
Pagi kembali menjelang. Sang surya pun kembali menghangatkan hati yang dingin. Bukan karena malam dingin yang menyapa, tapi karena segala hal yang ia hadapi dalam perjalanannya.
Pukul delapan pagi, Aini dan Umar bersama Ratri dan kedua orang tuanya, datang ke rumah Ratmini. Ratmini terkejut dengan kedatangan mereka pagi ini. Meski Ratri dan keluarganya sudah biasa menyambangi rumah Ratmini untuk banyak alasan, tapi Ratmini merasa ada sesuatu yang kurang baik dari kedatangan mereka pagi ini. Perasaan seorang ibu, memang selalu lebih peka.
Ratmini segera menggendong cucunya yang beberapa hari lalu menginap di rumahnya. Aini pun segera menyiapkan minum dan camilan yang ada di rumah ibunya untuk tamu-tamunya.
"Apa salah Aini padamu Nak Ratri? Kenapa kamu melakukan itu padanya?" Marah Ratmini setelah Arif mengatakan apa alasannya datang ke rumahnya.
Keluarga Ratri sengaja datang ke rumah Ratmini untuk mengatakan apa yang telah terjadi. Mereka merasa benar-benar tak enak hati pada Aini dan ibunya. Karena mengingat, betapa berharganya bantuan Aini dulu pada Ratri, dan kini malah dibalas dengan sesuatu yang terasa kurang pantas.
"Sudah Bu'! Jangan marah pada Mbak Aini!" Pinta Aini sambil menahan airmatanya.
Ratri tertunduk dalam. Ingin rasanya ia mengungkapkan apa yang telah Aini katakan padanya semalam, tapi ia pun telah berjanji pada Aini, bahwa ia tak akan mengatakan itu pada siapapun.
Ratmini menoleh pada putrinya yang matanya sudah merah dan berkaca-kaca. Ia segera merengkuhnya dalam. Aini pun akhirnya tak dapat lagi menahan air matanya yang sudah menggenang di kelopak matanya sejak tadi.
"Maaf Bu'." Ucap Aini lirih.
Hati Heni tak kuasa melihat adegan di depan matanya. Tapi ia juga harus menahan amarahnya pada putrinya sendiri. Heni akhirnya beranjak dari kursinya dan keluar dari rumah Ratmini sejenak. Ia menumpahkan segala rasa di hatinya dengan air matanya.
Arif membiarkan istrinya menenangkan diri. Ia hanya bisa menahan rasa malu atas perbuatan putrinya di depan Ratmini saat ini.
Setelah beberapa saat, para wanita itu kembali lebih tenang.
"Kembalilah ke rumah ini Nduk, kapanpun kamu mau! Pintu rumah Ibu, selalu terbuka untukmu." Ucap Ratmini yang sangat memahami perasaan Aini saat ini.
Aini hanya mengangguk dan tersenyum untuk menutupi getir hatinya.
Setelah berbincang, para tamu Ratmini pun berpamitan. Mereka akan mengantar Aini pulang, sekaligus untuk merundingkan beberapa hal yang perlu dirundingkan dengan keluarga Adit.
Aini tadi sudah mengabari Adit tentang rencana kedatangan keluarga Ratri kerumahnya. Adit pun sudah mengabari kedua orang tuanya tentang hal itu.
"Kami menerima pinangan itu atas permintaan Aini." Jujur Arif saat ia sudah berkumpul bersama Adit dan keluarganya di rumah Adit sendiri.
Hadi dan Adit menoleh pada Aini yang sedang asik menyuapi kue putranya. Mereka menatap Aini dengan perasaan bersalah. Sedang Suharti, hanya melengos tak menanggapi ucapan jujur Arif.
"Ingat Dit! Kami akan mengawasi rumah tangga kalian. Aini juga putri kami. Sekali saja kamu sampai menyakitinya dan tak berlaku adil pada mereka, kami tak kan segan mengambil mereka semua darimu." Ancam Heni keras.
"Adit akan berusaha sebaik mungkin Bu'." Jawab Adit pasrah.
Setelah banyak pertimbangan, akhirnya diputuskan bahwa Adit dan Ratri akan menikah satu minggu lagi. Itu pun dengan tertutup dan sangat sederhana. Itu semua dilakukan untuk mengantisipasi jika ternyata, Ratri segera hamil setelah malam itu.
Tak ada yang tahu apa yang akan kita hadapi. Tapi yakinlah, semua itu memang Tuhan gariskan untuk kita, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karena Tuhan selalu tahu, apa yang terbaik untuk kita.
...****************...
Pukul delapan pagi. Hujan rintik-rintik mengawali hari ini. Awan kelabu yang menggelayut manja sejak kemarin sore, seakan masih enggan untuk membiarkan kehangatan sang surya sampai ke bumi.
Seperti perasaan Aini beberapa hari ini. Ikhlas. Sebuah kata sederhana namun terkadang, terasa begitu berat untuk melakukannya. Dan itulah yang sedang Aini lakukan.
