Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kencan (Lagi)


__ADS_3

Matahari pagi telah menyapa. Ia menyapa dengan kehangatan yang begitu damai dan menenangkan. Memberikan kebaikan nan hakiki, pada setiap yang ia lewati.


Pagi yang sedikit berbeda di rumah Ardi. Kenapa? Jelas karena ulah Aini.


Aini yang merasa malu setengah mati, karena kepergok oleh Niken dan Rama sedang berduaan dengan Ardi, dan bahkan dalam posisi yang sedang berpelukan, benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya dari sang empunya rumah, Niken dan Rama. Ia tidak tahu, bagaimana harus bersikap pada pasangan suami istri pemilik rumah yang ia tinggali.


Aini sedikit kucing-kucingan dengan Niken dan Rama. Bahkan juga dengan Ardi. Ia bangun sangat pagi, dan melakukan pekerjaan paginya membantu Sri, sebelum tiga orang itu keluar kamar. Ia bahkan bersembunyi di kamar Umar, setelah selesai membantu dua putranya untuk bersiap ke sekolah.


"Aini dimana, Mbok?" Tanya Niken, saat ia menyadari, tak melihat Aini sejak tadi.


"Saya kurang tahu, Bu. Mungkin di kamar. Tadi saja, mbak Aini bangun pagi untuk beresin rumah. Terus dia minta tolong saya yang nyiapin sarapan pagì." Jujur Sri.


Rama, Niken dan Ardi yang sedang menikmati sarapannya, sibuk dengan pikirannya masing-masing, setelah mendengar jawaban dari asisten rumah tangga senior di rumah itu. Mereka mencoba menerka, kenapa Aini bersikap lain pagi ini.


Awalnya, Niken berniat mengajak Aini sarapan bersama. Karena ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ternyata, Aini tak terlihat batang hidungnya sama sekali sejak Niken keluar kamar bersama Rama.


"Ardi ke atas dulu, Pa, Ma." Pamit Ardi, setelah menyelesaikan ritual sarapan paginya.


"Iya." Jawab Niken sambil mengangguk pelan.


Ardi pun melangkahkan kakinya menuju tangga yang ada di rumahnya. Ia tersenyum kecil dengan hati yang bersenandung bahagia.


Tapi ternyata, langkah kaki Ardi tidak menuju kamarnya. Melainkan berbelok ke kamar anak laki-laki, yang terpaut satu kamar dengan kamarnya. Kamar Umar.


Tanpa ragu sedikitpun, Ardi segera memegang slod pintu kamar itu, lalu menarik dan membuka pintunya dengan cepat.


Ceklek. Ardi langsung masuk tanpa aba-aba.


"Astaghfirullahal'adzim." Ucap seseorang yang sedang berada di kamar itu.


Ardi tersenyum melihat orang yang ada di kamar itu terkejut bukan main. Ia menoleh ke arah Ardi dengan tatapan bingung.


"Mas Ardi?" Ucapnya tak percaya.


Ardi segera menghampiri dia, yang sedang duduk di atas bean bag di kamar itu, sambil memegangi ponselnya. Sepasang bola mata nan teduh itu terlihat begitu gelagapan.


"Mas Ardi, ada apa kemari?" Tanya Aini gelagapan.


"Nyari kamu." Jawab Ardi santai.


Benar, dia Aini. Aini kebingungan bukan main, saat melihat Ardi membuka pintu kamar Umar tadi. Ia tak menyangka, Ardi bisa mengetahui, jika ia ada di kamar Umar saat ini.


"Kamu ngapain di sini? Di cari mama tadi." Ucap Ardi lembut.


Deg. Jantung Aini seakan berhenti berdetak. Ia masih sangat malu dengan apa yang terjadi semalam.


"Bu Niken mencariku? Ada apa, Mas?" Tanya Aini panik.


