
Hidup yang kita jalani, terkadang tak seperti yang kita harapkan. Sering kali, ada kerikil atau bahkan lubang besar yang menanti kita dalam menapaki setiap takdir yang telah tergariskan. Yang mau tak mau, harus kita lewati tanpa bisa menghindari.
Siang ini, Suharti berkunjung ke rumah Adit sendirian. Dan kebetulan, Aini hanya bersama Umar di rumah. Ratri sedang pergi ke rumah temannya. Sedang Adit, tentu saja pergi bekerja.
"Apa kamu tak kasihan pada Adit? Dia bekerja sendirian menafkahi keluarganya." Ucap Suharti santai sambil bermain bersama cucunya.
"Mas Adit tak mengijinkan Aini bekerja Bu'." Jujur Aini.
"Jangan kira Ibu tak tahu ya? Adit juga menanggung biaya rawat jalan penyakit liver ibumu kan?" Cecar Suharti.
Deg. Jantung Aini sejenak berhenti berdetak. Ia terkejut mendengar penuturan Suharti yang memang benar adanya.
Semenjak satu tahun terakhir, kondisi kesehatan Ratmini semakin menurun. Ia tak bisa melakukan banyak hal seperti dulu lagi karena penyakit liver yang ia derita semakin memburuk. Ia harus sering bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani rawat jalan, karena hatinya sudah mulai tak berfungsi dengan baik.
Dan biaya pengobatan Ratmini, sebagian memang ditanggung oleh Adit sebagai ganti Aini sang putri yang menjadi istrinya. Ratmini pun masih memiliki sedikit tabungan yang selalu ia sisihkan saat masih bekerja dulu. Ratna, kakak Aini, juga ikut menanggung biaya itu, tapi tidak sebesar Aini yang kemampuan ekonomi keluarganya lebih baik dibandingkan Ratna.
Adit sebenarnya tak pernah keberatan akan hal itu. Ia menyadari tanggung jawabnya sebagai suami Aini. Jadi, ia pun dengan tangan terbuka membantu biaya pengobatan ibu mertuanya.
"Makanya, kamu itu kerja! Jangan cuma mau morotin kekayaan suami kamu terus!" Imbuh Suharti ringan.
Hati Aini tersentil.
"Apa aku seperti itu selama ini?" Batin Aini pedih.
Aini hanya diam. Ia tak ingin menjawab apapun yang dikatakan ibu mertuanya. Ia lebih fokus menahan airmatanya agar tak lepas dari tempatnya bersembunyi, sambil menemani Umar dan Suharti bermain.
Saat menjelang sore, Suharti pulang. Aini masih terus saja memikirkan tuduhan Suharti padanya tadi. Ia bahkan memikirkannya selama beberapa hari.
Hingga akhirnya, Aini meminta izin pada Adit untuk kembali bekerja setelah tiga hari memikirkan ucapan Suharti dan segala resiko dari keputusannya ini.
"Aku sudah bilang padamu bukan Sayang, biar aku saja yang mencari nafkah. Kamu di rumah saja menjaga Umar. Lagi pula, kan Ratri juga ada di rumah nemenin kalian." Tolak Adit lembut.
Aini terus saja meminta ijin pada Adit tanpa mengucapkan alasan yang sejujurnya pada Adit. Karena jika ia mengatakan pasal pengobatan ibunya dan dorongan dari Suharti, Adit pasti akan menolaknya dengan keras. Aini hanya beralasan, ia ingin membantu program hamil Ratri dan membiarkan Ratri belajar merawat Umar.
Setelah sekian bujukan dan perundingan, Adit akhirnya mengijinkan Aini kembali bekerja. Adit meminta Aini kembali ke rumah makan seperti dahulu, tapi Aini menolaknya. Ia ingin bekerja di tempat lain, yang tak memiliki hubungan dengan rumah makan milik keluarga Subrata. Dan Adit menerima itu.
