Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Sambutan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Mbak." Panggil Aini, setelah ia keluar mobil dan berada di dekat Ratna.


"Wa'alaikumussalam. Kenapa nggak ngabarin kalau mau dateng?" Sahut Ratna cepat.


Aini hanya tersenyum, senatural mungkin, demi menutupi gelisah dan cemas hatinya. Ratna dan Aini pun segera berpelukan untuk melepas rindu.


Dan saat itu terjadi, Ratna melihat laki-laki yang baru saja keluar dari mobil dan mulai berjalan menghampiri dirinya dan Aini. Laki-laki yang cukup ia kenali sosoknya.


"Pak Ardi?" Lirih Ratna tak percaya.


Ardi menghentikan langkahnya sejenak saat kedua bola matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Ratna yang sedang memeluk Aini. Hatinya makin gelisah dan cemas memikirkan bagaimana reaksi Ratna nantinya.


Ratna segera melepaskan pelukannya. Darahnya seketika mendidih melihat Ardi berjalan ke arahnya.


"Kamu kenapa bisa datang bersamanya, Ni? Jawab Mbak!" Tanya Ratna segera, dengan ekpresi wajah yang mendadak kesal.


"Mbak, dengerin aku dulu!" Jawab Aini sehalus mungkin, agar Ratna tidak makin marah.


"Apa? Kamu mau bilang apa lagi? Apa kurang kamu dulu diusir olehnya?" Tantang Ratna.


Aini sejenak menoleh pada Ardi. Ia pun lalu menoleh pada Umar dan Kenzo.


"Mbak, jangan di depan rumah! Nggak enak dilihat orang nanti." Bujuk Aini.


"Biar! Mbak nggak masalah kalau mereka menilai Mbak nggak baik."


"Mbak, ada Umar dan Kenzo."


"Kamu mau pakai mereka buat alesan?"


"Mbaakk,, ini udah malem. Nggak enak sama tetangga Mbak."


"Terserah! Ini rumah Mbak sama mas Imron."


"Tapi Mbak,,"


"Apa lagi? Kamu masih mau belain dia terus?"


"Mbak nggak mau ngajak Umar dan Kenzo masuk dulu?"


Ratna sejenak menoleh pada Umar dan Kenzo yang cukup ketakutan melihat Ratna yang tiba-tiba marah. Dan Ratna menyadari hal itu. Ia pun menghela nafas berat.


"Ayo Le, kita masuk! Mas Deni sama mas Rafi pasti seneng kalian dateng." Ajak Ratna ramah.


Kenzo yang belum begitu mengenal Ratna, menoleh pada Umar dengan sedikit takut. Ia merasa ragu dengan ajakan Ratna, setelah melihat Ratna sedikit berteriak tadi.


"Ayo, Ken! Nggak papa." Ajak Umar.


Kenzo menoleh pada Aini dan Ardi. Mereka tersenyum dan mengangguk pada Kenzo. Kenzo pun akhirnya mau diajak Ratna dan Umar masuk.


"Maaf ya, Mas!" Ucap Aini segera, setelah Ratna beserta Umar dan Kenzo berjalan menuju pintu.


"Nggak papa, Sayang. Itu memang salahku. Pantas jika bu Ratna sampai marah seperti itu padaku." Aku Ardi.


"Ayo Mas, masuk!" Ajak Aini.


Ardi dan Aini pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Ratna. Perasaan Ardi masih belum tenang setelah mendapat sambutan dari Ratna tadi. Tapi ia berusaha bersikap biasa. Karena itu semua adalah demi hubungannya dengan Aini.


"Pak Ardi." Sambut Imron, saat Aini dan Ardi bergantian masuk ke dalam rumah.


Imron sempat terkejut saat melihat Kenzo masuk bersama Ratna dan Umar tadi. Ratna pun tidak menjawab apa-apa saat Imron bertanya bagaimana bisa Kenzo datang bersama Umar. Jadi, Imron bergegas untuk melihat siapa yang datang bersama dua anak laki-laki itu.


"Selamat malam, Pak Imron." Sapa Ardi ramah.


"Oh iya, Pak. Mari, silahkan masuk! Maaf, rumah saya kecil! Tidak seperti rumah Bapak yang begitu besar." Sungkan Imron.


"Anda terlalu berlebihan, Pak."


Imron menyambut baik kedatangan Ardi. Karena memang, ia tidak marah pada Ardi saat dulu Ardi datang ke rumahnya. Imron hanya merasa kecewa karena Ardi bisa melakukan hal itu pada Aini. Tapi, ia tidak marah dan kesal seperti Ratna.