"Aku nggak tahu. Tapi, tadi mama menanyakanmu pada mbok Sri." Jujur Ardi, sambil berjalan menghampiri Aini.


Pikiran Aini segera melayang ke kejadian tadi malam. Saat ia dan Ardi terciduk oleh Niken dan Rama sedang berduaan, bahkan berpelukan.


Flashback On


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ardi perhatian.


"Apa kita akan menjalaninya secara diam-diam?" Tanya Aini ragu.


"Kenapa harus diam-diam, jika kalian bisa berterus terang?"


Suara seorang wanita yang begitu Ardi dan Aini kenali, menelusup sempurna ke gendang telinga keduanya. Aini segera melepaskan diri dari pelukan Ardi. Ia menoleh ke arah pintu.


"Bu Niken?" Ucap Aini panik.


"Ah Mama! Ganggu aja, sih." Batin Ardi kesal tanpa mengubah posisinya.


Aini segera berdiri dan kebingungan. Ia tak tahu harus bagaimana bereaksi saat ini. Ia tertunduk malu dan sangat malu. Karena ada Rama dan Niken di ambang pintu, dan sedang berdiri santai menatapnya dengan sejuta pertanyaan.


"Mama kenapa, sih?" Kesal Ardi, bagai anak kecil yang merajuk pada orang tuanya.


"Kenapa apanya? Mama itu mau ke dapur sama Papa. Tapi, kata Papa, dia lihat seseorang masuk ke teras belakang. Jadi, Mama sama Papa kemari buat ngecek." Jujur Niken santai.


Ardi mendengus pasrah.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya Niken, dengan nada menginterogasi.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya tadi hanya ingin cari udara segar sebentar. Tidak sengaja, bertemu Mas Ardi di sini." Jawab Aini ketakutan.


"Benarkah?" Sanksi Niken.


"Mama, udah deh! Mama sama Papa di dalem aja! Jangan ganggu Ardi sama Aini. Cuma sebentar, Ma." Jawab Ardi tanpa malu.


Tiga orang di tempat itu, benar-benar terkejut dengan jawaban Ardi. Mereka tak menyangka, Ardi bisa merajuk seperti itu, di usianya saat ini.


"Jadi, Mama sama papa, ganggu niihh??" Goda Niken.


"Iya, Ma." Jawab Ardi datar.


"Enggak kok, Bu." Sahut Aini cepat.


"Tuh, Aini bilang nggak ganggu." Cibir Niken sambil menahan tawa.


"Mama!" Rajuk Ardi dengan kesal.


"Iya, iya." Sahut Niken segera.


Niken pun kembali masuk ke rumah bersama Rama yang sudah cekikikan karena melihat perdebatan antara istri dan anaknya.


"Aku, masuk dulu, Mas." Pamit Aini cepat.


Aini segera melangkahkan kakinya. Tapi sayang, satu tangannya segera diraih oleh Ardi.


"Duduk sini dulu!" Pinta Ardi sambil menepuk tempat tadi Aini duduk.


"Tapi Mas,,"


Bukannya melepaskan tangan Aini, Ardi malah menariknya. Aini yang tak siap, segera terjatuh tepat di pangkuan Ardi. Aini pun kelabakan.


"Mas, ada bu Niken dan pak Rama." Cegah Aini segera.


Aini sedikit meronta, saat tangan kekar Ardi, menangkapnya dengan tepat dan langsung melingkar di pinggang rampingnya. Tapi Ardi, malah tersenyum nakal mendengar perkataan Aini.


"Berarti, kalau tak ada mama dan papa, nggak papa kan?" Pancing Ardi santai.


"Eh,, bukan begitu maksudku, Mas." Sanggah Aini kebingungan.


Aini seketika berhenti meronta. Ia mendengar nada kejujuran dari ucapan Ardi. Dan saat itu terjadi, Ardi sedikit membuka pahanya, hingga pantat Aini pun terduduk di kursi yang sama dengan Ardi. Tapi, masih dengan posisi kaki Aini berada di atas salah satu paha Ardi.


