
Awan kelabu mulai menggantung di langit. Menutupi indahnya langit biru yang seharian ini melengkapi hari. Memberikan suasana sendu, pada hati yang dipenuhi oleh rasa.
Ardi sedang bersiap untuk pergi ke dokter spesialis kandungan bersama Aini sore ini. Mereka masih meladeni Umar dan Kenzo yang antusias karena akan diantar ke rumah Rama dan Niken, sementara Ardi dan Aini ke rumah sakit.
"Bunda beneran nggak sakit, kan?" Cemas Umar.
"Enggak, Sayang. Bunda sama papa ada janji sama temennya om Gilang." Aku Aini.
"Beneran ya, Pa? Nanti kalau udah ketemu sama temennya om Gilang, langsung ke rumah opa, ya?" Cecar Kenzo.
"Iya. Nanti Papa sama bunda langsung ke sana kalau udah selesai." Jawab Ardi perhatian.
"Oke." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.
Ardi dan Aini jelas tambah bahagia melihat dua putranya begitu ceria. Mereka makin tidak sabar, untuk mengetahui kebenaran diagnosa Agung pagi tadi. Dan mereka ingin tahu, bagaimana reaksi Umar dan Kenzo nantinya, jika memang dugaan Agung itu benar.
Ah iya, jangan lupa dengan Rama dan Niken. Yang juga sudah menantikan kehadiran adik dari Umar dan Kenzo.
Ardi dan Aini masih belum mengatakan pada Umar dan Kenzo tenrang diagnosa Agung tadi. Seperti obrolan mereka pagi tadi, mereka ingin memastikan dulu hal itu.
Dan siang tadi, setelah Ardi dan Aini pulang dari warung, Ardi tidak kembali lagi ke kantor. Ia memilih untuk menemani Aini di rumah dan memastikan istri kesayangannya itu, baik-baik saja.
Dan siang tadi juga, ia menghubungi Gilang untuk meminta rekomendasi dokter spesialis kandungan yang terbaik. Dan notabene, dokternya harus perempuan.
Flashback On
"Aku minta rekomendasi Gilang aja, ya!" Yakin Ardi, saat Aini bersandar manja di dadanya.
"Rekomendasi apa, Mas?"
"Dokter untukmu. Dan dokternya, harus perempuan."
"Aku kira, mas mau ngajak aku ke tempat praktek dokter Agung." Goda Aini cekikikan.
Ardi melirik sinis pada Aini. Sedang Aini, malah semakin tertawa geli mendapati reaksi Ardi.
"Makasih ya, Mas." Ucap Aini haru, seraya ia memeluk erat tubuh Ardi.
"Makasih kenapa?" Bingung Ardi.
"Makasih, karena Mas mau mencarikan dokter kandungan perempuan untukku." Jujur Aini.
"Jelas dong, Sayang. Aku nggak mau, nanti istriku yang cantik ini, tubuhnya dipegang-pegang sama laki-laki lain." Aku Ardi tanpa ragu.
Aini segera melepaskan pelukannya pada Ardi. Ia menatap Ardi dengan wajah tak percaya.
"Kenapa melihatku seperti itu, Sayang? Aku, ganteng banget, ya?" Goda Ardi.
Aini pun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ardi.
"Aku kira, Mas memang mau berusaha menjagaku dari orang-orang yang bukan mahramku. Ternyata, karena itu alasannya." Ucap Aini tak percaya.
"Apa? Eemm, bener juga ya tapi? Kalau dokternya perempuan, berarti kan kamu nggak akan dipegang-pegang oleh orang-orang yang bukan mahrammu. Istriku memang sholehah."
"Iihh, Mas, ah! Gimana sih?" Kesal Aini.
"Maaf, Sayang. Itu tadi kejujuranku." Jawab Ardi cekikikan.
Aini masih mematung dengan perasaan kesal. Tapi Ardi, segera merengkuhnya dan mendekapnya dengan satu tangan di dadanya.
"Tapi bukankah itu berarti, aku sangat menyayangimu, Sayang? Karena aku tidak ingin berbagi dirimu dengan siapapun. Hanya aku, laki-laki yang bisa menyentuhmu seutuhnya." Goda Ardi lagi, sambil memainkan satu alisnya.
Aini mendongakkan wajahnya. Ia bisa melihat, wajah nakal Ardi yang sedang asik menggodanya. Ia pun akhirnya memukul manja dada Ardi.
"Eh, tapi bentar! Kamu tadi, diperiksa sama dokter Agung, kan? Dia tadi megang-megang kamu, dong?" Curiga Ardi.
"Namanya juga meriksa pasien, Mas. Masa iya, cuma dilirikin aja. Dia kan bukan cenayang." Jawab Aini sambil menahan tawa, karena yakin, Ardi mulai cemburu tak beralasan.
"Aku serius, Sayang."
"Aku juga serius, Mas. Kan tadi aku udah cerita sama Mas, waktu di warung. Dokter Gilang ngecek denyut nadi, sama perutku."