Aini di sambut oleh dua keponakannya. Deni dan Rafi. Dua anak laki-laki Imron dan Ratna. Deni, sang kakak, sudah duduk di bangku kelas satu SMP. Sedang Rafi, sekarang duduk di kelas empat SD.


"Dia?" Tanya Deni lirih, setelah melirik pada Ardi.


"Oh ini. Kenalin! Namanya om Ardi. Papanya Kenzo, yang dateng bareng Umar." Jawab Aini yakin.


Deni pun akhirnya juga menyambut Ardi bersama dengan Rafi. Mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Ardi.


"Dia juga papaku, Mas." Celetuk Umar.


Ardi dan Aini jelas segera menoleh pada Umar. Mereka tak mengira, Umar akan mengatakan itu tanpa ragu.


Ratna dan Imron juga sama terkejutnya dengan Ardi dan Aini. Meski, saat di Surabaya dulu, mereka sudah pernah mendengar hal itu. Mereka tak mengira, Umar masih memanggil Ardi dengan sebutan yang sama sampai saat ini.


Deni yang sudah cukup paham dengan hal semacam itu, segera menoleh pada ayah dan ibunya. Ia bahkan langsung menghampiri ayahnya yang berdiri tak jauh dari Ardi.

__ADS_1


"Sudah! Mari silahkan duduk dulu!" Sela Imron, demi mengalihkan perhatian Deni.


"Iya, Mas." Jawab Aini menimpali.


Semua berusaha menempati tempat duduk yang ada. Karena hanya ada satu set meja kursi tamu di rumah Imron. Jadi, sang empunya rumah sedikit mengalah pada para tamunya.


"Aku ke belakang dulu ya, Mas!" Pamit Aini.


"Iya."


Aini segera menuju ruang makan Ratna. Ia sudah terbiasa seperti itu saat di sana. Ia pun lalu membuatkan minum untuk semua orang. Karena ia tahu, Ratna sedang tidak mau menyambut Ardi.


Ardi dan Imron lalu mengobrol. Sedang Ratna, memilih menemani Umar dan Kenzo bersama Deni dan Rafi.


Setelah mengobrol bersama, Ardi akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan niatnya datang ke Semarang.


"Maaf, Pak Imron, Bu Ratna! Saya ingin meminta restu Anda berdua, sebagai wali dari Aini. Saya ingin menikahi Aini." Ucap Ardi gugup.


"Anda lupa, yang pernah saya katakan dulu pada Anda?" Sahut Ratna segera.


"Saya tahu, saya melakukan kesalahan besar waktu itu. Tapi sungguh, saya sangat menyesalinya. Saya tidak bisa menjanjikan kehidupan yang sempurna tanpa rintangan pada Aini. Tapi, saya akan berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik untuk Aini dan Umar." Jawab Ardi yakin.


"Apa jaminannya kalau Anda tidak akan menyakiti Aini lagi?" Tantang Ratna.


"Mbak!" Tegur Aini segera.


"Kenapa? Kamu sudah dikecewakan oleh laki-laki ini, Ni. Mbak nggak mau, kalau sampai nanti kamu dikecewakan lagi." Jawab Ratna sedikit kesal.


"Benar yang dikatakan Ratna. Kami hanya tidak ingin, Aini kembali merasakan pedihnya disakiti saat menjalin hubungan dengan seorang laki-laki." Imbuh Imron.


"Saya tidak bisa menjaminkan apapun. Tapi, Allah yang akan menjadi penjamin saya. Jika sampai nanti saya kembali menyakiti dan mengecewakan Aini, Allah yang akan langsung menghukum saya." Yakin Ardi.


Imron, Ratna dan Aini terkejut mendengar jawaban Ardi. Mereka tidak mengira, Ardi bisa mengatakan hal itu. Karena sungguh tidak terlihat jika Ardi memiliki pondasi iman yang kuat. Meski selama ini, mereka cukup tahu, Ardi tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Mas?" Ucap Aini tak percaya.


"Itu keseriusanku, Sayang. Aku bersungguh-sungguh untuk hal itu." Jawab Ardi yakin.


Semua terdiam. Imron dan Ratna belum bisa menyanggah apa yang Ardi ucapkan. Hingga tiba-tiba, ponsel Aini berdering. Ia pun segera mengambil benda pipih yang masih tersimpan di dalam tas itu sejak tadi.


"Mama?" Batin Aini, saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Aini lalu berdiri dan berjalan menuju ruangan dimana tadi ia membuatkan minum untuk semua orang. Dan menerima panggilan itu di sana.


"Assalamu'alaikum. Iya, Ma?"


"Oh, maaf, Ma! Aini lupa. Sudah, Ma. Kami sedang mengobrol."


