Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Reaksi


__ADS_3

Takdir Tuhan, tak pernah ada yang tahu. Selalu menjadi misteri bagi setiap insan.


"Umar! Umar!" Rintih seorang laki-laki di atas ranjangnya, yang tak lain adalah Hadi.


Sang istri yang baru saja masuk ke kamar, segera membangunkan suaminya yang mengigau karena memanggil cucunya.


"Pak! Pak! Bangun, Pak!" Ucap Suharti setelah ia duduk di tepi ranjang.


Hadi segera membuka matanya. Mata yang terlihat begitu sayu dan sedih sejak sebulan terakhir. Kondisinya pun semakin melemah karena pikirannya yang melayang jauh pada cucu pertamanya, yang kini tak lagi tinggal bersamanya.


"Umar mana, Bu?" Tanya Hadi lirih.


"Uwis to, Pak! Umar sudah nggak tinggal di sini lagi. Dia sudah tinggal dengan ibunya yang tak tahu diri itu." Jawab Suharti kesal.


Bukannya makin sedih, Hadi malah tersenyum lega. Ada semburat kebahagiaan dan kelegaan yang begitu besar dari wajah tuanya.


"Bapak kok malah seneng? Cucunya nggak lagi tinggal sama kita kok." Gerutu Suharti.


Hadi hanya diam tak menanggapi istrinya. Tapi, ia memang bahagia, karena Umar akhirnya bisa bersama Aini kembali. Karena ia sangat tahu, betapa Umar ingin tinggal bersama ibunya selama ini.


Pagi itu cukup tenang di rumah Adit, setelah Hadi mendapat kabar bahwa Aini memenangkan hak asuh Umar kembali. Tak ada yang aneh, hingga siang menjelang.


Suharti berniat menawari suaminya buah potong yang disiapkan Ratri. Tapi, saat ia berusaha membangunkan Hadi, tak ada respon sama sekali. Meski, ia sudah membangunkannya dengan cukup keras. Suharti pun panik seketika.


"Ratri! Ratri!" Panggil Suharti kencang dari dalam kamarnya.


"Iya, Bu." Jawab Ratri sambil berlari.


"Telepon Adit! Bapak pingsan." Ucap Suharti cepat.


"Apa? Oh, iya Bu."


Ratri segera mengambil ponselnya. Ia segera menguhubungi sang suami yang tengah bekerja. Ia pun lantas membantu Suharti mencoba menyadarkan Hadi.


Adit yang sedang mengecek laporan kemarin, segera menghentikan pekerjaannya setelah mendapat kabar dari sang istri. Ia bergegas pulang untuk melihat kondisi sang ayah.


Dan saat Adit sampai di rumah, Hadi masih belum sadar. Adit akhirnya membawa Hadi ke rumah sakit. Ia juga bertanya, kenapa ayahnya bisa pingsan.


"Ibu nggak tahu. Tadi pagi cuma nanyain Umar. Pas Ibu masuk mau nawarin buah, bapak udah nggak sadar." Jujur Suharti.


Adit mulai kesal karena cerita Suharti. Ia mulai menyalahkan Aini kembali, karena merebut Umar darinya. Karena Adit sangat tahu, ayahnya sangat menyayangi Umar. Bahkan melebihi cucu keduanya.


Saat sampai di rumah sakit, Hadi segera ditangani pihak medis. Ia masih belum sadarkan diri saat sampai di rumah sakit. Tak banyak yang bicara. Mereka cukup panik karena Hadi yang tak kunjung sadar.


Di kediaman Ardi.


Niken masih menatap lekat Aini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aini menjadi sedikit kikuk karena ditatap seperti itu oleh Niken.


"Kenalkan, Bu Aini. Ini Bu Niken. Ibu kandung pak Ardi." Sela Dika, membuyarkan kekakuan Aini.


"Oh, iya Pak."


Aini segera mengulurkan tangannya untuk menyalami Niken. Niken pun menyambutnya, tapi masih dengan tatapan datarnya. Akting yang sempurna dari seorang Niken Anita, yang sebenarnya sudah menanti kedatangan Aini sejak tadi pagi.


