Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Reuni


__ADS_3

Kejutan. Bisa hadir dari siapa saja, kapan saja dan bahkan dimana saja. Semua menjadi rahasia para pemiliknya. Hingga kita mungkin tak pernah terpikirkan hal itu sebelumnya.


"Kenapa aku rasanya ingin membawa ini?" Gumam Ardi sembari menatap kotak berlapis beludru yang diberikan Rama kemarin.


Cukup lama Ardi mengambil keputusan. Hingga akhirnya, ia membawa kotak beludru beserta isinya, dan ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.


Ardi sudah sangat rapi malam ini. Sesuai dengan DC acara reuni malam ini, ia mengenakan kemeja dan celana panjang hitam. Ia menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Membuat pesona pak duda satu ini, makin sulit untuk diabaikan.


Ardi tidak jadi mengajak Diandra. Ia masih belum ingin mengusik keadaan Diandra yang sedang dalam kondisi kurang baik. Itu pemikiran Ardi. Jadi, ia akhirnya berangkat seorang diri, karena mamanya benar-benar tak mau diganggu.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit bagi Ardi, untuk sampai di lokasi tempat diadakan reuni. Setelah memarkirkan mobilnya, ia lalu berjalan dengan sedikit ragu menuju ballroom salah satu hotel ternama di Kota Bandung.


"Heh, Di!" Sapa seseorang, yang berjalan mendekat ke Ardi.


Ardi pun menoleh. "Gilang? Kamu sendirian?"


"Iya."


"Maya?"


"Udah duluan. Dia langsung dari salon tadi." Jujur Gilang.


"Kamu nggak ngajak Aini?"


"Pergi sama mama dari siang."


"Oh." Singkat Gilang.


Ardi dan Gilang pun berjalan beriringan menuju tempat acara. Mereka mengobrol sedikit sembari berjalan.


Di dalam ballroom, suasana sudah cukup ramai, karena acara memang sudah dimulai. Banyak para mantan mahasiswa itu yang sudah hadir. Dan tak sedikit dari mereka yang juga membawa pasangan mereka masing-masing.


Di salah satu sudut ballroom,


"Mana Gilang, May?" Tanya salah satu teman perempuan Maya, yang baru saja menghampirinya.


"Masih OTW." Datar Maya.


Maya kurang begitu merespon temannya yang satu ini, karena ia tahu, temannya ini masih menyimpan rasa pada sang suami tercinta. Cemburu gak jelas maksudnya.


"Hai, May!" Sapa seorang laki-laki yang cukup tampan, yang baru saja mendekatinya.


"Hai, Net!" Santai Maya sambil tersenyum.


Maya menyambut dengan antusias, laki-laki yang menyapanya barusan, yang datang bersama dua rekannya.


"Gilang mana?" Tanya laki-laki tadi.


"Lagi OTW katanya. Bentar lagi nyampe, kok."


"Kenapa nggak bareng? Kalian lagi berantem?"


"Enak aja! Nyumpahin, lo?"


"Ya enggak. Kan suami istri, masak berangkat acara aja kagak barengan?"


"Gue tadi langsung dari salon." Jujur Maya sedikit kesal.


"Ooohh,, sukur deh kalo baik-baik aja."


"Harus, dong!"


Tiga laki-laki yang berperawakan cukup tegap dan ramah itu, mulai melirik pada wanita yang berada di samping Maya. Mereka cukup merasa asing dengannya.


"Ini siapa, May? Sepupumu? Atau madumu?" Celetuk teman Maya yang lain.


"Punya mulut tuh dijaga! Sembarangan aja kalo bicara. Mas Gilang nggak mungkin ngeduain gue." Sahut Maya tak terima.


"Siapa tahu. Kan cantik gini orangnya."


"Nggak usah kegatelan! Dia juga lagi nunggu seseorang." Jawab Maya yakin.


Wanita di samping Maya, seketika menoleh pada Maya.


"Aku nunggu siapa, Mbak?" Tanyanya lirih.


