Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Sisi Gelap Ardi Part 2


__ADS_3

WARNING‼️πŸ”₯


Dalam bab ini, terdapat beberapa perkataan dan tindakan sedikit kasar dan kurang pantas.


Harap bijak dalam membaca πŸ™πŸΌπŸ˜Š


Dan buat kemarin yang bingung karena urutan babnya kebalik-balik, sekarang sudah diperbaiki ya oleh pihak NT 😊


Terima kasih 😊 πŸ™πŸΌ


****************


Pagi yang mendung menyapa. Sinar mentari pagi, kembali terhalangi oleh gumpalan awan hitam yang terlihat di seluruh penjuru kota. Membuat hawa dingin malam, seolah tak boleh pergi dari tempatnya.


Pagi ini, Ardi bergegas pergi ke rumah sakit seorang diri. Semalam, ia diminta oleh Ratna untuk beristirahat di rumah saja, dan Ratna yang menjaga Aini semalaman di rumah sakit. Ratna tidak enak hati karena setiap malam Ardi selalu menemani Aini di rumah sakit.


Pagi ini, Aini akan menjalani pemeriksaan oleh pihak berwajib atas kasus penculikan yang dialaminya. Gilang sudah memberikan lampu hijau untuk pihak berwajib, agar Aini bisa dimintai keterangan.


Ardi jelas tidak tinggal diam. Ia sudah menyiapkan pengacara kepercayaannya dan jelas dirinya sendiri juga, untuk menemani Aini saat pihak berwajib berkunjung nanti. Kemarin ia sudah memberi tahu Aini dan Ratna tentang hal itu. Jadi, mereka sudah bersiap untuk hal itu pagi ini.


"Aini jadi dimintai keterangan pagi ini, Di?" Tanya Niken saat melihat Ardi turun dan bersiap pergi.


"Iya, Ma. Makanya, Ardi harus segera pergi ke rumah sakit." Jawab Ardi buru-buru.


"Kenzo ikut, Pa!" Rengek Kenzo tiba-tiba.


"Kan kemarin sudah dikasih tahu sama om Gilang, kamu nggak boleh terlalu sering ke rumah sakit. Nanti sore saja, kamu sama Umar ke rumah sakit jenguk bunda. Oke?" Tolak Ardi halus.


"Tapi Pa,,"


"Hari ini bunda ada tamu penting, Ken. Dia akan sedikit sibuk hari ini." Jelas Ardi perlahan.


"Siapa, Pa?"


"Beberapa orang. Jadi, kamu ke rumah sakit nanti sore saja ya, sama oma dan yang lain."


"Iya, Ken. Nanti sore saja setelah aku pulang sekolah." Timpal Umar yang sedang menikmati sarapan.


Kenzo akhirnya mengangguk patuh. Ia sebenarnya cukup jenuh di rumah, karena belum diijinkan sekolah oleh Gilang. Jadi, dia hanya di rumah saja selama masa pemulihannya. Baru mulai minggu depan ia bisa kembali ke sekolah, itu pun dengan pengawasan lebih.


"Sarapan dulu, Di!" Pinta Niken perhatian.


"Nanti saja, Ma. Aku harus merundingkan sesuatu dengan pak Handoko untuk hari ini." Jujur Ardi.


"Sebentar saja, Di!"


Ardi yang masih berdiri di ujung meja, segera mendekati ibunya yang sedang menikmati sarapan bersama suami dan dua cucunya itu. Ardi sedikit mencondongkan tubuhnya pada Niken agar bisa berbisik.


"Mama sayang, Ardi berangkat dulu, ya. Semakin cepat masalah ini selesai, semakin cepat pula Mama nanti punya menantu." Rayu Ardi sambil menahan tawanya.


"Apa? Kamu ini! Kenapa nggak sekarang aja punya menantunya?" Tantang Niken, sambil memukul pelan lengan Ardi.


"Masak Mama yang lebih ngebet timbang Ardi?" Cibir Ardi.


"Lha kamu kelamaan sih!" Sindir Niken.


"Kelamaan apa, Ma?"


"Kelamaan jadi duda." Celetuk Niken tanpa ragu.


