
Malam telah tiba dengan sejuta keramahannya. Bulan dan bintang pun telah menggantikan sang surya menghiasi langit biru. Tiada awan hitam yang menemani malam ini. Langit malam nampak begitu indah dengan segala pesonanya.
Aini sedang berada di kamarnya. Ia hendak mengistirahatkan diri, setelah banyak hal yang ia lalui hari ini. Kepergian Rama dan Niken ke Malang, membuat suasana rumah sedikit sepi. Hanya ada suara Kenzo dan Umar yang meramaikannya.
Kenzo dan Umar sudah terlelap di kamar mereka masing-masing, setelah tadi menyelesaikan tugas sekolah mereka. Begitu juga para penghuni rumah yang lain.
"Sepi juga nggak ada bu Niken." Gumam Aini.
Aini segera merebahkan tubuhnya setelah mengganti pakaiannya. Ia ingin segera terlelap, tapi ternyata, sang netra belum dihampiri oleh rasa kantuk.
Aini memainkan ponselnya. Ternyata ada pesan dari Oliv. Ia pun segera membukanya.
"Hai Ni. Gimana? Apa mas Ardi udah pulang dari Bandung?"
"Sudah, Mbak. Tadi pagi."
"Apa kamu sudah mengatakan apa yang kita bahas semalam?"
"Sudah, Mbak."
"Lalu gimana responnya mas Ardi?"
"Mas Ardi bilang, mas Ardi akan menanggapi Anda langsung, Mbak." Jujur Aini.
"Begitu ya. Oke Ni, makasih ya bantuannya."
"Iya, Mbak."
"Sebentar, Ni. Kamu manggil mas Ardi apa tadi? Mas?"
"Iya, Mbak. Mas Ardi meminta saya, memanggil beliau seperti mbak Tika dan mbok Sri memanggilnya."
"Oh, begitu rupanya."
Aini segera meletakkan ponselnya. Ia menghela nafas beratnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Ada rasa yang berkecamuk dalam dirinya, setelah ia berkrim pesan dengan Oliv barusan. Ia teringat tatkala tadi pagi ia menemani Ardi menikmati sarapan buatannya.
Flashback On
"Panggil aku seperti mbok Sri atau Tika memanggilku, mas Ardi." Tutur Ardi nakal.
Aini mengerutkan keningnya bingung. Ardi lantas mendekati Aini dan membungkukkan badannya. Ia berniat membisikkan sesuatu pada Aini.
"Atau panggil aku, sayang." Bisik Ardi tepat di telinga kiri Aini.
Aini segera menoleh pada Ardi. Wajah dua insan itu begitu dekat saat ini. Dua hidung mancung mereka nyaris bersentuhan. Dan dengan segera, dua pasang netra itu pun langsung memantulkan bayangan satu sama lain.
Jantung Aini dengan segera berdegup kencang tak terkondisikan. Wajah tampan Ardi benar-benar tak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi, jarak wajah mereka kini bahkan kurang dari satu inci.
Lalu, bagaimana dengan Ardi?
__ADS_1
Ardi dengan santai menatap wajah ayu Aini yang sering mengusiknya. Ia pun segera tersenyum hangat pada Aini tanpa rasa bersalah.
"Aku hanya bercanda. Panggil aku seperti mbok sri memanggilku saja." Ucap Ardi santai, sembari menegakkan tubuhnya.
Aini masih diam tak merespon. Ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Terima kasih untuk sarapannya. Aku akan ke kantor sekarang." Ucap Ardi tanpa menghiraukan ekspresi kebingungan Aini.
Aini masih tetap diam.
"Sudah! Jangan melamun terus! Aku memang tampan, tapi tidak setampan itu juga. Hingga kamu sampai tak berkedip menatapku." Aku Ardi.
Aini akhirnya segera mengalihkan pandangannya setelah mendengar penuturan Ardi. Ia sangat malu karena tertangkap basah sedang menatap laki-laki yang baru saja membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Pipi Aini pun langsung merona. Dan Ardi menyadari itu. Ia hanya tersenyum kecil dan segera melangkahkan kakinya untuk mengambil jas kerja dan tasnya. Tak lupa, menyambar kunci mobil yang jarang ia gunakan.
Ardi pun meninggalkan kamarnya dengan santai dan perasaan yang bahagia. Rasa rindu yang menggelitik hati dan perasaannya dua hari terakhir, akhirnya terobati dengan sangat sempurna.
Aini akhirnya segera merapikan bekas piring makan Ardi. Ia pun juga segera keluar dari kamar Ardi. Dan saat Aini mencuci piring dan gelas kotor, terdengar sesuatu yang cukup mengusik gendang telinganya.
Suara deru mobil dari arah garasi terdengar begitu menggelegar. Aini begitu terkejut dan bahkan sampai berjingkat.
"Astaghfirullahal'adzim. Suara apa itu?" Guman Aini cepat.
Aini menoleh ke arah sumber suara. Dan di saat bersamaan, muncul Tika dari pintu yang tembus ke garasi.
