
Rasa dan logika. Terkadang tak sejalan tanpa permisi. Membuat sang hati kebingungan menghadapi segalanya. Membuat suasana terkadang menjadi tak seperti yang diharapkan.
Hati mana yang akan tahan, jika ia yang menjadi pujaan hati, menangis pilu di hadapannya. Hati mana yang akan tahan, jika ia malah membuat air mata itu keluar dari singgasananya.
Ardi begitu erat memeluk Aini. Ia masih bisa merasakan tubuh Aini bergetar menahan tangisannya. Ia tak menghiraukan, tatapan beberapa pasang mata, yang menatapnya penuh kecurigaan dan mengintimidasi.
Ingin rasa Ardi, mendekap Aini lebih erat lagi dan melakukan apapun agar bisa membuat Aini berhenti menangis. Logikanya mulai bergelut dengan hatinya. Begitupun setan yang mulai membisiki hal yang tak sepatutnya pada Ardi.
"Cium Aini lagi! Dia pasti akan segera berhenti menangis."
Tapi sang logika pun masih berjalan sebagaimana mestinya.
"Ini di tempat umum dan terbuka. Kalian juga belum menikah."
Ardi akhirnya memeluk Aini tanpa berucap lagi. Ia takut, jika ucapannya malah membuat Aini semakin deras menitikan air matanya.
Perlahan, tangis sang janda pun mulai mereda. Kehangatan pelukan Ardi, mampu membuat Aini merasakan kenyamanan yang lama ia rindukan. Kenyamanan dari seseorang yang bisa membuatnya merasa aman dan tenang berada di dekapannya.
Aini sedikit menggeliat untuk melepaskan diri dari pelukan Ardi. Ardi pun perlahan mengendurkan pelukannya dan membiarkan Aini duduk kembali dengan tegap.
"Maaf, aku tak tahu jika sepedih itu masa lalumu." Sesal Ardi.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku yang terlalu cengeng." Jawab Aini untuk menghibur Ardi.
Aini segera mengambil tisu yang ada di tasnya. Ia pun membersihkan sisa air mata yang ada di wajahnya. Tapi, tangan Ardi kembali menarik dagunya perlahan. Dan tangan kekar itu, kembali mengusap lembut untuk membersihkan air mata Aini.
"Jangan menangis lagi! Kamu harus bahagia, seperti kata Fajar tadi." Hibur Ardi penuh kehangatan.
Aini berusaha keras menarik dua sudut bibirnya. Hatinya masih terasa getir mengingat pedihnya kehidupannya dulu.
"Maaf." Ulang Ardi lagi.
Aini pun menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin lagi, mendengarkan Ardi meminta maaf padanya karena hal itu.
Tapi, hati Aini sedikit nakal. Ia ingin kembali menikmati pelukan hangat Ardi. Ia ingin kembali, merasakan aliran kasih sayang dan belaian lembut dari laki-laki yang sedari tadi sedang menghabiskan waktu bersamanya.
Set. Aini segera melingkarkan kedua tangannya di tubuh kekar Ardi. Ia membenamkan wajahnya, di dada bidang seorang Ardiansyah El Baraja tanpa permisi. Ia tak peduli, bagaimana reaksi Ardi nanti. Ia hanya ingin mengikuti apa yang diinginkan hatinya.
Dan apa yang Ardi lakukan?
Ardi mematung seketika. Bahkan, tangannya masih terangkat seperti saat ia memegangi wajah Aini tadi. Ia sangat terkejut saat tubuh Aini menubruk tubuhnya dan mendekapnya begitu erat. Ia tak siap sama sekali.
"Maaf, Mas. Tapi, ijinkan aku sejenak seperti ini. Hanya sebentar." Lirih Aini masih dalam posisi memeluk Ardi.
Ardi mengulas senyum kecil di wajahnya. Jantungnya yang tadi mendadak berdegup begitu kencang, perlahan kembali berdetak normal. Ada rasa bahagia yang menggelitik begitu kuat dalam hatinya.
Ardi segera membalas pelukan Aini tanpa ragu. Ia mengusap lembut punggung Aini dengan penuh perhatian. Ia tak berucap sepatah kata pun. Ia takut, akan merusak momen sederhana itu.
Cukup lama Aini menikmati pelukan hangat Ardi. Hatinya pun mulai tenang dan merasa begitu nyaman dalam pelukan sang duda. Ia akhirnya melepaskan pelukan tangannya di tubuh Ardi. Lalu perlahan, menegakkan kembali tubuhnya.