"Kan belum ketemu sama yang pas, Ma. Baru sekarang ketemunya." Bela Ardi.


"Makanya, kalau dikasih tahu sama orang tua tuh nurut!" Sindir Niken lagi.


"Iya, iya, Ma. Maaf ya, Mama sayang!" Ucap Ardi cengengesan, sambil memeluk nakal ibunya.


Niken hanya diam tak merespon. Tapi dalam hati kecilnya, ia bahagia. Karena putranya bisa bertemu dengan orang yang memang baik luar dan dalam.


"Oke, Ma. Ardi pergi dulu, ya." Pamit Ardi, setelah ia melepaskan pelukannya.


"Hati-hati! Salam buat Aini!" Pesan Niken bahagia.


"Iya, Ma."


Ardi lalu menjabat tangan Niken dan berpamitan pada Rama juga. Tak lupa, ia juga berpamitan pada dua putranya.


Ardi lalu segera menuju rumah sakit. Ia sudah janjian dengan Dika, Handoko dan Gilang untuk berunding lebih dulu pagi ini. Dan tentunya, itu diluar sepengetahuan Aini.


Pukul sepuluh pagi, beberapa anggota kepolisian datang berkunjung ke ruang rawat Aini. Di sana sudah ada Ardi, Dika dan Handoko yang siap menemani Aini. Gilang sudah menyerahkan hasil visum yang ia peroleh dari rumah sakit di Pasuruan, dimana sebelumnya Aini dirawat.


Tiga anggota kepolisian yang datang, segera memperkenalkan diri. Mereka cukup terkejut, karena ada Ardi di sana. Meskipun, Ardi juga yang melaporkan ke pihak berwajib tentang penculikan Aini kemarin.


"Anda tidak perlu takut, Bu Aini! Katakanlah semua yang Anda lihat dan ketahui tentang apa dan siapa saja yang terlibat dalam penculikan Anda kemarin!" Pinta salah satu anggota polisi dengan ramah namun terdengar tegas.


Aini melirik ke arah Ardi yang duduk di samping ranjangnya. Ardi yang sedari tadi memperhatikan Aini, memahami maksud tatapan itu. Ia pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Aini.


"Apa Anda mengenali orang-orang yang ada di tempat itu?" Tanya salah satu petugas.


"Ada beberapa orang." Jawab Aini ragu.


"Siapa saja mereka?" Tanya petugas itu lagi.


"Mereka,,"


Hati Aini bergejolak tak karuan. Sungguh, ia tak ingin memberi tahu para petugas itu, siapa saja yang menculiknya kemarin. Tapi, ia juga teringat pada janji yang ia buat pada Ardi.


"Kamu sudah berjanji padaku, Sayang." Ucap Ardi perlahan.


Aini menoleh pada Ardi. "Tapi Mas,,"


"Anda sudah tahu Pak, siapa pelakunya?" Tanya petugas itu penasaran.


"Aini yang memberitahu saya." Jawab Ardi santai.


"Kalau begitu, tolong katakan pada kami juga, Bu Aini. Siapa saja yang menculik Anda kemarin?" Pinta petugas itu sedikit lebih tegas.


"Katakanlah, Sayang! Kamu dalam perlindungan mereka sekarang." Rayu Ardi.


Aini menatap secara bergantian, Ardi dan ketiga petugas itu. Ia benar-benar tak ingin mengatakan kebenaran itu. Karena baginya, itu hanya karena sehuah kesalahpahaman saja. Dan bisa diselesaikan tanpa campur tangan pihak berwajib. Meski, ia sudah menerima perlakuan yang sangat buruk kemarin.


"Katakan saja, Ni! Jangan biarkan mereka bebas begitu saja!" Timpal Ratna kesal.


Aini meyakinkan hatinya untuk mengatakan kebenaran itu. "Maafkan aku, Mas Adit, Mbak Ratri, Mbak Oliv."


"Siapa saja mereka, Bu?" Tanya petugas makin tak sabar.


"Mereekaa,, mas Adit,, mbak Ratri dan,, mbak Oliv." Aku Aini perlahan.


