Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Menanyakan


__ADS_3

Pagi telah menyapa. Awal pekan yang indah bagi setiap hati yang penuh dengan semangat. Cerahnya langit pagi, menjadi permadani indah yang menyertai setiap langkah para pemilik rasa untuk mengawali hari.


"Bunda gimana, Pa?" Cemas Kenzo dan Umar, saat mereka keluar kamar setelah sholat subuh, yang kebetulan, Ardi juga ingin melihat dua putranya itu.


"Bunda udah nggak demam lagi. Kan semalam udah dikasih obat sama om Gilang." Jawab Ardi haru.


Ardi bahagia, ternyata dua putranya begitu perhatian pada Aini. Mereka sangat mencemaskan kondisi Aini, yang mereka tahu, semalam badannya demam.


"Om Gilang semalam ke sini?" Tanya Kenzo.


"Iya."


"Bunda udah bangun, Pa?" Tanya Umar.


"Udah. Tapi badannya masih sedikit lemas."


Umar dan Kenzo segera pergi ke kamar Aini. Mereka ingin memastikan bahwa kondisi Aini memang sudah lebih baik. Ardi pun membiarkan Umar dan Kenzo menemui Aini.


Iya, semalam akhirnya Ardi menghubungi Gilang karena Aini demam tinggi. Pukul sebelas malam, Ardi menelepon Gilang karena badan Aini begitu panas dan mengigau tak karuan.


Gilang akhirnya memberikan suntikan obat pada Aini, karena Aini bahkan kesulitan diajak berkomunikasi karena hampir kehilangan kesadaran. Ia juga meminta Ardi, jika obat itu tidak bekerja, Ardi harus segera membawa Aini ke rumah sakit.


Tapi beruntung, demam di tubuh Aini perlahan mereda. Pukul dua pagi, Aini sudah tidur dengan tenang dan badannya juga sudah tidak demam tinggi. Ardi pun tak lupa mengabarkan hal itu pada Gilang.


Aini terlalu memikirkan kejadian kemarin. Hingga kondisi tubuhnya menurun secara tiba-tiba. Dan lagi, ia tidak mau makan hingga malam. Jadi makin buruklah kondisi Aini.


Aini lega melihat Umar dan Kenzo menghampirinya pagi-pagi. Ia yang juga baru selesai sholat, baru saja kembali ke tempat tidurnya untuk merebahkan tubuh.


"Bunda masih sakit?" Tanya Umar.


"Sedikit. Hanya demam sedikit, Sayang." Lirih Aini.


Umar dan Kenzo segera mengecek suhu tubuh Aini dengan memegang kedua pipi Aini. Mereka juga tersenyum lega, karena tubuh Aini sudah tidak sepanas semalam.


"Kalian udah sholat?" Tanya Aini pelan, karena tadi Ardi baru saja berpamitan untuk membangunkan mereka untuk sholat.


"Udah, Bunda."


Aini tersenyum lega.


Umar dan Kenzo lalu menemani Aini sejenak, sebelum mereka bersiap untuk sekolah. Karena Ardi, juga akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dika, untuk mengurus beberapa hal.


Pukul setengah delapan, Ardi baru saja kembali dari mengantar Umar dan Kenzo sekolah. Ia segera kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Aini.


"Kok belum dimakan, Sayang?" Bingung Ardi, saat mendapati sarapan Aini masih utuh.


Aini hanya menggeleng.


"Aku suapi, ya?"


Aini menggeleng lagi.


"Kamu kenapa? Kangen ya sama mbak Ratna?"


Aini terdiam menatap Ardi. Ia cukup terkejut, karena Ardi tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Begitulah Aini. Jika ia sedang dilanda kesedihan, ia akan sangat merasa rindu pada kakak semata wayangnya itu. Apalagi, hanya dialah kini yang menjadi saudara terdekat Aini.


"Akhir pekan, kita ke Semarang, ya?" Yakin Ardi.


Aini masih diam karena bingung.


"Kasihan Umar dan Kenzo kalau terlalu sering bolos sekolah."


Aini tetap tidak menjawab apapun.


"Makan dulu, ya? Setelah itu, kita jalan-jalan kalau kondisimu membaik."


"Mas nggak ke kantor?"


"Enggak. Kamu sedang sakit. Lagi pula, aku ingin bersamamu hari ini. Aku sudah menyerahkan semua urusan kantor pada Dika dan Reno hari ini."