Ardi pun membiarkan Aini melakukan apa yang ia inginkan. Ia pun ikut melepaskan pelukan di tubuh mungil Aini.
"Maaf, Mas." Ucap Aini malu.
Wajah Aini tertunduk dalam. Ia benar-benar malu, karena baru saja memeluk Ardi tanpa permisi terlebih dahulu. Ia bahkan memejamkan matanya, karena begitu menikmati pelukan Ardi yang ternyata sangat menenangkannya.
"Tak apa." Jawab Ardi singkat.
"Aku akan selalu ada dan siap untuk memelukmu kapan saja, Sayang." Batin Ardi yakin.
Ardi masih belum yakin untuk mengucapkan kalimat itu secara langsung pada Aini. Ia takut, ucapannya akan kembali membuat Aini bereaksi diluar perkiraannya.
"Kenapa menunduk? Apa kamu menyesal?" Goda Ardi demi membuat Aini mengangkat wajahnya.
"Apa?"
Aini segera mengangkat wajahnya. Ia kebingungan menjawab pertanyaan Ardi. Ia sangat malu mengungkapkan alasan yang sebenarnya.
Tapi, Ardi mengetahui hal itu. Ia tersenyum melihat pipi Aini yang sudah merona. Dan Aini jelas tak tahu, jika pipinya sedikit memerah.
"Kemarilah!"
Ardi menarik kembali tubuh Aini ke dalam pelukannya. Aini yang tak siap, jatuh begitu saja ke dada bidang Ardi tanpa menolak. Aini sedikit memberontak, tapi Ardi tidak melepaskannya.
"Kenapa? Apa tidak senyaman tadi?" Tanya Ardi tanpa melepaskan pelukannya.
Aini pun segera diam tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya kaku. Ia lalu menggelengkan kepalanya pelan. Dan Ardi, segera tersenyum mendapat jawaban Aini.
"Biarkan seperti ini sebentar lagi!" Pinta Ardi.
Aini lalu sedikit membenarkan posisinya. Ardi pun membiarkan Aini menyamankan posisinya. Mereka lalu menikmati hangatnya matahari sore yang mulai menyapa, dengan momen sederhana tapi cukup berarti di hati masing-masing.
"Astaghfirullah! Bu Niken." Ucap Aini tiba-tiba, sambil menegakkan kembali tubuhnya.
"Mama kenapa?" Tanya Ardi polos.
"Belanjaannya, Mas. Ini sudah sore." Jujur Aini panik.
"Tenang saja! Itu belanja bulanan bukan? Tidak akan segera digunakan." Jawab Ardi santai.
"Tapi Mas, aku tadi tidak berpamitan pada beliau. Umar dan Kenzo juga pasti sudah pulang sekolah sejak tadi."
Ardi tersenyum melihat reaksi Aini.
"Ya sudah, ayo pulang!"
Aini segera menganggukkan kepalanya. Mereka lantas meninggalkan taman dengan hati yang lebih bahagia. Dengan perasaan yang lebih nyaman dari sebelumnya.
Dan saat sampai di rumah, Aini disambut oleh Niken dengan tatapan yang tak biasa. Nyali Aini langsung menciut dan nyaris tak bersisa. Ia sangat merasa bersalah, karena telah pergi terlalu lama. Ia bahkan tidak berpamitan terlebih dahulu jika akan pergi dengan Ardi tadi.
"Kamu belanja dimana sih, Ni? Kenapa lama banget? Di Mesir?" Cecar Niken serius.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Saya tadi belanja di mall dengan mas Ardi." Jawab Aini ketakutan.
"Ardii!" Panggil Niken lantang. Karena sang empunya nama, sedang meladeni dua anak laki-laki yang sudah menanti Ainis sejak pulang sekolah tadi.
"Sebentar ya! Papa dipanggil Oma." Pamit Ardi pada Kenzo dan Umar.
Dua anak laki-laki yang sedang duduk mengapit Ardi di sofa, segera mengangguk paham. Ardi pun segera berdiri dan berjalan menghampiri Niken yang sedang berdiri bersama Aini. Ia sedikit memicingkan matanya, karena melihat Aini tertunduk dalam di hadapan ibunya.
