!" Ucap Ardi panik sambil membenarkan posisi tubuh Aini.


"Panggil perawat, Pak!" Pinta Ratna cemas.


Ardi segera memencet tombol darurat beberapa kali. Dengan harapan, perawat akan segera tiba. Sementara itu, Ardi dan Ratna berusaha membantu Aini mengatur nafasnya kembali.


Dua perawat jaga, segera berlari menuju ruang rawat Aini. Mereka jelas berpapasan dengan Arif dan Heni yang sedang berjalan untuk keluar rumah sakit.

__ADS_1


Arif dan Heni terkejut melihat dua perawat itu berlari menuju ruang rawat Aini. Dalam hati kecil sepasang suami istri itu, tetap saja mencemaskan kondisi Aini, meski saat ini, mereka sedang kecewa dengan apa yang mereka dengar tadi.


Dunia tak selalu berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Terkadang, semua yang terjadi, malah jauh dari yang kita harapkan. Tapi yakinlah, akan selalu ada kebaikan dari setiap hal yang kita lalui.


__ADS_2