Ardi sedikit lupa dengan cerita Aini tadi. Ia sedikit terbakar cemburu hanya karena gurauannya sendiri.
"Percayalah, Mas! Kalau dokter Agung itu dokter yang nggak bener, beliau nggak akan bisa praktek di rumah sakit besar, Mas. Dan juga, beliau juga buka praktek di rumah, kan? Berarti memang beliau itu dokter yang hebat."
Ardi tersenyum sendiri. "Iya, Sayang."
"Kalau gitu, tanya ke dokter Gilang aja, rekomendasi dokter spesialis kandungan yang perempuan. Dia pasti punya beberapa kenalan dokter." Sambut Aini abtusias.
"Oke. Aku telepon Gilang bentar!" Jawab Ardi, seraya meraih ponsel miliknya, yang ada di atas meja.
Ardi lalu mencari nama Gilang dan segera meneleponnya.
"Kenapa, Di?" Suara Gilang, langsung terdengar jelas.
"Assalamu'alaikum, Pak Dokter." Sindir Ardi.
__ADS_1
"Oh, iya. Wa'alaikumussalan. Kenapa?"
"Kamu punya kenalan dokter spesialis kandungan yang perempuan nggak?"
"Buat siapa? Aini?"
"Masa ya buat mama?" Cibir Ardi.
Gilang malah tertawa terkekeh. "Ada. Tapi tidak di rumah sakit praktekku."
"Lalu?"
"Di RSIA Kasih Bunda. Namanya dokter Nosita Wijaya."
"Dia dokter yang bagus, kan?"
"Iya. Dulu dia praktek di Ibrahim Medical Center, Jakarta. Baru dua tahun belakangan, pindah ke Bandung, karena ingin merawat kedua orang tuanya."
"Oke."
"Nggak mau ke rumah sakit tempat kerjaku?"
"Emang ada yang perempuan?"
"Nggak ada. Harus ya perempuan?"
"Harus."
"Aini yang minta?"
"Mas Ardi." Sela Aini tiba-tiba.
Ardi melirik tajam ke arah Aini. Aini jelas cekikikan lagi mendapat ekspresi Aini.
"Oh, kamu Di, ternyata." Remeh Gilang.
"Mas Ardi cemburu, Mas Gilang." Seloroh Aini lagi.
"Aku paham, Ni." Santai Gilang.
"Masa iya, Aini mau dipegang-pegang sama laki-laki lain." Sahut Ardi tak terima.
"Kapan kalian mau ke sana? Biar aku coba hubungi dia dulu."
"Sore nanti kalau bisa."
"Oke. Aku coba cek jadwal prakteknya dulu."
"Ngomong-ngomong, Aini udah hamil?"
"Ini baru mau mastiin. Tadi dia pingsan di warung. Dan ada seorang dokter yang membantunya dan memeriksanya. Dokter itu bilang, mungkin Aini sedang hamil."
"Selamat ya! Akhirnya, penantian kalian terjawab."
"Iya, Lang. Makasih, ya."
"Oke. Nanti aku kabari."
"Oke. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Ardi lalu kembali meletakkan ponselnya.
"Makasih ya, Mas." Ucap Aini bahagia.
"Tentu saja, Sayang."
"Tapi, Mas. Bagaimana Mas tahu aku sedang hamil?" Tanya Aini manja.
"Kamu sudah jadi canduku, Sayang. Kita hampir tiap hari berolahraga malam selama dua bulan. Itu berarti, kamu sedang tidak datang bulan, bukan?" Jelas Ardi, sembari mengingat kegiatan malamnya dengan Aini yang selalu membuatnya ketagihan.
Aini diam dan berpikir. Ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Ardi. Ia baru menyadari, ia sudah terlambat datang bulan hampir dua kali.
"Kamu tidak menyadarinya, Sayang?" Tanya Ardi penasaran.
"Enggak, Mas."
"Kamu sepertinya terlalu fokus dengan warung Dian. Jadi sedikit melupakan rutinitas bulananmu."
"Iya, Mas."
Aini benar-benar makin bahagia saat ini. Bagaimana tidak? Karena itu berarti, Ardi sangat memperhatikannya dengan begitu baik. Bahkan Ardi bisa tahu, jika Aini terlambat datang bulan. Yang Aini saja, bahkan tidak menyadarinya.
Flashback Off
Ardi dan Aini segera mengantar Umar dan Kenzo ke rumah Rama. Ardi dan Aini pun juga belum mengatakan dugaan Agung pada kedua orang tua mereka. Mereka ingin memastikan semuanya dulu.
__ADS_1
Dan pukul empat sore, Ardi dan Aini sudah berada di rumah sakit untuk menemui dokter spesialis kandungan yang tadi Gilang sarankan. Gilang bahkan sudah mendaftarkan Aini dengan bantuan Dika.
"Selamat sore, Bapak dan Ibu. Silahkan duduk!" Sapa seorang wanita berusia sekitar empat puluhan yang sedang duduk di kursinya.
"Selamat sore, Dokter." Jawab Ardi dan Aini.