Aini sedang berusaha ikhlas untuk berbagi suami dengan madunya mulai siang ini. Karena pagi ini, Adit akan resmi menjadikan Ratri sebagai istri keduanya.
Tak mudah, sungguh tak mudah bagi Aini. Apalagi ia sangat tahu, ada rahasia apa diantara Adit dan Ratri. Meski nantinya ia akan menyandang sebagai istri pertama Adit, tapi ia tahu, Ratri masih memiliki tempat tersendiri dalam hati Adit sampai saat ini.
"SAH!"
__ADS_1
Kata itu, menggema indah di rumah Ratri pagi ini. Mengiringi airmata Aini yang langsung meluncur begitu saja tanpa permisi dan membasahi kerudung berwana biru yang ia kenakan.
"Titip Umar sebentar ya Bu'! Aini mau terima telepon." Ucap Aini sambil menyeka airmatanya dan memegangi tasnya yang bergetar dan terdengar dering ponsel di dalamnya.
Ratmini pun segera memangku Umar yang sedang menyaksikan ayahnya berdandan lebih rapi dan gagah dari biasanya. Jagoan kecil itu bahkan belum paham sama sekali, apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Aini segera berlari ke taman belakang rumah Ratri. Di sana sedikit lebih sepi, karena acara diadakan di ruangan depan. Ia berjalan sembari berusaha meraih ponselnya yang berdering.
Aini segera menggeser layar ponselnya dan sedikit berbincang sambil menempelkan ponselnya di telinga. Dan saat sampai di halaman belakang, ia segera berlari ke sudut taman yang sedikit tersembunyi. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Bersimpuh beralaskan rerumputan yang dirawat oleh Heni.
Sebenarnya ponsel Aini berdering bukan karena sebuah panggilan telepon, tapi karena alarm yang sengaja ia pasang di jam yang bertepatan dengan waktu ijab qobul Adit dan Ratri. Ia tahu, ia tak akan mampu melihat sang suami mengikat janji suci dengan wanita lain, meskipun itu adalah sahabatnya sejak kecil. Jadi, Aini sengaja memasang alarm itu, untuk menjadikannya alasan agar bisa pergi dari tempat acara.
Hadi melihat kepergian Aini tadi. Ia pun mengikutinya. Dan ia bisa melihat, menantu kesayangannya itu, menangis tersedu-sedu setelah ia sah memiliki seorang madu.
"Maafkan Bapak Nduk!" Ucap Hadi yang memeluk Aini begitu saja dari samping.
Tangis Aini semakin menjadi. Ia akhirnya menangis dalam pelukan ayah mertua yang sangat menyayanginya.
Selepas dhuhur, rumah Ratri sudah mulai sepi kembali. Memang tak banyak tamu yang di undang hari ini, mengingat acara yang cukup mendadak. Hanya beberapa kerabat dan tetangga dekat saja.
Dan selepas ashar, semua bertolak menuju rumah Adit yang tak begitu jauh dari rumah Ratri. Mereka akan mengantar Ratri ke rumah barunya. Ya, Ratri akan tinggal satu atap dengan Aini.
"Ingat Ratri! Mama akan mengawasimu! Kalau sampai kamu menganggu hak Aini atas Adit, Mama tak segan menganggu rumah tanggamu." Tegas Heni.
"Dan kamu Dit. Kalau sampai kamu tidak berlaku adil pada istri-istrimu, aku sendiri yang akan turun tangan!" Ancam Heni lagi.
Adit dan Ratri hanya mengangguk patuh. Mereka sungguh tak bisa mengucapkan apapun atas permintaan Heni tadi.
Menjelang maghrib, para tamu pun berpamitan pulang. Menyisakan Adit dan keluarga barunya.
"Oh, iya Ai. Makasih." Jawab Ratri sungkan.
Aini hanya tersenyum. Ia segera menggendong Umar dan pergi ke kamarnya. Sedang Adit, mengantar Ratri ke kamarnya yang sudah disiapkan oleh Aini sejak kemarin.
"Mas!" Panggil Ratri setelah ia dan Adit sampai di kamar.
"Kamu memanggilku apa tadi?" Ucap Adit sedikit tak percaya.
"Kamu suamiku sekarang. Tak pantas rasanya jika aku hanya memanggil namamu." Jujur Ratri.
Adit pun tersenyum. Sedang Ratri, wajahnya langsung merona dengan indahnya.
"Rasanya seperti mimpi. Aku menyandang status istrimu sekarang." Ucap Ratri setelah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
"Apa kamu pernah bermimpi seperti itu?" Goda Adit.
"Iya, dulu. Tapi, setelah aku mendengar kamu menikah dengan Aini, aku tak berani memimpikan itu lagi. Karena aku tak ingin mengusik kehidupan penolongku." Jujur Ratri.
"Kapan Aini mendonorkan ginjalnya?" Tanya Adit penasaran.
"Satu tahun sebelum aku ke Singapura."
"Apa Papa dan Mama yang memintanya?"