"Kenapa belanjanya lama banget? Dari sebelum dzuhur sampai jam lima sore. Kalian belanja kemana?" Marah Niken, saat Ardi tiba di samping Aini.
Ardi mengerutkan keningnya. Ia akhirnya mengerti, kenapa Aini tertunduk dalam saat ini. Ia pun segera menoleh pada Aini.
"Pergilah ke kamarmu, Ni! Kenzo dan Umar akan menemanimu." Pinta Ardi lembut.
Aini sedikit menoleh ke arah Ardi. Ardi pun menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil di wajahnya. Aini pun juga akhirnya mengangguk paham pada Ardi.
"Saya permisi, Bu Niken, Mas Ardi." Pamit Aini.
"Iya." Jawab Ardi singkat.
Aini lantas pergi meninggalkan sepasang ibu dan anak itu. Perasaannya sebenarnya masih belum tenang. Ia masih tak enak hati dengan Niken. Dan dua anak laki-laki yang sedari tadi menunggunya pun, segera mengekorinya ke kamar.
Sedang Niken, makin terlihat kesal karena ulah Ardi. "Mama belum selesai bicara dengan Aini, Di."
"Bicara dengan Ardi, Ma. Ardi tadi juga pergi dengan Aini." Jawab Ardi yakin.
Niken lalu menarik tangan Ardi ke kamarnya. "Kalian kemana aja tadi?"
Wajah Niken tiba-tiba berubah sumringah setelah sampai di kamarnya. Ia begitu ingin tahu urusan pribadi putranya dengan wanita yang berhasil mekuluhkan hati Ardi.
"Mama mengerjai Aini?" Terka Ardi sedikit kesal.
"Sedikit."
Ardi mendengus kesal. "Perasaan Aini sedang tak baik, Ma. Kenapa Mama malah mengerjainya?"
"Apa? Memangnya, apa yang terjadi? Kalian ada masalah?"
"Enggak, Ma. Tapi ada hal yang membuat perasaan Aini sedikit tak baik tadi." Jelas Ardi singkat.
"Ada apa?"
Bukannya menjawab, Ardi malah segera berbalik badan dan meninggalkan kamar Niken. Ia pergi begitu saja tanpa beepamitan lada ibunya. Dan Niken pun kesal bukan main.
"Ceritain dulu, Di!" Pinta Niken sedikit berteriak.
"Ardi mau ke kamar, Ma." Jawab Ardi tanpa berbalik.
"Nggak boleh! Kamu harus cerita dulu sama Mama!" Niken tiba-tiba mencegat Ardi di pintu.
"Cerita apa, Ma?"
"Ya ceritain kalian tadi kemana dan ngapain aja?"
"Kenapa lama banget kalau cuma belanja?"
"Ardi juga butuh makan, Ma. Ya, Ardi sama Aini makan dulu sebelum belanja."
"Terus?"
"Mama kepo banget sih?"
"Iya donk. Kan Mama juga pengen tahu, sejauh apa hubungan kalian." Jujur Niken tanpa basa-basi.
"Sejauh Surabaya ke Jogja, Ma." Jawab Ardi asal.
"Maksud kamu?"
"Ardi masih berusaha menjaga batasan, Ma. Kalau memang Ardi tidak menjaga hal itu, Ardi udah bawa Aini ke kamar Ardi tiap malam."
"Jadi?"
"Sabar ya, Mamaku sayang!"
Ardi pun mengecup dahi ibunya setelah menangkupkan kedua tangannya di pipi sang ibu. Ia lalu perlahan menggeser tubuh Niken dari pintu. Hingga ia pun bisa keluar dati kamar Niken.
Sedang Niken, segera mendengus kesal karena Ardi tak menceritakan apapun padanya. Padahal, ia sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Ardi dan Aini saat mereka pergi berdua tadi.
Tidak semua hal bisa diceritakan pada orang lain. Meski ia adalah orang tua kita. Terkadang, ada hal yang memang lebih baik, kita simpan sebagai kisah dalam hati, yang akan menjadi memori indah dalam benak dan hati yang suatu saat, akan mengingatkan kita tentang sesuatu.
...****************...
Hari terus berganti. Menapaki takdir yang telah tergariskan dengan begitu indahnya. Membawa setiap rasa, pada masa yang telah terciptakan.
Tiga hari telah berlalu sejak kencan sederhana Ardi dan Aini. Dan selama tiga hari itu, Ardi benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya. Ia harus berangkat lebih pagi dan pulang sangat terlambat. Demi menyelesaikan proposal tender yang perusahaannya akan ajukan akhir pekan ini.
