Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Dian


__ADS_3

Hari baru telah tiba. Riuh suara alam di pagi hari, menemani sang surya yang mulai menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Membawa kehangatan pagi dengan cara yang berbeda-beda bagi setiap penikmatnya.


Aini sudah berada di dapur pagi ini. Ia ditemani Niken, menyiapkan sarapan pagi untuk seisi penghuni rumah.


Kemarin sore, Rama dan Niken sudah kembali ke rumah lama mereka. Mereka tidak ingin menunda-nunda kepindahan kembali mereka. Jadi, setelah kunjungan Ardi dan Aini kemarin pagi, mereka segera berkemas dan bersiap kembali ke rumah lama mereka.


Kembalinya Rama dan Niken jelas disambut bahagia oleh Umar dan Kenzo. Mereka tidak tahu, ada misi rahasia dibalik kepulangan kakek dan nenek mereka ke rumah itu.


Rama dan Niken beralasan pada Umar dan Kenzo, bahwa mereka merasa sepi karena hanya berdua saja di rumah baru. Jadi, mereka memutuskan kembali ke rumah lama, agar tidak merasa sedikit kesepian lagi.


Karena ini akhir pekan, semua bersantai menikmati pagi ini.


"Umar! Kenzo!" Panggil Aini lembut, setelah ia kembali dari kamarnya.


"Iya, Bunda." Sahut Umar dan Kenzo bersamaan.


Umar dan Kenzo yang sedang bermain di depan televisi, memandangi Aini yang datang menghampiri mereka.


"Bunda sama papa mau ke rumah tante Dian. Kalian mau ikut?" Tawar Aini.


"Mau, Bunda." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan lagi.


Umar dan Kenzo terlihat sangat antusias. Mereka tersenyum sangat bahagia sambil saling memainkan alisnya.


"Kalian kok seneng banget kelihatannya?" Tanya Niken yang sedang menemani Umar dan Kenzo bermain sejak tadi.


"Iya dong, Oma. Kan bisa main sama adek kembar." Jujur Kenzo.


"Iya, Oma. Pipinya dek Vita sama dek Vito itu menggemaskan banget, Oma." Timpal Umar.


Niken mengerutkan keningnya penuh kebingungan.


"Kalian mau ke rumah Dian?" Sela Rama tiba-tiba.


"Iya, Pa. Mau bilang ke Dian, kalau Aini nggak bisa bantu ngurus warung lagi. Nanti warung, biar Reno yang urus sementara." Jelas Ardi.


"Papa ikut, ya?" Pinta Rama yakin.


Ardi hanya mengangguk paham. Ia tahu, ayahnya itu ingin bertemu dengan teman lamanya.


Dan hal itu, disambut gembira oleh Umar dan Kenzo. Mereka tambah antusias, karena Rama dan Niken juga akan ikut ke rumah Dian.


Semua akhirnya bersiap untuk ke rumah Dian. Ardi pun segera memanaskan mesin mobilnya. Sedang duo kecil yang tadi sedang asik bermain, segera mengemasi mainannya sebelum berangkat.


Jalanan cukup ramai pagi ini. Barisan kendaraan roda empat yang berjajar di jalanan. Karena akhir pekan, bisa ditebak, jika sebagian besar pengguna jalan ini, ingin menikmati akhir pekan bersama keluarga.


Setelah berkutat dengan keramaian lalu lintas, Ardi dan yang lain, disambut bahagia oleh keluarga Dian, yang sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.


"Kok nggak ngabarin kalau mau ke sini?" Sambut Dian, seraya memeluk hangat Aini.


"Harus ya, bikin janji temu kalau mau ke sini?" Sahut Ardi remeh.


Dian melirik Ardi dengan kesal. Aini yang melihat ekspresi Dian, hanya tersenyum kecil.


"Kalian ini, dari dulu kok masih aja kayak gitu?" Celetuk Rama santai.


"Ardi dulu Om, yang mulai." Adu Dian.


"Kok aku?" Sahut Ardi tak terima.


"Ya kan emang bener."


"Kan aku tadi cuma jawab pertanyaan kamu."


"Udah! Udah! Nggak malu apa sama Umar sama Kenzo?" Tengah ibunya Dian.