Flashback On


Pukul sembilan malam, kediaman Ardi sudah cukup sepi malam ini. Dua bocil (bocah kecil) penghuni rumah itu, sudah berada di kamar mereka masing-masing, setelah belajar bersama di kamar Kenzo. Tak terkecuali Niken. Ia juga sudah masuk ke kamarnya seperti biasa.


Tersisa Ardi, yang masih berkutat dengan berkas-berkas di ruang kerjanya. Ditemani sang ayah, yang selalu siap membantunya jika memang Ardi sedang banyak pekerjaan.


Ceklek. Pintu ruang kerja Ardi terbuka begitu saja, tanpa permisi. Niken segera muncul dari balik pintu.


"Kok belum istirahat? Apa masih banyak pekerjaanmu?" Tanya Niken segera.


"Dikit lagi, Ma. Mama kenapa belum tidur?" Sahut Ardi dengan mata yang mengekori kemana ibunya berjalan.


"Ini, nunggu papamu." Jujur Niken, setelah duduk di samping sang suami.


"Kasihan Ardi, Ma. Kerjaannya baru banyak banget." Jawab Rama perhatian.


"Kamu nggak kasihan sama papamu?" Sindir Niken.


"Ardi nggak minta Papa nemenin Ardi, Ma." Jujur Ardi santai.


"Ya kamu yang peka, dong!" Cibir Niken.


"Peka gimana maksud Mama?" Tanya Rama tak paham.


"Papa gimana sih?" Gerutu Niken.


"Iya, maksud Mama gimana? Ardi juga nggak paham. Kan Ardi nggak minta Papa nemenin Ardi. Iya kan, Pa?" Bela Ardi.


"Ya kamu cepetan cari istri lagi! Jadi kan ada yang nemenin kamu, kalau lagi lembur gini. Papamu nyerahin semua ke kamu, kan biar dia bisa istirahat." Jawab Niken sambil menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa.

__ADS_1


"Udah deh, Ma! Nggak usah mulai!" Sahut Ardi kesal.


Ardi sudah sangat lelah meladeni tingkah ibunya yang satu ini. Jadi, ia lebih memilih diam dan tak menanggapinya sama sekali. Sedang Rama, tersenyum mendengar penuturan istrinya yang tak lelah dengan kejahilannya itu.


Sebenarnya Ardi sangat paham, maksud ibunya. Ibunya hanya ingin, ia bahagia kembali dengan keluarga kecilnya. Tapi, apa mau dikata. Sampai saat ini, seorang Ardiansyah El Baraja, belum bisa menambatkan hatinya pada wanita manapun yang sudah ia temui.


Tak sedikit wanita yang mendekati Ardi demi merebut hati duda berusia 37 tahun itu. Tapi, tak ada satupun yang berhasil.


"Oh iya, Ma, Pa. Besok akan ada yang datang ke rumah dan tinggal di sini sementara waktu." Ucap Ardi demi mengalihkan pembicaraan.


"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Niken penasaran.


"Perempuan, Ma. Calon pendonor untuk Kenzo." Jawab Ardi cepat.


"Kamu udah dapat pendonor? Cocok?" Sahut Niken antusias.


"Udah, Ma. Kecocokannya cukup tinggi. Gilang sudah mendapatkan hasilnya dua minggu yang lalu."


"Kenapa baru bilang sekarang?" Kesal Niken.


"Iya, Di. Kenapa nggak bilang dari kemarin?" Imbuh Rama.


"Dia masih menunggu persidangannya selesai, Ma, Pa."


"Persidangan?" Tanya Rama dan Niken bersamaan.


"Iya."


"Persidangan apa? Dia kriminal?" Tanya Niken tanpa ragu.


"Mama kalau bicara jangan sembarangan, dong! Masak iya, Ardi sampai nyari ke lapas?" Cibir Ardi kesal.


"Lha siapa tahu? Kamu aja bisa nyari sampai ke kelab malam. Kenapa ke lapas nggak bisa?" Jawab Niken santai.


"Dia ibunya Umar."


"Maksud kamu, Aini?" Tanya Niken tak percaya.


"Iya."


Rama dan Niken segera saling pandang. Ada senyum bahagia dan kelegaan terukir indah di wajah mereka.


"Mama jangan aneh-aneh sama Aini! Dan jangan beritahu Kenzo, jika Aini adalah pendonornya! Ya Ma, Pa!" Pinta Ardi penuh penekanan.