Selama tiga hari ini, Ardi dan Aini nyaris tak berkomunikasi secara langsung. Ardi jelas bersiap berangkat ke kantor lebih pagi. Ia bahkan melewatkan sarapannya karena harus berangkat pagi. Sedang Aini, jelas membantu Sri dengan segala pekerjaan pagi. Belum lagi, ia juga mambantu Umar dan Kenzo untuk berangkat ke sekolah.
Dan saat Ardi pulang, semua penghuni rumah sudah berada di kamarnya masing-masing. Ardi benar-benar harus lembur demi tender besar yang ia incar ini.
Dan hari ini, semua persiapan untuk pengajuan tender telah selesai. Ardi pun bisa pulang awal seperti biasanya.
Saat sampai di rumah, Ardi disambut dengan keheningan rumah. Hanya ada Rama dan Niken di ruang keluarga.
"Kok sepi, Ma?" Tanya Ardi, saat ia tak melihat orang yang ia cari.
"Kamu cari siapa? Kenzo dan Umar, atau bundanya?" Sindir Niken santai.
"Semua." Kilah Ardi.
"Di atas, baru berenang." Jawab Niken singkat.
__ADS_1
Tanpa berucap apapun, Ardi segera meluncur ke kamarnya. Ia langsung melepaskan setelan kerjanya dan berganti baju untuk ikut andil dalam keseruan di lantai teratas rumahnya.
"Ardi jadi ABG lagi, Pa." Cibir Niken saat melihat putranya menaiki tangga.
"Bukan, Ma. Cuma puber kedua." Sahut Rama sambil cekikikan.
"Sama aja, Pa."
"Beda kalimatnya, Ma."
Niken melengos mendengar jawaban suaminya. Ia sebenarnya paham maksud Rama ingin membercandainya. Tapi, ia ingin sedikit merajuk pada sang suami.
Rama yang juga paham sifat Niken, segera memeluk istri tersayangnya itu dengan gemas. Mereka kembali asik menikmati acara tv sore yang sedang mereka tonton.
Sedang di lantai atas, Aini sedang berusaha merayu dua putranya untuk menyudahi acara berenang mereka.
"Ayo donk, udah berenangnya! Udah mau gelap ini." Rengek Aini di tepi kolam renang.
Aini berdiri di tepi kolam sambil berkacak pinggang. Ia berusaha memperlihatkan wajah tegasnya, agar Kenzo dan Umar menyudahi acara berenang mereka. Tapi tiba-tiba,,
BYUR. Ada seseorang yang menyeburkan diri begitu saja ke kolam. Jelas, Aini terkena cipratan air kolam yang menyebar ke sembarang arah. Bajunya pun seketika basah, hampir seluruhnya.
Aini terkejut bukan main, saat air kolam menyapa tubuhnya. Ia mematung seketika, dengan perasaan yang sedikit kesal. Karena sejak tadi, ia sudah berusaha menghindari cipratan air dari Kenzo dan Umar. Tapi sekarang, malah bajunya nyaris basah seluruhnya.
Ardi tiba-tiba, menyembul keluar dari dalam air. Ia segera mengusap wajah basahnya untuk melihat apa yang terjadi. Dua bola mata Ardi membulat sempurna, saat melihat Aini basah kuyup karenanya.
"Mas Ardi apa-apaan sih?" Kesal Aini sambil menghentakkan kakinya, setelah mengetahui penyebab ia basah kuyup.
Ardi malah tertawa lepas bersama Kenzo dan Umar yang masih berada di dalam kolam. Makin menjadilah kekesalan Aini karena tawa tiga laki-laki yang ada di dalam kolam.
Aini segera berbalik badan dan meninggalkan kolam renang. Ia segera turun dan kembali ke kamarnya untuk berganti baju. Ia pun sempat ditanyai oleh Rama dan Niken yang ia temui di ruang keluarga. Mereka tertawa kecil karena mendengar cerita Aini.
"Kalian turunlah dulu! Papa akan berenang sebentar, melepas lelah." Pinta Ardi pelan.
"Oke, Pa." Jawab Kenzo dan Umar bersamaan.
Kenzo dan Umar segera keluar dari kolam dan kembali ke kamar mereka. Mereka membiarkan Ardi berenang sendiri seperti permintaannya tadi.