Aini akhirnya hanya ber-oh ria. Ia pun melanjutkan aktivitasnya kembali bersama Tika. Sedang Ardi, berangkat ke kantor dengan mobil sport yang ia miliki sejak masih kuliah.
Flashback Off
"Kenapa mas Ardi bisa santai banget bilang kayak gitu tadi pagi?" Gumam Aini lagi.
"Ah, sudahlah! Aku tak boleh terlalu memikirkan mas Ardi. Aku harus membantu mbak Oliv kembali pada mas Ardi dan Kenzo. Jadi, Kenzo bisa bersama dengan orang tuanya seutuhnya." Monolog Aini.
Aini dan Oliv sudah sejak semalam saling berkirim pesan. Oliv dengan terang-terangan, meminta bantuan Aini untuk mendekatkan dirinya pada Ardi, agar ia bisa kembali menjadi istri Ardi.
Aini sebenarnya merasa sedikit bimbang dengan perasaannya. Ada rasa tak suka dan tak nyaman ketika Oliv meminta hal itu sejak semalam. Tapi ia tak tahu apa alasannya.
...****************...
Awan hitam, menggelayut manja sejak pagi. Meski begitu, tak ada tanda-tandanya, langit akan segera menumpahkan kebaikannya pada sang bumi. Hanya angin sejuk yang terus bertiup tiada henti.
Jam dua siang, Oliv datang ke rumah Ardi seorang diri seperti biasa. Ia sudah meminta ijin Ardi tadi. Ia membawa beberapa mainan dan baju yang baru saja ia beli untuk Kenzo.
Oliv pun segera bermain dan bercengkrama bersama Kenzo dan Umar. Ia terlihat tak keberatan atau pun risih dengan kehadiran Umar saat ia bersama dengan Kenzo. Aini hanya sesekali menghampiri mereka untuk memastikan Umar tidak mengganggu Oliv dan Kenzo.
Oliv menghampiri Aini yang sedang mengurusi jemuran baju bersama Tika.
"Ni, bisa aku bicara denganmu?" Tanya Oliv santai, saat Kenzo dan Umar sedang mandi.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Aini ramah.
"Bisa ikut aku sebentar?"
"Oh, iya Mbak."
"Kita keluar sebentar. Ada yang ingin aku katakan secara pribadi denganmu." Pinta Oliv serius.
"Dengan Kenzo juga, Mbak?"
"Tidak. Hanya berdua saja."
"Tapi Mbak, Kenzo dan Umar nggak ada yang jagain. Bu Niken dan pak Rama sedang ke Malang. Mas Ardi juga belum pulang dari kantor." Tolak Aini pelan.
"Kan ada Tika sama mbok Sri." Jawab Oliv enteng.
"Tapii,,"
Aini teringat pesan Niken sebelum berangkat tempo hari. Niken menitipkan Kenzo padanya. Jadi, ia tak bisa begitu saja meninggalkan Kenzo, meski ada Tika dan Sri di rumah.
"Hanya sebentar, Ni. Nggak begitu jauh juga dari sini." Rayu Oliv.
"Tapi Mbak,,"
"Aku mohon, Ni! Aku takut, Kenzo akan mendengarnya nanti, Dan ia akan salah paham."
Aini berpikir dengan keras. Menimang-nimang, keputusan apa yang akan diambilnya. Karena ia juga tak tahu, apa yang akan Oliv katakan padanya, hingga harus keluar rumah, agar Kenzo tak mendengarnya.
"Nggak papa, Mbak Aini. Kenzo dan Umar biar aku yang jaga, sama mbok Sri." Rayu Tika tiba-tiba.
"Tuh! Tika aja mau." Timpal Oliv semangat.
Aini masih bingung. Ia tak tahu, harus menerima ajakan Oliv atau tidak. Karena ia juga sudah berjanji pada Niken, akan menjaga Kenzo selama Niken pergi ke Malang.
"Nggak papa, Mbak. Tenang aja! Aku kan udah biasa jaga Kenzo. Aku juga nggak akan bilang ke bu Niken atau mas Ardi, kalau Mbak Aini pergi berdua sama Mbak Oliv." Bujuk Tika lagi.
"Tapi Mbak,,"
"Sebentar aja, Ni!" Rengek Oliv.
"Tapi,,"
"Ayolah, Ni!"
Aini akhirnya menerima permintaan Oliv. Ia lalu berganti baju dan mengambil tas di kamarnya. Dan saat Kenzo dan Umar turun setelah selesai mandi, Oliv pun menjelaskan pada dua anak laki-laki itu, bahwa ia dan Aini akan keluar sebentar. Dan selama mereka berdua pergi, Kenzo dan Umar akan dijaga oleh Tika dan Sri.
Kenzo dan Umar pun mengangguk patuh. Oliv pun tersenyum lega setelah mendengar jawaban mereka.
Dan pukul setengah lima sore, Oliv keluar bersama Aini. Meninggalkan Kenzo dan Umar bersama Tika. Oliv dan Aini pun tersenyum pada dua anak laki-laki yang mengantar kepergiannya. Tak lupa, pada Tika yang juga sedang berdiri bersama Kenzo dan Umar.
__ADS_1