Ardi dan Ratna jelas merasa lega mendengar ucapan Aini. Para petugas itu segera mencatat apa yang Aini ucapkan.


"Nama lengkap mereka?" Tanya petugas lain.


"Merekaa,,"


Ucapan Aini kembali terhenti. Ia tertunduk dalam karena kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu.


"Pelan-pelan saja, Sayang!" Pinta Ardi, seraya meraih tangan Aini dan mengusapnya dengan lembut.


Aini jelas menoleh pada Ardi. Ia bisa melihat wajah Ardi yang menenangkannya. Ia pun mengangguk paham.


"Pelan-pelan saja, Bu Aini! Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun! Semua sudah aman sekarang." Rayu salah satu petugas.


"Iya, Pak. Terima kasih." Jawab Aini lirih.


"Jadi, siapa saja mereka?"


"Merekaa,, mas Aditya Eka Subrata,, mbak Ratri Pramudipta,, dan mbak Indah Olivia." Aku Aini berat.


Ketiga petugas itu segera saling pandang. Mereka menemui kejanggalan dengan pengakuan Aini baru saja.


"Apa Anda yakin, Bu Aini?" Tanya salah satu petugas untuk meyakinkan.


Aini mengangguk ragu. "Itu semua hanya karena kesalahpahaman, Pak. Mereka hanya salah paham dengan saya."


"Maksud, Ibu?"


"Itu karena ada kesalahpahaman kecil yang terjadi diantara kami. Jadi, itu bisa diselesaikan secara baik-baik, Pak." Bela Aini.


"Tapi Sayang, mereka sudah menculik, menyekap dan bahkan menyiksamu." Sanggah Ardi segera.

__ADS_1


"Iya, Mas. Tapi mereka melakukan itu karena salah paham denganku."


"Sebuah kesalahpahaman, bukankah bisa dibicarakan secara baik-baik lebih dulu? Bukan dengan langsung memperlakukanmu seperti itu, Sayang."


"Iya, Mas. Tapii,,"


"Maaf, Bu Aini. Apa mereka pernah berbicara dengan baik-baik sebelumnya, Bu Aini?" Sela salah satu petugas.


"Ituu,,"


Aini benar-benar kesulitan menjawab pertanyaan dari para petugas kepolisian itu. Apalagi, ada Ardi yang siap menyanggah dan memaksanya secara tidak langsung, untuk mengakui dan membeberkan segala kebenarannya.


Cukup lama para petugas kepolisian itu memintai keterangan Aini. Karena Aini tetap saja berusaha menutupi perlakuan ketiga pelaku sebenarnya itu.


Tapi, dengan sedikit bantuan dari Ardi, Aini akhirnya mengakui semuanya. Apa saja dan bagaimana ia diperlakukan selama ia berada di tempat yang tidak ia ketahui letaknya itu. Ia juga bahkan mengakui, bahwa ia dicambuki oleh Oliv malam itu. Dan bahkan nyaris diperk*sa oleh salah satu orang suruhan mereka atas persetujuan Adit.


Di tempat lain, Adit dikejutkan dengan suara yang sedikit familiar akhir-akhir ini. Suara pintu yang terbuka. Dan segera, tubuh lemah dan tak berdaya itu, segera terbangun dan melirik sejenak ke arah sumber suara.


Seorang laki-laki berperawakan mirip Ardi dan dengan dandanan yang juga sangat mirip, menghampirinya dengan santai. Ia berserta dua rekannya segera membangunkan Adit dari posisinya yang masih tiduran.


Mereka lalu memaksa Adit berjalan, setelah menutup matanya terlebih dahulu. Mereka tak ingin, Adit tahu, akan dibawa kemana ia dan bahkan, pukul berapa sekarang.


Tak lama, Adit dipaksa duduk dan segera dibuka penutup matanya, setelah ia mendengar kembali suara pintu yang terbuka. Bahkan, ikatan tali di tangannya pun dibuka. Adit pun menyesuaikan penglihatannya. Ia berusaha mengenali sekitarnya.


Mata Adit jelas membulat sempurna. Setelah mengenali ruangan dimana ia berada sekarang.


