
Lantunan ayat suci Al-Qur'an, menggema indah di setiap penjuru mata angin. Menelusup dengan lembut, ke telinga para pemiliknya. Mengalir dengan merdu, sebagai penenang para hati yang sedang dilanda kesedihan.
Suasana kediaman Adit begitu ramai pagi ini. Apa lagi kalau bukan karena berita duka yang sedang menimpa keluarganya. Berita kematian Hadi Subrata menyebar dengan cepat. Para kolega bisnis almarhum dan juga putra semata wayangnya, segera menyambangi kediamannya untuk mengungkapkan bela sungkawa.
Teman-teman Adit dan Ratri, juga banyak yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Tak terkecuali beberapa guru dan staf dari sekolah Umar.
Adit terlihat begitu kusut dan lelah saat menyambut para tamunya. Ia kelelahan karena beberapa hari menemani Hadi di rumah sakit. Hingga akhirnya, Hadi dinyatakan meninggal dunia oleh dokter dini hari tadi.
Kondisi Hadi memburuk selama sebulan terakhir. Ia dilanda kesedihan setiap hari karena merindukan cucu kesayangannya, Umar. Bukan Hadi tak rela Umar kembali pada ibunya, hanya saja, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Umar setiap hari di sisinya. Dan saat Umar dijemput paksa oleh pengacara Aini, kondisinya memburuk perlahan.
Hingga saat sidang perebutan hak asuh Umar dimenangkan oleh Aini, Hadi akhirnya tak kuat lagi menahan segalanya. Ia dilarikan ke rumah sakit hari itu, dan langsung koma selama dua hari. Hadi berusaha bertahan selama ini demi Umar.
Hadi sebenarnya cukup lega karena Umar kembali pada Aini. Ia lebih khawatir jika Umar bersama ayahnya. Karena ia sangat tahu, bagaimana watak dan sifat Adit. Ia bisa diluar kendali jika memang sedang sangat marah. Apalagi jika menyangkut Aini.
Dan sehari setelah Hadi bangun dari koma, kondisinya kembali memburuk. Dan akhirnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya pagi ini di rumah sakit.
Saat suasana rumah Adit begitu ramai, sebuah mobil mewah nampak mulai terparkir di antara barisan mobil-mobil yang ada. Kedatangannya, cukup menyita perhatian semua yang ada di tempat itu.
Hingga, seorang laki-laki tampan dan tegap, nampak keluar dengan penuh wibawa. Dengan atasan kemeja batik berwarna navy, ia nampak begitu menawan para pemilik netra.
"Pak Ardi?" Gumam Adit setelah melihat tamunya yang baru saja tiba.
Adit segera menghampiri laki-laki itu, yang memang adalah Ardi. Tak lama, Dika pun ikut keluar dari pintu samping kemudi.
Sebenarnya, tak banyak yang mengenali Ardi. Mereka tak begitu tahu, wajah pengusaha sukses satu ini. Tapi, wajahnya yang rupawan, dengan perawakan yang tinggi nan tegap, menjadi magnet tersendiri yang melekat pada tubuhnya.
"Siapa itu? Ganteng banget."
"Eh, ada Babang Ganteng!"
"Ya Tuhan! Mau dong jadi istrinya! Jadi simpanannya juga nggak papa kok."
"Artis siapa itu?"
Beberapa celetukan para tamu yang hadir, menggema di gendang telinga beberapa tamu lain. Membuat mereka yang tak menyadari kehadiran Ardi, mengalihkan pandangannya ke arah dimana Ardi kini berada.
Beberapa orang yang mengenali sosok Ardi, segera menghentikan aktivitas mereka. Mereka segera menghampiri Ardi untuk menyambutnya. Termasuk sang pemilik rumah.
"Saya turut berduka cita, Pak Adit." Ucap Ardi tulus, saat bersalaman dengan Adit.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih Anda berkenan hadir ke kediaman saya." Jawab Adit tak kalah tulus.
"Ayo, Bunda! Kita lihat akung!"
__ADS_1
Suara seorang anak laki-laki, menelusup ke indera pendengaran Adit. Suara yang sangat ia kenali itu, segera mengalihkan perhatian Adit.
"Umar?"
Adit segera menghampiri putranya yang berada beberapa meter darinya karena terhalang oleh beberapa orang yang ingin menyalami Ardi.
Umar pun segera menyadari kehadiran Adit yang berjalan menghampirinya. Ia yang tadi sedang menarik-narik tangan Aini agar berjalan lebih cepat, segera beringsut mendekap tubuh Aini dengan erat. Dan hal itu membuat Adit menyadari kehadiran Aini di tempat itu.
Adit segera menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Aini. Wajahnya yang tadi terlihat bahagia karena mendengar suara Umar, mendadak berubah begitu kesal dan marah.
"Ngapain kamu kesini? Pergi kamu dari sini! Dasar pembunuh!" Hardik Adit keras.
