Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Diam-Diam


__ADS_3

Rintik hujan menyapa bumi dengan lembut. Tetesan demi tetesan air langit itu, perlahan membasahi bagian kecil dari bumi nan indah ini. Memberikan ketenangan bagi setiap rasa yang mungkin sedang dilanda kegundahan tak berkesudahan.


Pagi yang mendung menyapa Kota Pahlawan di Indonesia, Surabaya. Meski begitu, semua tetap beraktivitas seperti biasa. Tak terkecuali para penghuni kediaman Ardi.


"Kenzo mana, Di?" Tanya Niken saat Ardi tiba seorang diri di ruang makan.


"Masih di kamar Umar, Ma." Jawab Ardi santai.


"Kamu jadi ke Bandung nanti?" Tanya Rama kemudian.


"Jadi, Pa. Mungkin seminggu Ardi di sana." Jawab Ardi ragu, sambil mengambil piring makannya.


"Kenzo?"


"Ardi sudah bilang padanya tadi. Dia juga harus menyiapkan diri untuk donor, jadi dia nggak bisa ikut, Ma."


"Kapan rencana donor akan dilakukan?"


"Setelah Ardi kembali dari Bandung."


"Lagi pula, ada Umar dan Aini sekarang. Dia sudah banyak yang menemani." Imbuh Ardi.


"Ya sudah, hati-hati!" Pesan Niken tulus.


"Iya, Ma."


Rama, Niken dan Ardi pun lantas memulai makan pagi mereka. Tiga orang itu, merasa ada yang berbeda dengan masakan pagi ini.


"Tika!" Panggil Niken segera.


Seorang wanita seumuran Aini, dengan rambut sebahu yang dikucir rapi, terlihat berjalan lebih cepat untuk menghampiri sang pemilik rumah. Dia Tika, salah satu asisten rumah tangga di rumah Ardi.


"Iya, Bu?" Jawab Tika setelah sampai di ruang makan.


Tika berdiri sambil merapikan bajunya yang nampak sedikit kusut, karena sedang membereskan halaman depan. Ia bahkan sedikit merapikan penampilannya agar terlihat lebih sempurna.


Itulah Tika. Dia sebenarnya menaruh hati pada sang empunya rumah, Ardi. Ia selalu bersikap sedikit centil jika berhadapan dengan Ardi. Dia sebenarnya sudah memiliki suami dan dua orang anak di kampung. Tapi pesona Ardi, tak dapat ia abaikan begitu saja.


Di kediaman Ardi, ada dua orang asisten rumah tangga. Tika dan Sri. Tika dulunya adalah pengasuh Kenzo, sejak ia pindah ke Surabaya, tiga tahun lalu. Sedang Sri, atau biasa dipanggil mbok Sri, adalah asisten rumah tangga di rumah itu sejak Ardi masih duduk di bangku SD.


"Siapa yang masak sarapan? Apa Mbok Sri?" Tanya Niken segera.


"Bukan, Bu." Jujur Tika ragu-ragu.


"Lantas? Ini bukan masakanmu, kan?" Cecar Niken, yang hafal dengan rasa masakan Tika.


Tika memiliki tugas utama memasak di rumah ini, sejak satu tahun terakhir. Kenzo yang mulai bisa mandiri, membuat Niken mengalihkan pekerjaan Tika menjadi seorang ART di rumahnya.


"Itu Bu,,"


Tika cukup takut mengatakan hal yang sejujurnya. Karena ia juga tidak tahu, bagaimana rasa masakan yang disajikan pagi ini. Karena memang bukan dia yang memasaknya tadi.


"Jawab yang bener, Tik!" Pinta Rama lebih pelan.


Tika kebingungan mengucapkan hal yang sebenarnya sangat sederhana. Ia takut, akan dimarahi oleh Niken, karena tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.


"Mbak Aini yang masak, Pak, Bu." Jawab Tika lirih.


Ardi yang dari tadi menikmati sarapannya tanpa protes, segera mengalihkan perhatiannya. Ia sebenarnya juga menyadari, sarapan pagi ini rasanya sedikit berbeda dari biasanya. Meski masakan yang disajikan adalah masakan seperti biasanya.


"Aini?" Ucap Niken tak percaya.


"Iya, Bu." Cicit Tika lirih.


"Kapan dia memasaknya?"


"Tadi Bu, sebelum membantu mas Umar dan mas Kenzo bersiap ke sekolah." Jujur Tika.


Semua diam. Tiga orang di meja makan itu, tak ada yang menyadari apa yang dilakukan Aini pagi ini.