Aini pun tersenyum bahagia melihat kejadian itu. Sepasang sahabat lama, yang terkadang beradu mulut untuk hal sepele, tapi selalu saling mendukung saat yang lain membutuhkan.


"Tante, dek Vita sama dek Vito mana?" Tanya Kenzo tidak sabar.


"Dek Vita sama dek Vito baru tidur." Jujur Dian.


"Yyyyaaaahhh,,," Sahut Umar dan Kenzo kecewa.


Dian tersenyum bahagia melihat ekspresi kekecewaan Umar dan Kenzo. Ia yakin, Umar dan Kenzo sangat ingin bermain dengan bayi kembarnya.


"Makanya, kalian minta papa sama bunda buat bikinin adek, kayak dek Vita sama dek Vito! Jadi, nanti kalian bisa main sama adek kalian setiap saat. Nggak perlu jauh-jauh ke rumah Tante." Saran Dian santai.


Ucapan Dian barusan, jelas menjadi perhatian Ardi, Aini, Rama dan Niken. Mereka segera menoleh ke arah Dian dan menunggu reaksi Umar dan Kenzo.


Tapi, Umar dan Kenzo memilih untuk tidak menjawab apapun. Mereka yang sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Dian, lalu berlari begitu saja ke taman belakang rumah Dian.


Dian sedikit kebingungan dengan reaksi Umar dan Kenzo. Ia lalu menoleh pada Aini yang ternyata sedang menatapnya.


"Mereka tidak ingin punya adik." Singkat Aini.


"Umar dan Kenzo?" Tanya Dian tidak percaya.


"Iya."


"Kenapa? Mereka kelihatan antusias jika bermain dengan Vita dan Vito?"


"Mereka takut kehilangan perhatian dariku dan papanya." Jujur Aini.


Dian membelalakkan kedua matanya dengan penuh keterkejutan. Ia tidak mengira, jika dua bersaudara itu tidak menginginkan kehadiran adik kecil dalam keluarga kecil mereka.


"Jangan sedih, Ni! Wajar jika mereka berpikiran seperti itu. Itu berarti, mereka sangat menyayangi kalian." Hibur ibunya Dian.


"Iya, Bu." Jawab Aini paham.


"Ayo, masuk dulu! Kita ngobrol di dalam!" Ajak si pemilik rumah.


Semua pun masuk ke rumah. Dian segera pergi ke kamarnya untuk melihat dua bayi kembarnya. Dan Aini, jelas mengikutinya.


"Kamu udah coba bujuk mereka?" Tanya Dian, saat ia dan Aini duduk di tepi ranjang.


"Baru mau dimulai." Jujur Aini.


"Maksudnya?"


"Ini rayuan pertamanya. Coba deketin mereka ke bayi kamu. Dan nanti pelan-pelan di kasih pengertian."


"Kamu udah hamil, ya?" Terka Dian tidak sabar.

__ADS_1


Aini mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya, Ni!" Ucap Dian haru, seraya merentangkan tangannya dan langsung memeluk Aini.


"Iya, Mbak. Makasih."


"Terus, Umar dan Kenzo udah tahu?"


"Udah. Ya karena hal itu, aku sama mas Ardi berusaha bujuk mereka."


Dian mengangguk paham. "Gimana ceritanya, Umar sama Kenzo bisa sama-sama nggak mau?"


Aini pun menceritakan kejadian kemarin. Dian mendengarkan dengan seksama apa yang Aini ceritakan. Tapi, saat Aini hampir selesai dengan ceritanya, salah satu bayi mungil yang sedang terlelap itu, terusik dan mulai menangis. Dian pun segera menggendongnya.


Dan ternyata, tangisan itu membangunkan saudara kembarnya. Aini akhirnya membantu Dian menenangkan Vito, yang terbangun karena Vita.


Lalu tiba-tiba, Umar dan Kenzo masuk begitu saja ke kamar Dian. Mereka segera berlari menghampiri bayi mungil yang suara tangisannya terdengar sampai ke halaman belakang rumah.


"Halo Dek! Ayo main lagi sama Mas Kenzo!" Celetuk Kenzo segera, saat ia berada di depan Aini yang sedang menggendong Vito.


