
Malam terus bergulir. Bulan dan bintang pun masih setia menghiasi langit malam. Hingga saat mentari mulai menampakkan sinarnya, cahaya bulan dan para bintang pun mulai meredup. Menjadi pertanda, jika hari baru telah tiba.
Pagi ini, Aini memulai harinya dengan berkutat di dapur rumah barunya, rumah Ardi. Ia ingin menyiapkan sarapan pagi untuk semua penghuni rumah dengan status barunya di rumah ini. Meski, itu sudah pernah ia lakukan sebelumnya. Hanya saja, semua terasa berbeda saat ia sekarang sudah menyandang status istri dari Ardiansyah El Baraja.
Ardi mengikuti Aini ke dapur pagi ini. Ia masih belum ingin melepaskan istri barunya itu begitu saja. Jadi, setelah sholat subuh bersama dua putranya tadi, ia mengikuti Aini ke dapur dan membiarkan Umar dan Kenzo untuk bersiap ke sekolah.
"Kamu nggak lelah?" Manja Ardi.
Ardi pun segera melingkarkan tangannya dari belakang ke pinggang Aini, yang sedang sibuk memotong bahan masakan. Ia lalu menempel dengan mesra ke punggung Aini.
"Lumayan, Mas. Mas, sih! Katanya juga cuma satu ronde, malah nambah lagi." Adu Aini tak kalah manja.
"Maaf, Sayang! Tapi, kamu suka, kan?" Goda Ardi.
Aini tak menjawab, tapi malah mengerucutkan bibirnya. Aini lalu berusaha melepaskan tangan Ardi yang melingkar manja di pinggangnya.
"Mas, jangan kayak gini! Malu kalau dilihat yang lain." Tegur Aini.
Ardi pun melepaskan tangannya. Tapi, sejurus kemudian, ia membalik tubuh Aini agar menghadap ke arahnya. Ia segera memepet Aini ke meja dapur.
"Biar mereka lihat! Mereka sudah pernah mengalaminya, Sayang. Masa indah pengantin baru." Ucap Ardi sedikit mendes*h.
Entah kenapa, Aini sedikit tergoda dengan nada bicara Ardi yang jelas dibuat begitu lembut dan menggoda. Bulu di tubuhnya pun sedikit meremang, dan bahkan ada gelanyar indah merayap ke setiap inci kulit tubuhnya.
Aini dengan cepat, berusaha menguasai diri. Agar tidak kebablasan dengan Ardi. Karena jelas, mereka sedang di dapur saat ini. Dan mereka, tidak hanya berdua saja di rumah.
"Kalau Umar dan Kenzo yang lihat gimana, Mas?"
"Aku yang akan menjelaskan pada mereka nanti, Sayang." Jawab Ardi, seraya semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aini.
Aini yang jelas sudah mulai menatap wajah sang suami dengan lebih intens, mulai terhipnotis dengan suara Ardi yang terasa begitu menggodanya. Wajah tampan yang dalam dua malam terakhir, begitu memanjakannya itu, jelas ia sudah paham apa yang diinginkannya. Hingga,,
"Ehem!"
Suara deheman seseorang, jelas mengalihkan perhatian Ardi dan Aini. Mereka segera menoleh ke sumber suara.
"Mama?" Ucap Aini panik.
__ADS_1
"Mama ganggu aja, sih!" Kesal Ardi.
Aini segera meronta dari kungkungan Ardi. Ia segera mendorong tubuh kekar sang suami agar menjauh darinya. Ia merasa sangat malu karena kepergok sedang sedikit bermesraan dengan sang suami, yang sebenarnya bukan hal yang salah.
Niken mengerutkan keningnya, sambil terus bersedekap sambil menatap pasangan pengantin baru itu.
"Kalau masih belum puas, di kamar donk! Biar nggak ada yang lihat. Kalau Umar sama Kenzo yang lihat kan kurang bagus." Santai Niken.
"Mereka baru bersiap untuk sekolah, Ma." Jawab Ardi tak kalah santai.
"Maaf, Ma." Lirih Aini bersalah.
Niken tersenyum kecil mendengar Aini. Ia lalu berjalan mendekati Aini yang sudah lepas dari kungkungan Ardi. Ia lalu melirik tajam ke arah Ardi.
"Kamu jangan di sini! Kalau kamu di sini, Aini nggak jadi masak nanti." Usir Niken.
"Oke, Ma." Jawab Ardi bahagia.
Tapi,,
"Ayok, Sayang! Kita ke kamar aja! Biar mama yang masak pagi ini." Santai Ardi, seraya menggandeng pergelangan tangan Aini.
"Iya, Di. Kamu gimana, sih? Orang Aini mau masak kok malah diajak ke kamar." Timpal Niken.