"Yakin, nggak nunggu papanya Kenzo?" Goda Maya lirih.


Wajah wanita yang tak lain adalah Aini itu, seketika merona. Ia sebenarnya sejak tadi memang mencari sosok laki-laki yang baru saja disebutkan oleh Maya. Tapi, belum menemukannya.


Aini memang sengaja diajak Maya untuk menghadiri acara reuni itu tanpa sepengetahuan Ardi. Ini juga termasuk rencana Niken dan Rama. Bahkan, Aini saja baru tahu kalau ia akan ikut menghadiri reuni Ardi, setelah ia selesai nyalon bersama Niken dan Maya.


Ketiga teman laki-laki Maya yang menghampirinya tadi, mulai bersiap dengan aksi mereka masing-masing. Tiga laki-laki berperawakan tegap dengan wajah yang lumayan tampan itu, semuanya menyandang status duda. Jadi, mereka bisa dengan santainya menggoda siapa saja tanpa takut ketahuan.


"Kenalin! Aku Hafidz." Ucap teman Maya yang tadi mengira Aini sebagai madunya Maya.


Aini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Dan aku, Roy." Imbuh teman Maya yang lain, yang sedari tadi masih diam.


"Jangan lupa sama aku! Aku, Juna." Sela teman Maya yang pertama menyapanya.


"Juna? Hhahaha,,"


Hafidz, Roy dan Maya segera menyela sambil tertawa terbahak-bahak. Aini sampai terkejut mendengar tawa mereka. Bahkan, mereka langsung jadi pusat perhatian karena tawa yang cukup menggema.


"Iya, Net. Jangan ganti-ganti nama, deh!" Timpal Maya sambil sedikit cekikikan.


"Emang namaku Juna. Nggak percaya? Mau bukti?" Sahut Juna tak terima.


Juna pun bersiap mengambil dompetnya untuk menunjukkan KTP miliknya dan membuktikan jika namanya memang Juna.


"Jangan percaya, Neng! Namanya bukan Juna. Tapi Junet." Sela Roy segera.


Aini menoleh pada Maya dengan bingung.


"Junet. Bukan Juna." Sahut Maya santai, setelah menyadari tatapan bingung Aini.


"Nih!" Junet menyodorkan KTP-nya dengan bangga pada Aini.


Belum sempat Aini melihat atau bahkan sekedar meliriknya, Roy lebih dulu menyambar benda kotak kecil pipih itu. Roy segera menjauhkan KTP Junet dari pemiliknya. Ia dan Hafidz bergantian mengoper benda itu.


"Woi! Kan mau aku tunjukin sama si Neng Cantik. Sini, balikin!" Kesal Junet.


"Pokoknya Junet, ya Junet!" Sahut Roy sambil terus sibuk menjauhkan KTP Junet dari pemiliknya.


"Memangnya, nama aslinya siapa?" Tanya Aini lembut.


Ketiga laki-laki yang sedang rebutan KTP itu, seketika berhenti karena mendengar suara Aini yang begitu lembut menelusup ke indera pendengaran mereka.


"Lembut bener suaranya, Neng." Puji Hafidz.

__ADS_1


"Iya. Istri idaman ini, mah!" Celetuk Roy.


"Juna. Nama asliku, Juna. Junaidi Ahmad." Sahut Junet, sambil mulai mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Aini.


"Susah, Net. Enakan Junet ketimbang Junaidi." Timpal Hafidz.


"Kualat lo ama bokap gue!" Kesal Junet.


"Bokap ama nyokap lo aja, manggil lo Junet." Ucap Roy sambil tertawa.


"Mereka kan spesial." Bela Junet.


"Kalo gitu, si Eneng, juga panggilnya Junet aja. Iya kan, Neng?" Ejek Hafidz.


"Kalo si Eneng mah, panggilnya lebih spesial lagi. Aa' Juna. Oke, Neng?"