"Boleh juga, Ma." Timpal Rama tiba-tiba.


"Papa kenapa ikut-ikutan sih?" Kesal Ardi.


"Makanya, cepetan nikah lagi! Biar Mama nggak jodohin kamu terus!" Cibir Niken.


"Bener kata mamamu, Di."


"Udah ah, Ma, Pa! Papa sama Mama istirahat aja! Kerjaan Ardi nggak beres-beres kalau Mama di sini." Pinta Ardi kesal.


Rama dan Niken malah tertawa melihat tingkah putranya. Mereka selalu bisa membuat Ardi kesal jika menyangkut hal satu itu. Mereka pun akhirnya menuruti permintaan Ardi. Dan meninggalkan duda satu putra itu sendiri di ruang kerjanya.


Ardi segera menghela nafas panjangnya setelah kedua orangtuanya kembali ke kamar mereka. Ia pun menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya.


Hingga tiba-tiba, pikiran Ardi kembali pada beberapa hari yang lalu, ketika ia berada di kamar hotel berdua dengan Aini. Ia ingat, betapa wajah Aini begitu dekat dengannya karena tak sengaja jatuh di atas tubuhnya saat itu.


"Memang cantik wajah wanita mungil itu." Batin Ardi, dengan senyum kecil yang terkembang di wajah tampannya.


Entah sejak kapan, Ardi diam-diam sering memikirkan Aini. Ia bahkan tak menyadari sikapnya yang satu ini. Ia terlalu fokus dengan pekerjaan dan urusan Kenzo yang selalu menyita perhatiannya melebihi apapun.


Flashback Off


"Saya Aini, Bu." Ucap Aini ragu.


Tiba-tiba, Niken tersenyum saat ia masih berjabat tangan dengan Aini. Aini pun membalas senyuman itu dengan ragu.


"Oh, jadi ini calon mantuku." Ucap Niken yakin.


Ucapan Niken berhasil mengejutkan Aini dan Dika.


"Pa, calon mantu kita udah dateng, nih!" Teriak Niken tiba-tiba.


Makin paniklah Aini saat ini.


"Maaf, Bu Niken, Ibu salah paham. Saya bukan calon menantu Ibu." Sela Aini segera.


Niken masih tetap tak melepaskan tangannya dari Aini. Ia hanya tersenyum mendengar sanggahan Aini. Ia malah celingukan mencari suaminya yang baru saja ia panggil dari jauh.


Dika yang menyaksikan adegan itu, hanya tersenyum melihat kelakuan wanita paruh baya itu. Ia sudah cukup paham dengan sikap Niken satu ini.

__ADS_1


"Semoga." Batin Dika saat dua wanita di hadapannya, sibuk dengan kelakuannya masing-masing.


"Tapi, Bu Niken, saya bukan calon menantu Ibu. Saya hanya perawat sementara Kenzo." Sanggah Aini lagi.


"Mana, Ma?" Ucap seorang laki-laki paruh baya, yang terlihat tetap gagah di usianya yang tak lagi muda.


Dengan langkah pasti, laki-laki itu berjalan dari arah salah satu kamar yang ada di lantai satu. Ia tersenyum hangat melihat Aini dan Niken.


"Ini lho, Pa. Cantik, ya? Ardi pinter cari calon istri." Sahut Niken antusias.


Aini makin kebingungan mendengar ucapan Niken. Ia sungguh tak menyangka, akan disambut dengan ulah kedua orang tua Ardi dengan seperti itu. Ia segera menoleh pada Dika untuk meminta bantuannya. Tapi yang ditoleh, berpura-pura tidak paham sedikitpun.


"Oh iya, Ma. Cantik. Mungil. Kayak Mama waktu muda dulu." Jawab laki-laki tadi, yang tak lain adalah Rama.


"Tapi Pak, Bu. Saya bukan calon menantu Bapak dan Ibu. Saya hanya,," Sanggahan Aini, terpotong tiba-tiba.


"Calon pendonor untuk Kenzo. Benar begitu bukan?" Sahut Niken ramah.


"Itu,,,"


Aini kebingungan menjawab Niken. Karena ia tak tahu, jika kedua orang tua Ardi mengetahui hal itu.


"Ardi sudah mengatakannya semalam. Calon pendonor untuk Kenzo akan tiba hari ini." Jelas Niken.