Adit lupa bahwa kini ia sedang berada di tempat umum. Banyak orang yang pasti mendengar dan menyaksikan apa yang batu saja ia lakukan. Tak terkecuali Ardi dan Dika.
Aini terhenyak karena ucapan Adit. Ia pun menghentikan langkahnya seketika, dengan Umar yang masih begitu erat mendekapnya.
"Aku hanya ingin bertakziah, Mas. Umar juga ingin melihat kakeknya untuk yang terakhir." Jawab Aini lembut.
"Sini Nak, sama Ayah!" Rayu Adit pada Umar, seraya mengulurkan tangannya.
Umar segera menggelengkan kepalanya.
"Kamu nggak ingin ketemu akung?" Bujuk Adit lagi.
"Ayo, Bunda! Kita lihat akung!" Rengek Umar lagi.
"Ayo Nak, sama Ayah lihat akung!" Sahut Adit segera.
"Umar mau sama bunda." Jawab Umar lirih.
"Kamu nggak kangen sama Ayah, mama dan uti? Yuk!" Rayu Adit lagi.
"Ayo, Bunda!"
"Iya Sayang, yuk!" Jawab Aini sambil tersenyun pada Umar.
Umar pun mengangguk.
"Jangan berani melangkahkan kakimu ke rumahku! Atau aku tak segan untuk membuatmu menyesalinya. Pergi dari sini!" Hardik Adit kembali.
Umar yang tadi sempat mengendurkan pelukannya pada sang ibu, kembali memeluknya dengan begitu erat. Ia ingat, bagaimana ayahnya terkadang memarahinya dengan begitu keras jika ia membuat kesalahan. Dan itu membuatnya ketakutan.
Aini menyadari sikap Umar. Ia mengusap lembut, kepala putranya itu.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tenanglah!" Ucap Aini lembut.
"Maaf, Pak Adit. Aini datang bersama saya." Sela Ardi tiba-tiba.
Semua orang yang mengenali Ardi, terkejut mendengar penuturannya. Mereka tak meyangka, duda yang terkenal dengan sikap tegasnya itu, dengan jelas membela seorang wanita. Wanita yang penampilannya begitu sederhana.
Adit dan Aini segera menoleh pada Ardi.
"Aini datang kemari bersama saya. Kami ingin mengantar Umar menemui kakeknya." Jelas Ardi singkat.
"Apa Anda tidak salah, Pak Ardi?" Cibir Adit.
"Apa yang salah, Pak?" Tanya Ardi tak paham.
"Dia ini, wanita tak tahu diri. Wanita licik yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Wanita murahan." Tuduh Adit tanpa ragu.
"Jaga bicara Anda, Pak Adit!" Jawab Ardi tegas.
Adit terkejut dengan pembelaan Ardi. Adit lalu menoleh kembali pada Aini.
"Sepertinya, aku tahu bagaimana kamu bisa membayar dua pengacara handal itu. Kamu pasti merayu Pak Ardi, kan? Atau jangan-jangan, kamu sudah menjual dirimu padanya?" Tuduh Adit lagi.
"Jaga bicaramu, Mas! Ada Umar di sini. Dan jangan menuduh Pak Ardi seperti itu!" Jawab Aini tegas.
"Cih! Belagak sok suci. Apa kamu tidak tahu, Pak Ardi juga terkenal dengan gaya hidupnya yang dikelilingi oleh wanita?" Sindir Adit.
Aini mulai kesal dengan semua perkataan Adit.
"Memangnya kenapa dengan gaya hidup saya yang dikelilingi oleh banyak wanita, Pak Adit? Bukankah gaya hidup itu pilihan?" Jawab Ardi santai.
"Dan satu hal lagi. Aini tidak merayu atau menjual dirinya padaku demi bisa membayar dua pengacara handalku. Dia membayar sangat mahal untuk hal itu." Imbuh Ardi.
"Anda sepertinya sudah terhasut oleh ucapan wanita tak tahu diri ini, Pak Ardi." Sahut Adit santai.
Ardi berusaha menahan emosinya. Ia sebenarnya sudah sangat kesal dengan semua tuduhan Adit pada Aini. Tapi, ia masih sadar, jika ia berada di tempar umum saat ini.
Ardi menghela nafas panjangnya. Ia lalu menoleh pada Aini. Dan tanpa aba-aba atau permisi, Ardi menarik tubuh Aini dengan tangan kanannya, dan mendekapnya lembut.
Semua yang melihat hal itu, membelalakkan matanya.
"Iya, Anda benar Pak Adit. Saya sudah terhasut oleh Aini. Hingga saya ingin menjadikannya istri saya. Apa Anda keberatan?" Jawab Ardi santai.
"Seharusnya Anda tidak keberatan bukan, Pak Adit? Karena dia hanyalah mantan istri Anda." Imbuh Ardi sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1