Ardi segera memeluk erat Aini. Membenamkan tubuh mungil itu di dada bidangnya. Aini pun akhirnya membalas pelukan Ardi. Karena sungguh, ia juga rindu dengan Ardi.


Sepasang duda dan janda itu melepaskan rasa rindu mereka dengan pelukan hangat nan sederhana. Mereka hanya diam. Tak ada sepatah katapun terucap. Hanya saling menikmati pelukan hangat itu satu sama lain.


Flashback Off


Ardi pun segera berjongkok di depan Aini. Karena hanya ada satu bean bag yang ada di ruangan itu. Aini segera beringsut membenarkan posisi duduknya.


"Mas??"


"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Ardi perhatian, dengan senyum ramah dan lembut yang tersungging indah di bibirnya.


"Oh, itu,, akuu,, aa,, kuu,, tadi bantuin Umar dan kenzo bersiap ke sekolah seperti biasa, Mas." Jawab Aini sekenanya.


"Kamu nggak lagi menghindar dari papa dan mama, kan?" Terka Ardi santai.


"Eng,, enggak, Mas. Kenapa aku harus menghindar?" Bohong Aini, sembari membuang pandang dari Ardi.


"Atau, kamu sedang menghindariku?" Tanya Ardi sedikit nakal.


"Mana ada hal seperti itu, Mas." Kilah Aini sedikit gelagapan.


"Iya, iya." Jawab Ardi mengalah.


Ardi menatap wajah Aini yang gelagapan dan malu. Ia tersenyum kecil karena hal itu.


"Apa malam ini kamu ada acara?" Tanya Ardi penasaran.


"Tidak, Mas. Ada apa?"


"Kalau begitu, nanti malam kita pergi berkencan lagi!"


"Mas ini, ada-ada saja." Cibir Aini sedikit tersenyum geli.

__ADS_1


"Aku serius."


"Apa?"


"Nanti malam, kita pergi jalan-jalan berdua, ya?"


Aini masih tak percaya dengan apa yang Ardi ucapkan. Ia sedikit kebingungan dengan sikap Ardi yang bisa dikatakan cukup agresif dan seperti ABG.


"Kencan?"


Ardi mengangguk pasti. Tapi Aini, malah kehilangan kata-kata untuk menjawab ajakan Ardi.


Sebenarnya, ada setitik rasa bahagia di hati Aini, ketika Ardi mengajaknya berkencan. Ada asa yang perlahan tumbuh dalam jiwanya, dengan segala sesuatu yang berjalan tanpa pernah terbayangkan.


"Ya sudah. Aku akan berangkat kerja dulu. Kamu di rumah baik-baik, ya! Tak perlu takut pada mama atau pun papa!" Saran Ardi penuh perhatian.


Aini hanya mengangguk. Ia masih berusaha memahami beberapa sikap Ardi yang cukup mengejutkannya.


CUP. Ardi mencuri kesempatan yang sangat menguntungkannya itu, dengan mendaratkan bibirnya di kening Aini. Aini jelas membolakan kedua bola matanya.


Ardi segera berdiri dan meninggalkan Aini yang masih belum mau keluar dari kamar Umar. Ia benar-benar masih malu jika bertatap muka dengan Niken dan Rama.


"Gimana? Ketemu?" Tanya Niken, saat ia berpapasan dengan Ardi di ujung tangga lantai dua.


"Udah. Di kamar Umar." Jawab Ardi pasti.


Niken pun tersenyum mendengar jawaban Ardi.


"Biarkan sebentar, Ma! Dia masih malu gara-gara semalam." Pinta Ardi manja.


"Iya, Mama tahu." Jawab Niken kesal.


"Terima kasih, Mamaku sayang."


