Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Obrolan Part 1


__ADS_3

Wahai rasa yang ada, dapatkan engkau kirimkan secarik rindu ini? Padanya yang telah mulai menjadi salah satu penghuni hati, yang sempat kosong tak tentu arah.


Malam telah manyapa dengan perlahan. Membawa sejuta rasa yang terasa begitu berbeda bagi setiap hati yang sedang menapaki langkah-langkahnya.


Rumah Ardi masih terasa sepi, hanya karena Niken dan Rama yang belum pulang dari Malang. Dua anak bocah kecil yang biasanya begitu ramai dengan segala tingkahnya pun, tak terdengar lagi selepas waktu sholat isya. Mereka telah tertidur di kamar masing-masing.


"Astaga!" Gumam Aini, saat masuk ke kamar Umar.


Aini menggelengkan kepalanya karena heran. Bagaimana tidak? Umar tertidur dengan masih mengenakan sarung dan peci di kepalanya. Itu adalah pakaian yang ia kenakan saat sholat tadi.


Aini lantas melepaskan peci dan ikatan sarung di perut Umar. Ia pun menyelimuti Umar agar tidak kedinginan nanti. Setelah itu, ia pergi ke kamar Kenzo. Dan ternyata, Kenzo pun sama dengan Umar. Mereka kelelahan setelah seharian menemani Aini yang sedang tidak enak badan. Hingga setelah sholat, mereka langsung terlelap di kamar masing-masing.


Aini melangkahkan kakinya menuju lantai tiga. Ia ingin mencari sedikit angin segar, setelah seharian berada di kamar bersama tiga laki-laki yang setia menemaninya. Meski kondisinya belum pulih seperti sedia kala, tapi ia ingin sejenak menikmati suasana malam. Sembari menikmati tubuhnya yang masih sedikit meriang, dan denyutan di kepalanya yang belum mau pergi.


Berbekal jaket rajut berwarna navy miliknya, Aini berjalan sambil besedekap melewati pintu kamar Ardi yang sedikit terbuka. Ia sedikit mendengar, Ardi sedang bertelepon dengan seseorang. Ia pun tak ingin mengganggu sang empunya rumah dengan urusan pribadinya.


Tanpa Aini ketahui, sang empunya rumah ternyata mengetahui jika Aini baru saja melewati kamarnya. Tapi karena urusan dengan orang di seberang telepon yang belum usai, ia tak mengikuti langkah Aini, yang ia tahu pasti, akan menuju lantai tiga rumahnya.


Aini duduk di salah satu kursi yang tak memilik peneduh di atasnya. Ia ingin memandang langit malam ini.


"Ternyata mendung." Gumam Aini, dengan wajah yang menengadah ke atas.


Aini menyapukan pandangannya jauh ke segala arah. Menikmati pemandangan sekitar rumah Ardi di bawah langit mendung malam ini. Pikirannya melayang jauh tak tentu arah.


"Ibu! Aini kangen, Bu." Gumam Aini lirih.


Tak terasa, buliran bening itu, melewati kelopak mata Aini tanpa izin. Ia membasahi wajah ayu nan mungil milik janda yang sedang sedikit gundah hatinya itu.


"Mbak Ratna, maaf! Aku belum bisa ke Semarang. Tapi, aku kangen, Mbak."


Jauh dari sanak saudara, sebenarnya bukanlah keinginan Aini. Apalagi, ia juga terikat dengan pekerjaan yang cukup sulit untuk bisa membuatnya sewaktu-waktu pergi mengunjungi satu-satunya kakak yang ia miliki itu.


Meski sudah sejak lama Ratna berada di Semarang dengan keluarga kecilnya, tapi dulu, Aini bisa sangat sering mengunjungi Ratna ke Semarang bersama Adit. Atau juga, Ratna yang akan pulang ke Jogja untuk mengunjungi ibunya. Tapi kini semua sudah berbeda.


Aini menghela nafas beratnya. Ia tiba-tiba teringat oleh seseorang yang mengusik hatinya belakangan ini.


