
WARNING 🔥
Maaf ya Readers 🙏, di episode ini ada beberapa kata kasar. Harap bijak dalam membaca 🙏.
Terima kasih 🙏
****************
"Aku dimana ini?" Batin Aini bingung, saat ia membuka mata.
Aini tergeletak di atas lantai tanpa alas apapun, saat ia terbangun. Tubuhnya langsung merasakan hawa dingin dan kerasnya lantai cor di bawahnya.
"Halo, Aini Sayang!"
Sapaan itu menggema indah ditelinga Aini. Ia berusaha untuk bangun dan duduk dengan keadaannya kini. Keadaan dimana kaki dan tangannya diikat cukup kuat dengan tali, yang membuatnya tak bisa banyak bergerak.
Aini menatap orang yang baru saja menyapanya. Ia mulai mengumpulkan ingatan terakhirnya. Ia pun akhirnya ingat wanita berambut panjang yang sedang menatapnya dengan cukup lembut.
Flashback On
"Udah. Ayo, aku ajak ke langganan aku!"
Wanita itu segera menggamit lengan Aini dan menariknya begitu saja. Aini pun refleks mengikuti arah langkah kaki wanita itu.
"Aku harus bagaimana? Umar? Mas Reno?" Batin Aini makin bingung.
Aini benar-benar tak tahu mana yang harus dipilihnya. Jika ia menuruti wanita itu, maka dirinya yang akan terancam keselamatannya. Tapi jika ia tidak menurutinya, jelas Umar yang akan terancam keselamatannya.
Aini mencoba menoleh ke belakang, dimana Reno sedang mengikutinya saat ini. Tapi,,
"Jangan menoleh! Aku tak main-main dengan putramu! Jika kamu berani macam-macam, kamu akan segera menerima kabar buruk dari sekolah!" Ancam wanita itu lirih, sambil terus berjalan menggamit lengan Aini, tapi dengan gerak dan ekspresi yang terlihat sangat biasa.
Perasaan Aini makin tak karuan. Ia tak mungkin mengorbankan putranya hanya demi dirinya sendiri. Tapi, ia juga sangat takut dengan apa yang akan dihadapinya nanti.
Saat Aini masih berusaha mengimbangi langkah wanita itu, tiba-tiba, sesuatu yang berujung lancip mengenai perut sampingnya. Aini membulatkan kedua bola matanya.
"Jalan terus dan jangan berbuat sesuatu yang mencurigakan! Atau pisau ini akan merobek perutmu dengan segera." Bisik wanita itu santai.
Dan disaat yang sama, Aini mendengar kegaduhan dari arah belakang. Ia berniat menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Tapi sayang, wanita itu malah mempercepat langkahnya dan menggiring Aini keluar dari pasar, melalui sisi lain pasar dari ia masuk tadi.
Aini langsung diajak menuju sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Seseorang segera membukakan pintu mobil itu dari dalam. Aini pun segera dipaksa masuk ke mobil, dengan sebilah pisau kecil yang masih terus ditempelkan di perut sampingnya.
"Siapa kalian?" Tanya Aini sedikit keras, saat ia sudah masuk mobil.
Ada tiga orang laki-laki di dalam mobil itu. Dua orang duduk di kursi depan, dan satu orang lagi menarik Aini di kursi belakang.
"Jangan banyak tanya!" Sahut laki-laki yang menarik Aini dan langsung memeganginya agar tak meronta.
Wanita yang menggiring Aini tadi segera masuk ke mobil menyusul Aini. Mobil pun segera dilajukan oleh sang sopir.
Aini refleks menoleh ke belakang. Dan saat itu, ia melihat Reno sedang menoleh kesana-kemari, yang ia yakini, sedang mencari keberadaannya.
"Mas Reno! Mas! Mas Reno!" Teriak Aini sekencangnya, sambil berusaha memukul kaca belakang mobil.
Tapi sayang, saat ia ingin kembali berteriak memanggil Reno, sebuah tangan dengan beralaskan sapu tangan, membungkam mulutnya.
"Eemm! Eemm! Eemmm!"
Perlahan-lahan, tubuh Aini pun melemah. Kepalanya terasa pusing. Dan penglihatannya pun mulai pudar. Semakin gelap, gelap, dan ia pun tak sadarkan diri.
