
Semua bisa berencana, tapi tangan Tuhan yang akan menentukan, rencana itu akankah berakhir baik ataukah sebaliknya. Meski terkadang, do'a dan usaha bisa merubah sebuah hasil, tapi semua tetap berada pada kehendak Yang Maha Kuasa.
Malam semakin larut. Setelah kunjungan Oliv tadi, Ardi tidak sengaja tertidur di ruang rawat Kenzo karena kelelahan dan mengantuk. Ia bahkan tertidur dengan posisi terduduk di sofa ruang rawat sang putra.
Ceklek. Dengan sangat hati-hati, pintu ruang rawat itu terbuka perlahan. Aini muncul dengan langkah dan gerakan yang sangat pelan. Karena takut, akan membangunkan Kenzo.
Aini hanya ingin melihat kondisi Kenzo setelah operasi tadi. Tapi ia tidak sendirian saat ini, ia meminta seorang perawat menemaninya.
Aini tadi sudah sempat menanyakan tentang kondisi Kenzo pada perawat yang menemaninya. Dan ia cukup lega, karena kondisi Kenzo sudah cukup baik dan stabil. Tapi, ia masih tetap ingin melihatnya sendiri. Jadi, ia meminta perawat untuk membantunya pergi ke ruang rawat Kenzo.
"Mas Ardi?" Gumam Aini lirih, saat melihat laki-laki penghuni hatinya itu, terlelap di sofa.
Perasaan haru seketika menyeruak memenuhi hati Aini. Ia tak menyangka, Ardi sampai terlelap dalam posisi terduduk karena menjaga putranya seorang diri.
"Maaf, Suster! Apa ada selimut lain di sini?" Tanya Aini sangat pelan.
"Ada, Bu. Sebentar, saya ambilkan!" Jawab perawat itu, tak kalah lirih.
Sang perawat lantas menuju almari yang ada di ruangan itu. Dengan sangat hati-hati, ia mengambil sebuah selimut yang ada di dalam almari, lalu memberikannya pada Aini.
Aini segera menyelimuti tubuh Ardi dengan perlahan. Ia cukup takut, jika sampai membangunkan Ardi yang sedang terlelap.
Setelah yakin selimut terpasang dengan benar, Aini lalu mendekati Kenzo. Ia memandangi wajah anak laki-laki yang tadi siang berjuang begitu keras di ruang operasi itu.
"Cepatlah sembuh, Nak!" Batin Aini, sambil membenarkan posisi selimut Kenzo.
Aini lalu keluar dari ruang rawat Kenzo, dan kembali ke ruangannya sendiri. Perawat itu pun membantu Aini berjalan kembali dengan sangat telaten.
Tapi sayang, saat menutup pintu ruang rawat Kenzo, sang perawat kurang hati-hati. Hingga membuat Ardi terbangun. Ardi langsung celingukan melihat sekeliling.
"Ini? Aini?"
Ardi menyadari, ada seseorang yang menyelimutinya. Ia pun bergegas keluar dan mencari sosok yang mungkin baru saja mengunjunginya.
Dan benar, saat ia membuka pintu, Aini masih berjalan pelan, sambil ditemani oleh sang perawat. Ia pun segera menghampiri Aini dan mencegat langkahnya.
"Mas Ardi? Mas kenapa bangun? Maaf Mas, aku mengganggu tidurmu." Ucap Aini penuh sesal.
"Suster, biar aku yang menemaninya kembali ke kamar!" Pinta Ardi ramah.
"Baik, Pak." Sahut perawat itu.
"Terima kasih, Suster."
"Sama-sama, Pak."
Perawat itu lantas meninggalkan Aini dan Ardi. Ardi pun segera mengambil alih posisi perawat tadi, dan membantu Aini berjalan kembali ke kamarnya.
"Maaf, Mas." Ucap Aini lirih, setelah ia tiduran di ranjang.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Ardi perhatian.
"Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu, Mas."
"Tak ada istilah seperti itu, Sayang. Kamu tak pernah menggangguku sama sekali. Kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, Mas. Aku hanya ingin melihat kondisi Kenzo tadi."
"Dia baik-baik saja."
