
Perasaan seseorang memang terkadang bisa sangat peka. Apalagi jika bersangkutan dengan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Ardi harus lembur malam ini. Ia bahkan pulang dari kantor saat waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Perasannya sedikit gelisah sejak tadi. Apalagi, saat ini hujan turun dengan lebatnya sejak selepas maghrib tadi.
Dika mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Beberapa ruas jalan yang sudah tergenangi air, membuat Dika tak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi, meski jalanan cukup sepi.
Ardi sibuk memandangi hujan yang turun begitu deras dan disertai angin yang cukup lebat. Beberapa toko dan kedai pinggir jalan, nampak sudah tidak menjajakan dagangannya lagi. Bahkan, nyaris tak ada satu pun penjual kaki lima yang membuka warungnya dalam kondisi cuaca seburuk ini.
Saat sedang sibuk menikmati pemandangan hujan, ponsel Ardi berdering. Ia pun segera menjawab panggilan yang masuk sambil menyunggingkan senyumnya, yang tak lain dari putra semata wayangnya, Kenzo.
"Assalamu'alaikum." Sapa Ardi bahagia.
"Wa'alaikumussalam, Pa."
"Sebentar lagi Papa sampai rumah, Ken. Hujannya lebat sekali, jadi om Dika bawa mobilnya pelan-pelan." Ucap Ardi santai.
"Bunda belum pulang, Pa."
"Bunda? Bunda kemana memangnya?" Ulang Ardi tak percaya.
"Bunda pergi sama mama tadi sore."
"Kamu sudah telepon bunda?"
"Ponsel bunda tertinggal di rumah, Pa."
"Udah telepon mama?"
"Kata mama, bunda pergi ke rumah majikan lamanya. Tapi ini udah malem, Pa. Umar udah nangis tadi." Adu Kenzo polos.
Ardi terdiam. Ia merasa ada yang aneh dari penuturan Kenzo.
"Ya sudah, Papa akan cari bunda dulu. Kamu sama Umar di rumah dulu ya sama mbak Tika." Pesan Ardi segera.
Dika yang sedang menyetir, sedikit menoleh ke arah Ardi setelah mendengar ucapan bosnya itu.
"Iya, Pa."
Panggilan segera terputus. Wajah Ardi yang tadi nampak lelah, seketika berubah sedikit kesal. Tapi juga sedikit bingung karenanya.
"Kenapa Aini pergi ke tempat itu tanpa berpamitan?" Batin Ardi kesal sambil menatap ke luar jendela mobilnya.
Dan tiba-tiba,,
"Berhenti!" Ucap Ardi spontan.
Dika yang memang sedang melaju lambat, mendadak mengerem mobilnya. Beruntung tak terjadi tabrakan atau serempetan lain karenanya. Dika lantas menepikan mobilnya, agar tak mengganggu pengguna jalan lain.
"Payung!" Pinta Ardi tanpa basa-basi.
Dika segera mengambilkan payung lipat yang ia simpan di dasbor mobil itu. Dan dengan segera memberikannya pada Ardi.
"Nyalakan penghangat mobilnya!" Pinta Ardi lagi.
__ADS_1
"Iya?"
Dika sedikit kebingungan dengan permintaan bosnya itu. Tapi ia segera melakukannya. Dan saat itu pula, Ardi keluar dari mobilnya dengan payung yang diberikan Dika. Dika pun mengikuti arah Ardi melangkah.
"Bu Aini?" Gumam Dika terkejut.
"Aini!" Panggil Ardi, saat ia mendekati seseorang yang sedang berteduh di depan sebuah ruko kecil.
Wanita itu menoleh pelan. Nampak jelas dari wajah dan gelagat tubuhnya, bahwa ia sedang kedinginan. Bahkan, bajunya nyaris basah semua karena cipratan air hujan yang sedari tadi mengguyur dengan derasnya disertai angin. Apalagi, ruko itu tak memiliki peneduh di bagian depannya. Hanya ada bagian kecil dari genteng yang menaungi bagian depan.
"Mas Ardi?" Ucapnya lirih.