Flashback Off
Ada tiga orang di sana. Satu wanita dan dua laki-laki. Mereka juga orang yang sama, yang ada di dalam mobil tadi.
"Reni?"
Aini berusaha untuk bangun dengan sisa tenaganya. Tubuhnya terasa lemah karena efek obat bius yang diberikan padanya tadi saat di mobil.
"Eemm! Eemmm! Eemmmm!"
Aini berusaha berteriak untuk meminta tolong. Tapi karena mulutnya dibungkam dengan lakban, ia pun kesulitan melakukan hal itu. Ia juga berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di kaki dan tangannya. Tapi semua sia-sia.
"Kenapa? Kamu mau minta tolong? Teriak aja semaumu! Nggak akan ada yang menolongmu di sini." Sahut wanita itu santai.
Aini menggeleng cepat.
"Mas Reno? Iya, Mas Reno. Apa dia tadi melihatku?" Batin Aini yang tiba-tiba kembali teringat pada Reno.
Dan seketika itu, Aini teringat pada Umar, Kenzo dan Ardi. Ia belum tahu, bagaimana kabar putranya itu, yang tadi sempat menjadi sandra secara tidak langsung.
"Eem,, eemm! Eemm! Eemmmmm!"
__ADS_1
"Diem! Brisik banget sih kamu?" Umpat wanita tadi.
"Em, em, eemmm!"
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanya seorang laki-laki, yang duduk di dekat wanita tadi.
Aini segera mengangguk. Wanita yang sedari tadi duduk santai sambil bermain ponsel itu, lalu memutar bola matanya jengah, setelah mendapat jawaban Aini.
"Buka lakbannya!" Pinta wanita itu tegas.
Salah seorang diantara mereka lantas membuka lakban yang menutupi mulut Aini. Aini meringis kesakitan, karena laki-laki itu membuka lakbannya dengan sangat kasar.
"Katakan!" Pinta wanita tadi singkat.
"Umar? Kalian tidak melakukan apapun padanya, bukan?" Tanya Aini segera.
Wanita itu tersenyum sinis. "Tenang saja! Kami hanya diperintahkan untuk menyekapmu di sini. Putramu hanya sebuah alasan, agar kamu tidak banyak melawan."
Hati Aini sedikit merasa lega. "Siapa yang memerintah kalian?"
"Kamu akan tahu sendiri besok." Jawab wanita itu santai.
Aini segera memutar otaknya. Ia berpikir, tak mungkin diam saja di sini dan menunggu seseorang menolongnya. Jadi, ia akan berusaha semampunya untuk pergi dari tempat yang tak ia ketahui jelasnya itu.
"Tutup lagi mulutnya!" Pinta wanita tadi.
"Tunggu! Aku ingin buang air. Tolong ijinkan aku pergi ke kamar kecil!" Pinta Aini tanpa ragu.
Laki-laki yang masih memegangi lakban yang tadi menutupi mulut Aini, menoleh pada sang wanita yang nampak seperti pemimpin mereka.
"Kamu mau mencoba kabur?" Cibir wanita itu.
"Untuk apa aku kabur? Dan lagi pula, aku tak tahu ini dimana dan ada berapa orang yang menjagaku di sini. Sebelum aku bisa kabur, aku pasti sudah ketahuan lebih dulu oleh kalian." Jawab Aini santai, meski sebenarnya ia sangat gugup saat ini.
"Merepotkan." Gerutu wanita tadi.
"Itu kamar kecilnya!' Imbuh wanita tadi, sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang sudah rusak, karena bersandar sempurna pada dinding.
Aini mengikuti arah tangan sang wanita. "Tolong bukakan ikatan tangan dan kakiku! Aku kesulitan berjalan dan buang air jika seperti ini."
"Crewet banget sih kamu?" Cibir wanita itu kesal.
Aini menjawab sekenanya saja. Ia sebenarnya tidaklah ingin buang air. Itu hanyalah alasan untuk melihat keadaan sekitar. Sejauh apa keadaannya saat ini. Atau mungkin bahkan, ada jalan untuk bisa kabur dari tempat itu.
"Haiiisshh! A*u!" Umpat wanita itu makin kesal.