Aini mengangguk dan tersenyum lega mendengar jawaban Ardi. Mereka lalu mengobrol sejenak untuk melepas rasa yang sedikit menggoda hati. Menggoda dengan cara yang begitu lembut dan tak terkira.
Saat malam semakin larut, Ardi pun meminta Aini untuk beristirahat. Aini pun menyanggupinya, karena memang ia sudah mulai mengantuk. Dan setelah Aini terlelap, Ardi pun kembali ke ruang rawat Kenzo.
Pagi menyapa. Ardi harus kembali berkantor hari ini. Karena ada beberapa rapat yang harus ia hadiri secara langsung. Ardi pergi ke kantor, setelah Niken dan Rama tiba di rumah sakit menggantikannya menjaga Kenzo.
"Mama?" Gumam seorang wanita cantik, yang sedang berjalan menuju salah satu ruang rawat VVIP di lantai tersebut.
"Itukan bukan ruangan Kenzo? Kenapa mama keluar dari sana?"
"Apa itu ruangan Aini? Sial! Kenapa aku tak memikirkan hal itu semalam? Aini pasti dirawat tak jauh dengan Kenzo, kan? Dan itu pasti ruangannya."
Wanita itu melangkahkan kakinya lebih cepat lagi. Ia ingin menghampiri wanita yang baru saja keluar dari sebelah ruang rawat Kenzo.
Suara ketukan sepatu hak tingginya, begitu nyaring terdengar. Menggema memenuhi lorong yang ada. Bahkan sedikit menelusup ke dalam ruangan yang ada di sekitarnya.
"Pagi, Ma!" Sapa wanita itu ramah.
"Ngapain kamu kesini lagi?" Sahut si lawan bicara dengan sangat ketus.
"Oliv ingin menemui Kenzo, Ma." Jujur wanita tadi, yang tak lain adalah Oliv.
Dan yang menjadi lawan bicaranya adalah, Niken. Niken memang baru saja melihat kondisi Aini. Dan tidak disangka, ia malah bertemu dengan Oliv saat keluar dari ruang rawat Aini.
"Ardi tidak mengijinkanmu menemui Kenzo!" Bohong Niken.
"Tapi Ma, aku ibunya. Aku masih memiliki hak menemui Kenzo." Jawab Oliv bangga.
"Ibu? Ibu yang durhaka pada anaknya. Itu lebih tepatnya." Sindir Niken tanpa ragu.
"Ap,,"
"Pergilah! Ardi sudah berpesan tadi, kamu tak boleh menemui Kenzo lagi." Hardik Niken kejam.
"Sebentar saja, Ma! Ada yang ingin Oliv katakan pada Kenzo." Rengek Oliv gigih.
"Nggak!" Jawab Niken singkat.
"Ma!" Panggil Oliv dengan sedikit rengekan.
__ADS_1
"Jangan pernah lagi, kamu berani masuk ke ruang rawat Kenzo! Apalagi berniat mendekati Kenzo. Atau Ardi sendiri yang akan turun tangan." Ancam Niken tanpa takut.
"Tapi Ma,,"
Niken tak menghiraukan panggilan dan rengekan Oliv. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Kenzo. Ia pun segera menutup rapat pintu yang baru saja dilewatinya. Takut-takut, jika ada setan atau mungkin jin yang bisa melewatinya.
Oliv jelas menggeram kesal. Rencananya untuk kembali mendekati Kenzo hari ini, gagal kembali. Tapi ia tak kehabisan akal. Masih ada satu rencana yang belum ia laksanakan.
Oliv segera menetralkan kekesalan hatinya. Ia mulai mengalihkan perhatiannya ke arah pintu dimana Niken keluar tadi. Ia mulai memutar otaknya.
"Apa perlu, aku bertanya pada perawat dulu?" Batin Oliv bimbang.
Butuh beberapa saat bagi Oliv untuk mengambil keputusan. Ia akhirnya memutuskan untuk memastikan terlebih dahulu pada perawat di mana ruang rawat Aini.
Oliv masuk begitu saja ke ruang rawat Aini. Ia disambut oleh Aini yang sedang memainkan ponselnya.
