
"Kenapa Aini sama Umar nggak bisa dihubungi beberapa hari?" Gumam seorang wanita di teras rumahnya, sambil memainkan ponselnya.
Dia Ratna. Sudah sejak beberapa hari terakhir, ia kesulitan menghubungi adik semata wayangnya, Aini. Ia juga tak bisa menghubungi keponakannya, yang ia tahu sudah bersama dengan ibu kandungnya saat ini.
"Kenapa, Bu'?" Tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam rumah, sembari membawa segelas es teh manis. Imron, suami Ratna.
"Ini lho, Mas. Aini sama Umar sulit banget dihubungi." Adu Ratna.
"Nggak biasanya Aini gitu. Baru banyak kerjaan mungkin dari atasannya."
"Nomer Aini nggak aktif, Mas. Kalau nomer Umar, aktif. Tapi nggak pernah di jawab teleponnya."
"Coba, telepon lagi! Siapa tahu sekarang bisa." Jawab Imron santai.
Ratna pun kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Aini. Tapi tetap tidak bisa. Ia pun mencoba menghubungi nomor Umar. Dan tiba-tiba,,
"Iya, halo?" Suara seorang laki-laki menggema di telinga Ratna.
"Halo. Ini siapa? Ini nomor Umar, kan?" Tanya Ratna panik.
"Iya. Ini nomor ponsel Umar. Saya Ardi, pemilik rumah, dimana Umar tinggal."
"Oh, maaf Pak. Anda pasti atasan Aini?"
Yang menerima panggilan itu memang Ardi. Ponsel Umar selama beberapa hari dibawa oleh Dika. Ardi yang meminta Dika untuk sementara membawa ponsel Umar, selama Umar sakit. Agar Umar bisa sembuh lebih dulu.
Ardi diam tak menjawab Ratna. Karena ia tidak menganggap Aini sebagai ART atau pegawainya. Jelas ia menganggap Aini sebagai wanita istimewanya.
"Maaf, Pak. Kenapa ponsel Umar bisa berada di tangan Anda? Apa saya bisa bicara dengan keponakan saya? Saya kakak kandung Aini." Ucap Ratna sopan.
"Umar sedang sakit beberapa hari ini. Jadi, saya membawa ponselnya sementara ini, agar ia bisa istirahat total dan segera pulih."
"Astaga, Umar. Lalu, Aini? Boleh saya bicara dengannya?" Tanya Ratna lagi
"Aini,, dia,,"
"Kenapa dengan Aini? Dia baik-baik saja, bukan?"
"Aini,, maaf Mbak. Aini masih belum sadar saat ini."
"Apa maksud ucapan Anda? Adik saya kenapa, Pak?"
"Maafkan saya harus mengatakan ini. Tapi, Aini baru saja ditemukan, setelah beberapa hari yang lalu diculik oleh beberapa orang suruhan."
"Anda pandai melawak sepertinya, Pak." Jawab Ratna canggung.
"Terima kasih untuk pujiannya. Tapi, Aini sekarang memang masih di rumah sakit. Dan karena hal itulah, beberapa hari ini ponsel Aini tidak bisa dihubungi."
Ratna terdiam. Ia mulai menghubungkan apa yang dikatakan oleh Ardi.
"Kebetulan, saya sedang ada urusan. Nanti jika saya kembali, saya akan melakukan panggilan video pada Anda untuk memastikannya."
"Oh, baik Pak. Maaf mengganggu Anda."
"Tidak sama sekali."
"Kalau begitu, saya tunggu kabar dari Anda, Pak."
"Iya. Saya sebentar lagi akan kembali."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak."
Panggilan pun berakhir. Ratna segera menatap cemas pada suaminya yang sedari tadi juga mendengarkan ia bertelepon.
Dan tak lama, ponsel Ratna kembali berdering. Dan itu juga dari nomor ponsel Umar. Dan kini, Umar lah yang menelepon. Ia terlihat bersama seorang anak laki-laki lain dan juga seorang laki-laki tampan.
"Itu bunda, Budhe." Ucap Umar, sembari menunjukkan seseorang yang terbaring di ruang ICU.
Netra Ratna jelas membola. Ia bisa langsung mengenali jika itu adalah adik kandungnya, yang sedang terbaring di atas brangkar.
__ADS_1
"Bundamu kenapa, Mar?" Tanya Ratna panik.
"Bunda habis diculik, Budhe."
"Astaghfirullah. Ya sudah, kamu sabar ya! Budhe sama pakdhe segera kesana. Kamu kirim alamat rumah sakitnya ya, Mar!"