"Aa', dia bilang? Hahahaha,,"


Roy dan Hafidz akhirnya kembali tertawa terbahak-bahak. Maya pun bahkan ikut tertawa lepas mendengar ocehan tiga duda itu. Sedang Aini, hanya tersenyum geli mendengar mereka.


Dan saat itu terjadi,


"Itu dia! Idola kampus kita selama beberapa semester dulu. Laki-laki yang selalu jadi perhatian para mahasiswi senior maupun junior." Ucap sang MC yang berada di atas panggung yang tak begitu besar.


"Gue mah, apa dibanding dia, atuh?" Imbuh sang MC sedikit lirih, tapi masih terdengar di mikrofonnya.


"Lo mah, kalah jauh kalau dibanding dia!" Timpal MC satunya.


Semua mata akhirnya menoleh ke arah lampu sorot yang mengarah ke pintu masuk. Dua orang laki-laki nampak berjalan santai memasuki ballroom. Suasana mulai riuh karena kedatangan mereka. Para hadirin, menyambut dua laki-laki itu dengan antusias.


Tak terkecuali Maya, Aini dan tiga laki-laki tadi. Dua pasang mata wanita itu, jelas menangkap sosok laki-laki yang baru saja datang. Aini bahkan nyaris tak berkedip saat melihat penampilan salah satu laki-laki yang baru datang, yang nampak begitu tampan dengan setelan santainya.


"Mas Ardi?" Batin Aini tak percaya.


"Ganteng banget ya, papanya Kenzo?" Goda Maya, saat menyadari Aini tertegun menatap Ardi.


"Apa? Mbak Maya apaan, sih?" Malu Aini.


"Itu salah satu alasan Ardi jatuh hati padamu. Kamu sangat mudah malu saat digoda olehnya." Jujur Maya.


"Mbak Maya, ah!"


Aini pun tertunduk malu. Dan sayangnya, obrolan Aini dan Maya tadi, tidak didengar oleh tiga duda yang tadi menggoda Aini.


Yang baru saja tiba adalah Ardi dan Gilang. Mereka langsung meladeni semua teman yang menyapanya. Ardi pun langsung membaur dengan mereka.


"Aku cari Maya dulu." Pamit Gilang.


"Oke." Santai Ardi.


Ardi masih belum tahu, bahwa Aini berada tak jauh darinya. Ardi lalu mengobrol dengan teman-temannya yang lain.


"Gimana?" Tanya Maya, saat Gilang sudah di depannya.


"Aman. Ardi masih belum tahu." Jujur Gilang.


Gilang pun juga disambut oleh tiga laki-laki yang tadi mendekati Aini. Mereka sedikit lupa, dengan perkenalan mereka dengan Aini. Mereka malah langsung membaur dengan teman-teman yang lain.


Acara pun berlangsung ramai. Ada beberapa games sederhana dan pastinya, sumbang-menyumbang suara yang membuat suasana menjadi lebih ramai.


Dan karena hal itu, Aini sedikit menjauh dari keramaian, karena tak mengenali mereka. Ia juga diminta Maya untuk duduk saja jika tidak ingin ikut dalam permainan.


Karena posisi duduk Aini itulah, yang membuat Ardi tidak segera menyadari keberadaan Aini. Hingga, Ardi merasa haus setelah beberapa saat mengobrol dan ikut games. Ia pun mencoba mencari minum.


Ardi melihat seorang wanita berjilbab sedang duduk sambil sedikit tertunduk dan bermain ponsel. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang. Ada rasa berdesir yang memburu gejolak hatinya. Ia pun akhirnya menghampiri wanita itu.


Wanita yang duduk itu, melihat sepasang sepatu laki-laki berhenti dihadapannya. Ia lalu menyimpan ponselnya dan berniat melihat siapa yang menghamirinya.


"Sayang?" Panggil Ardi tanpa ragu.


"Mas Ardi?" Sahut wanita itu.


"Kelamaan sih kamu! Keasikan sama yang lain, sampai nggak tahu kalau Aini di sini dari tadi." Sela Gilang.