"Apa salah jika aku jatuh hati pada mas Ardi?"


"Aku tahu, aku hanya wanita biasa yang tak memiliki banyak kelebihan. Jika dibandingkan dengan mas Ardi, aku dan dia bagaikan bumi dan langit, tak bisa bersatu. Terlalu jauh perbedaan kami."


"Huft! Kenapa juga aku harus jatuh hati padanya yang tak mungkin kuraih? Apalagi, ada mbak Oliv, yang juga ingin kembali pada mas Ardi dan Kenzo."


Aini sadar, ia tak seharusnya jatuh hati pada Ardi. Karena ia tahu, Ardi bukanlah sosok yang bisa ia raih.


"Kenapa perjalanan cintaku serumit ini?"


Aini mengingat sekelumit kisah cintanya yang tak pernah mulus. Kisah cintanya yang seolah tak berpihak padanya.


"Dulu, Ferdi, ternyata hanya memanfaatkanku untuk mendekati mbak Ratri. Mas Adit, akhirnya juga kembali pada mbak Ratri. Dan sekarang, aku malah jatuh hati pada mas Ardi, yang akan kembali dengan mbak oliv. Apa aku tak boleh merasakan indahnya dicintai oleh laki-laki yang kucintai, Ya Allah?" Ratap Aini.


Aini sedikit melamun karena terpikirkan jalanan cintanya yang tak pernah berakhir mulus. Perjalanan hatinya yang seolah tak ingin ia merasakan kebahagiaan dicintai oleh laki-laki yang ia cintai.


Tak terasa, buliran demi buliran air mata Aini, mengalir lembut membasahi wajahnya. Menjadi pelepas rasa, bagi hati yang sedang dalam kondisi yang tak semestinya.


"Kamu sedang apa di sini, Ni?" Sapa seseorang dari belakang Aini.


Aini pun segera menoleh. "Mas Ardi?"


Ardi berjalan mendekati Aini. Ia lantas duduk di kursi lain di dekat Aini. Aini pun segera menegakkan tubuhnya sambil menghilangkan sisa dan bekas air mata yang tadi menari indah di wajahnya. Meski begitu, masih ada sisa isakan yang terdengar oleh Ardi. Tapi Ardi, bersikap seolah tidak tahu.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Ardi, setelah Aini berusaha menetralkan perasaannya.


"Ingin melihat bintang, Mas. Tapi ternyata mendung sejak tadi." Jawab Aini sekenanya.


Ardi pun akhirnya melihat langit yang menaunginya. Ternyata, awan gelap menutupi langit yang begitu luas.


"Sepertinya akan turun hujan malam ini." Sahut Ardi, sambil menoleh ke arah Aini.


"Iya, sepertinya." Jawab Aini, dengan tatapan lurus ke depan.


Ardi masih setia menatap wanita di sampingnya itu.

__ADS_1


"Entah mengapa, aku bisa jatuh hati pada wanita mungil nan sedehana sepertimu, Aini?" Batin Ardi.


Tubuh Aini memang sangat mungil jika dibandingkan dengan Ardi. Tinggi tubuh Aini, hanya sebatas leher bagian bawah Ardi. Tubuh Aini pun cukup ramping, jika disandingkan dengan tubuh tegap nan kekar milik Ardi.


Sejenak mereka terdiam. Ardi begitu menikmati pemandangan disampingnya. Sedangkan Aini, berusaha menikmati pemandangan langit malam ini. Ia tak ingin terjatuh terlalu dalam pada perasaannya yang mungkin akan kembali menyakitinya, jika ia menoleh dan menatap laki-laki di sampingnya.


"Kenapa kamu bisa di sana kemarin malam?" Tanya Ardi, setelah ia cukup puas memandangi wajah Aini.


Aini pun langsung menoleh pada Ardi. Ia terkejut, saat kedua bola matanya, tak sengaja bertemu pandang dengan bola mata Ardi. Ia sejenak teringat, ciuman hangat mereka kemarin. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan. Semakin kencang dan tak terkendali.