"Sebentar!" Wanita berjas putih itu, sejenak membaca lembaran kertas di atas mejanya.
Ardi dan Aini pun, duduk dengan santai dan melihat ruangan yang baru saja mereka masuki. Mereka juga mengamati wanita yang sedang mereka kunjungi. Yang menurut penuturan Gilang, bernama Herlina.
"Ini, pak Ardi yang tadi diteleponkan oleh dokter Anggoro Gilang, ya?" Tanya wanita yang sedang berhadapan langsung dengan Ardi dan Aini itu.
"Iya. Saya Ardi. Tapi, bukan saya ya Dokter, yang mau periksa. Saya ingin memastikan, apakah istri saya ini, benar-benar hamil atau belum." Jelas Ardi santai.
"Tentu saja. Sudah di tes?"
"Belum." Jujur Aini.
"Tes dulu aja, ya?"
"Iya, Dokter."
Dokter itu lalu meminta perawat yang menemaninya, untuk menyiapkan alat tes kehamilan dan membantu Aini untuk menggunakannya.
"Semoga positif." Batin Ardi penuh harap.
"Putra ke berapa, Pak?" Ramah sang dokter, sembari menunggu Aini.
"Pertama. Maaf, putra ketiga maksud saya." Jawab Ardi sedikit bingung.
Sang dokter pun tersenyum kecil. Ia seketika paham dengan maksud Ardi. Ia lalu menanyakan beberapa hal pada Ardi, sembari menunggu Aini mengambil sample urin di toilet.
Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita hanya perlu untuk berusaha, berdo'a dan selalu berbaik sangka pada Yang Maha Kuasa. Karena apapun yang Allah berikan, pasti itu yang terbaik untuk kita.
...****************...
Ardi dan Aini menikmati perjalanan pulang mereka dengan senyuman indah yang tersungging sempurna di wajah masing-masing. Ardi bahkan nyaris tidak melepaskan tautan tangannya dengan Aini sepanjang perjalanan.
"Besok aku antar ke rumah Dian. Kamu harus berhenti mengurus warungnya, sesuai janjimu. Oke?" Ulang Ardi untuk yang kesekian kalinya.
"Iyaaaa, Mas. Mas udah bilang itu dari tadi." Jawab Aini gemas.
"Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian, Sayang."
"Aku mengerti, Mas. Terima kasih."
Aini tersenyum haru menatap sang suami. Ia benar-benar bahagia karena diperlakukan begitu istimewa oleh Ardi. Meski memang seperti itu seharusnya.
Iya. Aini dinyatakan positif hamil oleh dokter. Usia kandungannya bahkan sudah menginjak minggu ke dua belas. Ardi dan Aini cukup terkejut karena hal itu. Karena memang, Aini tidak mengalami gejala awal kehamilan seperti mual, atau badan yang melemah. Semuanya biasa saja.
Dan sekarang, tugas mereka hanya tinggal menyampaikan kabar bahagia itu pada dua putra mereka dan juga pada Rama dan Niken.
"Papa! Bunda!" Sambut Kenzo, saat melihat Ardi dan Aini turun dari mobil.
Kenzo sudah sangat menantikan kedatangan mereka berdua. Ia bahkan sudah beberapa kali menelepon Aini untuk memastikan kapan mereka akan tiba di rumah Rama. Kenzo pun segera menghambur ke tubuh Aini.
"Pelan-pelan, Ken! Nanti bunda sakit." Saran Ardi, karena Kenzo sedikit menubruk Aini.
"Nggak papa, Mas!" Hibur Aini.
"Bunda kok lama?" Adu Kenzo manja.
"Maaf, Sayang. Tadi ngobrol dulu sama temennya om Gilang." Jujur Aini.
"Ayo, ngobrol di dalem aja!" Ajak Ardi segera.
Tiga orang itu segera masuk ke rumah. Mereka juga langsung disambut oleh Rama, Niken dan Umar.
"Kalian dari mana? Ada masalah sama Gilang?" Tanya Niken perhatian, setelah Aini duduk bersamanya.
"Enggak, Ma. Tadi periksa sebentar ke kenalannya mas Gilang." Jujur Aini.
"Kamu sakit?" Cemas Niken.
"Alhamdulillah enggak, Ma." Jawab Aini perlahan.
"Mama mau punya cucu lagi." Celetuk Ardi, yang sedang asik meladeni Umar dan Kenzo bermain.
Rama, Niken dan Aini segera menoleh ke arah Ardi. Umar dan Kenzo pun segera menatap wajah ayahnya yang sedang bermain bersama.
"Beneran, Di?" Tanya Niken tak percaya.
"Iya, Ma. Udah dua belas minggu." Sahut Ardi lagi.
Niken langsung memeluk Aini tanpa permisi. Ia bahkan memeluk Aini dengan sangat gemas.
"Selamat ya, Sayang." Ucap Niken bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma." Jawab Aini, sembari membalas pelukan Niken.
"Nggak. Kenzo nggak mau punya adik." Ucap Kenzo seraya berdiri dengan wajah yang serius.