Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kemarahan Ardi


__ADS_3

"Aaarrgghh!" Reno menggeram sangat kesal.


Reno segera berlari sekencang yang ia mampu untuk mengejar mobil yang membawa Aini. Dengan harapan, ia bisa menyelamatkan Aini. Ia bahkan menabrak beberapa orang tanpa meminta maaf.


Jalanan pagi masih cukup padat, mobil itu sedikit terjebak. Apalagi, ada sebuah lampu lalu lintas yang berada tak jauh dari pasar itu. Reno segera meraih sebuah sepeda mini yang ia temui, yang entah milik siapa.


"Saya pinjam sepedanya sebentar!" Teriak Reno begitu saja.


Orang-orang di sekitar itu, sangat terkejut dengan ulah Reno. Beberapa dari mereka meneriaki Reno sebagai pencuri.


"Maling! Maling!"


Reno tak menghiraukan teriakan beberapa orang itu. Ia memilih mengayuh sepeda itu secepat yang ia mampu. Ia mengejar mobil itu dengan menyelip melalui celah antar kendaraan yang dapat ia lalui.


Tapi sayang, mobil itu tak terkejar oleh Reno. Sebelum Reno bisa sampai ke mobil itu, lampu lalu lintas yang tadi berwarna merah, telah berubah menjadi hijau. Sehingga kendaraan-kendaraan yang sedang mengantri, bisa segera pergi dari tempat mereka terhenti tadi.


Termasuk mobil yang membawa Aini. Dan bahkan, mobil itu segera tancap gas dengan begitu kencang, setelah berbelok ke arah kanan dari persimpangan jalan itu.


Reno melepaskan sepedanya sambil setengah berlari di tengah keramaian lalu lintas. Ia menatap nanar mobil sedan yang makin menjauh darinya tanpa terhenti. Ia tak mempedulikan beberapa kendaraan yang membunyikan klakson padanya, karena berada di tengah jalan.


"Bu Aini!" Ratap Reno lirih, dengan tatapan yang belum lepas dari mobil sedan tadi.


Tak lama, dua teman Reno datang menghampirinya. Mereka juga baru keluar dari pasar karena tak menemukan Aini. Dan tadi sempat melihat Reno yang sedang diteriaki oleh beberapa orang di sekitar sana.


"Kembali ke markas!" Pinta Reno cepat, setelah kembali mengendalikan dirinya.


Tiga laki-laki itu segera kembali ke pasar. Tak lupa, Reno mengembalikan sepeda dan meminta maaf pada orang-orang di sekitar.


"Ngga, lacak nopol A* 7834 K*! Cepat!" Ucap Reno penuh keseriusan sambil berjalan dan menelepon seseorang.


"Milik siapa?"


"Tak usah banyak tanya! Saat aku tiba, kamu harus sudah menemukannya! Dan juga, lacak nomor ponsel bu Aini!" Pinta Reno tegas.


Reno segera mengakhiri panggilannya. Ia segera masuk ke mobil dan kembali ke markas.


Di kantor Ardi, Ardi baru saja tiba di sana. Dan entah kenapa, kakinya tersandung sesuatu hingga ia hampir terjatuh, tepat di depan meja kerjanya. Padahal, tak ada apapun di lantai ruangannya.


Ardi terkejut bukan main dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia lalu melihat apa yang mungkin terjatuh di lantai kantornya. Tapi tak menemukan apapun. Ia pun sedikit kebingungan.


Perasaan Ardi mendadak makin tak tenang. Ia sebenarnya merasakan firasat tak baik sejak kemarin. Tapi ia berusaha mengesampingkan hal itu dan berpikir positif, agar firasat buruk itu tidak benar adanya.


Ardi segera mengambil ponselnya. Ia lalu menelepon seseorang.


"Kalian dimana? Kenapa belum ada kabar?" Tanya Ardi datar.


"Maaf, Pak. Ini sedang dalam perjalanan kembali."


"Mana Aini?"


"Bu Aini,,"


"Mana Aini?" Tanya Ardi dengan nada makin tinggi.


"Maaf, Pak. Bu Aini diculik."


"Ulangi sekali lagi! Akan kubunuh kau!" Ucap Ardi dengan hati makin bergemuruh.


"Maaf, Pak! Saya tidak bisa menjaga beliau."


"Jangan sembarangan bicara kamu, Ren!"