Tak dapat dipungkiri, keadaan Aini saat ini memang membuatnya kesulitan untuk buang air. Bagaimana tidak? Dengan kedua tangannya yang diikat di belakang, pasti membuatnya kesulitan untuk sekedar membuka pakaian bawahnya agar bisa buang air. Belum lagi kedua kakinya yang juga diikat dengan tali. Jelas membuatnya kesulitan berjalan menuju kamar kecil.
"Awas saja jika kamu berani berulah!" Ancam wanita itu tegas.
"Bukankah kalian sudah profesional? Mana mungkin bisa aku kalahkan seorang diri?" Goda Aini untuk menutupi kegugupannya.
"Benar yang dikatakannya, Ren. Lagi pula, ada yang berjaga di luar juga kan? Kemungkinannya untuk bisa kabur sangat kecil." Sahut salah satu laki-laki.
"Benar, Ren. Dan lagi, ruangan ini adalah ruangan paling tertutup di rumah ini. Mustahil dia bisa keluar kecuali melalui pintu itu." Timpal laki-laki lain.
Wanita tadi memikirkan ucapan dua rekannya, yang memang ada benarnya. Ia pun juga memikirkan kalimat terakhir Aini.
"Oke! Tapi jika sampai kamu berulah, aku tak akan segan menghabisimu dengan segera! Aku tak akan lagi menghiraukan perintah orang yang membayarku." Jawab wanita itu tanpa ragu.
Aini sedikit ketakutan dengan ucapan wanita itu. Tapi, ia juga sangat penasaran dengan orang yang berada dibalik penculikan dirinya saat ini.
"Tenanglah, Ren! Ingat! Kita tidak diminta untuk segera membunuhnya." Saran salah satu rekan wanita itu.
"Memangnya, apa perintah orang yang ada dibalik semua ini pada kalian?" Tanya Aini ragu-ragu.
Wanita tadi segera menoleh pada Aini. Ia pun berdiri dan menghampiri Aini, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Aini, dengan senyuman yang cukup menakutkan.
"Kami diperintahkan untuk menyiksamu secara perlahan. Hingga kamu akan mati secara perlahan." Jawab wanita itu, tepat di depan wajah Aini.
Aini segera menelan salivanya. Itu sungguh hal paling gila yang ia dengar secara langsung selama hidupnya. Hal yang biasanya hanya ada dalam kisah film atau cerita buku novel, ternyata ada dan bahkan ia alami sendiri.
"Buka ikatannya! Pindahkan ikatan tangannya ke depan! Biarkan ia ke kamar kecil!" Pinta wanita itu, setelah menegakkan kembali tubuhnya.
"Ikatan kakinya?"
"Biarkan terbuka! Agar ia tak akan merepotkan kita nanti, saat ia akan kembali ke kamar kecil. Karena aku yakin, ia akan bolak-balik ke kamar mandi setelah ini." Jawab wanita itu santai.
"Oke."
Salah satu laki-laki di ruangan itu, segera membuka ikatan tangan dan kaki Aini secara bergantian, sesuai permintaan si wanita. Sedang si wanita dan laki-laki lain, bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Pinta Aini yakin.
Dua orang yang hendak pergi itu, segera menoleh ke arah Aini.
"Boleh aku tahu siapa namamu, Mbak?" Tanya Aini sesantai mungkin.
"Bukankah kita sudah berkenalan tadi?" Jawab si wanita santai.
"Namamu memang Reni?"
"Iya. Tapi aku bukan teman masa SMA-mu." Jawabnya datar.
"Baiklah. Terima kasih, Ren." Jawab Aini tulus.
Wanita bernama Reni itu kebingungan dengan jawaban Aini. "Untuk apa?"
"Karena melepaskan ikatan ini, dan membiarkanku pergi ke kamar kecil untuk buang air." Jujur Aini.
Reni hanya tersenyum sinis. "Dasar bod*h!"
Reni dan salah satu rekannya lalu meninggalkan Aini yang sedang dilepaskan ikatan kakinya. Mereka keluar dari ruangan itu dan membiarkan rekan mereka yang lain yang menjaga.
Setelah ikatan Aini diperbaiki, Aini segera berdiri dan pergi ke arah pinti yang ditunjukkan Reni tadi. Ia cukup ragu dengan apa yang akan dia temui di ruangan itu.