Aini mengangguk pelan. Dalam hati kecilnya, ia merasa sangat bahagia. Ardi bahkan mau meluangkan waktu dan menemaninya saat kondisinya sedang tidak baik.


Aini juga akhirnya mau makan dari tangan Ardi. Meski tidak habis, tapi cukup untuk bisa mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin.


"Minum obat dulu, ya?" Tawar Ardi, setelah membereskan piring makan Aini.


"Obat?"


"Iya. Obat dari Gilang semalam."


"Dokter Gilang?"


"Iya. Semalam demammu sangat tinggi. Aku menelepon Gilang untuk memeriksamu. Dia memberikanmu suntikan dan meresepkan obat ini."


Aini mencoba mengingat sesuatu. "Jadi, yang semalam itu memang dokter Gilang?"


Aini dalam kondisi setengah sadar saat Gilang datang dan memeriksanya. Ia mengira itu hanya mimpi. Bahkan saat Gilang menyuntikkan obat ke tubuhnya, Aini tetap tidak sadar sepenuhnya.


"Kalau Gilang tidak menyuntikmu, kamu pasti sekarang sedang di ruang rawat inap, Sayang." Imbuh Ardi, dengan tangan yang sibuk menyiapkan obat Aini.


Aini pun mengangguk paham. Ia lalu meminum obat yang Ardi siapkan. Hatinya benar-benar bahagia saat ini, karena Ardi merawatnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Ardi rela tidak berangkat kerja hanya untuk menemaninya yang sedang tidak enak badan.


Aini lalu beristirahat setelah minum obat. Tak butuh waktu lama untuknya segera terlelap karena pengaruh obat. Dan Ardi, jelas menemaninya di kamar.


Pukul setengah sepuluh pagi, Aini sudah terbangun. Tubuhnya sudah jauh lebih baik setelah bangun tidur dan meminum obat.


"Mau jalan-jalan, Sayang? Cuaca sedang cerah di luar?" Tawar Ardi, setelah memastikan kondisi Aini memang sudah membaik.


"Akan aku puaskan sisa waktuku bersamamu, Mas. Sebelum nanti, aku harus berbagi dirimu dengan orang lain." Batin Aini, sambil mengangguk yakin.


"Bersiaplah! Aku tunggu disini." Pinta Ardi sambil tersenyum bahagia.


Aini lalu membasuh mukanya dan sedikit berdandan, agar tidak terlihat terlalu pucat. Ia pun mengambil tas kecilnya dan bersiap pergi jalan-jalan dengan Ardi.


Sepasang suami istri itu, lalu menikmati waktu berdua berkeliling kota. Menikmati ramainya lalu lintas kota, dengan segala keriuhannya.


"Mas. Boleh, aku tanya sesuatu?" Tanya Aini pelan, saat mereka berhenti di tepi jalan untuk membeli minum.


"Tentu saja boleh, Sayang. Tanyalah, sebanyak yang kamu mau!" Yakin Ardi, sambil tersenyum.


"Yang datang ke rumah kemarin, siapa, Mas? Apa dia,,"


"Akhirnya." Batin Ardi lega.


Ardi memang menunggu Aini menanyakan hal itu sejak kemarin. Bukan Ardi tidak mau menceritakan hal itu pada Aini, tapi ia tidak ingin seolah menyudutkan dan menghakimi Aini cemburu tanpa alasan.


"Namanya Diandra. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Ayah Dian, adalah sahabat papa sejak masih sekolah."


"Diaa,,"


"Dia seorang janda. Suaminya baru beberapa bulan lalu meninggal dunia, karena pesawat yang dikemudikannya mengalami gagal mesin, beberapa saat setelah lepas landas."

__ADS_1


Aini tertunduk sedih. Hatinya mendadak merasa sangat pilu mendengar penuturan Ardi.


"Padahal, mereka sedang menanti kehadiran anak pertama mereka, yang sudah dinanti selama sepuluh tahun."


Aini segera menoleh pada Ardi dengan tatapan tak percaya. Ia mendadak ikut sedih mendengar kisah Diandra dan suaminya.


"Dian kemarin ke rumah, karena ingin meminta bantuan kita, Sayang." Imbuh Ardi dengan tatapan lembut.


"Bantuan? Kita?"


"Iya."


"Apa mbak Dian benar-benar ingin meminta mas Ardi menikahinya?" Batin Aini pedih.


"Bantuan apa, Mas?" Tanya Aini perlahan.


"Bantuan untuk,,"


"Bantu dia, Mas!" Sela Aini cepat.


