Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Permainan Kata Part 2


__ADS_3

"Cukup, Mas! Aini memang tak pernah berselingkuh darimu. Aku dan ibu yang telah memfitnahnya." Ucap Ratri yakin.


Ardi menyeringai puas. Rencananya mulai berhasil dengan perlahan. Karena jangan lupa, Ardi adalah seorang pengacara. Ia jelas cukup pandai dalam bermain kata untuk memancing sebuah pengakuan.


Ekspresi wajah Adit jelas segera berubah. Ia yang tadi terlihat marah karena tidak terima istrinya disudutkan dengan beberapa tuduhan oleh Ardi, kini terlihat sangat kebingungan dan tidak percaya.


"Apa maksudmu, Sayang?" Tanya Adit singkat.


"Aku dan ibu memfitnah Aini dulu, Mas." Aku Ratri lagi.


Hati Ratri jelas pedih. Ia sebenarnya tak ingin mengakui perbuatan buruknya di masa lalu. Tapi, ia juga tak bisa, jika terus-menerus mendengar Aini yang telah menolongnya tanpa pamrih bertahun-tahun lalu, dihujat dan dijelek-jelekkan terus menerus oleh Adit. Yang ia tahu, itu adalah ulahnya dan ibu mertuanya.


"Jangan bercanda kamu, Rat!" Adit mulai tak terima dengan apa yang di dengarnya.


Ratri tertunduk kembali dan mulai menangis tersedu-sedu.


"Maaf, Mas! Aku dulu dibutakan oleh perasaan dan keegoisanku. Aku selalu menuruti permintaan ibu, untuk menjauhkanmu dari Aini, agar aku juga bisa merasakan kasih sayangmu sepenuhnya untukku. Aku dulu cemburu, karena kamu terlihat sangat menyayangi Aini. Kamu juga sempat menolak menemuiku dulu, karena Aini bukan?"


"Aku yang jahat pada Aini, Mas. Dia wanita baik. Dia tidak bersalah sama sekali. Dia hanya korban atas keegoisanku. Dan Mas juga pasti tahu, ibu tak pernah menyukai Aini. Jadi, dia selalu membujukku untuk memisahkan kalian agar aku bisa memilikimu seutuhnya. Dan aku menuruti bujukan ibu, agar aku bisa memilikimu seutuhnya, Mas." Jelas Ratri pedih.


"Katakan itu tidak benar, Rat!" Ucap Adit makin tak percaya.


"Maaf, Mas!" Jawab Ratri singkat.


"Jadiii,,"


Pikiran Adit segera melayang tak tentu arah. Memikirkan segala hal yang telah ia perbuat pada Aini dulu, karena berhasil terhasut oleh ucapan ibu dan istri keduanya.


"Jadi, Pak Adit. Aini tidak pernah berselingkuh dari Anda. Dia tetaplah seorang istri yang berbakti pada suaminya, dan malah menjadi korban fitnah atas keegoisan madu dan ibu mertuanya." Sambung Ardi bangga.


Adit jelas tertunduk dalam. Hatinya mulai menyesal karena menuduh Aini dengan begitu kejam saat itu. Dan ia teringat satu hal yang segera mengusik hatinya.


"Jadi, kalau dia tidak berselingkuh, kehamilannya waktu itu,,"


Ucapan Adit kembali terpotong. Ia tak sanggup melanjutkannya.


"Dia sedang hamil anak kedua kalian. Tapi karena perbuatan kalian semua, dia mengalami kecelakaan hingga keguguran. Jadi, secara tidak langsung, Anda telah membunuh darah daging Anda sendiri, Pak Adit." Sambung Ardi lagi.


"Tidak,, tidak,, itu tidak mungkin!" Ucap Adit sambil menggeleng.


"Anda masih belum yakin, Pak Adit?" Tantang Ardi.


"Itu anak kalian, Mas!" Sahut Ratri tiba-tiba.


Ardi yang fokus pada Adit, segera menoleh lagi pada Ratri. Adit pun akhirnya ikut menoleh.


"Jangan mengada-ada kamu!" Bantah Adit lagi.


"Aku tidak mengada-ada, Mas. Aini memang saat itu hamil anak kalian. Ibu juga bahkan merasa sedih saat itu, karena ia kehilangan calon cucunya." Jujur Ratri.


"Ibu,,,"


"Iya, Mas. Ibu juga tahu, jika Aini sedang hamil anak kalian saat itu. Ia juga tak mengira, Aini akan mengalami kecelakaan hingga akhirnya keguguran saat itu."


"Kalian,,,"


"Maaf, Mas. Maafkan aku!"