Aini menatap bingung pada sepasang suami istri yang menyambutnya itu. Ia makin tak paham dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Kamu pulang juga, Di?" Sapa Rama tiba-tiba.


Semua di ruangan itu, segera menoleh ke arah pintu. Ardi nampak berjalan memasuki rumahnya dengan langkahnya yang begitu tegap dan gagah. Pesonanya nampak nyaris paripurna dengan balutan setelan kerjanya yang berwarna navy hari ini.


"Harus dong, Pa! Kan calon istrinya dateng." Goda Niken lagi.


"Mama!" Bentak Ardi segera.


Ardi memang sengaja pulang saat ini. Ia tak ingin, mamanya berulah seperti semalam saat ia di ruang kerja. Tapi ternyata ia terlambat. Kedua orangtuanya sudah lebih dulu menangkap Aini.


"Nggak usah malu!" Imbuh Niken santai.


"Jangan hiraukan ucapan Mama dan Papa!" Pinta Ardi seraya menatap Aini lembut.


"Durhakim kamu Di, bilang gitu!" Cibir Niken, dengan tangan yang masih menyalami Aini.


Aini terkesiap mendengar obrolan ibu dan anak itu. Ia tak menyangka, hubungan ibu dan anak itu begitu santai.


"Ma, tangan Aini pegel, Mama pegangin terus kayak gitu." Cicit Ardi.


Niken segera menoleh pada Aini.


"Oh, iya. Maaf ya!" Ucap Niken, seraya melepaskan tangan Aini perlahan.


"Tidak apa-apa, Bu." Sahut Aini sungkan.


"Tuh kan, Pa! Ardi perhatian banget sama Aini ya, Pa." Goda Niken.


"Iya, Ma." Jawab Rama sambil tersenyum nakal pada Ardi.


"Aku tunjukkan kamarmu!" Ajak Ardi tanpa basa-basi.


Aini segera menoleh pada Ardi, yang menatapnya datar. Ardi sedang berusaha mengalihkan topik yang dibuat-buat oleh kedua orangtuanya.


"Baik, Pak." Jawab Aini patuh.


"Memang dimana kamarnya, Di? Oh, jangan-jangan, yang diberesin sama Tika kemarin ya?" Sahut Niken lagi.


"Iya Ma. Biar deket sama kamar Kenzo."


"Modus kamu! Kenapa nggak sekalian di kamarmu aja yang lebih deket? Kamarmu kan luas, cukup kalau buat kalian berdua."


Ardi mendengus kesal.


"Udah, jangan dengerin ucapan Mama! Ayo, aku tunjukkan kamarmu di atas!" Ajak Ardi lagi.


"Sekalian tunjukin kamarmu ya, Di! Biar dia nggak bingung kalau nyari kamu." Goda Niken lagi.


Ardi yang kesal dengan sikap ibunya, tiba-tiba menarik tangan Aini tanpa permisi. Aini sangat terkejut dengan ulah Ardi. Ia bahkan hampir terjatuh karena tak siap dengan ulah Ardi.


Rama, Niken dan Dika, hanya tersenyum melihat tingkah Ardi. Mereka hanya menatap Ardi dan Aini yang mulai berjalan menuju tangga. Entah, dua orang yang sedang berjalan berpegangan tangan itu, sadar dengan posisi mereka atau tidak. Tapi yang pasti, tak ada penolakan dari si empunya tangan yang saling bertaut itu.


Ardi sudah menyiapkan kamar untuk Aini, tepat di sebelah kamarnya. Karena dua kamar lain di sebelah kamar Ardi, sudah menjadi kamar Kenzo dan Umar. Ia sengaja memberikan Aini kamar di atas, agar lebih dekat dengan Kenzo saat merawatnya esok.


Tapi, apa benar hanya itu alasan Ardi memberikan kamar Aini tepat di sebelah kamarnya? Atau memang ada niat lain, seperti yang Niken ungkapkan tadi?


Isi hati seseorang, tak pernah bisa ditebak oleh orang lain. Bahkan terkadang, sang pemilik hati pun, tak begitu memahami isi hatinya sepenuhnya. Biarlah hal itu, menjadi rahasia Yang Maha Mengetahui saja kebenaran sejatinya.

__ADS_1


__ADS_2