"Ni?" Sapa Ardi, yang menyadari Aini sedikit melamun.


"Eh, iya Mas?" Sahut Aini gelagapan.


"Kenapa ngelamun?" Tanya Ardi dengan senyuman lembut yang tersungging di wajah tampannya.


"Maaf, Mas." Jawab Aini malu.


Aini pun langsung tertunduk. Ardi malah sedikit tertawa melihat sikap Aini.


"Jadi, kenapa kamu bisa di sana semalam?" Tanya Ardi lagi.


Aini berusaha menetralkan jantungnya yang tadi sempat ingin sekali melompat dari tempatnya. Ia lalu menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


Flashback On


"Jauh banget Mbak tempatnya?" Tanya Aini bingung.


"Ini tempat favoritku dan mas Ardi dulu. Meski kami dulu tinggal di Bandung, tapi, setiap kali mas Ardi mengajakku ke Surabaya, kami selalu menyempatkan waktu untuk ke sini." Jawab Oliv santai, sambil berjalan menuju salah satu meja kosong.


Oliv dan Aini kini sampai di sebuah restoran yang sudah lama berdiri. Restoran yang memang jadi favorit Ardi sejak dulu.


Sebenarnya, jarak dari rumah Ardi ke restoran ini cukup jauh. Butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke sini.


"Gimana mas Ardi?" Tanya Oliv, setelah mereka memesan makanan.


"Maksud, Mbak?" Sahut Aini bingung.


"Sudah, Mbak. Kemarin pagi."


"Lalu?"


Aini terdiam. Ia malah kembali teringat, ulah Ardi yang membisikkan sesuatu di telinga kanannya, hingga membuat jantungnya bergedup tak karuan.


"Ni?"


Oliv memanggil Aini karena tak mendapat respon. Yang diajak bicara ternyata malah sedikit melamun.


"Oh, iya Mbak. Maaf Mbak, saya mencoba mengingat apa yang mas Ardi katakan." Jawab Aini asal.


"Jadi?"


"Mas Ardi hanya bilang, beliau yang akan menanggapi Anda secara langsung." Jujur Aini.


"Apa dia terlihat antusias?"


"Eemm, biasa aja Mbak." Polos Aini.


Oliv menghela nafas sedih. Ia lantas menatap jauh ke arah luar restoran. Melihat awan hitam yang makin menggumpal dan pekat. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyum jahat yang sangat tipis.


"Sabar, Mbak! Pelan-pelan saja! Kenzo pasti bisa merayu mas Ardi nanti." Saran Aini.


Oliv pun menoleh pada Aini. "Semoga."


Tak banyak percakapan. Hingga pesanan mereka berdua pun tiba. Aini merogoh tas kecil yang ia bawa.


"Astaghfirullah. Apa aku lupa tak bawa ponsel?" Gumam Aini lirih.


Aini tadi ingin menanyakan pada Umar dan Kenzo, apakah mereka ingin dibelikan sesuatu atau tidak. Tapi ternyata, ponselnya tertinggal di tempat ia sedang merapikan jemuran bersama Tika tadi.


Aini pun mengurungkan niatnya untuk menikmati makanan dan minuman pesanannya. Ia mencoba memastikan bahwa ia memang lupa membawa ponselnya. Aini segera mengeluarkan isi dalam tasnya.

__ADS_1


"Ada apa, Ni?" Tanya Oliv ramah.


"Saya lupa membawa ponsel Mbak, kayaknya." Jujur Aini sedih.


"Beneran? Nggak ilang kan tapi?" Tanya Oliv panik.


"Enggak kok, Mbak. Dompet juga masih ada. Kayaknya, tertinggal di deket jemuran tadi." Aku Aini.


"Aku coba tanyain Tika, ya?" Tawar Oliv.


"Mbak, punya nomornya mbak Tika?" Tanya Aini terkejut.


"Punya. Kemarin aku minta ke dia." Jujur Oliv.