Ratri tertunduk lagi. Hatinya benar-benar pedih mengingat betapa kejamnya ia pada Aini saat itu.


"Anda dengar sendiri, Pak Adit? Bahkan, ibu Anda saja tahu, jika Aini hamil anak kalian. Tapi karena ketidaksukaannya pada Aini, ia tetap melakukan fitnah itu pada Aini." Sahut Ardi menahan geram.


Hati Ardi sebenarnya sangat bergemuruh saat ini. Ia benar-benar tak terima, dengan apa yang ia dengar dari Ratri tadi. Meski ia sudah tahu cerita Aini, tapi mendengar pengakuan itu dari orang yang melakukannya secara langsung, membuat amarahnya sedikit terpancing.


"Apa Anda tidak ingin meminta maaf pada Aini, Pak Adit? Setelah apa yang Anda dengar tadi." Tanya Ardi, setelah amarahnya mulai mereda.


Hati Adit masih tertutup kabut dendam dan kebencian yang selama beberapa tahun terakhir bersemayam tak mau pergi. Ia masih belum mau meminta maaf pada Aini, meski ia kini tahu, bahwa Aini tidak bersalah saat itu.

__ADS_1


"Tidak. Saya tetap tidak akan meminta maaf padanya." Jawab Adit yakin.


Ardi mengerutkan keningnya. "Kenapa? Bukankah Anda sudah tahu, jika Aini tidak bersalah?"


"Oke. Saya akui, saya telah dibutakan oleh hasutan ibu dan istri saya saat itu. Tapi, dia juga jelas masih memiliki sebuah kesalahan yang sangat besar. Dan itu membuatnya, tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Dan lagi, dia juga seorang pembunuh." Sahut Adit tak mau kalah.


"Maksud, Anda?"


"Dia menjual Umar pada neneknya. Demi biaya rumah sakit ibunya saat itu." Jawab Adit yakin.


"Benarkah?" Sahut Ardi polos.


"Iya. Dia bahkan meminta rumah yang kami tempati dulu, sebagai harta gono gini dari perceraian kami saat itu."


Ardi terlihat tak percaya dengan apa yang diucapkan Adit. Ia menatap Adit dengan curiga.


"Apa Anda memberikannya?" Tanya Ardi penasaran.


"Iya. Saya memberikannya untuk masa depan Umar, yang saat itu hak asuhnya jatuh ke tangan Aini."


"Begitu rupanya."


"Iya. Dan karena kondisi kesehatan ayah saya yang sedikit memburuk saat itu, saya berusaha mengambil hak asuh Umar darinya. Karena ayah saya sangat menyayangi Umar."


"Dengan mengajukan bukti palsu, dari perselingkuhan Aini?" Tantang Ardi.


Adit terdiam. Ia tak menyangka, Ardi tahu, bahwa ia dulu membuat bukti palsu untuk mendapatkan hak asuh Umar.


"Kenapa, Pak Adit? Apa saya salah bicara?"


"Saya dulu tidak tahu, jika Aini tidak berselingkuh saat itu." Elak Adit.


"Bukan itu, Pak Adit. Bukankah Anda membuat bukti palsu yang memberatkan Aini, hingga ia harus rela melepaskan Umar dari tangannya?"


"Apa maksud Anda?"


"Apa?"


Iya. Adit dan pengacaranya saat itu, membuat bukti palsu, hingga memaksa Aini melepaskan hak asuh Umar. Apalagi, kondisi Aini saat itu sedang dilanda kebimbangan dan kesedihan karena ibunya yang dirawat di rumah sakit dan ia juga baru saja kehilangan calon anaknya.


"Tapi, tunggu sebentar, Pak Adit! Anda mengatakan tadi, bahwa Aini menjual Umar? Kenapa begitu?" Tanya Ardi polos lagi.


"Ibu saya mengatakan, Aini meminta bantuan pada ibu saya, untuk membiayai seluruh biaya rumah sakit ibunya saat itu. Dan akan memberikan Umar pada ibu saya, jika ibu saya mau membantunya." Jelas Adit yakin.


"Lalu, apakah ibu Anda membantunya?"


"Ibu saya jelas menginginkan Umar. Jadi ia menerima permintaan Aini, demi bisa dekat dengan Umar, yang saat itu masih bersama ibunya, tanpa sepengetahuan saya tentunya."


"Apa Anda yakin dengan hal itu?"


"Iya, saya yakin."


"Tapi tadi Anda mendengar sendiri, bahwa ibu dan istri kedua Anda, memfitnah Aini. Bagaimana jika itu juga sebuah fitnah?"


