Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kembali


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Menapaki takdir yang telah digariskan oleh sang Ilahi. Merangkai kisah demi kisah yang terus berlalu tanpa pernah kita tahu akhirnya.


Dua minggu sudah Aini menginap di rumah Ratmini. Dua minggu itu pula, ia berada jauh dari suaminya. Adit beberapa kali ke rumah Ratmini untuk menemui Aini, tapi gagal. Aini memilih pergi saat Adit datang mencarinya. Tapi ia membiarkan Adit bertemu dengan putranya. Karena ia tahu, Umar pun merindukan ayahnya.


Bukan Aini tak mau bertemu, hatinya hanya belum siap menerima semua yang terjadi begitu cepat. Dan entah kenapa, Aini sering mendapat firasaf buruk semenjak ia memiliki seorang madu.


Pukul tujuh malam, Aini memarkirkan motornya di depan rumahnya. Ia pun mengambil tasnya dan segera mengajak putranya masuk ke rumah. Iya, Aini akhirnya pulang ke rumah Adit.


Rumah dalam keadaan kosong. Adit dan Ratri sedang berkunjung ke rumah orang tua Adit sejak tadi sore.


"Astaghfirullah!" Gumam Aini saat melihat rumahnya begitu berantakan.


Aini menghelas nafas beratnya. Ia lalu mengajak putranya ke kamarnya yang beberapa hari ia tinggal. Umar yang tadi siang tidak tidur siang, segera mengajak Aini untuk tidur.


"Sebentar ya Sayang! Bunda masukin motor dulu." Pamit Aini setelah mengecup pipi Umar yang sedikit dingin karena berkendara.


Umar hanya mengangguk. Ia yang sudah dilanda rasa kantuk yang berat, enggan untuk banyak bicara apalagi bergerak.


Aini pun segera kembali ke depan rumah untuk memasukkan motornya ke dalam rumah. Ia lalu segera menemani Umar untuk tidur. Dan tak butuh waktu lama bagi Umar, untuk segera terlelap.


Aini lantas meninggalkan Umar yang sudah terbang ke alam mimpinya. Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat. Selepas sholat, barulah ia keluar kamar.


Aini menatap nanar rumahnya yang berantakan. Beberapa gelas minum berceceran di meja ruang keluarga. Bungkus-bungkus camilan pun berserakan di beberapa tempat. Sedang di dapur, ada beberapa piring kotor yang teronggok tak beraturan di tempat cuci piring.


Aini pun mulai membersihkan rumahnya. Ia mulai memunguti gelas dan piring kotor. Setelah itu, ia pun membersihkan bungkus-bungkus camilan yang berserakan. Tak lupa, mencuci piring dan gelas kotor yang entah sejak kapan ada di sana.


Tak butuh waktu lama bagi Aini untuk melakukan tugas rumahnya. Setelah selesai, ia pun segera kembali ke kamarnya untuk kembali menemani putranya tidur. Dan saat ia kembali ke kamar, Adit dan Ratri belum pulang dari rumah orang tua Adit.


"Kok bersih?" Gumam Ratri setelah membuka pintu rumah dan mendapati rumah yang tadi ia tinggalkan sudah sangat rapi dan bersih.


"Aini." Ucap Adit cepat.


Adit segera berlari menuju kamar Aini. Dan benar, ia mendapati Aini sedang terlelap bersama putranya. Ia pun segera menutup pintu kamarnya begitu saja. Dan meninggalkan Ratri yang sedikit terkejut dengan sikap Adit.


Ratri lalu kembali ke kamarnya yang masih berantakan. Ia sadar, ia bukanlah satu-satunya istri Adit. Jadi, ia membiarkan Adit menemui Aini saat ini.

__ADS_1


Ah ya, kamar Ratri tadi tidak dibereskan oleh Aini. Ia tidak ingin masuk kamar orang lain tanpa izin. Apalagi, itu harusnya bisa dilakukan oleh Ratri sendiri.


Ada rasa rindu yang tiba-tiba menggebu-gebu di hati Adit, saat melihat istri dan anaknya tidur dengan begitu lelap di kamarnya. Pemandangan sederhana yang ia rindukan beberapa hari ini.


Adit segera merebahkan tubuhnya di belakang Aini yang sedang memeluk Umar. Ia memeluk istri pertamanya itu dengan penuh rasa rindu.


"Aku rindu padamu Sayang." Ucap Adit lirih.


Aini sebenarnya terbangun saat mendengar suara mobil Adit memasuki halaman depan rumah. Tapi ia ingin melihat, apa yang akan Adit lakukan saat tahu istri pertamanya pulang. Istri yang beberapa hari tak ia temui.


Airmata Aini meleleh begitu saja mendengar kalimat yang Adit ucapkan. Ia pun sungguh, juga merindukan Adit selama beberapa hari di rumah ibunya. Adit merasakan tubuh Aini yang sedikit bergetar karena menahan tangisannya.


"Aku di sini Sayang." Imbuh Adit seraya memeluk erat tubuh Aini.


Aini tak bergeming. Dan akhirnya, keluarga kecil itu pun kembali tidur dalam satu ranjang yang sama setelah beberapa hari tak saling bertatap muka. Sepasang suami istri itu, saling melepas rindu dalam pelukan yang terasa lebih hangat.