Ardi memeluk gemas tubuh Niken. Niken malah kegelian dengan sikap Ardi. Ia sedikit bergidik dengan ulah putranya yang sudah berstatus duda itu. Ardi pun akhirnya juga tertawa karena reaksi Niken.


Malam harinya, Ardi benar-benar mengajak Aini untuk pergi berkencan. Selepas waktu maghrib, Ardi mengajak Aini keluar dengan mobil sport miliknya.


Jika ada yang penasaran dengan dua bocah laki-laki milik duda dan janda itu kemana, jawabannya adalah, pergi bersama Niken dan Rama berjalan-jalan sendiri. Itu juga karena permintaan Ardi saat siang tadi. (Duda penuh modus 😒)


Dan disinilah Ardi dan Aini saat ini. Di sebuah restoran mewah yang ada di salah satu sudut Kota Surabaya. Restoran dengan nuansa barat klasik, dengan suguhan hidangan yang cukup beragam. Suasananya cukup romantis. Mayoritas pelanggannya pun adalah pasangan laki-laki dan perempuan.


Mereka berdua menikmati makan malam itu dengan obrolan ringan. Ardi banyak bertanya pada Aini, bagaimana ia tadi seharian di rumah. Karena ia di kantor, sangat khawatir jika mamanya berulah lagi pada Aini. Tapi ternyata tidak.


Niken dan Rama, seharian tadi bersikap sangat biasa pada Aini. Seolah, tidak terjadi apapun semalam di rumah besar itu. Ardi pun lega mendengar cerita Aini.


Dan selepas makan malam, Ardi mengajak Aini ke salah satu bioskop yang ada di kota tentunya. Ardi sudah memesan tiketnya tadi siang. Dan tentu saja, film yang akan mereka tonton adalah film drama romantis barat. Yang jelas, ada beberapa adegan yang tak patut untuk dilihat oleh anak dibawah umur.


Ardi menarik tubuh Aini hingga bersandar padanya. Karena memang, Ardi membeli tiket premier untuk film yang akan ia tonton dengan Aini malam ini. Dan itu, membuatnya bisa bersandar santai dengan Aini di atas kursi bioskop yang lebih mirip kasur dari pada kursi tentunya.


"Mas, di tempat umum!" Ronta Aini.


"Tuh lihat, banyak yang kayak gini juga kok." Jawab Ardi santai, sambil menunjuk ke arah barisan yang ada di depan mereka.


"Tapi Mas,,"


"Sstt!"


Ardi menoleh pada Aini. Ia pun segera menarik dagu Aini, lalu menatap lembut dua bola mata di hadapannya.


"Cukup nikmati saja saat ini! Atau aku akan menciummu saat ini juga. Hm?" Ucap Ardi lirih.


Aini menelan salivanya. Ia pun mengangguk patuh. Ardi tersenyum bahagia. Padahal, hatinya sudah sangat meronta ingin kembali menikmati bibir lembut yang malam ini berwarna nude, selaras dengan riasan Aini yang natural.


Film pun mulai di putar. Semua pengunjung menikmati alur film yang sangat apik dengan seting dan penokohan yang nyaris paripurna.


Namanya juga film drama romantis barat. Pasti terdapat beberapa adegan yang bukan untuk kawasan anak di bawah umur. Dan itu mulai bermain di layar besar itu saat ini.


Ardi yang masih setia memeluk Aini dengan satu lengannya, tiba-tiba menarik kepala Aini agar menghadap padanya. Ia pun menatap lembut pada wajah yang selalu menenangkannya itu.


Aini menatap polos pada Ardi. Ia bingung, kenapa Ardi menarik wajahnya. Hingga perlahan, wajah tampan Ardi semakin mendekat ke wajah dengan tatapan polos itu. Semakin dekat, dan semakin mendekat.


Hingga,,


"Jangan lihat adegannya! Atau kamu akan menginginkannya nanti." Bisik Ardi lirih.

__ADS_1


__ADS_2