Ardi terkejut ucapannya di sela. Karena bahkan, ia belum mengatakan pada Aini, bantuan seperti apa yang Dian inginkan.


"Aku belum,,"


"Bantu mbak Dian, Mas!" Yakin Aini.


Hati Aini memang terlalu lembut. Ia tidak tega mendengar kisah Dian. Ia berusaha menempatkan diri di posisi Dian. Jadi, ia langsung menyetujui permintaan bantuan Dian, meski, ia belum tahu bantuan seperti apa itu.


"Kamu nggak ingin bertemu dan berkenalan dengannya lebih dulu, Sayang? Atau mendengarkan permintaannya dulu, Sayang?" Bingung Ardi.


"Aku yakin, permintaan mbak Dian, pasti baik, Mas."


"Ikhlaskan hati ini untuk kembali dimadu, Ya Allah." Batin Aini sedih.


Ardi tersenyum haru menatap Aini.


"Aku tak tahu Sayang, terbuat dari apa hatimu itu."


"Aku hanya,,"


"Kalau begitu, temuilah dulu Dian! Dengarkan dulu apa permintaannya! Baru setelah itu, kita putuskan apa yang harus kita lakukan."


Aini mengangguk setuju. Ardi lalu merengkuh tubuh Aini ke dalam pelukannya. Ia memeluk Aini dengan begitu hangat.


"Kita ke rumah Dian sekarang?" Tawar Ardi dengan posisi masih memeluk Aini.


"Apa rumahnya tidak jauh, Mas?"


"Tidak begitu jauh kalau dari sini."


Aini mengangguk setuju. Ada senyum kecil yang terbit di wajah cantiknya. Senyuman yang diiringi dengan getir hati yang disembunyikannya.


Ardi lalu membawa Aini ke rumah Dian. Yang memang, tidak terlalu jauh dari tempat dimana Aini dan Ardi kini berada.


Setelah sekitar dua puluh menit, mobil Ardi mulai memasuki sebuah halaman rumah yang sangat asri. Banyak tanaman hias yang tertata rapi memenuhi hampir di setiap sudut halaman. Ada juga, sebuah kolam kecil yang berisi beberapa ikan hias berukuran sedang sebagai pelengkapnya.


Ada seorang wanita sedang duduk santai di teras rumah seorang diri. Terlihat dengan jelas, perutnya yang sudah sangat besar. Yang menandakan, bahwa ia sedang hamil besar.


"Apa dia yang kemarin datang ke rumah?" Batin Aini saat melihat wanita itu.


"Itu Dian." Ucap Ardi.


Aini sejenak menoleh pada Ardi. Ia lalu kembali menatap wanita yang sedang menatap lurus pada mobil yang sedang ditumpanginya.


Aini pun mengikuti langkah Ardi untuk turun dari mobil. Dan setelah ia dan Ardi turun, wanita yang tadi duduk santai di teras, segera berdiri dan tersenyum ramah.


"Ayah! Ibuk! Ardi dateng, nih." Teriak lantang wanita itu.


Wanita yang memang adalah Diandra, segera menghampiri dua tamunya dengan senyum yang merekah indah. Wajah ayu nan natural tanpa riasan, tergurat indah menyambut Ardi dan Aini.


"Cantik sekali." Batin Aini saat melihat Dian.


"Kenapa nggak ngabarin kalau mau kesini?" Tanya Dian santai.


"Emang harus?" Cicit Ardi.


"Enggak, sih. Tapi kan kalau ngabarin, aku bisa siapin dulu cemilan buat kalian."


"Perut segedhe itu masih mau rempong, kamu?" Cibir Ardi.


"Enggak, sih."


Aini hanya mendengarkan dan menatap aneh, dua sahabat lama itu saling berbincang santai.


"Kamu pasti Aini." Sapa Dian antusias.


"Ya jelas, dong. Emang aku punya istri berapa? Lima?" Sahut Ardi tak terima.


"Diem, ah!" Kesal Dian, sambil melirik tajam pada Ardi.


"Hai! Aku Diandra. Sahabat Ardi sejak kecil." Sapa Dian sambil mengulurkan tangannya.


"Oh, iya. Aini." Jawab Aini sungkan, sambil menyambut tangan Dian.


"Ayo, masuk!" Ajak Dian.


Dan ternyata, saat Dian dan Aini berkenalan, Ardi sudah nyelonong duluan untuk masuk ke rumah. Karena memang, dia sudah terbiasa seperti itu di rumah Dian. Hal itu jelas mengejutkan Aini.