"Iya, Budhe. Nanti Umar tanyakan ke om Ardi."
"Iya. Kamu jangan nakal, ya! Budhe sama pakdhe segera ke sana." Pesan Ratna lagi.
"Iya, Budhe."
"Yasudah, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Panggilan pun terputus. Ratna segera mengajak suaminya untuk mengunjungi Aini. Ia begitu khawatir dengan kondisi adik satu-satunya itu.
Ratna dan Imron sangat terkejut saat mendapat alamat rumah sakit dari Umar. Karena ternyata, Aini sekarang berada di Pasuruan. Sepengetahuan mereka, Aini selama ini bekerja dan tinggal di rumah majikannya di Surabaya.
Setelah berunding, Ratna dan Imron memutuskan untuk berkendara dengan sepeda motor untuk sampai ke rumah sakit dimana Aini dirawat. Mereka hanya akan berangkat berdua dan menitipkan dua putranya pada saudara mereka yang tinggal tak jauh dari mereka.
Di sisi lain, Ardi baru saja selesai menemani Umar melakukan panggilan video dengan budhenya. Ia membantu Umar memberikan alamat rumah sakit dimana Aini dirawat saat ini.
"Kami permisi dulu, Pak." Pamit Dika.
"Iya. Segera jemput mereka!" Sahut Ardi sambil menahan geram.
"Baik, Pak."
Dika dan Reno lantas pergi dari rumah sakit itu. Mereka akan menjalankan tugas selanjutnya. Tugas yang akan menjadi awal mimpi buruk bagi beberapa orang yang akan mereka jemput.
Ardi manatap langkah dua orang kepercayaannya itu. Ia menahan geram atas apa yang ia dengar dari Reno dan Dika tadi.
",, bu Aini tidak diberikan makanan dan minuman yang layak selama diculik. Mereka memberikan makanan basi dan minuman beralkohol, yang jelas tidak diterima oleh bu Aini."
",, mereka juga mengatakan, bahwa bu Aini sempat ditendang dan dicambuki dengan ikat pinggang oleh bu Oliv. Dan bahkan, maaf Pak, saya harus mengatakan ini,,"
Darah Ardi seakan mendidih mengingat semua ucapan Reno dan Dika tadi. Ia benar-benar tak menyangka, orang-orang itu benar-benar tega pada Aini, setelah apa yang pernah Aini lakukan bagi mereka.
"Tunggu pembalasanku!" Batin Ardi marah.
Ardi lalu kembali ke ruang tunggu ICU. Rama segera menanyakan pada Ardi, apa yang Aini alami hingga kondisinya bisa seperti itu. Rama lalu mengajak Ardi kembali keluar, dan Ardi pun menceritakan semuanya.
"Jangan sampai Kenzo dan Umar tahu pelakunya! Bagaimanapun, mereka adalah orang tuanya." Saran Rama.
"Tapi Pa, Ardi akan tetap melaporkan mereka pada polisi. Ardi tak mau, mereka berkeliaran bebas setelah apa yang mereka lakukan."
"Lakukan itu! Tapi, tutupi apa yang sudah mereka lakukan pada Aini, dari Kenzo dan Umar! Hal itu terlalu kejam bagi dua anak kecil itu."
Ardi terdiam. Ia sebenarnya juga tak tega, jika sampai Kenzo dan Umar mengetahui apa yang Aini alami dan siapa yang melakukannya. Mereka pasti akan sangat sedih dan akan membenci para pelaku itu nantinya.
"Atau, rundingkan hal itu nanti, dengan Aini! Karena bagaimanapun, kamu belum memiliki hak apapun pada Umar. Meski kamu sudah menganggap dia sebagai putramu." Saran Rama lagi.
Ardi memang sudah menyayangi Umar sebagai putranya sendiri. Ia juga tak keberatan, saat Umar meminta ijin padanya waktu itu, untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan Kenzo.
Ardi memikirkan dengan seksama ucapan ayahnya. Dan itu jelas ada benarnya. Ia memang memiliki hak penuh pada Kenzo, tapi belum pada Umar.
"Iya, Pa. Ardi mengerti. Terima kasih, Pa." Jawab Ardi paham.
Rama mengangguk lega. Ia dan Ardi lalu kembali ke ruang tunggu ICU.