"Mbak Oliv?" Ucap Aini penuh keterkejutan.
Oliv tersenyum ramah pada Aini. Begitupun sebaliknya. Aini akhirnya juga tersenyum ramah pada Oliv setelah mengurai rasa terkejutnya.
"Hai, Ni." Sapa Oliv santai, sambil berjalan ke arah ranjang Aini.
"Gimana kondisimu, Ni?" Tanya Oliv ramah, setelah ia sampai tepat di samping ranjang Aini.
"Alhamdulillah, Mbak. Udah mendingan." Jujur Aini.
"Syukurlah. Terima kasih, ya Ni. Terima kasih karena mau jadi pendonor buat Kenzo." Ucap Oliv penuh ketulusan.
"Iya, Mbak. Mas Ardi juga sudah menyampaikan pesan Mbak Oliv semalam."
"Oh, iya. Aku menitipkan salam untukmu semalam."
"Iya, Mbak."
Oliv dan Aini mengobrol beberapa saat. Tiba-tiba, Aini merasa ingin buang air kecil. Ia pun berpamitan pada Oliv, untuk ke toilet sejenak. Dan jelas, diperbolehkan oleh Oliv.
"Tidurlah nyenyak setelah ini, Ni!" Gumam Oliv, saat memandangi Aini berjalan perlahan ke toilet.
Oliv meraih tas kecilnya. Ia mengambil sesuatu dan memasukkannya ke dalam gelas berisi air putih yang ada di atas nakas di samping ranjang Aini. Sebuah senyuman jahat pun terkembang di wajah cantiknya.
Oliv segera menyelesaikan rencana kecilnya. Ia sedikit mengaduk air putih yang telah ia campur sesuatu tadi. Tak banyak perubahan yang terjadi pada air minum itu. Jadi, Aini jelas tak akan curiga.
Tak lama, Aini pun kembali. Ia lalu mengobrol lagi dengan Oliv. Aini juga bahkan minum beberapa teguk air putih di atas yang memang adalah miliknya. Oliv melihat hal itu dengan perasaan yang sangat puas.
"Habiskan, Ni! Kamu akan tertidur sangat lama setelah ini." Batin Oliv santai.
Setelah dirasa cukup, Oliv pun berpamitan pada Aini.
"Aku pulang ya, Ni. Aku ada janji jam satu nanti." Pamit Oliv santai.
"Oh, iya Mbak. Terima kasih, Mbak mau repot-repot ke sini." Sahut Aini sungkan.
Dan setelah kepergian Oliv, Aini merasa cukup mengantuk. Ia pun membenarkan posisinya, dan bersiap untuk tidur sejenak. Demi menghilangkan rasa kantuknya. Dan tak butuh waktu lama, Aini pun segera tertidur lelap.
Di tempat lain, Oliv sedang mengganti pakaiannya. Ia sudah membawanya sejak tadi. Awalnya, ia tak ingin mengganti pakaiannya. Tapi ia sadar, Aini dijaga oleh pengawal Ardi tadi. Jadi, akan sangat aneh jika ia kembali begitu saja ke ruang rawat Aini, padahal ia baru saja dari sana.
Oliv sudah menjelma menjadi seorang perawat kini. Tapi ia melupakan satu hal, sepatu hak tingginya. Ia lupa tidak membawa gantinya.
"Biarlah! Semoga pengawal Ardi tidak menyadarinya!" Gumam Oliv, sembari keluar dari toilet.
Oliv menyembunyikan tasnya. Ia pun bahkan sudah menyiapkan nampan dan beberapa alat medis untuk meyakinkan aksinya. Ia lalu mulai melangkahkan kakinya, kembali ke ruang rawat Aini.
Tak ada perawat yang menyadari penyamaran Oliv. Karena memang, para perawat jaga sedang mempersiapkan ruang rawat yang akan dihuni oleh seseorang yang baru saja akan menjalani rawat inap dan menangani keluhan pasien lain.
Oliv berjalan cukup tenang menuju ruang rawat Aini. Jantungnya mendadak berdegup kencang, tatkala ia berpapasan dengan tiga pengawal Ardi yang ada di lorong. Ia berusaha bersikap senatural mungkin. Dan ternyata, ia berhasil masuk ke ruang rawat Aini dengan sangat mulus, tanpa hambatan dari pengawal.