"Saya benar-benar minta maaf, Pak."


Ardi segera mematikan panggilan teleponnya. Ia lalu meraih kembali kunci mobil yang tadi sempat ia letakkan di mejanya. Dan segera berlari keluar dari ruangannya.


"Dika! Kita ke markas!" Pinta Ardi cepat, dengan nada bicara yang sangat tergesa-gesa dan cemas.


Dika yang sedang memeriksa laporan dari Mira, jelas sangat terkejut. Karena ini masih pagi. Dan tak ada laporan apapun padanya dari para pengawal sejak pagi.


"Iya, Pak?" Tanya Dika bingung.


"Telingamu sudah tak berfungsi lagi?" Jawab Ardi kasar.


Dika segera berdiri dan mengambil ponsel serta kunci mobilnya. Ia pun segera berlari mengejar Ardi yang sudah berjalan lebih dulu menuju lift. Mereka lalu segera menuju parkiran mobil.


Ardi memilih mengendarai mobilnya sendiri. Ia mengemudi dengan perasaan yang jauh dari kata tenang. Ia tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya.

__ADS_1


Dika yang paham dengan sifat dan sikap Ardi, lalu mencoba menghubungi Reno. Karena ia juga belum melihat Reno di kantor sejak tadi. Apalagi, permintaan Ardi tadi terdengar tak biasa dari nada bicaranya.


"Ada apa?" Tanya Dika datar.


"Bu Aini diculik." Jawab seseorang di seberang telepon.


Dika yang duduk di kursi sebelah Ardi, sedikit melirik ke arah Ardi. Ia menghela nafas panjang dan berat.


"Oke." Jawab Dika singkat, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Dika sekarang paham, kenapa sikap Ardi seperti ini. Dan itu jelas karena kabar buruk itu. Dika memilih diam, agar tak memancing lonjakan emosi Ardi. Karena ia sudah sangat paham, bagaimana sifat Ardi selama ini.


Selama di perjalanan, Ardi meratapi kebodohannya pagi ini. Kebodohan karena mengijinkan Aini pergi ke pasar tanpanya. Dan ia juga meratapi kebodohannya karena mengabaikan firasat buruknya beberapa hari terakhir.


Tak butuh waktu lama bagi Ardi untuk tiba di rumah yang berada tepat di samping rumahnya. Ia memarkirkan mobilnya begitu saja di luar gerbang rumah itu. Ia segera keluar dan masuk ke area rumah itu tanpa permisi.


"Dimana Reno?" Tanya Ardi, dengan nada yang sangat marah.


"Di dalam, Pak." Jawab seorang laki-laki, yang membukakan pintu rumah untuk Ardi.


Semua pengawal Ardi yang sedang ada di markas sedang berkumpul. Mereka berusaha membantu dan mencari jalan keluar untuk masalah yang baru saja terjadi.


Ardi berjalan memasuki rumah dengan amarah yang begitu membuncah di dadanya. Ia tak menyangka, pengawal terbaiknya bahkan bisa melakukan kesalahan sebesar itu.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"


Ardi meluapkan kemarahannya dengan memberikan bogem mentahnya pada Reno yang sudah menantinya sejak tadi.


Reno hanya bisa pasrah menerima hal itu. Ia segera tersungkur jatuh ke belakang dengan cukup keras. Ia pun mengusap wajahnya yang tadi di pukul oleh Ardi. Beberapa rekannya segera membantunya berdiri.


"Tolong tenang, Pak!" Pinta Dika, seraya memegangi Ardi agar tak lepas kendali.


Ardi segera menghempaskan tangan Dika.


"Tenang katamu? Aini diculik, dan aku harus tenang?" Jawab Ardi nanar.


"Kita pasti segera menemukan bu Aini, Pak." Hibur Dika sekenanya.


"Angga. Dimana dia?" Tanya Ardi cepat.


"Sedang melacak nomor ponsel bu Aini dan nopol kendaraan yang membawanya." Jawab Reno, sambil menahan sakit di wajahnya


Ardi hendak melangkahkan kakinya untuk menemui Angga, yang memiliki ruang kerja pribadi di rumah itu. Tapi langkahnya segera terhenti, karena orang yang akan ditemuinya, telah tiba di hadapannya.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Ardi cemas.


"Maaf, Pak. Nomor ponsel bu Aini, hanya terlacak saat di pasar tadi. Setelah itu tidak dapat terlacak kembali." Jujur Angga berat.