"Ratri!" Guman Adit segera.


Adit berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Ia ingin menghampiri sebuah tubuh yang tergeletak lemah tanpa pakaian yang menutupinya. Matanya masih terpejam dengan rapat.


Adit tetaplah seorang suami yang menyayangi istrinya. Ia tetap akan mengkhawatirkan istrinya, meski ia tahu, ia sudah ditipu mentah-mentah olehnya. (Kenapa dulu tidak pada Aini, Dit? 😏)


Ya. Akhir dari takdir Ratri, Oliv dan Reni kemarin siang adalah, para pria hidung belang. Sudah dapat dipastikan, ketiga wanita itu diperlakukan seperti apa oleh mereka. Dan itu semua, terpaksa disaksikan oleh Adit melalui layar dimana ia disekap.


Tak rela? Jelas. Adit jelas tak rela istrinya diperlakukan seperti itu oleh pria lain. Apalagi, ia melihatnya tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk menolong istrinya itu.


"Anda mau kemana, Pak Adit?" Tanya seorang laki-laki, yang tadi menghampirinya.


Adit mengurungkan langkahnya. Ia terdudul lesu tanpa harapan. Lalu, dua orang laki-laki, tiba-tiba menghampirinya. Mereka lalu memegangi Adit, dan kembali memaksanya duduk di lantai.


"Anda mau apa lagi, Pak Ardi?" Tanya Adit pasrah.


"Saya masih punya kejutan untuk Anda, Pak Adit." Jawabnya ringan.


Adit diam tak menjawab. Ia tak tahu lagi, apa yang Ardi berikan padanya. Bahkan, ia juga tak tahu, bahwa orang yang diajaknya bicara sejak tadi, bukanlah Ardi. Karena Ardi masih berada di rumah sakit menemani Aini saat ini.


Ini adalah rencana Ardi untuk membuat alibi. Meski keempat sanderanya tidak tahu kapan, jam berapa mereka setiap kali bertemu dengan Ardi.


Lalu, pintu tadi kembali terbuka. Kemudian, empat orang berpakaian tertutup masuk ke ruangan itu. Bahkan, hanya mata mereka saja yang nampak. Mereka segera berjajar di dekat laki-laki yang mirip Ardi itu.


CETARRR!!


Suara itu menggema sempurna di ruangan yang tertutup itu. Ketiga wanita yang masih terlelap itu, segera membuka mata mereka karena terkejut. Mereka menggeliat perlahan dengan badan yang terasa sakit dan kelelahan bukan main.


CETARRR!! Suara itu kembali menggema tanpa hambatan.


"Lakukan!" Pinta laki-laki yang mirip Ardi tadi.


Tiga orang berpakaian tertutup itu segera menghampiri Ratri, Reni dan Adit. Dan satu orang lain yang memegangi cambuk sedari tadi, segera menghampiri Oliv.


"Kalian, harus merasakan apa yang Aini rasakan saat ini." Ucap laki-laki tadi.


Tiga wanita yang masih belum sadar sepenuhnya itu, sedikit kebingungan dengan ucapan si laki-laki yang mirip Ardi itu.


"Nikmati pertunjukannya, Pak Adit!" Akhir laki-laki itu.


Adit jelas paham apa maksud ucapan laki-laki itu. Ia segera menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Hentikan, Pak Ardi! Saya mohon!" Pinta Adit memelas.


Laki-laki itu tidak menggubris ucapan Adit sama sekali. Dia dan dua rekannya tadi, segera keluar dari ruangan itu tanpa berucap apapun lagi. Mereka segera menutup pintu ruangan itu lagi.


Dan setelah itu, mimpi buruk keempat orang itu terjadi. Hal yang tak pernah mereka kira pun terjadi pada mereka. Keempat orang berpakaian tertutup tadi, melakukan tugasnya tanpa ampun. Mereka bergantian memainkan sebuah cambuk yang mereka bawa.


Karma itu ada. Tapi kita tak pernah tahu, kapan ia datang. Jadi, cobalah untuk selalu berbuat baik, agar karma baik pula yang akan datang pada kita nantinya.