Oliv segera mendekati Aini yang sedang tertidur lelap. Aini bahkan tidak terusik sama sekali dengan suara ketukan sepatu hak tinggi Oliv yang begitu nyaring. Dan itu semua karena, obat bius yang dimasukkan Oliv ke dalam minuman Aini tadi.
"Selamat tinggal, Wanita Sialan!" Batin Oliv, dengan tangan yang sudah memegang sebuah alat suntik.
Sedang di lorong, tiga pengawal Ardi sedang berusaha menemukan jawaban dari kejanggalan yang mereka temukan.
"Sepertinya, perawat tadi tidak asing." Gumam salah satu diantara mereka.
"Iya."
Mereka terdiam sejenak. "Bu Oliv."
Tiga pengawal itu segera berlari ke dalam ruang rawat Aini. Dan saat sampai di sana, tak ada siapapun selain Aini yang tertidur lelap. Mereka segera berpencar mencari keberadaan perawat yang tadi masuk ke ruang rawat Aini seorang diri.
"Bu Aini! Bu Aini!"
Salah satu pengawal itu berusaha membangunkan Aini. Tapi, tidak berhasil sama sekali.
"Panggil perawat dan hubungi dokter Gilang!" Usul salah satu diantara mereka, karena tak berhasil membangunkan Aini.
"Jangan lari!" Teriak pengawal lain, yang masih sibuk mencari keberadaan perawat aneh tadi.
Ternyata, ia melihat perawat aneh tadi menyelinap keluar melalui pintu. Pengawal itu segera mengejar perawat aneh yang tak lain adalah Oliv tadi.
Satu pengawal lain segera memanggil perawat dan menghubungi Gilang. Sedang satu yang lain, sedang memeriksa keadaan sekitar, barangkali ada sesuatu yang bisa ia jadikan bukti atau apapun yang mungkin tertinggal oleh perawat aneh tadi.
Lorong ruangan VVIP menjadi gaduh karena aksi pengawal yang mengejar perawat aneh itu. Tapi sayang, ia kehilangan jejak perawat aneh itu, karena berhasil menghilang setelah keluar dari area ruang rawat VVIP.
Sedang di ruangan Aini, perawat datang dengan sedikit tergesa. Karena juga terkejut, ada kegaduhan orang berlarian secara tiba-tiba, dan keluar dari arah kamar yang sama dengan yang memanggil perawat.
"Ada apa?" Tanya perawat cepat.
"Bu Aini tidak mau bangun." Jawab pengawal cemas.
__ADS_1
Perawat segera memeriksa kondisi Aini. Pengawal Ardi pun, masih sibuk memeriksa kondisi sekeliling Aini.
"Ini??"
Pengawal Ardi menemukan sebuah alat suntik yang berisi cairan dengan ujung jarum suntik yang siap digunakan. Ia menemukan benda itu tepat di samping kaki perawat yang sedang memeriksa infus Aini. Letaknya sedikit mepet dengan nakas yang ada di sebelah ranjang Aini.
Perawat tadi pun segera menoleh ke arah pengawal yang tiba-tiba membungkuk di dekat kakinya. Ia pun refleks bergeser. Ia juga cukup terkejut melihat alat suntik itu tergeletak di sana
"Apa ini milik Suster?" Tanya pengawal.
"Bukan. Saya tidak membawa alat apapun tadi." Jujur perawat itu.
Dua pengawal Ardi segera menyimpannya di atas meja. Sembari membiarkan perawat itu melakukan tugasnya, dan menunggu Gilang tiba.
"Ada apa?" Tanya Gilang sedikit ngos-ngosan, karena berlari dari lift ke ruang rawat Aini.
"Pasien sepertinya dibius, Dokter." Jawab perawat itu ragu.
"Dibius?"
"Saya sudah berusaha memberikan pertolongan untuk orang pingsan, tapi tidak ada reaksi apapun dari pasien."