"Apa? Tidak. Itu jelas tidak mungkin. Karena saya sendiri yang akhirnya mengurus biaya rumah sakit mantan mertua saya, dan memberikan surat tanah dan rumah itu pada Aini."


"Begitu rupanya." Jawab Ardi paham.


Adit menghela nafas beratnya. Ia masih tetap belum bisa memaafkan Aini sepenuhnya, hanya karena pengakuan Ratri tadi. Masih ada beberapa hal yang mengganjal hatinya, hingga ia belum bisa memaafkan Aini sepenuhnya.


"Bagaimana, Bu Ratri? Apa ada yang ingin Anda katakan?" Tanya Ardi, seraya menatap Ratri dengan seksama.


Ratri diam tak merespon. Lalu, sebuah video kembali diputar di layar. Semua mata pun menoleh ke sumber suara.


Nampak sepasang laki-laki dan perempuan muda. Mereka nampak mengenakan seragam yang sama. Dan ternyata, itu sebuah video wawancara kecil, di sebuah toko.


"Apa kalian karyawan di minimarket ini?" Tanya si pewawancara, tapi tak terlihat wajahnya.

__ADS_1


"Iya, kami karyawan di sini." Sahut si laki-laki.


"Apa nama minimarket ini?"


"RR Mart."


"Kalian sudah lama bekerja di sini?"


"Sejak minimarket ini dibuka."


"Kapankah itu, jika boleh tahu?"


"Sekitar dua tahun yang lalu."


"Dan kalau boleh tahu, siapa nama pemilik minimarket ini? Beliau pasti sangat pandai mengelola usahanya. Hingga dalam dua tahun saja, usahanya bisa seramai ini."


"Iya. Beliau pandai dalam mengelola usahanya. Karena suaminya pun juga pengusaha muda yang sukses."


"Oh, begitu rupanya. Siapakah beliau ini?"


"Ibu Ratri Pramudipta. Istri dari bapak Aditya Eka Subrata."


"Iya. Saya mengetahui nama itu. Pemilik Bebek Goreng Bharata, bukan?"


"Iya."


Video tiba-tiba berhenti. Adit jelas kebingungan dengan maksud video itu.


"Apa maksud Anda memutar video itu?" Tanya Adit penasaran.


"Anda belum paham, Pak Adit? Kalau begitu, akan saya putarkan video lain untuk Anda." Jawab Ardi yakin.


Di layar, video lain mulai diputar. Videonya pun mirip dengan video pertama. Ada dua karyawan lain yang juga diwawancarai oleh seseorang. Dengan pertanyaan yang sama tentunya.


Adit berusaha mencerna apa yang didengarnya dari video itu. Tapi, ia mengalami kebuntuan untuk memahaminya. Apalagi, namanya dan nama Ratri dibawa-bawa dalam video itu.


"Anda masih belum paham, Pak Adit?" Remeh Ardi.


Adit diam tak menjawab apapun.


"Bu Ratri! Apakah Anda ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Ardi lagi.


Ratri ternyata juga diam. Ardi pun mendengus kesal.


"Baiklah. Pak Adit, apa Anda tidak merasa familiar dengan nama RR Mart? Atau dengan empat orang tadi?" Tanya Ardi sedikit kesal, karena tak mendapat respon.


Adit berusaha mengingat nama yang toko yang terdengar familiar itu. Ia juga merasa mengenali empat orang tadi.


"RR Mart. Bukankah itu dekat dengan rumah Anda, Pak Adit?" Tanya Ardi memaksa.


Adit akhirnya ingat. Itu adalah nama toko yang letaknya memang tak jauh dari rumahnya. Ia bahkan sering ke sana untuk membeli beberapa kebutuhannya.


"Tapi, kenapa mereka menyebutkan nama Ratri?" Gumam Adit bingung.


"Karena Bu Ratri memang pemilik tempat itu. Dan saya yakin, Anda tidak mengetahui hal itu, bukan?" Jawab Ardi yakin.


"Apa?"


"Anda masih tidak mau mengakuinya, Bu Ratri?" Paksa Ardi perlahan.


Ratri diam tak merespon. Ardi pun menggeram kesal.


"Toko itu memang milik istri Anda, Pak Adit. Dia dan ibu mertuanya memulai bisnisnya, setelah berhasil menjual rumah yang Anda berikan pada Aini sebagai harta gono gini, dua tahun lalu. Anda tidak tahu itu, bukan?"


"Anda jangan bercanda, Pak Ardi! Ratri tak mungkin melakukan itu."


"Tanyakan sendiri pada istri Anda!" Sahut Ardi makin kesal.

__ADS_1


__ADS_2