"Lalu, nopolnya?" Sahut Reno penasaran.


"Tidak terdaftar." Jawab Angga mulai cemas.


"Apa maksudmu?"


"Sepertinya, mereka telah merencanakan ini dengan sangat matang. Hingga mereka memakai nopol palsu untuk mengelabuhi kita." Jawab Angga ragu.


Ardi melangkahkan kakinya mendekati Angga. Hatinya begitu bergemuruh karena ucapan Angga. Ia sungguh tak bisa menerima apa yang baru saja dia dengar dari anak buahnya itu.


BUG. Angga pun mendapatkan bagiannya sendiri dari Ardi. Ia juga dipukul dengan sangat keras oleh Ardi. Dan Angga juga hanya bisa pasrah untuk hal itu. Beberapa rekannya yang ada di dekatnya pun segera membantunya berdiri.


Hati dan pikiran Ardi makin tak karuan. Kenyataan bahwa Aini sudah diculik oleh seseorang, membuatnya tak bisa berpikir jernih. Hati dan pikirannya begitu kalut saat ini.


"Aarrgghh!"


"Bagaimana kerja kalian, hingga hal itu bisa terjadi? Menjaga seorang wanita saja kalian tidak becus!"


Ardi menggeram dengan sangat keras. Kekalutan pikirannya membuatnya dikuasai oleh amarah yang tak terkendali. Hingga akhirnya ia mengamuk di rumah itu. Menghancurkan barang-barang yang ia temui. Menendang dan melempar apa saja yang tangan dan kakinya raih.


Ardi memarahi dan mengumpat semaunya. Semua pengawalnya yang ada di markas, nyaris dibuatnya babak belur karena ia hilang kendali.


"Cukup, Pak! Tenangkan diri Anda!" Pinta Dika, setelah ia rasa Ardi sudah hampir melewati batasnya.


Ardi menatap marah pada Dika. "Tenang katamu? Jika istrimu yang diculik, apa kamu masih bisa tenang? Ha?"


"Tapi dengan Bapak marah-marah seperti ini, tidak akan membuat bu Aini kembali sekarang." Jawab Dika dengan nada yang makin tinggi. Ia ingin, mengingatkan Ardi yang nyaris melewati batas.


Ardi terdiam. Ia membuang muka dari Dika. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Dika.

__ADS_1


"Kita harus memikirkan bagaimana cara menemukan bu Aini secepatnya! Apalagi, kita tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa orang yang melakukan itu pada bu Aini." Imbuh Dika, setelah Ardi terdiam beberapa saat.


"Reni. Iya, Reni. Wanita di pasar tadi mengaku, jika namanya Reni. Dia teman bu Aini semasa SMA." Sela Reno yakin.


"Lacak semua teman Aini semasa SMA! Dan cari tahu, siapa Reni itu!" Pinta Ardi cepat.


"Baik, Pak." Jawab Angga yakin.


Hal yang diperintahkan Ardi tadi, bukanlah hal yang sulit bagi Angga. Ia bisa dengan sangat mudah menemukan hal yang diminta Ardi hanya dalam hitungan jam. Paling lama, mungkin sehari.


Ardi lantas pergi begitu saja meninggalkan markas para pengawalnya yang sudah ia buat sangat berantakan. Belum lagi, beberapa pengawalnya yang ia buat tersungkur ke lantai karena bogem mentahnya, juga masih terduduk menahan sakit karena itu.


Ardi memilih pulang ke rumahnya. Dengan harapan, Aini tiba-tiba sudah berada di rumah dan menyambutnya dengan senyum indahnya. Sehingga, apa yang dikatakan Reno tadi, tidaklah benar adanya.


Sedang Dika, memilih membantu para pengawal Ardi untuk sekedar mengobati luka dan membereskan rumah. Ia juga menanyakan pada Reno, bagaimana kronologi Aini bisa diculik.


"Mereka sepertinya sudah sangat profesional." Ucap Reno setelah selesai bercerita pada Dika.


"Dari ceritamu, sepertinya iya." Sahut Dika ragu.


"Apa bu Aini memiliki musuh?" Gumam Reno bingung.


"Setahuku, mantan suaminya yang masih menyimpan dendam padanya. Dan ada bu Oliv yang kemarin menyambanginya ke rumah sakit." Aku Dika.