Gilang menoleh pada pengawal Ardi. Ia lalu memeriksa kondisi Aini. Memastikan sendiri kondisi Aini, seperti yang perawat katakan.
"Siapa yang baru saja berkunjung?" Tanya Gilang tajam.
"Bu Oliv, beberapa saat yang lalu. Setelah itu, ada seorang perawat aneh yang masuk ke ruangan ini." Jawab pengawal tadi datar.
"Aneh?"
"Dia mengenakan sepatu hak tinggi, tidak seperti perawat yang semestinya."
"Dimana dia sekarang?"
"Saat kami masuk, dia menyelinap keluar. Dwi sedang mengejarnya."
"Jadi kegaduhan tadi, karena perawat aneh itu?" Sela perawat antusias.
"Benar. Kami mohon maaf atas hal itu." Ucap pengawal bersalah.
"Dan ini, kami menemukan ini di bawah ranjang bu Aini."
Salah satu pengawal itu menunjukkan alat suntik yang ia temukan tadi pada Gilang. Gilang pun segera meraihnya.
"Ini bukan milikmu?" Tanya Gilang pada perawatnya.
"Bukan, Dokter."
Gilang menimang-nimang dan memperhatikan dengan seksama alat suntik itu. Alat suntik itu benar-benar siap pakai.
"Ganti infus dan semua peralatan yang tersambung ke tubuh Aini! Ambil sample darahnya dan segera kirim ke lab!" Pinta Gilang tegas.
"Tapi, kenapa Dokter?" Tanya perawat itu penasaran.
"Tak usah banyak tanya! Lakukan saja, cepat!" Jawab Gilang sedikit marah.
Gilang segera menghentikan laju infus yang masuk ke tubuh Aini. Ia pun segera mencabut jarum infus yang tertancap di tangan kanan Aini.
Sedang si perawat, segera kembali ke ruang jaga dan mengambil peralatan yang dibutuhkan sesuai permintaan Gilang.
"Gimana? Mana perawat aneh tadi?" Tanya pengawal Ardi, saat mendapati satu temannya kembali setelah mengejar orang.
"Lepas." Jawab pengawal yang baru tiba, dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ah, sial! Kita pasti kena marah pak Ardi." Gerutu pengawal lain.
"Rahasiakan ini dari Ardi terlebih dahulu! Aku akan mencari tahu obat apa yang ada dalam alat suntik itu. Dan,,"
Ucapan Gilang terpotong, saat dua perawat masuk dengan segala perlengkapan yang ia minta. Ia segera memasang kembali infus untuk Aini. Dan tak lupa, mengambil sample darah Aini untuk dicek di laboratorium.
"Dan ini! Periksa air minum ini juga!" Pinta Gilang, seraya memberikan gelas air putih yang ada di atas nakas Aini.
"Baik, Dokter." Jawab perawat patuh.
"Kalian kembalilah dulu!" Pinta Gilang datar.
Dua perawat itu mengangguk paham. Mereka lantas meninggalkan Gilang dan tiga pengawal Ardi.
"Apa kalian melihat wajahnya?" Tanya Gilang segera.
"Tidak. Dia memakai masker." Jawab salah satu pengawal.
"Tapi, ada satu yang tidak kami lupakan." Imbuh pengawal lain.
"Apa?"
"Sepatu hak tingginya. Sepatu yang sama, yang bu Oliv kenakan. Itu bukan sebuah kebetulan yang sangat kebetulan." Jawab pengawal yakin.
Gilang terdiam. "Oke. Rahasiakan ini dari Ardi! Aku yang akan mengatakannya pada Ardi nanti, setelah mendapat hasil lab tadi. Dan tingkatkan kewaspadaan kalian!"
"Baik, Dokter."
"Bagaimana kondisi bu Aini?" Tanya salah satu pengawal cemas.
"Dia dibawah pengaruh obat bius. Kita tunggu dia sadar." Jawab Gilang yakin.
"Baik, Dokter. Terima kasih."
"Ya. Aku pergi dulu!"
__ADS_1
Gilang pun meninggalkan ruang rawat Aini dengan banyak hal di kepalanya. Ia juga berharap, hasil lab Aini akan baik-baik saja.