"Sebentar ya Mas, Vito mau minum dulu!" Sahut Aini lembut.


"Minumnya dimana, Bunda? Kenzo ambilin." Polos Kenzo.


"Minum asi, Mas Ken. Dari mama Dian. Gantian sama dek Vita."


"Emang, dek Vito belum boleh minum air putih atau susu biasa, Bunda?"


"Boleh, Ken. Tapi, lebih utama asinya. Air putih atau susu formula itu pendamping."


Kenzo menganggukkan kepalanya. Umar pun mendengarkan dengan seksama penjelasan Aini tadi.


Setelah dua bayi kembar itu tenang, Umar dan Kenzo segera berebut untuk bermain bersama mereka. Umar dan Kenzo benar-benar merasa gemas dengan Vita dan Vito.


"Dek Vita lucu banget ya, Ken?" Pancing Aini.


"Iya, Bunda."


"Dek Vito juga, Nda. Pipinya gembul banget." Timpal Umar.


"Kita bawa pulang aja ya, Ken, Mar?" Pancing Niken segera.


"Emang boleh, Oma?" Sahut Kenzo tak percaya.


Aini dan Ardi segera saling melirik.


"Boleh, dong. Iya kan, Tante Dian?" Tanya Niken santai.


"Boleh, dong. Nanti Tante ikutan nginep di rumah kalian." Jawab Dian yakin.


"Yaudah. Nanti dek Vita sama dek Vito diajak pulang ya, Nda?" Yakin Kenzo.


"Kalian yakin?" Tantang Aini.


"Yakin dong, Bunda. Memangnya kenapa?"


"Kan nggak tiap hari juga dek Vita sama dek Vito nginep di rumah." Timpal Umar.


"Nanti kita tidur bareng mereka ya, Mar!" Usul Kenzo antusias.


"Boleh, dong. Yang penting, jangan sampai dek Vita sama dek Vito kena tendang aja." Santai Dian.


Umar dan Kenzo segera saling pandang. Mereka bahkan langsung tos dengan begitu mantap.


Pemandangan itu jelas membingungkan semua orang. Karena mereka tahu, Umar dan Kenzo menolak untuk memiliki adik.


"Oke! Nanti bantu Tante berkemas keperluan adek kembar, ya!" Sela Dian tanpa ragu.


"Siap, Tante." Yakin Umar dan Kenzo.


Dian tersenyum lega. Dalam hatinya yakin, rencana bujukan ini, akan berhasil mengubah keputusan Umar dan Kenzo yang menolak kehadiran adik di keluarga kecil mereka.


Semua hanyut dalam obrolan yang nyaman. Umar dan Kenzo juga asik bercanda dengan bayi kembar Dian. Tak lupa, mereka benar-benar membantu Dian bersiap untuk acara menginap dadakan di rumah mereka.


Dian dan dua bayinya benar-benar diboyong ke rumah Ardi malam ini. Kedua orang tua Dian, menitipkan Dian dan dua cucunya pada Rama dan Niken.


"Yang kasurnya besar, cuma di kamar papa sama bunda. Terus, gimana nanti kita mau bobok bareng sama adek kembar, Nda?" Bingung Kenzo.


"Ya nanti, tidur di kamar papa aja semuanya." Sahut Ardi sambil menyetir.


"Boleh, Pa?" Tanya Kenzo meyakinkan.


"Ya jelas boleh dong, Ken. Kan kalian juga biasa tidur sama papa sama bunda." Santai Ardi.


"Yes." Gumam Kenzo bahagia.


Kenzo segera melirik ke arah Umar dan tersenyum lebar. Mereka pun tersenyum bahagia.


Saat sampai di rumah, sore telah menjelang. Aini menyiapkan kamarnya yang akan menjadi ruang tidur bersama malam ini.


"Biar Inah yang nyiapin kamarnya, Sayang! Kamu jangan kecapekan!" Tegur Ardi, saat melihat Aini seorang diri menyiapkan kamarnya.


"Mbak Inah biar bantuin mama masak, Mas. Lagian, cuma beresin dikit." Kilah Aini.