"Atau mungkin, itu ulah rival pak Ardi?" Terka Angga, yang juga masih ikut berunding di sana.


"Itu bisa juga. Mengingat, pak Ardi baru saja memenangkan tender besar kemarin."


"Jika itu benar, berarti sasaran utamanya bukanlah bu Aini, melainkan pak Ardi. Bu Aini hanyalah jembatan untuk mendapatkan pak Ardi." Timpal Reno yakin.


"Kamu benar. Kita harus memperluas semua kemungkinan! Lacak beberapa orang yang menjadi rival pak Ardi dalam tender belakangan ini! Gunakan semua kemungkinan yang ada! Kita harus segera menemukan bu Aini! Karena aku punya firasat tak baik tentang ini." Jawab Dika cemas.


"Baik, Pak." Jawab semua pengawal itu patuh.


"Obati luka kalian! Dan bereskan rumah ini perlahan!" Pinta Dika, seraya berdiri dari duduknya.


"Baik, Pak."


"Aku mohon, maafkan sikap pak Ardi tadi! Pikirannya sedang sangat kalut saat ini." Tulus Dika.


"Tentu, Pak Dika. Kami memahaminya. Kami juga bersalah dalam hal ini." Sahut Reno tak kalah tulus.


"Terima kasih."


" Sama-sama, Pak."


Dika lalu pergi meninggalkan para pengawal yang sedang saling tolong satu sama lain. Beberapa ada yang mengobati luka temannya, dan yang lain membereskan rumah yang berantakan.


Sedang di rumah, Ardi segera mencari keberadaan Aini. Ia memanggil-manggil nama Aini sambil berkeliling ke setiap penjuru rumah.


"Mbak Aini ke pasar, Mas. Sama seseorang tadi. Katanya pengawalnya, Mas Ardi." Sahut Sri, yang sedari tadi mendengar suara Ardi menggema di setiap penjuru rumah.


"Dia belum pulang? Mbok Sri yakin?" Tanya Ardi meyakinkan.


"Iya, Mas. Mungkin jalannya macet, jadi belum sampai rumah." Sahut Sri sekenanya.


Ardi membalikkan badannya begitu saja. Ia lalu meninggalkan Sri yang masih belum tahu bahwa Aini sudah diculik.


Ardi berjalan menaiki tangga. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dengan harapan, akan ada Aini di sana. Tapi ternyata tidak. Netranya malah terhenti pada dua kamar yang ada di sebelah kamarnya.


"Umar. Kenzo." Batin Ardi, sambil berjalan mendekati pintu kamar Kenzo.


"Astaga! Bagaimana aku mengatakan hal ini pada mereka nanti?" Gumam Ardi makin bingung.


Belum hilang rasa cemas dan khawatirnya karena Aini diculik oleh orang yang belum ia ketahui identitasnya itu, kini masalah baru pun muncul.


Apalagi kalau bukan tentang dua putranya. Satu putranya masih berada di rumah sakit dalam masa pemulihan pasca operasi, dan satu yang lain sedang sekolah saat ini. Mereka pasti akan sangat terkejut dengan berita buruk ini.


Terlebih Kenzo. Anak yang sedang dalam masa pemulihan dan observasi itu, harus sangat dijaga mentalnya. Agar tak mempengaruhi fisiknya yang sedang bekerja keras dengan hal yang belum lama dijalaninya.


Ardi terduduk lemas di samping pintu kamar Kenzo. Duda satu anak dengan segala pesonanya itu, kini sedang sangat tidak berdaya. Masalah yang datang padanya terasa begitu berat kali ini.


"Kita pasti segera menemukan bu Aini, Pak." Hibur Dika yang baru saja tiba.


"Harus. Kita harus segera menemukannya. Aku tak ingin sesuatu yang lebih buruk lagi terjadi padanya." Sahut Ardi ragu, dengan tatapan kosong.


"Iya, Pak."

__ADS_1


Dika yang melihat Ardi terduduk lemas di depan kamar Kenzo, sudah bisa menerka apa yang sedang dipikirkan Ardi. Karena ia sebenarnya juga sudah memikirkan tentang dua anak laki-laki itu sejak tadi.


Tak selamanya matahari menyinari bumi dengan segala isinya. Terkadang, sinar hangat sang surya, harus terhalang oleh barisan awan hitam yang membuatnya nampak redup dari bumi.


__ADS_2