WARNING‼️πŸ”₯


Dalam bab ini, terdapat beberapa perkataan dan tindakan sedikit kasar dan kurang pantas.


Harap bijak dalam membaca πŸ™πŸΌπŸ˜Š


Dan buat kemarin yang bingung karena urutan babnya kebalik-balik, sekarang sudah diperbaiki ya oleh pihak NT 😊


Terima kasih 😊 πŸ™πŸΌ


****************


Pagi yang mendung menyapa. Sinar mentari pagi, kembali terhalangi oleh gumpalan awan hitam yang terlihat di seluruh penjuru kota. Membuat hawa dingin malam, seolah tak boleh pergi dari tempatnya.


Pagi ini, Ardi bergegas pergi ke rumah sakit seorang diri. Semalam, ia diminta oleh Ratna untuk beristirahat di rumah saja, dan Ratna yang menjaga Aini semalaman di rumah sakit. Ratna tidak enak hati karena setiap malam Ardi selalu menemani Aini di rumah sakit.


Pagi ini, Aini akan menjalani pemeriksaan oleh pihak berwajib atas kasus penculikan yang dialaminya. Gilang sudah memberikan lampu hijau untuk pihak berwajib, agar Aini bisa dimintai keterangan.


Ardi jelas tidak tinggal diam. Ia sudah menyiapkan pengacara kepercayaannya dan jelas dirinya sendiri juga, untuk menemani Aini saat pihak berwajib berkunjung nanti. Kemarin ia sudah memberi tahu Aini dan Ratna tentang hal itu. Jadi, mereka sudah bersiap untuk hal itu pagi ini.


"Aini jadi dimintai keterangan pagi ini, Di?" Tanya Niken saat melihat Ardi turun dan bersiap pergi.


"Iya, Ma. Makanya, Ardi harus segera pergi ke rumah sakit." Jawab Ardi buru-buru.


"Kenzo ikut, Pa!" Rengek Kenzo tiba-tiba.


"Kan kemarin sudah dikasih tahu sama om Gilang, kamu nggak boleh terlalu sering ke rumah sakit. Nanti sore saja, kamu sama Umar ke rumah sakit jenguk bunda. Oke?" Tolak Ardi halus.


"Tapi Pa,,"


"Hari ini bunda ada tamu penting, Ken. Dia akan sedikit sibuk hari ini." Jelas Ardi perlahan.


"Siapa, Pa?"


"Beberapa orang. Jadi, kamu ke rumah sakit nanti sore saja ya, sama oma dan yang lain."


"Iya, Ken. Nanti sore saja setelah aku pulang sekolah." Timpal Umar yang sedang menikmati sarapan.


Kenzo akhirnya mengangguk patuh. Ia sebenarnya cukup jenuh di rumah, karena belum diijinkan sekolah oleh Gilang. Jadi, dia hanya di rumah saja selama masa pemulihannya. Baru mulai minggu depan ia bisa kembali ke sekolah, itu pun dengan pengawasan lebih.


"Sarapan dulu, Di!" Pinta Niken perhatian.


"Nanti saja, Ma. Aku harus merundingkan sesuatu dengan pak Handoko untuk hari ini." Jujur Ardi.


"Sebentar saja, Di!"


Ardi yang masih berdiri di ujung meja, segera mendekati ibunya yang sedang menikmati sarapan bersama suami dan dua cucunya itu. Ardi sedikit mencondongkan tubuhnya pada Niken agar bisa berbisik.


"Mama sayang, Ardi berangkat dulu, ya. Semakin cepat masalah ini selesai, semakin cepat pula Mama nanti punya menantu." Rayu Ardi sambil menahan tawanya.


"Apa? Kamu ini! Kenapa nggak sekarang aja punya menantunya?" Tantang Niken, sambil memukul pelan lengan Ardi.


"Masak Mama yang lebih ngebet timbang Ardi?" Cibir Ardi.


"Lha kamu kelamaan sih!" Sindir Niken.


"Kelamaan apa, Ma?"


"Kelamaan jadi duda." Celetuk Niken tanpa ragu.