Dan benar. Ruangan toilet itu tidak seperti yang ia harapkan. Setelah ia masuk, ia mulai melihat keadaan yang mungkin bisa ia manfaatkan. Tapi ternyata semuanya buntu. Dan bahkan, tak ada air sama sekali di ruangan itu, karena tak ada keran air di sana.
"Kenapa tidak ada air? Bagaimana aku bisa buang air?" Tanya Aini sambil kembali keluar ruangan kecil itu.
"Tak usah cerewet!" Sahut laki-laki yang menjaganya dengan sangat ketus.
Aini akhirnya mengalah. Ia berusaha menutup pintu rusak ruangan itu, dengan sekenanya. Yang penting, ruangan itu bisa cukup rapat dan apa yang ia lakukan di dalam tidak bisa dilihat oleh orang yang menjaganya di luar.
Ada sebuah ventilasi udara di sana. Tapi memang, letaknya cukup tinggi. Membuat Aini nekat memanjat sebuah bak mandi yang terbuat dari cor yang ada di ruangan itu.
Aini berusaha setenang mungkin, agar tak ketahuan. Ia berharap, bisa melihat keadaan sekitar atau bahkan meminta bantuan dari orang yang ada di luar sana.
Dan itu membuatnya cukup lama di ruangan itu. Hingga membuat si penjaga curiga. Aini sejenak melupakan itu tadi.
"Kenapa lama sekali?" Teriak si penjaga dari luar, dengan nada yang cukup kesal.
Aini gelagapan. "Iya, sebentar!"
Penjaga itu menggedor-gedor pintu dengan sangat keras. Aini sampai berjingkat karena terkejut. Aini pun segera turun dari bak yang ia panjat.
GRUBYAG.
Tapi sayang, saat Aini baru saja turun, pintu kayu yang digedor sangat keras itu, tiba-tiba rubuh. Karena memang, pintu tadi tidak terkunci dari dalam. Tidak ada kuncinya sama sekali, dan pintu itu hanya disandarkan oleh Aini ke tempatnya, dengan satu engsel sebagai penyangganya.
Beruntung, pintu tadi tidak mengenai Aini yang kebetulan berdiri di samping pintu. Dan jelas, hal itu membuat Aini sangat terkejut.
Para penjaga yang berada di luar, segera masuk ke dalam ruangan dimana Aini sedang disekap. Ia pun terkejut dengan suara keras yang baru saja terdengar.
"Ada apa?" Tanya Reni bingung.
"Dia terlalu lama di toilet. Jadi aku menggedor pintunya." Jujur si penjaga Aini.
"Dasar! Pintu itu rusak. Kalau kamu gedor, jelas akan rubuh." Olok Reni.
"Aku takut, dia berbuat macam-macam di dalam."
Reni mendengus kesal. "Ayo, keluar!"
Aini berusaha keluar dari ruangan kecil itu dengan melompati pintu yang rubuh. Ia pun berdo'a, ulahnya tadi yang memanjat bak, tidak akan ketahuan.
Penjaga Aini tadi, segera memperbaiki posisi pintu yang rubuh. Dan saat itu, ia menemukan jejak kaki Aini yang ada di atas bak cor.
"Dia berusaha kabur, Ren." Ucap si penjaga tadi.
Jantung Aini segera berdegup kencang. Ia sekarang mulai ketakutan jika sampai ulahnya tadi diketahui oleh para penculiknya.
Reni menoleh ke arah rekannya yang masih di dalam toilet. Ia pun menghampirinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Reni setelah ia sampai di delan toilet.
"Lihat!"
Penjaga Aini tadi menunjukkan bekas kaki yang ada si atas bak cor. Dan lagi, tidak ada bekas basah sama sekali di toilet itu. Yang berarti, Aini tidak buang air tadi.
Reni tersenyum sinis sambil keluar dari ruangan kecil itu. Ia berjalan menghampiri Aini yang telah duduk di sebuah kursi yang tadi diberikan salah satu penculik ya untuknya.
Hati Reni berteriak girang. Akhirnya, ada sebuah alasan untuknya bisa sedikit membuat wanita yang ia culik tadi jera dan tak akan berulah lagi nantinya.
__ADS_1