Wanita itu memang Aini. Aini berdiri di sana dengan satu tangan yang mendekap tubuhnya sendiri, untuk meredam hawa dingin yang menerpa. Ada sebuah payung di tangan yang lain, untuk menutupi tubuh bagian atasnya, agar tak terpapar cipratan air hujan yang sedari tadi belum ada tanda-tanda akan mereda.
"Kamu sedang apa di sini? Kenapa tidak pulang?" Tanya Ardi cemas saat ia sudah berada di samping Aini.
"Saya,,,"
Tubuh Aini menggigil hebat. Ia kesulitan menjawab pertanyaan Ardi.
"Ayo, masuk mobil!"
Ardi tanpa ragu merangkul dan segera memapah Aini menuju mobilnya. Payung di tangan Aini dibuangnya begitu saja. Karena pakaian Aini yang nyaris basah semua, membuat tubuhnya begitu dingin. Wajahnya pun sudah mulai pucat.
"Berikan jasmu!" Pinta Ardi pada Dika.
Dika pun segera melepaskan jas kerjanya. Ia lalu memberikan jas itu pada Ardi. Dan Ardi pun juga segera melepaskan jas miliknya. Ia langsung mendekap tubuh Aini yang terasa sangat dingin, setelah memakaikan dua jas kerja itu pada Aini.
"Baik, Pak." Dika segera menuruti permintaan.
"Maaf, Mas." Ucap Aini lirih dan terbata.
"Sudah, diamlah!" Jawab Ardi singkat.
Tanpa keraguan sedikitpun, duda yang baru saja pulang dari kantornya itu, mendekap dan memeluk Aini dengan begitu erat. Ada setitik rasa bersalah karena tak tahu jika Aini sedang dalam kondisi tak baik sejak tadi.
Tanpa sepatah kata pun, Ardi dengan setia mendekap erat Aini yang tubuhnya menggigil hebat. Karena tubuh Ardi dan Aini yang tak berjarak, membuat pakaian Ardi ikut basah.
"Baju,, Anda,, basah, Mas." Ucap Aini sambil sedikit meronta.
"Sudah! Diamlah! Atau kamu akan mengalami hipotermia nanti." Jawab Ardi tanpa mengendurkan pelukannya sedikit pun.
Aini akhirnya pasrah. Badannya yang memang sudah menggigil sejak tadi, tak memiliki banyak tenaga. Ia akhirnya pasrah di pelukan Ardi.
"Maaf,, Mas." Ucap Aini sungkan.
"Sudah, diam! Atau aku akan menciummu agar kamu diam." Ancam Ardi sedikit pedih.
Aini segera membungkam mulutnya. Ia tak mau, jika sampai Ardi nekat melakukan apa yang ia katakan barusan. Dika pun diam-diam melirik atasannya itu melalui kaca spion.
Hati Ardi benar-benar gelisah karena kondisi Aini. Ia marah pada dirinya sendiri, karena tak menyadari bahwa Aini sedang dalam kondisi tidak baik sedari tadi. Meski Ardi tak tahu sejak kapan Aini di sana tadi, tapi ia yakin, Aini sudah cukup lama berada di depan ruko kecil tadi.
Tubuh Aini mulai melemah. Tubuhnya pun refleks bersandar pada tubuh laki-laki yang sedang memeluknya penuh kehangatan.
__ADS_1
"Lang, ke rumah sekarang!" Pinta Ardi setelah ia melakukan panggilan dengan ponselnya.
"Kenapa? Apa Kenzo pingsan lagi?"
"Aini nyaris hipotermia."
"Kamu bercanda?"
"Nggak usah crewet! Cepat ke rumah!"
Panggilan pun diakhiri segera oleh Ardi. Ia meletakkan ponselnya sembarang tempat.
Aini mendongakkan wajahnya. Manatap penuh tanya pada laki-laki yang sedang memeluknya tanpa ragu. Dan ternyata, Ardi pun segera menundukkan wajahnya untuk memastikan Aini tidak pingsan. Karena ia sudah menyadari, bahwa tubuh Aini benar-benar bersandar sepenuhnya padanya.
"Tenanglah! Kita akan segera sampai rumah. Gilang juga sedang bersiap ke rumah." Ucap Ardi menenangkan.