"Kan mau ngelanjutin yang tadi keputus gara-gara Mama." Santai Ardi, tanpa melepaskan Aini.
"Maass!" Tegur Aini segera.
"Dasar! Mantan duda cassanova kelas teri." Cibir Niken.
"Terserah Mama deh, mau bilang apa! Yang pasti, Ardi mau olahraga pagi sama Aini, sebelum nganter Umar dan Kenzo sekolah."
"Kamu ini ya,,"
Ardi segera menarik tangan Aini tanpa mau mendengar ucapan Niken lagi. Ia benar-benar mengajak Aini kembali ke kamar dan sedikit melakukan olahraga pagi yang cukup panas dan kilat.
Aaahh,, romansa pengantin baru yang sedang dimabuk asmara. Setelah panjangnya perjuangan dan penantian, semua terbayar indah dengan hal yang memang sudah seharusnya.
__ADS_1
Olahraga pagi Ardi dan Aini sangat singkat. Mengingat, mereka akan mengantar Umar dan Kenzo ke sekolah pagi ini, sebelum mereka juga berangkat untuk berbulan madu hingga akhir pekan. Jadi, mereka akan berpamitan lebih dulu pada dua putranya.
Tak ada drama apapun dari Umar dan Kenzo. Niken sudah menjelaskan pada dua anak laki-laki itu kemarin, bahwa Ardi dan Aini akan ke Bali sampai akhir pekan untuk sebuah pekerjaan. (Pekerjaan bikin adek bayi kurang lebihnya 😅)
Pukul sembilan pagi, Ardi dan Aini terbang ke pulau dengan sejuta pesonanya itu. Pulau yang terkenal dengan patiwisata dan kekentalan adat istiadatnya tentunya
Dan selepas dzuhur, Ardi dan Aini tiba di vila yang sudah dipesankan oleh Niken. Vila yang memang cukup terkenal dengan keindahan dan nuansa keromantisannya di Pulau Dewata, Bali.
"Pilihan mama memang selalu yang terbaik." Puji Ardi saat memasuki vilanya.
Saat Ardi langsung memuji pilihan mamanya, Aini masih sibuk mengagumi setiap hal yang ada di tempat yang baru saja ia masuki. Ruangan yang memang tertata rapi, indah dan kental dengan suasana romantismenya.
"Kita akan menginap di sini, Mas?" Kagum Aini.
"Tentu saja, Sayang. Kita akan di sini hingga akhir pekan. Kenapa? Apa kamu mau ke tempat lain?" Tanya Ardi, seraya berjalan mendekati Aini, setelah petugas vila yang mengantar mereka pergi.
"Enggak, Mas. Tapi, ini bagus banget." Puji Aini, sambil berbalik badan untuk menghadap pada Ardi.
"Ini pilihan mama, Sayang. Dia memang hebat untuk hal seperti ini."
Ardi yang memang sudah berjarak satu langkah dari Aini, mendadak mendapat serangan dari Aini. Aini segera berjingkat manja, dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ardi. Dan pastinya, mengikis jarak antara dua tubuh itu hingga menempel sempurna.
Ardi jelas terkejut karena ulah Aini. Tapi, ia jelas tidak menyia-nyiakan hal itu. Ia pun dengan senang hati membalas perlakuan sang istri.
"Aku harus banyak belajar dari mama, Mas." Manja Aini.
"Mama pasti dengan senang hati mengajarimu banyak hal, Sayang."
Aini mengangguk bahagia sambil terus menatap wajah sang suami yang begitu disayanginya itu.
Ardi pun bersiap untuk mendaratkan bibirnya di atas bibir Aini. Tapi Aini segera menahannya. Ardi langsung mengerutkan keningnya.
"Kita sholat dulu, Mas! Nanti kalau kita kebablasan, sholatnya jadi terlambat." Jelas Aini.
Ardi pun menyetujui ucapan Aini. Mereka segera mencari arah kiblat untuk melaksanakan sholat. Dan saat itu selesai, pegawal vila datang untuk mengantarkan makanan pesanan Ardi. Karena memang, Ardi dan Aini tidak makan apapun saat di pesawat tadi. Jadi, para penghuni perut pasangan pengantin baru itu, sedikit melakukan demo agar segera diberi asupan oleh sang empunya raga.
Hingga sore, Ardi dan Aini masih menikmati waktu mereka di vila. Bersantai di tepian private pool berukuran sedang yang sudah dihiasi oleh ribuan kelopak bunga. Mereka memang sengaja tidak kemanapun hari ini. Mereka baru akan menjelajah Pulau Bali mulai esok hari.
__ADS_1
Hal itu jelas bukan tanpa alasan. Itu dilakukan Ardi, karena ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Aini di kamar saja. Melakukan banyak hal romantis dengan penuh perasaan yang begitu menggebu dalam hati masing-masing.