Ardi dan Aini menoleh pada Gilang, yang tiba-tiba muncul bersama Maya.


"Kamu di sini dari tadi, Sayang?" Tanya Ardi tak percaya.


Aini hanya mengangguk.


"Apa? Kenapa tidak memanggilku?"


"Aku yang memintanya." Sela Maya.


"Kalian tahu?"


"Ya jelas tahu, lah."


Ardi segera berlutut di depan Aini. Ia pun meraih tangan mungil nan lembut itu.


"Maaf, Sayang. Aku benar-benar tak tahu jika kamu ada di sini sejak tadi." Sesal Ardi.


"Tak apa, Mas. Ini kan acara reunimu." Tulus Aini.


Gilang dan Maya hanya menggelengkan kepala setelah mendengar jawaban Aini. Mereka sungguh tak tahu, bagaimana bisa hati Aini sesabar dan selembut itu.


"Bentar ya, Ni! Aku mau bicara sama Ardi." Ucap Gilang segera.


"Nggak! Aku mau di sini dulu sama Aini." Tolak Ardi cepat.


"Udah, cepetan! Penting." Paksa Gilang, seraya menarik lengan Ardi agar ia berdiri dan mengikutinya.


"Apaan sih?" Kesal Ardi.


Gilang membawa Ardi sedikit menjauh dari Aini dan keramaian acara.


"Kamu nggak mau minta maaf atau beri kejutan yang romantis gitu sama Aini?" Pancing Gilang.


Ardi terdiam. Ia memikirkan usulan Gilang.


"Oke. Bantu aku! Minta Maya buat bawa Aini sedikit ke tengah dan juga minta bagian lighting buat nyorot Aini nanti, saat aku mau selesai." Pinta Ardi serius.


"Kamu mau ngapain?"


"Katanya suruh ngasih kejutan. Gimana sih?"


"Ya mau ngapain?"


"Tidur." Sahut Ardi seraya berjalan meninggalkan Gilang.


Ardi lalu menghampiri Aini lebih dulu. "Sebentar, ya! Aku selesaikan sesuatu dulu. Setelah itu, kita pulang."

__ADS_1


Aini hanya mengangguk patuh.


Ardi pun segera pergi meninggalkan Aini kembali. Dan Gilang segera membisikkan sesuatu pada Maya. Dan Maya pun segera paham.


Tak lupa, Gilang segera menghubungi seseorang yang memang sudah siap menunggu tugasnya tiba.


"Bersiaplah!" Pinta Gilang singkat.


"Baik, Dokter." Sahut seseorang dari seberang telepon.


Tak lama, terdengar suara deheman seseorang dari atas panggung yang menggema melalui pengeras suara. Semua pun mengalihkan perhatiannya. Dan ternyata Ardi, sudah duduk di atas sebuah kursi di panggung, dengan sebuah gitar akustik di pangkuannya.


"Ini untukmu, Sayang." Singkat Ardi.


Netra Ardi jelas melirik ke arah dimana Aini sekarang berdiri di dekat Maya. Mereka berdua berdiri di barisan depan, setelah tadi Maya mengajak Aini untuk mengikutinya.


Suasana menjadi riuh seketika. Para hadirin bersorak sesuka mereka menyambut Ardi yang bersiap untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain gitar dengan suaranya yang memang cukup merdu. Semua pun penasaran, siapa gerangan yang dimaksud Ardi.


Semua rekan Ardi tahu, Ardi memang piawai dalam bernyanyi dan memainkan beberapa alat musik. Termasuk gitar.


Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan kubalas seisi jiwa


Tiada lagi


Tiada lagi yang ganggu kita


Ini kesungguhan


Sungguh aku sayang kamu


Cantik


Ingin rasa hati berbisik


Untuk melepas keresahan


Dirimu


O cantik


Bukan kuingin mengganggumu


Tapi apa arti merindu


Selalu


Walau mentari terbit di utara


Hatiku hanya untukmu


Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan kubalas seisi jiwa


Tiada lagi


Tiada lagi yang ganggu kita


Ini kesungguhan


Sungguh aku sayang kamu


Ingin ku berjalan menyusuri cinta


Cinta yang abadi untukmu selamanya


Hei heya ya ya heya ya ya heya


Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan kubalas seisi jiwa


Tiada lagi


Tiada lagi yang ganggu kita


Ini kesungguhan


Sungguh aku sayang kamu


Dan saat Ardi selesai, lampu sorot tiba-tiba mengarah kemana Aini berdiri. Aini segera bersembunyi dibelakang Maya.


Ardi pun berdiri setelah ia selesai bernyanyi. Dan saat itu, netra Ardi tak sengaja melihat ke arah pintu masuk. Dan dari arah pintu masuk, Dika terlihat datang dengan berjalan sedikit lebih cepat.


Di tangan Dika, ada sebuah benda yang sangat menarik perhatian Ardi. Ardi pun berusaha mengimbangi langkah Dika, yang ia yakini, sedang berjalan ke arahnya.


Kedatangan Dika cukup menyita perhatian para hadirin. Bukan karena siapa dia, tapi apa yang ada di tangannya. Sebuah buket bunga mawar merah berukuran sedang, dibawanya dengan hati-hati menerobos orang-orang yang sedang menanti apa yang akan Ardi lakukan.


"Ini, Pak." Ucap Dika saat ia sampai di depan Ardi, sambil menyerahkan buket yang ia bawa.


"Terima kasih, Dik." Haru Ardi.


"Tentu, Pak." Jawab Dika dengan senyum kelegaan.


Ardi lalu berjalan mendekati Aini yang masih bersembunyi di belakang Maya. Maya pun perlahan menggeser posisinya, dan membiarkan Ardi melakukan bagiannya.


Aini memegangi erat lengan Maya. Ia merasa cukup malu karena lampu sorot mengarah padanya. Apalagi, Ardi sudah jelas-jelas berada di hadapannya. Jadi, ia masih berdiri sambil tertunduk. Ia masih tidak tahu, jika Ardi membawa hadiah untuknya.


"Untukmu, Sayang." Ucap Ardi sambil menyerahkan buket bunganya.


Aini pun seketika mengangkat wajahnya karena melihat sesuatu. Ia terkejut bukan main, karena Ardi memberinya buket bunga mawar yang sangat indah. Ia pun segera menerimanya dengan malu.


"Terima kasih, Mas." Lirih Aini.


Teman-teman Ardi jelas bersorak dengan begitu ramainya. Ardi lalu meraih satu tangan Aini yang tidak sedang memegangi buket bunga. Menggenggamnya dengan sangat lembut dan penuh perhatian.


"Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar padamu. Tapi kamu masih mau memaafkan aku dan menerima kehadiranku kembali dalam hidupmu."


"Kamu memang wanita istimewa yang sangat pantas diperjuangkan dan dinanti. Kelembutan dan kebesaran hatimu, tak pernah kubayangkan akan seluas itu."


"Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang aman dan damai padamu. Tapi aku akan berusaha untuk melindungi dan menjagamu lebih baik lagi."


Jantung Aini sudah berdegup dengan sangat kencang. Jari tangannya bahkan sudah sangat dingin saking gugup dan tegangnya karena diperlakukan dengan begitu romantis oleh Ardi.


Ardi lalu melepaskan genggaman tangannya pada Ardi. Ia pun merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu. Dan bersamaan dengan itu, Ardi pun setengah berlutut dengan satu kakinya, dan segera menyodorkan cincin yang ada di kotak yang tadi ia bawa.


"Khadijah Isnaini. Maukah engkau menikah denganku dan menjadi bunda yang seutuhnya untuk Kenzo? Menghabiskan hari tua bersama denganku dan melihat Umar dan Kenzo tumbuh dewasa bersama-sama." Ucap Ardi yakin.


****************

__ADS_1


Aini mau nggak kira-kira ya readers? 🤔


Ada yang bisa bantu Aini jawab? 😉


__ADS_2