"Kan belum ketemu sama yang pas, Ma. Baru sekarang ketemunya." Bela Ardi.


"Makanya, kalau dikasih tahu sama orang tua tuh nurut!" Sindir Niken lagi.


"Iya, iya, Ma. Maaf ya, Mama sayang!" Ucap Ardi cengengesan, sambil memeluk nakal ibunya.


Niken hanya diam tak merespon. Tapi dalam hati kecilnya, ia bahagia. Karena putranya bisa bertemu dengan orang yang memang baik luar dan dalam.


"Oke, Ma. Ardi pergi dulu, ya." Pamit Ardi, setelah ia melepaskan pelukannya.


"Hati-hati! Salam buat Aini!" Pesan Niken bahagia.


"Iya, Ma."

__ADS_1


Ardi lalu menjabat tangan Niken dan berpamitan pada Rama juga. Tak lupa, ia juga berpamitan pada dua putranya.


Ardi lalu segera menuju rumah sakit. Ia sudah janjian dengan Dika, Handoko dan Gilang untuk berunding lebih dulu pagi ini. Dan tentunya, itu diluar sepengetahuan Aini.


Pukul sepuluh pagi, beberapa anggota kepolisian datang berkunjung ke ruang rawat Aini. Di sana sudah ada Ardi, Dika dan Handoko yang siap menemani Aini. Gilang sudah menyerahkan hasil visum yang ia peroleh dari rumah sakit di Pasuruan, dimana sebelumnya Aini dirawat.


Tiga anggota kepolisian yang datang, segera memperkenalkan diri. Mereka cukup terkejut, karena ada Ardi di sana. Meskipun, Ardi juga yang melaporkan ke pihak berwajib tentang penculikan Aini kemarin.


"Anda tidak perlu takut, Bu Aini! Katakanlah semua yang Anda lihat dan ketahui tentang apa dan siapa saja yang terlibat dalam penculikan Anda kemarin!" Pinta salah satu anggota polisi dengan ramah namun terdengar tegas.


Aini melirik ke arah Ardi yang duduk di samping ranjangnya. Ardi yang sedari tadi memperhatikan Aini, memahami maksud tatapan itu. Ia pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Aini.


"Apa Anda mengenali orang-orang yang ada di tempat itu?" Tanya salah satu petugas.


"Ada beberapa orang." Jawab Aini ragu.


"Siapa saja mereka?" Tanya petugas itu lagi.


"Mereka,,"


Hati Aini bergejolak tak karuan. Sungguh, ia tak ingin memberi tahu para petugas itu, siapa saja yang menculiknya kemarin. Tapi, ia juga teringat pada janji yang ia buat pada Ardi.


"Kamu sudah berjanji padaku, Sayang." Ucap Ardi perlahan.


Aini menoleh pada Ardi. "Tapi Mas,,"


"Anda sudah tahu Pak, siapa pelakunya?" Tanya petugas itu penasaran.


"Aini yang memberitahu saya." Jawab Ardi santai.


"Kalau begitu, tolong katakan pada kami juga, Bu Aini. Siapa saja yang menculik Anda kemarin?" Pinta petugas itu sedikit lebih tegas.


"Katakanlah, Sayang! Kamu dalam perlindungan mereka sekarang." Rayu Ardi.


Aini menatap secara bergantian, Ardi dan ketiga petugas itu. Ia benar-benar tak ingin mengatakan kebenaran itu. Karena baginya, itu hanya karena sehuah kesalahpahaman saja. Dan bisa diselesaikan tanpa campur tangan pihak berwajib. Meski, ia sudah menerima perlakuan yang sangat buruk kemarin.


"Katakan saja, Ni! Jangan biarkan mereka bebas begitu saja!" Timpal Ratna kesal.


Aini meyakinkan hatinya untuk mengatakan kebenaran itu. "Maafkan aku, Mas Adit, Mbak Ratri, Mbak Oliv."


"Siapa saja mereka, Bu?" Tanya petugas makin tak sabar.


"Mereekaa,, mas Adit,, mbak Ratri dan,, mbak Oliv." Aku Aini perlahan.