Selepas makan malam, Ardi menghabiskan waktunya dengan Kenzo dan Umar. Ia rindu dengan dua putranya itu. Tiga hari sibuk dengan urusan pekerjaan, membuatnya tak sempat menghabiskan waktu dengan dua anak laki-laki yang tinggal seatap dengannya itu.
Pukul sepuluh malam. Kelopak mata Aini belum bisa diajak untuk beristirahat. Alasannya sangat sederhana. Hatinya sangat rindu dengan ia yang beberapa hari tak sempat berbincang secara langsung dengannya. Hanya beberapa pesan singkat yang sempat menjadi obat rindunya tiga hari belakangan.
Sebenarnya, perasaan Aini sedikit lega tadi, saat melihat Ardi berada di kolam renang. Tapi ia juga kesal, orang yang ia rindukan dengan sepenuh hati, malah menjahilinya saat bertemu dengannya.
Aini keluar kamar. Suasana rumah sudah sangat sepi dan hening. Lampu-lampu di dalam rumah pun sudah dipadamkan. Perlahan Aini berjalan ke halaman belakang. Ia ingin sejenak melepas rasa yang bergelut begitu kuat dalam hatinya.
Ingin rasa hati Aini, berlari ke lantai dua rumah ini, dan segera menemui Ardi di sana. Tapi, ia masih berusaha menjaga batasannya. Ia memilih memendamnya sejenak, agar semua berjalan seperti yang semestinya.
Aini duduk di salah satu kursi kayu panjang yang ada di teras belakang. Disandarkannya punggung itu perlahan. Sembari menikmati angin malam yang berhembus pelan. Menemani bintang dan rembulan, yang sedikit mengintip di balik awan hitam.
"Aku rindu, Mas." Batin Aini.
"Aku rindu padamu, Sayang."
Sepasang tangan kekar segera meraih tubuh Aini. Menariknya ke dalam pelukan yang begitu hangat dan menenangkan.
Aini terkesiap, saat tubuhnya mendarat dengan lembut di dada bidang seorang laki-laki yang sedang dipikirkannya. Sejenak ia diam tak bergerak. Mencoba meyakinkan diri, bahwa apa yang ia alami bukanlah mimpi.
"Mas,, Ardi??"
"Sebentar saja! Aku sangat rindu padamu." Sahut Ardi penuh harap.
Aini akhirnya membalas pelukan itu sambil mengangguk pasti. Ia pun memeluk tubuh tegap itu dengan sangat erat. Menghirup dalam-dalam, aroma khas laki-laki yang sedang tak berjarak sama sekali dengannya itu.
Ardi tersenyum mendapat balasan dari Aini. Ia tumpahkan rasa rindu yang ia pendam beberapa hari ini, dalam sebuah pelukan yang begitu ia dambakan.
Ide nakal, tercipta di benak Ardi.
"Apa itu berarti, kamu juga merindukanku?" Tanya Ardi polos.
Aini tak menjawab pertanyaan Ardi. Ia memukul pelan, punggung Ardi karena malu.
Ardi pun tersenyum kecil karena ulah Aini. Dan, sebuah pertanyaan nakal, terlintas di benak Ardi.
"Apa ini berarti, kita jadian?" Tanya Ardi ragu.
Aini perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap Ardi dengan tatapan aneh.
"Kita bukan ABG lagi, Mas." Jawab Aini bingung.
"Jadi?"
"Eemmhh,,"
Pikiran Aini segera melayang jauh. Ia memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang ditanyakan Ardi tadi.
Dan saat Aini masih berpikir keras, Ardi kembali menarik Aini dalam pelukannya. Aini pun pasrah dipeluk oleh Ardi. Karena sungguh, pelukan Ardi begitu nyaman baginya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ardi perhatian.
"Apa kita akan menjalaninya secara diam-diam?" Tanya Aini ragu.
"Kenapa harus diam-diam, jika kalian bisa berterus terang?"
Suara seorang wanita yang begitu Ardi dan Aini kenali, menelusup sempurna ke gendang telinga keduanya. Aini segera melepaskan diri dari pelukan Ardi. Ia menoleh ke arah pintu.
"Bu Niken?" Ucap Aini panik.
"Ah Mama! Ganggu aja, sih." Batin Ardi kesal.
****************
__ADS_1
Gimana nih Readers?
Aini dan Ardi terciduk 😁