__ADS_1


Iya, Aini menyiapkan sarapan untuk keluarga Ardi pagi ini. Ia hanya tak ingin menjadi beban bagi keluarga yang sudah membantu dan menerimanya dengan begitu hangat. Ia pun berinisiatif untuk membantu pekerjaan Tika dan Sri ketika dia tak memiliki kesibukan.


"Panggil mereka, Di!" Pinta Niken datar.


"Ardi sedang sarapan, Ma." Rengek Ardi.


"Kamu ini! Kenzo belum turun, Di. Gimana sih kamu?"


"Sebentar lagi pasti turun, Ma."


Niken mendengus kesal karena sikap Ardi.


"Tika! Tolong panggilkan Aini, Kenzo dan Umar!" Pinta Niken segera.


"Baik, Bu." Jawab Tika patuh.


Dan saat Tika mulai melangkahkan kakinya, tiga orang yang sedang ditunggu itu, sedang asik menuruni tangga sambil bercerita penuh tawa. Tika pun akhirnya pamit undur diri untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu yang masak ini semua, Ni?" Tanya Niken setelah Aini ikut duduk di ruang makan.


"Iya, Bu. Maaf, jika saya lancang." Jawab Aini tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kamu pinter masak ya? Masakanmu enak." Jujur Niken.


"Ibu terlalu berlebihan." Jawab Aini sungkan.


Tak ada yang menyadari, ada sebuah senyuman kecil di wajah sang duda di meja makan itu. Bahkan, sang pemilik senyuman pun, tak begitu menyadari ulahnya.


Mereka lantas sarapan bersama. Tak banyak percakapan saat semua menikmati makanan pagi ini. Dan seperti biasa, Kenzo dan Umar diantar ke sekolah oleh sopir. Ardi pun segera berangkat ke bandara setelah Dika datang menjemputnya.


Hingga malam mulai menyapa. Adzan sholat isya sudah berkumandang sejak tadi. Umar dan Kenzo pun sudah menyelesaikan PR dan belajarnya malam ini. Mereka sudah bersiap untuk tidur di kamar masing-masing.


Tapi tidak Aini. Ia belum bisa terlelap karena suatu hal yang mengusik hatinya. Ia pun akhirnya keluar kamar untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Apa pak Ardi belum pulang? Astaga! Kenapa aku memikirkannya?" Batin Aini saat ia melewati pintu kamar Ardi untuk naik ke atap.


Rumah Ardi memiliki tiga lantai. Di lantai teratas hanya ada kolam renang out door dan beberapa kursi untuk bersantai. Aini kemarin sudah menyambangi tempat itu bersama Umar dan Kenzo.


Lama Aini menikmati suasana malam ini sendirian. Hingga,,


"Kamu belum tidur, Ni?" Sapa Niken tiba-tiba.


Aini segera bangun dari posisinya. Ia menoleh ke arah pintu. Ada Niken sedang berdiri di sana dengan senyum ramahnya.


"Oh, belum Bu." Jawab Aini sambil menegakkan duduknya.


Niken pun berjalan menghampiri Aini. Ia duduk di kursi tepat di samping Aini.


"Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Niken ramah.


"Tidak, Bu. Hanya ingin menikmati suasana saja." Bohong Aini.


"Aku sering kemari, jika sedang banyak pikiran."


"Bu Niken sedang ada masalah?"


"Tidak. Hanya memikirkan Kenzo."


"Kenzo?" Ulang Aini tak percaya.


"Iya." Jawab Niken ringan.


"Memangnya, ada apa dengan Kenzo?"


Niken tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan Aini.


"Kenzo itu butuh ibu. Selama ini, dia hanya sebentar menikmati kasih sayang seorang ibu. Meski aku menyayanginya sepenuh hati, tapi itu pasti sangat berbeda dengan kasih sayang seorang ibu seutuhnya."


Aini terdiam.

__ADS_1


"Aku sudah berkali-kali meminta Ardi untuk menikah lagi demi Kenzo. Tapi sampai sekarang, dia belum mau untuk menikah." Imbuh Niken dengan tatapan lurus ke arah langit luas.


"Apa tak pernah ada yang mendekati pak Ardi?" Tanya Aini penasaran.


"Ada. Banyak malah. Bahkan, Tika pun ganjen sama Ardi."


Aini tertegun mendengar jawaban Niken. Hatinya tiba-tiba menciut mendengar ucapan Niken.


"Ibu kandung Kenzo?" Tanya Aini perlahan.


"Aku tak akan merestui Ardi, jika ia kembali pada wanita itu. Lebih baik Ardi menduda selama sisa hidupnya, daripada harus kembali pada wanita tak tahu diri itu." Jawab Niken kesal.


Tiba-tiba, ponsel Niken berdering. Niken segera membaca nama penelepon yang ada di layar ponselnya. Ia malah tersenyum penuh arti lagi.