...****************...


Hari berganti hari. Satu bulan sudah Aini memiliki seorang madu. Para tetangga dan teman lama Aini tak menyangka, jika kehidupan rumah tangga seorang Aini yang jauh dari rumor kurang sedap, mendadak diramaikan oleh seorang wanita yang menyandang istri kedua Adit.


Aini masih sering ditanyai oleh beberapa tetangganya tentang kehidupan rumah tangga barunya. Dan itu yang membuatnya jarang keluar rumah. Ia malas meladeni pertanyaan para tetangganya yang terkadang menyudutkan salah satu dari mereka bertiga.


Ratri harus mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah yang nyaris tak pernah ia jamah sebelumnya. Ratri memang terbiasa di manja oleh Arif dan Heni sejak kecil. Mengingat, ia adalah anak tunggal. Dan itu membuat Ratri pun cukup manja dengan pekerjaan rumah hingga dewasa.


Dan sampai saat ini, belum ada tanda-tanda kehamilan dari Ratri. Ia bahkan baru saja selesai datang bulan dua hari yang lalu.


"Kamu ikut promil saja Nduk!" Pinta Suharti saat ia mengunjungi kediaman Adit malam ini.


Suharti sudah tak sabar untuk menimang cucu lagi. Tapi dari buah pernikahan putranya dengan istri keduanya.


"Baru juga sebulan, kok ngotot ikut promil segala." Cibir Hadi santai.


Suharti tak menanggapi ucapan suaminya. Ia lalu kembali mengobrol asik dengan menantu barunya. Hadi pun tetap asik bermain bersama Umar yang duduk berhadapan dengannya di depan tv.


Aini dan Adit, hanya mendengarkan percakapan para orang tua mereka. Hati Adit sedikit tersentil. Ia pun mendadak merasa ingin segera kembali memiliki momongan, tapi dari pernikahannya dengan Ratri.

__ADS_1


Aini bisa membaca raut wajah suaminya yang sedikit berubah dan segera menoleh pada Ratri yang duduk berdampingan dengan Suharti. Dada Aini seketika menjadi sesak. Ia mulai tahu, arah pembicaraan Suharti.


Dan benar, Suharti dengan terang-terangan meminta Aini untuk lebih memberikan waktu bagi Adit dan Ratri lebih banyak bersama. Agar Ratri bisa segera hamil tentunya.


"Ibu tak perlu ikut campur urusan rumah tangga Adit!" Tegas Adit.


Suharti menahan kekesalannya pada Adit, karena berani sedikit membantahnya. Ia pun segera mengajak suaminya untuk pulang. Karena memang malam pun semakin larut.


Dan setelah kepulangan Hadi dan Suharti, Adit mendatangi kamar Aini. Ia sudah dua hari tidak tidur bersama putranya.


"Ada apa Mas?" Tanya Aini bingung saat Adit masuk ke kamarnya.


"Aku ingin tidur dengan Umar." Jawab Adit santai sambil merebahkan tubuhnya di ranjang begitu saja.


Umar yang belum terlelap pun dengan bahagia menghampiri ayahnya dan segera memeluknya dan mengajaknya tidur. Adit pun segera menyanggupinya.


Aini membiarkan Adit melakukan bagiannya sebagai seorang ayah. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di belakang Adit yang fokus menidurkan Umar. Ia pun juga mulai ikut memejamkan matanya.


"Sayang!" Panggil Adit lirih.


"Iya Mas. Mas butuh sesuatu?" Tanya Aini setelah membuka matanya dan menoleh pada Adit yang ternyata sudah menatapnya dengan begitu lembut.


"Aku membutuhkanmu Sayang." Bisik Adit di telinga Aini yang malam ini tidak tertutup jilbab.


Hati Aini bergetar. Sungguh, ia pun rindu dengan sentuhan sang suami yang akhir-akhir ini tidak ia rasakan. Tapi, ia juga tak bisa melupakan ucapan mertuanya tadi.


"Mas nggak nemenin Mbak Ratri?" Aini segera bangun dari posisinya dan menatap kosong pada kakinya yang tertutup selimut.


"Aku rindu padamu Sayang." Jawab Adit yang ikut duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan sang istri.


Aini memejamkan matanya. Meyakinkan hatinya bahwa Adit memang tetaplah suaminya.


"Aku juga merindukanmu Mas." Sahut Aini.


Adit tersenyum. Ia segera memeluk tubuh Aini dari belakang. Ia pun langsung mengecup lembut leher Aini yang sudah menggodanya sejak tadi. Aini pun dengan cepat menyambut ajakan sang suami. Dan mereka pun hanyut dalam pergulatan indah yang disertai oleh peluh kenikmatan malam ini.

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Adit dan Aini memadu kasih kembali setelah Adit menikahi Ratri satu bulan lalu. Bukan Adit tak berlaku adil pada Aini, tapi Aini yang masih belum siap melakukannya kemarin. Hatinya masih belum sepenuhnya ikhlas dengan semua yang telah terjadi.


Adit berusaha sangat keras untuk berlaku adil pada dua istrinya. Meski sangat sulit, tapi ia berusaha menepati ucapannya pada mertua barunya beberapa hari yang lalu.


__ADS_2