"Bagaimana reaksi kakakmu saat bertemu Ardi?"


Aini terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah dimana Ardi sedang duduk bersama kakaknya saat ini.


"Mereka sedang mengobrol Ma, sekarang."


"Apa aku bisa bicara dengan Ratna?"


"Sebentar, Ma! Aku panggilkan mbak Ratna."


Aini lalu menghampiri Ratna. "Mbak, bisa bicara sebentar?"


"Kenapa?" Datar Ratna.


Aini hanya menganggukkan kepala tanpa berucap. Ratna pun akhirnya berdiri dan mengikuti Aini kembali ke ruangan tadi.


"Apa Aini mau merayuku agar mau merestuinya?" Batin Ratna.


"Ada apa?" Tanya Ratna sedikit kesal.


"Bu Niken ingin bicara sama Mbak." Ucap Aini sambil menyerahkan ponselnya.


"Apa?"


"Bu Niken, ingin bicara sesuatu sama Mbak." Ulang Aini perlahan.


Ratna menatap ponsel yang Aini sodorkan padanya. Ia pun dengan ragu menerimanya. Dan perlahan, menempelkan ponsel Aini ke telinganya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Ratna ragu.


"Iya, wa'alaikumussalam. Ini saya Na, omanya Kenzo."


"Oh, iya, Bu."


"Bagaimana kabarmu, Na?"


"Alhamdulillah baik, Bu. Bu Niken sendiri, bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku juga baik."


"Syukurlah."


"Maaf Na, sepertinya aku akan merepotkanmu beberapa hari."


"Maksud Ibu?"


"Aku titip Kenzo dan Umar, ya? Kedatangan mereka pasti merepotkanmu bukan?"


"Bu Niken ada-ada saja. Saya senang mereka berkunjung kemari."


"Mereka akan di sana beberapa hari sepertinya."


"Tidak apa-apa, Bu."


"Dan untuk Ardi. Terserah, kamu mau apain dia. Dia udah dewasa ini."


Ratna sedikit tertegun mendengar ucapan Niken. Ia tadi sempat mengira, Niken akan membujuknya agar merestui hubungan Ardi dan Aini. Tapi ternyata,,


"Maksud, Ibu?"


"Ya, pokoknya terserah kamu, Ardi mau kamu apain. Kamu terima kedatangannya juga boleh, enggak juga nggak papa."


Ratna kembali terdiam.


"Salahnya sendiri dulu pake acara ngecewain Aini. Aku juga kesel sama itu anak."


Ratna melirik pada Aini sambil berpikir keras. "Bagaimana bisa, ini ibu kayak gini sama anaknya?"


"Kenapa, Mbak?" Tanya Aini tanpa bersuara.


Ratna pun menggelengkan kepalanya.


"Pokoknya, titip dua cucuku ya, Na! Sama putriku juga."


"Putri Bu Niken?"


"Iya. Aini. Tapi kalau Aini, kamu pasti menjaganya dengan baik, bukan?"


Ratna terdiam. Ia terkejut lagi, karena Niken menganggap Aini sebagai putrinya.


"Oh, iya, Bu." Jawab Ratna ragu.


"Dan satu lagi, Na."


"Ada apa, Bu?"


"Kalau nanti kamu tidak merestui Ardi dan Aini. Tolong katakan pada Aini, untuk menolak lamaran papanya Ardi, ya!"


"A,, apa maksud, Bu Niken?"


"Papanya Ardi itu pengen nikah lagi. Dan itu sama Aini."


Ratna mengangakan mulutnya. Ia benar-benar tak mengira akan mendengar hal itu dari Niken. Ia bahkan segera menatap Aini dengan tatapan tak percaya.


"Tolong ya, Na! Nanti tolong sampaikan pada Aini!" Imbuh Niken dari seberang telepon.


"Ah, oh, iya, Bu. Nanti saya sampaikan." Jawab Ratna gugup.


"Yasudah, aku tutup dulu ya!"


"Iya, Bu."


"Terima kasih, ya Na."


"Iya, Bu. Sama-sama."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan pun terputus. Ratna masih menatap Aini dengan aneh. Pikirannya mulai melayang tak karuan, memikirkan ucapan Niken tadi.


"Aini dengan pak Rama?" Batin Ratna bingung.


...****************...


Hai readers 🤗🤗


Maaf ya lama banget update nya 🙏😊 keluarga othor ada yang terkena musibah, jadi beberapa hari tidak sempat melanjutkan ceritanya 🙏🙏


Terima kasih untuk yang masih setia menanti 🙏😊😘


Oke, see you next episode ya 😉

__ADS_1


Love you All 😍🥰


__ADS_2