Oliv pun mencoba menghubungi Tika. Dan benar, ponsel Aini ternyata tertinggal di rumah. Aini pun berterima kasih pada Oliv. Oliv pun tersenyum ramah pada Aini.


Oliv dan Aini akhirnya meninggalkan restoran setelah Aini sholat. Dan langit pun makin gelap. Bukan hanya karena malam telah tiba, tapi awan hitam makin menggumpal menutupi seluruh langit kota.


Ketika di tengah perjalanan, ponsel Oliv berdering. Ia pun menepikan mobilnya untuk menjawab telepon.


"Kenapa Des?" Tanya Oliv santai.


"Kamu gimana? Kan kamu yang nyuruh aku telepon tadi?"


"Apa? Kamu terpeleset di kamar mandi?" Teriak Oliv.


Aini pun segera menoleh ke arah Oliv. Ia berusaha menutup telinganya dari percakapan Oliv dan orang di seberang telepon. Tapi karena teriakan Oliv, ia akhirnya mulai penasaran.


"Oke, oke! Aku pulang sekarang." Ucap Oliv meyakinkan.


Oliv pun segera mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ni, kalau kamu pulang sendiri gimana? Asistenku jatuh di kamar mandi. Dan dia di rumah sendirian." Rayu Oliv, dengan wajah yang begitu memelas pada Aini.


"Tapi, saya belum tahu rumah mas Ardi. Saya tidak tahu jalan kembali ke rumah." Jujur Aini.


"Udah deket kok. Tinggal itu, lampu merah ke tiga dari sini, kamu belok kiri. Sekitar dua ratus meter, nanti di seberang jalan udah kelihatan, gerbang masuk perumahan rumah mas Ardi." Jelas Oliv sambil tangannya menunjuk ke arah yang ia ceritakan.


Aini terdiam. Ia yang baru beberapa hari di rumah Ardi, dan belum kemanapun, benar-benar tak tahu dimana alamat rumah Ardi. Apalagi, hari sudah mulai malam.


"Tapi Mbak,,"


"Kumohon, Ni!" Rengek Oliv sambil memegang satu tangan Aini.


Aini memikirkan penjelasan Oliv tadi.


"Iya deh, Mbak." Jawab Aini ragu.


"Makasih ya, Ni." Jawab Oliv senang.


Aini hanya mengangguk. Ia sebenarnya sangat ragu dengan dirinya sendiri saat ini.


"Ini, pakai payungku! Diluar mendung." Ucap Oliv penuh perhatian, sambil mengambil payung miliknya yang ada di kursi belakang.


"Iya, Mbak. Makasih."


Aini akhirnya turun dari mobil Oliv. Oliv pun kembali mengucapkan terima kasih pada Aini sebelum pergi. Setelah itu, ia memutar arah mobilnya dan segera melaju dengan kencang meninggalkan Aini di sana sendirian.


"Itu akibatnya, jika kamu kecentilan pada Ardi. Dan ini, baru permulaan, Aini." Gumam Oliv, sambil mengendarai mobilnya.


Aini menghela nafas berat. Ia pun mulai melangkahkan kakinya sesuai arahan Oliv. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Aini segera membuka payungnya. Tapi tak lama berselang, angin kencang pun datang menghampiri. Dengan hujan yang makin deras mengguyur bumi.


Aini akhirnya memilih untuk mencari tempat berteduh. Ia berlari ke arah sebuah ruko kecil yang terdekat. Ruko yang sudah tutup sejak petang menjelang.


Aini memandangi hujan yang turun dengan begitu lebatnya. Disertai angin yang bertiup cukup kencang, ia pun mulai kedinginan. Baju yang ia kenakan pun, mulai basah.


Karena hujan turun begitu lebat, ia cukup takut untuk melanjutkan perjalanannya. Ia akhirnya memilih menunggu hujan reda, meski angin sudah tak bertiup kencang.


Flashback Off


"Kamu terlalu polos, Ni." Batin Ardi, dengan tatapan iba pada Aini yang asik bercerita.

__ADS_1


__ADS_2