Ardi segera memegangi lengan Aini. Hingga memaksa Aini menghentikan aktifitasnya. Aini menatap Ardi dengan bingung.


"Kalau gitu, biar aku yang beresin! Oke." Yakin Ardi.


"Nggak usah, Mas. Udah mau selesai kok." Tolak Aini lagi.


Ardi menghela nafas dengan berat. Tanpa pikir panjang, ia segera membungkukkan badannya, lalu membopong Aini tanpa permisi.


"Mas mau apa?" Bingung Aini.


"Mindahin kamu."


"Tapi Mas,,"


Ardi lalu menurunkan Aini di kursi riasnya. "Kamu duduk di sini! Biar aku yang menyelesaikan. Kalau ada yang kurang pas, kamu tinggal bilang padaku. Oke, Ratuku?"


Aini tersenyum bahagia. Ia akhirnya mengalah pada Ardi dan membiarkan Ardi menyelesaikan pekerjaannya.


Malam menjelang. Dua bayi kembar Dian, sudah berada di kamar dan terlelap lebih dulu dibandingkan semua orang. Tak lupa, Umar dan Kenzo yang juga setia menemani mereka. Umar dan Kenzo tidak hentinya memandangi wajah menggemaskan dua bayi itu ketika tidur.

__ADS_1


Umar dan Kenzo duduk di sofa sambil asik bermain ponsel sembari menunggu kantuk tiba. Mereka masih berada di kamar Ardi dan Aini bersama Dian yang baru saja selesai menidurkan dua bayinya.


"Heeeiiii,,," Sela Dian, seraya duduk di tengah Umar dan Kenzo.


"Ya, Tante." Sahut Umar dan Kenzo, sambil menoleh ke arah Dian.


"Kalian seneng ya, kalau dek Vita sama dek Vito tidur di sini?"


"Jelas dong, Tante."


"Tapi kan, Vita sama Vito nggak bisa tiap hari tidur di sini."


"Nggak papa, Tante. Lain waktu, kita yang nginep di rumah, Tante. Boleh, kan?"


"Jelas boleh, Ken."


"Makasih, Tante."


"Atau, kalian minta papa sama bunda aja buat bikinin adek kecil, kayak Vita sama Vito."


"Nggak mau." Tolak Umar dan Kenzo bersamaan.


"Kenapa?"


"Nanti, papa sama bunda nggak perhatian lagi sama kita." Jujur Umar.


"Siapa yang bilang?"


Umar dan Kenzo menggeleng bersama.


"Itu nggak mungkin terjadi, Sayang." Ucap Dian, seraya merangkul Umar dan Kenzo.


"Tapi,," Sanggah Umar ragu.


"Tapi apa, Mar?" Tanya Dian perlahan.


"Ayah dulu,,"


"Benar dugaan Aini." Batin Dian.


"Ayahmu kenapa, Mar?"


"Ayah nggak sayang lagi sama Umar, setelah ada dek Rafa. Ayah sering marah-marah." Jujur Umar sedih.


"Kamu tahu, papa Ardi yang membantu bunda mengembalikanmu pada bunda? Papa Ardi ingin kamu bahagia dengan bunda, begitu pun sebaliknya. Jadi, dia membantumu agar bisa kembali dengan bunda. Itu karena papa Ardi juga sayang padamu, Nak."


"Papa Ardi juga pernah bilang ke Tante, dia bahagia karena kamu memanggilnya papa, seperti Kenzo. Karena iti berarti, dia punya dua putra. Kamu dan Kenzo, yang sangat papa Ardi sayangi." Jelas Dian lembut.


"Tapi, nanti bunda sama papa,," Sela Kenzo tiba-tiba.


"Sekarang, Tante tanya. Apa setelah papa kenal sama Umar, dan bahkan Umar tinggal di sini, papa mengabaikanmu, Ken?" Tanya Dian hati-hati.


Kenzo diam sejenak. Ia lalu menggeleng.


"Apa setelah kamu kenal bunda, bunda juga membedakanmu dengan Umar?"


Kenzo menggeleng lagi.


"Dan Umar. Apa bunda juga nggak perhatian lagi, setelah Kenzo memanggil bunda sama denganmu?" Tanya Dian pada Umar.