Satu bulan kemudian, Aini mendapatkan panggilan kerja di sebuah rumah makan yang cukup terkenal di kota. Hampir sama dengan rumah makan milik Adit, rumah makan ini juga memiliki beberapa cabang lain di luar kota. Dan Aini diterima di bagian administrasi karena serifikat kursus yang ia miliki.
"Bunda kerja dulu ya Sayang! Umar jangan nakal ya sama Mama!" Pamit Aini saat ia akan berangkat kerja pertama kali pagi ini.
"Umal ikut!" Rengek Umar dengan polosnya sambil menggelayut manja dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
Hati Aini begitu pedih melihat tingkah putranya. Ia juga sebenarnya tak ingin meninggalkan Umar. Tapi, ia juga tak bisa begitu saja mengabaikan kondisi ibunya yang makin melemah dan pastinya membutuhkan biaya untuk menjalani rawat jalan.
"Umar! Nanti main sama Mama dulu ya Sayang. Bunda biar kerja dulu. Setelah nanti Bunda pulang, Umar bisa main lagi sama Bunda." Rayu Ratri mencoba membantu Aini.
Umar menggelengkan kepalanya.
Mama, panggilan Umar untuk Ratri. Dan Ratri sudah mengetahui keputusan Aini untuk bekerja lagi. Ia pun mulai mencoba lebih akrab dengan Umar belakangan ini. Tapi semua memang tidaklah mudah. Apalagi, selama ini Umar selalu bersama dengan Aini.
"Anak sholeh, jangan lupa pesan Bunda semalam! Ingat kan?" Bisik Aini di telinga Umar.
Umar mengangguk.
"Jadi, Bunda sekarang berangkat kerja dulu ya! Umar di rumah sama Mama. Do'akan Bunda, biar Bunda lancar pekerjaannya dan segera kembali pulang dengan rejeki halal dan berkah. Dan segera kembali main sama Umar. Ya?" Rayu Aini lagi.
Umar kembali mengangguk. Matanya mulai merah dan berkaca-kaca.
"Jangan menangis Sayang! Bunda pasti segera pulang dan kembali bermain dengan Umar." Imbuh Aini.
Umar pun memeluk erat Aini, sebelum akhirnya menyalaminya dengan berat hati. Aini sebenarnya juga tak rela meninggalkan Umar, tapi mau bagaimana lagi. Ia tak mungkin terus-terusan membebankan pada Adit biaya rawat jalan ibunya.
Aini akhirnya berangkat dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha keras tak menangis agar Umar pun tak menangis dan rewel ketika ia tinggal bekerja.
Ratri yang dititipi Umar, dengan telaten menjaga Umar di rumah selama Aini bekerja. Ia sebenarnya tak enak hati karena membuat ibu dan anak itu berpisah secara tidak langsung. Dan dari sanalah ia berjanji, akan menjaga Umar dengan baik selama Aini bekerja.
"Aku harus menjauhkan Adit dan Aini." Batin Suharti saat bermain dengan Umar di rumahnya siang ini.
Waktu terus berjalan. Satu bulan sudah, Aini menjalani pekerjaan barunya. Ia masih tetap sekuat tenaga menguatkan hatinya ketika harus berpamitan pada putra semata wayangnya.
Dan hari ini, Ratri mengajak Umar berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Ia sedikit jenuh di rumah berdua dengan Umar. Jadi mengajak Umar untuk mengunjungi Hadi dan Suharti di kediamannya.
"Kamu tak ingin punya rumah sendiri Nak dengan Adit?" Tanya Suharti santai, saat mengobrol berdua dengan Ratri, karena Umar sedang tidur dengan kakeknya.
"Maksud Ibu?" Tanya Ratri bingung.
"Ya kalian tidak tinggal satu atap dengan Aini. Kamu berhak meminta itu pada Adit Nak."
Ratri terdiam. Ia sebenarnya pernah memikirkan hal itu, tapi ia urungkan. Mengingat, ia tak mungkin bisa mengurus rumah seorang diri seperti Aini. Dan akan sangat membebani Adit jika ia menggunakan jasa ART di rumah barunya nanti. Meskipun, ia memiliki tabungan sendiri dari hasil ia bekerja di Singapura selama beberapa tahun ini.