Ardi dan Ratna jelas merasa lega mendengar ucapan Aini. Para petugas itu segera mencatat apa yang Aini ucapkan.


"Nama lengkap mereka?" Tanya petugas lain.


"Merekaa,,"


Ucapan Aini kembali terhenti. Ia tertunduk dalam karena kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu.


"Pelan-pelan saja, Sayang!" Pinta Ardi, seraya meraih tangan Aini dan mengusapnya dengan lembut.


Aini jelas menoleh pada Ardi. Ia bisa melihat wajah Ardi yang menenangkannya. Ia pun mengangguk paham.


"Pelan-pelan saja, Bu Aini! Anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun! Semua sudah aman sekarang." Rayu salah satu petugas.


"Iya, Pak. Terima kasih." Jawab Aini lirih.


"Jadi, siapa saja mereka?"


"Merekaa,, mas Aditya Eka Subrata,, mbak Ratri Pramudipta,, dan mbak Indah Olivia." Aku Aini berat.


Ketiga petugas itu segera saling pandang. Mereka menemui kejanggalan dengan pengakuan Aini baru saja.


"Apa Anda yakin, Bu Aini?" Tanya salah satu petugas untuk meyakinkan.


Aini mengangguk ragu. "Itu semua hanya karena kesalahpahaman, Pak. Mereka hanya salah paham dengan saya."


"Maksud, Ibu?"


"Itu karena ada kesalahpahaman kecil yang terjadi diantara kami. Jadi, itu bisa diselesaikan secara baik-baik, Pak." Bela Aini.


"Tapi Sayang, mereka sudah menculik, menyekap dan bahkan menyiksamu." Sanggah Ardi segera.


"Iya, Mas. Tapi mereka melakukan itu karena salah paham denganku."


"Sebuah kesalahpahaman, bukankah bisa dibicarakan secara baik-baik lebih dulu? Bukan dengan langsung memperlakukanmu seperti itu, Sayang."


"Iya, Mas. Tapii,,"


"Maaf, Bu Aini. Apa mereka pernah berbicara dengan baik-baik sebelumnya, Bu Aini?" Sela salah satu petugas.


"Ituu,,"


Aini benar-benar kesulitan menjawab pertanyaan dari para petugas kepolisian itu. Apalagi, ada Ardi yang siap menyanggah dan memaksanya secara tidak langsung, untuk mengakui dan membeberkan segala kebenarannya.


Cukup lama para petugas kepolisian itu memintai keterangan Aini. Karena Aini tetap saja berusaha menutupi perlakuan ketiga pelaku sebenarnya itu.


Tapi, dengan sedikit bantuan dari Ardi, Aini akhirnya mengakui semuanya. Apa saja dan bagaimana ia diperlakukan selama ia berada di tempat yang tidak ia ketahui letaknya itu. Ia juga bahkan mengakui, bahwa ia dicambuki oleh Oliv malam itu. Dan bahkan nyaris diperk*sa oleh salah satu orang suruhan mereka atas persetujuan Adit.


Di tempat lain, Adit dikejutkan dengan suara yang sedikit familiar akhir-akhir ini. Suara pintu yang terbuka. Dan segera, tubuh lemah dan tak berdaya itu, segera terbangun dan melirik sejenak ke arah sumber suara.


Seorang laki-laki berperawakan mirip Ardi dan dengan dandanan yang juga sangat mirip, menghampirinya dengan santai. Ia berserta dua rekannya segera membangunkan Adit dari posisinya yang masih tiduran.


Mereka lalu memaksa Adit berjalan, setelah menutup matanya terlebih dahulu. Mereka tak ingin, Adit tahu, akan dibawa kemana ia dan bahkan, pukul berapa sekarang.


Tak lama, Adit dipaksa duduk dan segera dibuka penutup matanya, setelah ia mendengar kembali suara pintu yang terbuka. Bahkan, ikatan tali di tangannya pun dibuka. Adit pun menyesuaikan penglihatannya. Ia berusaha mengenali sekitarnya.


Mata Adit jelas membulat sempurna. Setelah mengenali ruangan dimana ia berada sekarang.


"Ratri!" Guman Adit segera.


