
Matahari semakin meninggi. Memberikan kehangatan pada setiap hal yang ia jumpa. Memberikan rasa yang menenangkan bagi setiap asa yang terus teruntai indah dalam jiwa.
Pukul sembilan pagi, Gilang dan Reno tiba di rumah sakit. Mereka segera menuju ruang rawat Aini untuk melihat kondisinya. Setelah melihat kondisi Aini, Gilang segera menemui pihak rumah sakit untuk mengurus kepindahan Aini ke Surabaya.
Sedangkan Ardi, baru menjalani pemeriksaan di kantor polisi ditemani Dika dan pengacaranya, Handoko. Pengacara yang kemarin menangani kasus perebutan hak asuh Umar dari Adit.
Cukup lama Ardi dimintai keterangan. Ia pun menjawabnya dengan ringan dan santai. Karena jelas, ia sudah mempersiapkan alibi yang matang untuk itu. Bahkan, Dika dan Reno yang ditugaskan untuk menjemput Oliv, Adit dan Ratri pun, sudah memiliki alibi yang kuat agar mereka bisa lepas dari masalah itu.
Pukul satu siang, Gilang sudah menyelesaikan semua hal untuk kepindahan Aini. Dan bertepatan dengan itu, Ardi juga tiba kembali di rumah sakit. Ia akhirnya menemani Aini selama di ambulans.
"Mas kenapa nggak pakai mobil sendiri?" Tanya Aini saat diperjalanan.
"Aku ingin menemaninu, Sayang." Jujur Ardi.
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit di Pasuruan ke rumah sakit di Surabaya, Aini dan Ardi tak banyak berbincang. Ardi membiarkan Aini beristirahat agar kondisinya juga lekas membaik.
Dan pukul setengah tiga, Aini sudah berada di ruang rawat barunya. Di sebuah rumah sakit yang belum lama juga ia kunjungi. Rumah sakit terbaik yang ada di Kota Surabaya.
"Kamu harus segera pulih! Kenzo dan Umar menantimu bercengkrama di rumah." Ucap Ardi, untuk menyemangati Aini.
Aini mengangguk paham. Ia juga sebenarnya tidak betah berada di rumah sakit terlalu lama. Tapi kondisinya kini, sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia masih memerlukan perawatan intensif dari para petugas medis.
"Pak Imron, Bu Ratna. Apa sebaiknya, kalian pulang ke rumah saya terlebih dahulu? Anda berdua bisa beristirahat di rumah dengan lebih baik. Besok, kalian bisa kembali menemani Aini di rumah sakit." Tawar Ardi tulus.
"Iya, Mbak, Mas. Aku nggak papa di sini sendiri. Mas Imron dan Mbak Ratna juga belum istirahat kan sejak tiba kemarin?" Timpal Aini.
"Nggak usah, Ni. Aku kemari ingin menemanimu. Merawatmu. Aku nggak mau kalau sampai bapak dan ibu datang ke mimpiku dan menyalahkanku karena tak merawatmu." Tolak Ratna halus.
"Bu Ratna bisa menemaninya kembali esok hari. Malam ini, biar saya yang menemani Aini di rumah sakit." Saran Ardi.
Ratna menoleh pada suaminya. Ia sebenarnya juga merasa sedikit lelah karena perjalanan dari Semarang ke Pasuruan kemarin. Apalagi, ia dan Imron langsung ke rumah sakit untuk menemani Aini.
"Mas Ardi juga pulang saja! Aku tak apa sendirian di sini. Ada perawat jaga yang bisa membantuku jika aku butuh sesuatu." Imbuh Aini pelan.
Ardi diam tak menjawab. Ia hanya tersenyum mendengar ucapan Aini.
"Tak apa, Ni. Kami sudah beristirahat dengan cukup sejak kemarin." Tolak Imron tak enak hati.
"Anda berdua adalah tamu saya saat ini. Karena Aini tinggal di rumah saya. Jadi, saya mohon, jangan menolak permintaan kecil itu." Rayu Ardi.
"Tapi Pak Ardi,,"
"Atau, perlu saya pesankan kamar sendiri agar Anda berdua bisa beristirahat lebih nyaman?" Tawar Ardi lagi.
"Tidak, Pak Ardi. Itu malah merepotkan Anda." Jawab Imron makin tak enak hati.
"Kalau begitu, saya mohon, istirahatlah di rumah saya! Dika akan mengantar Anda berdua pulang nanti. Umar juga pasti senang, jika Anda berdua menginap di rumah malam ini." Rayu Ardi lagi.
"Iya, Mbak, Mas. Umar pasti senang, kalian pulang nanti." Timpal Aini semangat.
__ADS_1
Imron dan Ratna kembali saling pandang. Mereka berusaha mancari alasan untuk menolak saran Ardi. Tapi tetap tidak menemukannya.
"Baiklah, Pak Ardi. Maaf, kami malah merepotkan Anda." Sahut Imron sungkan.
"Tidak sama sekali, Pak Imron." Jawab Ardi santai sambil tersenyum.
Aini pun lega, Imron dan Ratna akhirnya mau untuk pulang lebih dulu ke rumah Ardi. Ia hanya tinggal merayu Ardi nanti, untuk ikut pulang bersama Imron dan Ratna. Karena ia sungguh tak enak hati, jika Ardi harus menemaninya malam ini di rumah sakit.
Pukul lima sore, Dika tiba di rumah sakit. Ia baru saja selesai menjalani pemeriksaan untuk kasus hilangnya Oliv, Adit dan Ratri. Ia pun segera diminta oleh Ardi, untuk mengantar Imron dan Ratna pulang.