Aini mengangguk pasrah. Ia masih setia menatap Ardi dengan tatapan makin sayu.
"Kamu harus tetap sadar!" Pinta Ardi berat.
Aini pun mengangguk pelan. Ada setitik rasa bahagia menerpa hatinya. Ia tak menyangka, akan mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa dari seseorang yang tak pernah ia duga. Mengingat, ia hanyalah wanita biasa.
"Aku pasti akan sangat bahagia, jika memang mas Ardi memperlakukanku seperti ini dengan tulus, sebagai wanitanya." Batin Aini.
Ya, Aini telah menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada Ardi. Pada laki-laki yang tanpa sengaja ia temui di sekolah Umar. Pada laki-laki, yang telah membantunya mendapatkan kembali hak asuh Umar. Pada laki-laki, yang mungkin tak bisa ia miliki seutuhnya nantinya. Karena ia tahu, mantan istrinya juga sedang berusaha kembali padanya.
Aini masih setia menatap Ardi. Ardi pun masih belum melepaskan pandangannya dari wanita dipelukannya itu. Dua bola mata itu kembali saling memantulkan bayangan satu sama lain.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tak berpikir sejauh ini tadi." Batin Ardi sedih.
Ardi benar-benar tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya pada dirinya sendiri. Ia mengabaikan firasat tak baik yang sedari tadi menghampirinya. Dan akhirnya, menemukan wanita yang kini tengah mengisi relung hatinya dalan kondisi yang diluar dugaan.
Entah apa yang Ardi pikirkan, hingga tiba-tiba,,
CUP. Sebuah kecupan hangat, mendarat dengan lembut di kening dingin Aini dari laki-laki yang menatapnya dengan lembut beberapa saat lalu. Aini yang memang masih kedinginan dan belum bisa berpikir jernih, menatap Ardi penuh keterkejutan.
"Mas??" Lirih Aini bingung dengan mata yang membulat sempurna.
"Maaf, aku tak tahu jika kamu disana dalam kondisi cuaca seburuk ini." Jawab Ardi sendu.
Aini hanya diam. Ia masih mencoba mencerna apa yang Ardi katakan dan lakukan barusan padanya. Mata bulat berwarna cokelat itu menatap sang duda tanpa berkedip.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang cukup hangat, membelai dengan lembutnya, pipi wanita yang masih begitu dingin itu. Ia pun memejamkan matanya dan menikmati belaian lembut itu. Ada getaran aneh menjalar ke setiap inci tubuh sang wanita. Ada gelanyar yang tak biasa, meresap dengan sempurna ke setiap pembuluh darahnya.
Sang laki-laki pun, dengan tatapan teduhnya, menyapu dengan begitu hangat, setiap lekuk wajah sang wanita. Ada gejolak yang mendadak menyeruak tak terkendali dalam posisi yang tak biasa ini. Hingga, tatapannya terhenti pada salah satu bagian 8wajah yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
Tanpa dua insan itu sadari, wajah sang laki-laki perlahan-lahan mendekati wajah sang wanita. Sang wanita yang baru saja membuka matanya karena terbuai dengan sentuhan lembut tangan kekar itu, tak begitu menyadari, jarak wajah mereka semakin terkikis sedikit demi sedikit.
Hingga, dua buah benda lembut itu, mulai saling bertaut dengan penuh perasaan. Saling menyapu dan merasa, setiap jengkal milik lawan mainnya. Saling mengecap untuk pertama kalinya.
Sang sopir yang sedang fokus menyetir, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh suara yang tak asing baginya. Suara yang benar-benar mengusik indera pendengarannya. Ia pun segera melirik ke arah spion dalam mobil yang ia kendarai. Matanya membulat seketika. Tapi ia berusaha bersikap sepolos mungkin, agar tak mengganggu momen yang seharusnya belum terjadi itu.
Luapan rasa, terkadang tak bisa kita bendung. Mengalir tanpa terkendali memenuhi ruang rasa dan jiwa. Hingga membuat kita terbuai oleh semua yang terjadi, tanpa ingin menolaknya.
__ADS_1