Dan saat Ardi dan Rama tiba, seorang perawat menghampiri mereka. Perawat itu mengingatkan, bahwa Kenzo dan Umar tak bisa berlama-lama di sana, sesuai peraturan yang ada, dan perjanjian yang mereka setujui tadi.
Umar dan Kenzo sempat menolak untuk pulang. Mereka masih ingin menemani Aini di sana, meski belum bisa memeluk atau sekedar menyentuhnya sedikit pun.
Ardi lantas dengan sabar dan penuh perhatian, merayu dan menasehati dua anak laki-laki itu. Umar dan Kenzo akhirnya setuju untuk pulang terlebih dahulu. Dan akan kembali lagi esok hari.
"Jangan lupa, do'akan bunda agar segera bangun!" Pinta Ardi lembut.
"Iya, Pa." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.
__ADS_1
Umar dan Kenzo lantas pulang ke Surabaya bersama Rama dan Niken. Mereka meninggalkan Ardi seorang diri untuk menemani Aini.
...****************...
Di sebuah sudut Kota Surabaya, seorang wanita cantik sedang menikmati waktu senggangnya. Ia bermain ponsel sambil berdendang beberapa lagu favoritnya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu rumahnya. Ia sedikit mengalihkan perhatiannya. Ia melirik pada reman serumahnya, yang ternyata sedang sibuk memasak sesuatu.
"Itu Liv, ada tamu. Bukain pintunya! Kan mbak Tri baru pulang." Sahut wanita lain yang sedang sibuk di dapur, Desi.
"Iya, iya." Sahut wanita itu, yang tak lain adalah Oliv.
Oliv segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan malas menuju pintu depan. Dan saat pintu dibuka,,
"Pak Dika?" Sapa Oliv penuh keterkejutan.
Tamu di rumah Oliv, memang Dika. Dika tersenyum ramah pada Oliv.
"Selamat sore, Bu Oliv." Sapa Dika sopan.
"Iya, Pak. Pak Dika sendirian? Mas Ardi?" Tanya Oliv, sambil celingukan mencari laki-laki yang menyandang status mantan suaminya itu.
"Saya bersama pengawal pak Ardi. Pak Ardi meminta saya, menjemput Anda saat ini. Beliau ingin menemui Anda secara pribadi."
"Benarkah? Mas Ardi memintamu menjemputku?" Tanya Oliv antusias.
"Iya, Bu."
"Sekarang?" Tanya Oliv makin tak sabar.
"Benar. Maaf, karena beliau belum sempat mengabari Anda."
"Oh, tidak apa-apa, Pak. Tapi, apa Pak Dika mau menunggu sebentar? Aku akan bersiap."
"Tentu."
"Aku janji, tak akan lama. Oke?"
"Baik, Bu."
"Oke. Tunggu sebentar!"
Oliv bahagia bukan main. Ucapan Dika tadi benar-benar membuatnya terbang tinggi. Ia sungguh bahagia karena Ardi mau menemuinya dan bahkan meminta asisten pribadinya untuk menjemputnya ke rumah. Itu sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Oliv sebelumnya.
Oliv segera melesat masuk ke dalam rumah. Ia bahkan tak menghiraukan Desi, yang menanyakan siapa tamu yang datang.
Oliv segera berdandan secantik mungkin. Ia mengenakan gaun yang begitu indah dan pas di tubuhnya. Tak lupa, ia mengenakan parfum favoritnya agar menambah pesonanya di hadapan Ardi nanti.
"Mau kemana, Liv?" Tanya Desi, saat melihat Oliv sudah sangat rapi dan cantik.
"Ketemu mas Ardi." Jawab Oliv bahagia.
"Apa?"
"Udah! Aku pergi dulu. Pak Dika udah nungguin dari tadi." Pamit Oliv segera.
Belum sempat Desi menjawab, Oliv sudah berlalu lebih dulu. Oliv meninggalkan Desi dengan perasaan gembira.
"Ayo, Pak!" Ajak Oliv tak sabar, saat ia sampau di depan rumah.
Dika yang masih menunggu Oliv sejak tadi, segera tersenyum ramah melihat Oliv.
"Mari, Bu!" Jawab Dika sopan.
Oliv lantas berjalan lebih dulu menuju mobil yang sedari tadi terparkir di depan rumahnya. Dika pun mengekorinya. Dan saat Oliv sampai di samping mobil, Dika pun dengan sigap membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih, Pak." Ucap Oliv antusias.
"Sama-sama, Bu."
Oliv pun masuk mobil dengan santai.
__ADS_1
"Tinggal dua orang lagi." Batin Dika licik.