"Assalamu'alaikum, Buk." Sapa Ardi, saat berpapasan dengan ibunya Dian.


"Wa'alaikumussalam. Kamu ini! Mentang-mentang udah punya istri lagi, nggak pernah maen ke sini sekarang." Cibir ibunya Dian.


"Maaf, Buk. Aini-nya nggak mau ditinggal lama-lama, sih." Santai Ardi.


"Aini yang nggak mau ditinggal, atau kamunya yang nempel terus?" Sindir Dian.


"Dua-duanya." Ceplos Ardi.


Aini sedikit terkejut dengan kedekatan Ardi dan keluarga Dian. Meski tadi Ardi sudah mengatakan, jika Dian adalah sahabatnya sejak kecil, ia tidak menyangka, jika mereka bisa sedekat itu.


Aini dan Ardi lalu masuk ke rumah dan disambut oleh ayah Dian. Mereka pun saling berkenalan dengan Aini.


"Kamu dikasih pelet apa sama Ardi, Nak?" Tanya ayah Dian.


"Jangan salah, Yah. Ardi nggak pakai pelet apapun sama Aini. Emang dasarnya Ardi udah ganteng sejak lahir. Jadi, Aini juga pasti terpikat sama Ardi. Ya kan, Sayang?" Sombong Ardi.


Aini hanya tersenyum kecil.


"Aku nggak percaya, kalau kamu nggak pake dukun." Cibir Dian.


"Enak aja! Emang tampangku, ada tampang tukang main dukun, apa?" Sahut Ardi tak terima.


"Lha terus? Nggak mungkin juga, wanita selembut Aini gini, bisa mau sama kamu."

__ADS_1


"Ada Mbak, dukunnya." Sela Aini tiba-tiba.


Semua menoleh pada Aini. Ardi bahkan sangat terkejut mendengar ucapan Aini.


"Tuh kan, bener." Seloroh Dian.


"Dukun apa, Sayang? Aku nggak pernah main dukun-dukunan." Timpal Ardi tak terima.


"Umar dan Kenzo." Jawab Aini yakin.


Ardi mendadak bingung. Tapi sejurus kemudian, ia paham dengan maksud Aini.


"Kenzo?" Ucap Dian tak percaya.


"Iya, Mbak. Umar dan Kenzo, putra kami. Mereka yang tanpa sengaja menyatukan kami." Jelas Aini.


Dian tersenyum paham.


"Semoga, kamu jadi yang terakhir untuk Ardi! Dan akan jadi ibu yang terbaik untuk Kenzo." Tulus Dian.


"In shaa Allah, Mbak. Aamiin." Haru Aini.


Dian sangat tahu, bagaimana perjalanan kehidupan keluarga kecil Ardi. Jadi, ia juga tahu, Kenzo yang tidak merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Ia ikut bahagia, jika Kenzo akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari Aini.


"Gimanan keadaanmu? Ardi bilang kemarin, kamu sedang pusing." Tanya Dian perhatian.


"Alhamdulillah, Mbak. Sudah lebih baik."


"Syukurlah."


"Sekarang kan udah saling kenal. Bilang sendiri ke orangnya!" Sela Ardi.


Aini dan Dian yang duduk berdampingan, segera menoleh pada Ardi.


"Kamu belum bilang?" Sahut Dian.


"Kamu pikir, aku suami yang kejam? Istri lagi nggak enak badan, malah ngurusin yang lain." Cibir Ardi.


"Hhehe,, iya, iya."


Ada sebongkah kelegaan di hati Aini. Karena ternyata, Ardi sangat memperhatikan dan menyayanginya. Karena memang, Ardi tidak mengatakan apapun tentang kedatangan Dian sejak kemarin. Hingga tadi, ia yang menanyakan sendiri.


"Aku denger dari Ardi, kamu pernah punya warung makan, ya?" Tanya Dian segera.


"Ah, itu. Cuma warung makan siap saji kecil, Mbak." Jawab Aini.


"Besar atau kecil, setidaknya, kamu punya pengalaman untuk mengelolanya, kan?" Ucap Dian makin sumringah.


"Sedikit, Mbak."


"Kalau gitu, boleh aku meminta sesuatu padamu?"


"Minta apa, Mbak?" Tanya Aini ragu.


Aini mulai menyiapkan hatinya untuk mendengarkan permintaan Dian. Hatinya mulai gemetar tak karuan.