"Mas nggak pulang?" Tanya Aini, setelah Ardi sholat isya.
"Lalu, siapa yang akan menjagamu malam ini?" Jawab Ardi santai, sambil duduk di samping ranjang Aini.
"Ada perawat jaga, Mas. Mas Ardi pulang saja!"
"Apa kamu tak rindu denganku?"
"Apa?" Sahut Aini bingung.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang."
"Tapi Mas, Mas akan kesulitan beristirahat nanti jika menemaniku di sini."
"Jika itu berarti bisa melepas rinduku selama beberapa hari tanpamu, aku tak keberatan sama sekali, Sayang." Jawab Ardi, seraya mengusap lembut tangan Aini.
Aini menatap Ardi dengan malu. Ia tak tahu, harus menjawab Ardi bagaimana. Karena sejujurnya, ia juga sangat merindukan Ardi.
Tanpa terasa, air mata itu mengalir tanpa permisi, membasahi pipi Aini. Ardi seketika panik karena melihat Aini menangis. Tangannya pun refleks mengusap buliran bening yang mengalir di pipi yang sedikit luka itu.
"Kamu kenapa menangis, Sayang? Apa ada yang sakit? Aku panggilkan perawat sebentar!" Ucap Ardi cemas.
"Jangan, Mas! Aku tidak apa-apa." Jawab Aini pelan.
"Lalu, kenapa kamu menangis?" Tanya Ardi khawatir.
"Aku juga merindukanmu, Mas." Jawab Aini sedikit terisak.
Ardi terkejut mendengar jawaban Aini. Hatinya mendadak pedih mendengar ucapan Aini barusan.
"Maafkan aku, Sayang! Aku terlambat menolongmu kemarin. Aku tak bisa menjagamu dengan baik, hingga kamu harus mengalami hal seperti itu." Sesal Ardi.
"Kamu tak bersalah, Mas. Ini sudah jadi bagian dari jalan hidupku." Hibur Aini.
"Jika saja aku tidak membiarkanmu pergi hari itu,,"
Ardi tertunduk dalam. Ia sungguh sangat menyesal dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Aini kemarin. Hingga membuat Aini berada di atas ranjang rumah sakit, dengan kondisi yang jauh dari kata baik saat ini.
Aini yang posisi ranjangnya sedikit dinaikkan, berusaha untuk duduk dan mendekat pada Ardi untuk menghibur dan menenangkannya. Ia sedikit menahan rasa sakit di tubuhnya karena bekas luka yang nyaris di sekujur tubuhnya, bergesekan dengan bajunya.
__ADS_1
"Iisshh,," Rintih Aini, karena tak dapat menahan sakitnya.
Ardi pun segera mengangkat wajahnya. Ia terkejut, karena Aini berusaha bangun dari posisinya. Ia segera berdiri dan berusaha mencegah Aini.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ardi bingung.
"Aku,,"
Karena saking sakitnya, Aini mengurungkan niat hatinya untuk menegakkan tubuhnya. Tubuhnya kembali bersandar lemas di atas kasur. Tapi, tangannya berusaha menggenggam tangan Ardi yang sedari tadi membelainya.
"Kamu mau ngapain, Sayang? Bilang padaku, kamu butuh apa?" Ucap Ardi khawatir.
"Jangan menyalahkan dirimu, Mas! Kita sama-sama tahu, siapa yang melakukan hal itu kemarin. Kamu tidak bersalah, Mas." Ucap Aini lirih.
Ardi merasakan genggaman lembut tangan Aini. Ia tak menyangka, Aini masih berusaha menghibur dan menenangkannya, meski dengan kondisinya saat ini.
Ada sebersit ide di kepala Ardi. Dan itu jelas langsung dimanfaatkan oleh Ardi.
"Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu. Aku tidak akan menyalahkan diri lagi. Tapi, aku juga ingin meminta sesuatu padamu. Boleh?" Sahut Ardi lebih lega.
Aini tersenyum lega. "Mas mau minta apa?"
"Tapi kamu harus berjanji, akan memenuhi satu permintaanku ini."
"Memangnya permintaan apa, Mas? Apakah sulit?"
"Tidak. Hanya sebuah permintaan sederhana."
"Kalau begitu, katakanlah, Mas!"
"Tapi, berjanjilah lebih dulu! Bahwa kamu akan memenuhinya nanti."
"Tapi Mas juga harus berjanji! Tidak akan menyalahkan diri lagi." Tawar Aini santai.
"Baiklah."
"Oke. Aku akan memenuhi permintaanmu, Mas." Jawab Aini yakin.
Ardi tersenyum bahagia. Karena akhirnya bisa mendapatkan sebuah janji dari Aini, yang ia pikir, akan sangat sulit untuk mendapatkannya.
Ardi masih sedikit ragu mengatakan permintaannya pada Aini.
"Kenapa, Mas? Apa permintaan, Mas?" Tanya Aini penasaran.
"Aku harap, kamu tak akan marah padaku! Dan ingat, kamu sudah berjanji untuk memenuhinya nanti!" Jawab Ardi ragu.
"Kenapa aku harus marah, Mas?"
Ardi terdiam. Ia berusaha mencari kalimat yang tepat untuk mengungkapkannya pada Aini.
__ADS_1
Aini menatap Ardi makin bingung. Ia pun makin penasaran dengan apa yang akan Ardi minta padanya.
"Bersaksilah di pengadilan dan katakan yang sebenarnya pada polisi dan saat persidangan! Jangan menutupi atau membela orang-orang yang telah menyakitimu kemarin!" Pinta Ardi yakin.