"Tidak. Dia dengan sukarela mendonorkan ginjalnya untukku. Papa dan Mama sudah mencoba mencari donor ginjal saat itu, tapi tak kunjung dapat. Mama sendiri tak bisa mendonorkan ginjalnya karena sudah ia donorkan satu ginjalnya untuk nenek saat aku masih sangat kecil."
__ADS_1
"Oh begitu ceritanya."
"Apa Mas tak tahu tentang itu?"
"Tidak. Aini belum pernah bercerita padaku tentang itu." Jujur Adit.
Wanita mana yang bisa menceritakan wanita lain pada suaminya. Apalagi, jika wanita yang diceritakan itu, pernah memiliki kenangan indah dengan sang suami, yang mungkin belum mereka lupakan.
"Aku akan ke tempat Aini sebentar!" Pamit Adit seraya berdiri dari tepi ranjang.
"Boleh aku memintanya Mas?" Cegah Ratri sambil menahan tangan Adit.
"Meminta apa?" Tanya Adit lembut.
"Aku istrimu Mas. Kamu bisa memberikan apapun padaku. Apapun yang kamu berikan, aku akan menerimanya." Jawab Ratri setelah ia duduk berhadapan dengan Adit di tepi ranjangnya.
Adit yang memang paham dengan kehidupan pernikahan, ia segera menarik tubuh Ratri dan mendaratkan bibirnya di bibir Ratri. Mereka pun terhanyut dalam ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami istri.
Tangan Adit pun tak tinggal diam, ia sudah berkelana kesana-kemari menggerayangi tubuh Ratri yang sudah pernah ia jamah setiap jengkalnya. Ia pun mulai membuka kancing baju Ratri dan mulai memainkan dua benda yang pernah ia mainkan sebelumnya.
Tiba-tiba, ponsel Ratri berdering keras. Aktifitasnya bersama sang suami pun terhenti. Mereka segera bangkit dari posisinya.
"Aku akan ke kamar Aini dulu!" Pamit Adit setelah sedikit merapikan penampilannya.
Ratri pun mengangguk. Ia lalu meraih ponselnya dan menjawab panggilan yang masuk.
"Kamu mau kemana Sayang?" Tanya Adit panik saat melihat Aini mengemasi beberapa bajunya dan baju Umar ke dalam tas.
"Ke rumah Ibu Mas, beberapa hari." Jawab Aini datar.
"Kenapa kamu tak berunding denganku dulu?" Tanya Adit bingung.
Karena memang, biasanya, Aini akan meminta izin pada Adit jauh-jauh hari jika ia akan menginap di rumah ibunya selama beberapa hari.
Suara Aini tercekat. Ia teringat apa yang baru saja ia dengar dari kamar Ratri.
Aini tadi tak sengaja mendengar percakapan Adit dan Ratri. Ia bahkan melihat suaminya bercumbu mesra dengan istri barunya, karena pintu kamar Ratri tidak tertutup rapat.
Aini awalnya hanya berniat untuk meminta izin pada Adit bahwa ia akan menginap di rumah ibunya beberapa hari. Tapi ia malah disuguhi oleh sesuatu yang menyayat hatinya.
"Bukankah kamu juga harus berlaku adil pada Mbak Ratri?" Sahut Aini getir.
"Kenapa kamu harus menginap beberapa hari? Apa Ibu sakit lagi?" Tanya Adit bingung.
"Biarkan aku sendiri sementara waktu Mas! Dan itu juga akan memberikanmu waktu bersama Mbak Ratri untuk menikmati masa-masa pengantin baru kalian."
Jleb. Adit tak dapat menjawab. Hatinya bagaikan dihantam oleh ribuan kilo beban yang tepat menyerempet bagian terdalam hatinya.
Memang seperti itulah kenyataannya. Rasa cinta dalam hati Adit dan Ratri, masih tersimpan dalam hati mereka masing-masing sampai saat ini. Apalagi, setelah pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu, rasa itu perlahan kembali mekar dan berkembang tanpa permisi.
Dan setelah malam itu, ada secuil harapan tersendiri dihati Adit dan Ratri, bahwa mereka mungkin bisa kembali merajut kasih bersama. Meski tak bisa mereka pungkiri, ada Aini diantara mereka. Seiring dengan semakin semerbaknya cinta lama itu yang kembali bersemi.
Dan selepas maghrib, Aini pun berpamitan pada Adit dan Ratri. Ia benar-benar pergi ke rumah Ratmini untuk beberapa hari kedepan.
Adit berniat untuk mengantar Aini ke rumah ibunya, tapi di tolak Aini. Aini memilih berkendara berdua bersama sang putra yang sudah terlihat sangat lelah setelah banyak acara yang ia lalui hari ini.
__ADS_1
"Benar kata orang, cinta pertama mungkin sulit untuk dilupakan. Apalagi, jika cinta mereka memiliki begitu banyak kenangan indah. Lalu, bagaimana denganku yang bukan cinta pertamamu Mas?" Gumam Aini sembari mengendarai motornya menuju rumah lamanya.