Ratri memang belum begitu handal mengurus rumah tangga seperti Aini. Selama ia menjadi istri Adit, ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama Aini. Ia selalu kesulitan jika ia mengerjakan semuanya sendiri. Seperti saat Aini sakit beberapa waktu yang lalu. Ia cukup kesulitan melakukan semuanya sendiri.
"Ibu punya rumah yang tak Ibu tempati. Jika kamu mau, Ibu akan minta pada Adit untuk kalian pindah ke sana." Usul Suharti santai.
__ADS_1
"Tidak usah Bu'. Saya, Mas Adit dan Aini sudah cukup tinggal di rumah itu."
"Kamu juga butuh waktu berdua dengan suamimu bukan? Seperti Adit dan Aini selama ini."
"Mas Adit sudah cukup adil Bu' padaku dan Aini selama ini." Jelas Ratri.
"Tidak. Adit belum adil padamu. Karena ia belum membelikanmu rumah bukan? Rumah yang kalian tempati itu, sudah menjadi milik Aini."
Memang benar, rumah yang Adit dan keluarganya tempati saat ini sudah menjadi milik Aini. Sudah resmi atas nama Aini. Adit sudah mengubahnya sejak kelahiran Umar.
"Kan Aini sudah lebih dulu menikah dengan Mas Adit Bu'. Pantas jika Mas Adit sudah memberikannya rumah."
"Enggak. Kamu juga harus punya sendiri. Nanti kalau Aini jadi semena-mena sama kamu gimana? Kalau dia tiba-tiba ngusir kamu?"
Deg. Suara Ratri mendadak tercekat.
"Mungkinkah Aini mengusirku dan menjauhkanku dari Mas Adit? Ah, tidak mungkin." Batin Ratri cemas.
Suharti menyadari ekspresi keterkejutan Ratri. Ia bisa menebak, bahwa Ratri mulai termakan oleh ucapannya. Ia menyeringai puas dan malah ingin menambahi angin pada bongkahan arang yang mulai tersulut apinya itu.
"Maka dari itu Nak, mintalah pada Adit! Atau minta rumah itu diatasnamakan namamu saja. Itu akan lebih aman. Kamu sebagai istri kedua, tak akan bisa diusir oleh istri pertama Adit, jika rumah itu sudah atas namamu." Jelas Suharti menggebu-gebu.
Hati Suharti benar-benar tak terima, saat ia tahu, rumah yang Adit tempati itu telah menjadi milik Aini begitu mudahnya. Ia bahkan sempat berdebat dengan Adit saat mengetahui hal itu. Tapi Adit tetap tak mau merubah keputusannya hingga saat ini.
"Tapi Bu',,"
"Ibu akan bantu mengatakannya pada Adit besok." Sela Suharti santai.
"Jangan Bu'! Mas Adit pasti akan marah denganku." Panik Ratri.
"Jika Adit sampai marah padamu, katakan pada Ibu! Ibu pasti akan memarahinya karena melakukan itu pada menantu kesayanganku."
"Ibu ada-ada saja." Jawab Ratri sungkan.
"Ibu akan selalu mendukungmu Nak." Imbuh Suharti sambil mengusap bahu kanan Ratri.
Ratri tersenyum kecil. Ia bahagia karena mertuanya menerimanya dengan sangat baik.
Tapi di sisi lain, ia juga mulai memikirkan ucapan ibu mertuanya tadi. Ia juga ingin merasakan banyak waktu berdua bersama Adit, meskipun ia adalah istri kedua.
"Bukankah Mas Adit harus adil padaku?" Batin Ratri ragu.
__ADS_1
Hati Ratri mulai ditumbuhi rasa cemburu yang tak sepantasnya pada madunya. Ia mulai terhasut oleh ucapan dan rayuan ibu mertuanya yang tidak pernah menyukai Aini.
Bagaimanakah Ratri akan bersikap nantinya? Lalu, bagaimana nasib Aini yang sedang berjuang demi ibunya dan pernikahannya?