"Kenapa?" Ucap Niken ketus saat panggilan mulai tersambung.


"Mama gimana? Anaknya telepon kok gitu banget?"


"Kamu mau nanyain Mama apa Aini?"


Aini yang tadi berusaha tidak menguping, segera menoleh pada Niken. Ia terkejut karena namanya dibawa-bawa oleh Niken. Ia menatap wajah Niken penuh tanya.


"Mama bicara apa?"


"Udah, nggak usah ngelak. Kamu sekarang pasti lagi di depan laptop kan, lihatin rekaman CCTV rumah." Ucap Niken santai.


Tak ada sahutan dari seberang telepon.


"Sebentar!" Pinta Niken kemudian.


Niken segera mengalihkan panggilan suara yang berlangsung ke panggilan video. Dan tak butuh waktu lama, wajah Ardi segera menghiasi layar ponsel Niken. Niken pun tiba-tiba menggeser kursinya agar menempel dengan kursi Aini. Ia juga langsung menarik tubuh Aini dan memeluknya.


"Nih Aini!" Ucap Niken santai.


Aini terkejut bukan main saat Niken memeluknya dan membuatnya terlihat di layar ponselnya. Ia tak menyangka, ada Ardi di seberang telepon. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Mendadak ada rasa gugup menyergapnya.


Tanpa dua wanita itu sadari, ada seberkas senyum kecil nan indah, tercipta di wajah laki-laki yang sedang berada jauh di sana. Dua wanita itu sibuk dengan tingkahnya masing-masing. Aini berusaha melepaskan pelukan Niken agar tak terlihat kamera, sedang Niken malah semakin menariknya ke dalam pelukannya.


"Kok saya, Bu?" Ucap Aini sekenanya.


Aini sedikit melirik ke arah ponsel Niken. Ada wajah Ardi terpampang jelas di sana.


"Kalian ini kalau saling rindu jangan cuma diem aja! Telepon kek kalau pas jauh gini, biar sama-sama tenang. Kalian udah bukan ABG lagi. Nggak perlu diajarin kan buat hal kayak gitu?" Ucap Niken santai.


Aini menatap Niken penuh kebingungan. Jantung Aini yang tadi mendadak berdegup kencang, makin tak karuanlah saat ini. Hawa dingin tiba-tiba menyergap seluruh tubuhnya. Kegugupannya mulai memuncak tanpa permisi.


Tut. Panggilan tiba-tiba diputus oleh Ardi. Niken sedikit cekikikan melihat tingkah Ardi dan Aini.


"Tuh lihat! Ardi malu karena ketahuan kangen sama kamu. Kamu juga mikirin Ardi kan dari tadi?" Ucap Niken sambil melepaskan pelukannya.


"Bu Niken ada-ada saja." Sahut Aini malu-malu.


"Ya enggak dong. Buktinya, itu pipi kamu mendadak merah."


Aini refleks menutupi kedua pipinya dengan tangannya. "Enggak ah, Bu."


Aini benar-benar malu saat ini. Ia memang sedang memikirkan Ardi sejak tadi. Ia tak tahu pasti, kenapa ia memikirkan Ardi terus seharian ini. Apalagi, Ardi belum terlihat hingga jam selarut ini.


"Ardi sedang ke Bandung. Ada masalah di kantor pusat di sana. Biasanya Kenzo akan ikut ke Bandung jika Ardi ke sana. Tapi karena ada kamu dan Umar, jadi Kenzo tidak ikut. Dan lagi, Kenzo juga harus menyiapkan kondisinya untuk pendonoran. Jadi dia diminta oleh Ardi tetap di rumah." Jelas Niken.


Aini tersenyum kaku pada Niken. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi Niken. Tapi, perasaan Aini mendadak lebih tenang setelah mendengar penuturan Niken.


"Apa aku memang merindukan pak Ardi?" Batin Aini.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar karena hawa dingin mulai begitu terasa.


Sedang di tempat nan jauh di sana, di sebuah rumah mewah yang lama tak berpenghuni, seorang laki-laki tampan sedang kebingungan dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa aku dari tadi memikirkan Aini?" Gumam laki-laki itu, yang tak lain adalah Ardi.

__ADS_1


Perasaan Ardi sedikit gelisah sejak ia pulang dari kantor sore ini. Ia pun mendadak tak bisa fokus saat akan menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa ke rumah. Ia lantas mencoba melihat CCTV rumahnya yang ada di Surabaya. Dan saat ia melihat sosok yang mengusik pikirannya sejak tadi, hatinya mendadak lebih tenang.


"Apa aku diam-diam merindukannya?" Gumamnya lagi.


__ADS_2