"Bisakah mau membantuku mengurus warung makanku?"


"Apa, Mbak?" Tanya Aini bingung dan terkejut.


"Aku punya tiga warung makan siap saji. Dan sekarang, aku sedang hamil besar. Aku akan sangat kesulitan mengelola warungku beberapa bulan kedepan. Apalagi, bayiku kembar. Dan tak mungkin juga aku langsung mengandalkan pengasuh." Jelas Dian.


Aini menoleh pada Ardi.


"Kamu bilang kemarin, kamu mulai bosen karena di rumah nggak punya kegiatan. Jadi, aku pikir, kamu bisa punya kesibukan sedikit, dengan membantu Dian mengurus warung makannya, selama dia fokus untuk mengurus bayinya. Itupun, kalau kamu mau, Sayang." Jelas Ardi.


"Tapi,,"


"Sebenarnya, aku minta tolong sama Ardi kemarin. Tapi, dia bilang, kamu butuh kegiatan biar nggak bosen di rumah. Jadi, aku pikir, nggak ada salahnya kalau memang kamu mau."


"Aku tidak memaksamu, Sayang. Kalau memang kamu mau, aku jelas akan membantumu. Kalau tidak, nanti aku carikan kesibukan lain untukmu." Tenang Ardi.


Aini masih menatap semua orang dengan bingung. Bagaimana tidak? Mengingat, Ardi hanyalah orang luar di keluarga Dian. Tapi, mereka malah meminta Ardi untuk mengurus usaha Dian.


"Apa, mbak Dian nggak punya saudara kandung?" Tanya Aini bingung.


"Punya. Aku punya kakak laki-laki. Tapi, dia tinggal di luar pulau Jawa." Jujur Dian.


"Ayah dan ibu, sudah terlalu percaya pada Ardi, Nak. Dibandingkan pada keluarga Bapak dan ibu sendiri." Sahut ayah Dian.


Aini jelas terkejut mendengar jawaban ayah Dian. Ia sangat tidak menyangka, keluarga Dian bisa sedekat dan sepercaya itu pada Ardi.


"Pikirkanlah dulu, Nak! Kami tidak ingin memaksamu." Imbuh ibunya Dian.


Aini menoleh pada Ardi lagi.


"Kalau kamu mau, lakukanlah! Kalau tidak, jangan merasa terbebani." Paham Ardi.


Aini memikirkan dengan seksama keputusan yang akan diambilnya.


"Tapi, dengan satu syarat, Sayang. Jika memang kamu mau, lalu Dian belum bisa fokus pada warungnya, dan ternyata kamu sudah hamil, kamu tidak boleh mengurus warung lagi. Biar warung Dian, aku yang urus. Kamu harus fokus pada kehamilanmu. Oke?" Imbuh Ardi.


"Bener yang dibilang Ardi." Timpal Dian.


Pikiran Aini mendadak tidak fokus dengan semuanya. Ia terkejut dengan banyak hal. Apalagi, dengan yang Ardi katakan barusan. Ia pun jadi sedikit melamun untuk memfokuskan lagi pikirannya.


"Kamu nggak papa, Ni?" Tanya Dian, sambil menepuk tangan Aini.


"Oh, iya, Mbak." Gugup Aini.


"Kamu masih pusing, Sayang?" Cemas Ardi.


"Enggak, Mas." Jujur Aini.


"Kita rundingkan lagi di rumah nanti." Saran Ardi.


"Aku mau, Mas. Aku mau membantu mbak Dian." Yakin Aini.


"Kamu yakin?"


Aini mengangguk dan tersenyum pada Ardi. Sedang Dian dan kedua orang tuanya, sedikit kebingungan. Karena mereka tahu, Aini adalah orang baru bagi mereka. Tapi, Aini terdengar begitu yakin untuk membantu Dian. Bahkan, jawaban Aini barusan, terdengar tanpa beban dan paksaan sedikit pun.


Kita memang tidak pernah tahu, bagaimana isi hati seseorang yang sebenarnya. Kita hanya bisa untuk berbaik sangka, agar semua yang terjadi, juga akan berakhir baik.


****************


Hai readers 🤗🤗


Ini ya,, buat yang kemarin sempet suudzon atau mikir macem-macem ke Ardi sama Othor 🤭🤭


Tenang aja 😉 Othor maapin kok 😅


Oke,, see you next episode 😘🤩

__ADS_1


__ADS_2