Adit berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Ia ingin menghampiri sebuah tubuh yang tergeletak lemah tanpa pakaian yang menutupinya. Matanya masih terpejam dengan rapat.


Adit tetaplah seorang suami yang menyayangi istrinya. Ia tetap akan mengkhawatirkan istrinya, meski ia tahu, ia sudah ditipu mentah-mentah olehnya. (Kenapa dulu tidak pada Aini, Dit? 😏)


Ya. Akhir dari takdir Ratri, Oliv dan Reni kemarin siang adalah, para pria hidung belang. Sudah dapat dipastikan, ketiga wanita itu diperlakukan seperti apa oleh mereka. Dan itu semua, terpaksa disaksikan oleh Adit melalui layar dimana ia disekap.


Tak rela? Jelas. Adit jelas tak rela istrinya diperlakukan seperti itu oleh pria lain. Apalagi, ia melihatnya tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk menolong istrinya itu.


"Anda mau kemana, Pak Adit?" Tanya seorang laki-laki, yang tadi menghampirinya.


Adit mengurungkan langkahnya. Ia terdudul lesu tanpa harapan. Lalu, dua orang laki-laki, tiba-tiba menghampirinya. Mereka lalu memegangi Adit, dan kembali memaksanya duduk di lantai.


"Anda mau apa lagi, Pak Ardi?" Tanya Adit pasrah.


"Saya masih punya kejutan untuk Anda, Pak Adit." Jawabnya ringan.


Adit diam tak menjawab. Ia tak tahu lagi, apa yang Ardi berikan padanya. Bahkan, ia juga tak tahu, bahwa orang yang diajaknya bicara sejak tadi, bukanlah Ardi. Karena Ardi masih berada di rumah sakit menemani Aini saat ini.


Ini adalah rencana Ardi untuk membuat alibi. Meski keempat sanderanya tidak tahu kapan, jam berapa mereka setiap kali bertemu dengan Ardi.


Lalu, pintu tadi kembali terbuka. Kemudian, empat orang berpakaian tertutup masuk ke ruangan itu. Bahkan, hanya mata mereka saja yang nampak. Mereka segera berjajar di dekat laki-laki yang mirip Ardi itu.


CETARRR!!


Suara itu menggema sempurna di ruangan yang tertutup itu. Ketiga wanita yang masih terlelap itu, segera membuka mata mereka karena terkejut. Mereka menggeliat perlahan dengan badan yang terasa sakit dan kelelahan bukan main.


CETARRR!! Suara itu kembali menggema tanpa hambatan.


"Lakukan!" Pinta laki-laki yang mirip Ardi tadi.


Tiga orang berpakaian tertutup itu segera menghampiri Ratri, Reni dan Adit. Dan satu orang lain yang memegangi cambuk sedari tadi, segera menghampiri Oliv.


"Kalian, harus merasakan apa yang Aini rasakan saat ini." Ucap laki-laki tadi.


Tiga wanita yang masih belum sadar sepenuhnya itu, sedikit kebingungan dengan ucapan si laki-laki yang mirip Ardi itu.


"Nikmati pertunjukannya, Pak Adit!" Akhir laki-laki itu.


Adit jelas paham apa maksud ucapan laki-laki itu. Ia segera menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Hentikan, Pak Ardi! Saya mohon!" Pinta Adit memelas.


Laki-laki itu tidak menggubris ucapan Adit sama sekali. Dia dan dua rekannya tadi, segera keluar dari ruangan itu tanpa berucap apapun lagi. Mereka segera menutup pintu ruangan itu lagi.


Dan setelah itu, mimpi buruk keempat orang itu terjadi. Hal yang tak pernah mereka kira pun terjadi pada mereka. Keempat orang berpakaian tertutup tadi, melakukan tugasnya tanpa ampun. Mereka bergantian memainkan sebuah cambuk yang mereka bawa.

__ADS_1


Karma itu ada. Tapi kita tak pernah tahu, kapan ia datang. Jadi, cobalah untuk selalu berbuat baik, agar karma baik pula yang akan datang pada kita nantinya.


__ADS_2