Umar pun menggeleng.


"Itu tandanya, mereka sama-sama menyayangi kalian. Papa dan bunda, tidak membedakan kalian satu dengan yang lain. Meskipun kalian saudara tiri, mereka tetap menyayangi kalian dengan sepenuh hati."


"Kalaupun nanti kalian punya adik kecil, lalu papa dan bunda sedikit lebih perhatian pada adik kecil, itu karena adik kecil belum bisa melakukan banyak hal sendirian, Sayang. Adik kecil masih butuh bantuan papa, bunda, opa, oma dan kalian juga tentunya."


"Berbeda dengan kalian yang sudah pandai melakukan banyak hal seorang diri. Dan jadi tugas kalian sebagai kakak, yang mengajarkan banyak hal itu pada adik kalian, agar dia nanti bisa mandiri sama seperti kalian sekarang."


"Papa dan bunda sangat bangga pada kalian, Nak. Kalian tidak manja diusia kalian yang sekarang. Padahal, banyak anak diluar sana yang seumuran dengan kalian, yang masih sangat manja pada orang tua mereka. Tapi kalian, bahkan sudah bisa membantu Tante menjaga Vita dan Vito sejak tadi."


Umar dan Kenzo terdiam sambil mendengarkan ucapan Dian.


"Apa,, papa dan bunda kecewa dengan kami, Tante?" Tanya Umar ragu.


"Tidak. Mereka hanya terkejut, karena kalian menolak kehadiran adik kecil yang sudah ada di dalam rahim bunda."


"Tante yakin?"


"Apa kalian melihat mereka kecewa?"


"Kemarin waktu di rumah opa, papa kelihatan marah waktu Kenzo menolak." Jujur Kenzo.


"Papa pasti sedang lelah, Sayang. Jadi reaksi terkejut papa sedikit berbeda." Bujuk Dian lagi.


Umar dan Kenzo kembali terdiam.


"Kalian pasti akan sangat bahagia, saat adik kalian nanti sudah lahir. Kalian bisa bermain dengannya sepanjang waktu. Tanpa butuh bepergian ke rumah orang lain untuk bisa bermain dengan adik kecil."


"Ingat, Sayang! Kalian juga punya Allah. Kalau kalian meminta padanya untuk membuat papa dan bunda tidak lelah menyayangi kalian meski adik kecil sudah lahir, Allah pasti mengabulkannya. Karena Tante tahu, kalian anak sholeh." Akhir Dian, sambil mengusap lembut kepala Umar dan Kenzo.


Umar dan Kenzo masih belum bereaksi apapun. Mereka masih memikirkan dengan seksama, apa yang baru saja diucapkan Dian.


Akankah, rayuan kecil dari Dian, bisa mengubah keputusan Umar dan Kenzo?


...****************...


Assalamu'alaikum readers 🤗🤗


Pertama-tama,, (kok malah kayak mau pidato 🤔)


Pokoknya, Othor mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama reader semua 🙏🙏🙏 karena sempat vakum berminggu-minggu 🙏🙏🙏


Maunya sih nggak sampai vakum 😁😅, tapi karena keadaan di dunia nyata yang sangat menyita tenaga fisik dan psikis 😔, hingga membuat Othor sering gagal fokus dan kesulitan menulis 😭, akhirnya Othor vakum untuk beberapa minggu kemarin 🙏🙏🙏


Maaf ya semuanya karena nggak kasih kabar 🙏🙏🙏


Terima kasih yang masih mau menunggu kelanjutan ceritanya Ardi dan Aini 🙏😊 yang udah nggak mau menunggu, juga terima kasih pokoknya 🙏


Ini masih ada beberapa bab kelanjutannya ya 😁 sedikit sih, nggak banyak 😁 semoga masih berkenan untuk melanjutkan ceritanya yaa 😘🤩🥰


Oke, terima kasih untuk semuanya 🙏😊 dan maaf untuk terputusnya cerita ini selama beberapa minggu 🙏😔


See you next episode 👍😘🥰🤩

__ADS_1


Wassalamu'alaikum readers 🤗🤗


__ADS_2