Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Di Rumah Imron Part 1


__ADS_3

"Yasudah, aku tutup dulu ya!"


"Iya, Bu."


"Terima kasih, ya Na."


"Iya, Bu. Sama-sama."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Sambungan telepon itu segera berakhir. Niken segera menoleh pada suaminya yang sedang duduk menemaninya menghubungi Aini sejak tadi.


"Gimana, Pa? Bagus nggak akting Mama?" Tanya Niken segera.


"Akting apaan, Ma? Orang cuma teleponan gitu." Cibir Rama.


"Ya kan itu juga akting. Kan Mama juga butuh penghayatan dan keseriusan supaya Ratna percaya."


"Istriku tersayang. Ardi yang jelas terbiasa dengan tingkah kita saja, bisa cemburu dan kesal karena rencana Mama kemarin. Apalagi Ratna yang baru mengenal kita beberapa hari? Dan lagi, Mama kan juga cuma lewat telepon, nggak langsung berhadapan."


"Tapi kan Mama juga berusaha serius, Pa."


"Iya. Istriku kan emang pinter dalam hal yang satu itu."


Niken tersenyum bangga dan manja setelah dipuji oleh suaminya. Ia pun segera mendaratkan punggungnya ke sandaran sofa dan menghembuskan nafas lega.


Ah iya, Niken kembali menjalankan rencananya untuk membuat Aini menjadi menantunya. Ia juga secara tidak langsung membantu Ardi agar mendapat restu dari Ratna.


Niken sengaja menelepon Aini dan meminta berbicara pada Ratna. Ia sengaja menunjukkan rasa kesal dan acuhnya pada Ardi karena sempat mengecewakan Aini, agar Ratna sedikit terpengaruh. Ia juga sengaja mengatakan bahwa Rama akan meminang Aini jika Ardi gagal mendapat restu, demi sedikit memaksa Ratna untuk memberikan restunya pada Ardi.


Karena sangat kecil kemungkinan bagi Ratna untuk memberikan restu bagi Rama untuk menikahi Aini. Ratna jelas akan berpikir berulang kali untuk menikahkan adik tersayangnya pada seorang laki-laki beristri yang usianya sangat pantas menjadi ayahnya.


"Menurut Papa gimana? Apa Ratna akan kasih restu ke Ardi?" Tanya Niken ragu.


"Ratna itu sangat menyayangi Aini. Papa yakin, dia cuma ingin Aini bahagia."


"Kalau Ratna tetap tidak memberikan restunya?"


"Kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa, Ma."


"Mama nggak mau menantu lain, Pa. Kasihan Kenzo juga."


"Aini pasti juga akan membujuk kakaknya itu. Papa yakin."


"Semoga mereka berhasil, Pa."


"Iya, Ma."


Niken mulai cemas dengan pikirannya sendiri. Ia takut jika Ratna tak mau memberikan restunya pada Ardi. Dan malah meminta Aini pergi jauh dari Ardi dan Kenzo.


"Tapi, bagaimana jika Papa memang mau menikah lagi, Ma? Sama Aini." Goda Rama.


Niken jelas melirik marah pada Rama. "Mama akan kebiri Papa."


"Nanti Mama nggak bisa dapet jatah dong." Goda Rama lagi.


"Biarin. Mama juga bisa cari papa baru buat Ardi." Ketus Niken.


"Oh, gitu ceritanya." Santai Rama, sambil menarik Niken dalam pelukannya.


"Mama, istri terbaik Papa. Tak akan ada yang lain." Imbuh Rama mesra.


Niken diam tak bereaksi. Hatinya sangat kesal karena ucapan suaminya. Yang padahal, hanya sekedar gurauan saja.


Usia tidak bisa menjadi batasan seseorang untuk bercanda dan bermesraan dengan pasangan halal. Semua adalah bumbu dan pelengkap dalam sebuah hubungan, agar hubungan itu lebih bermakna dan penuh warna.


Di rumah Imron dan Ratna,,


Ratna benar-benar memikirkan ucapan Niken. "Aini dengan pak Rama?"


Ratna meletakkan begitu saja ponsel Aini di atas meja. Pikirannya melayang dengan bayangan, dimana Aini bersanding dengan Rama.


"Nggak. Nggak mungkin." Gumam Ratna lirih, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kenapa, Mbak?" Tanya Aini perhatian.


Ratna yang masih sibuk dengan pikirannya, tidak begitu memperhatikan Aini. Aini bahkan sampai memanggilnya beberapa kali, tapi tetap tidak dihiraukan oleh Ratna.


"Mbak kenapa?" Tanya Aini lagi, sambil menggoyangkan bahu Ratna.


"Apa?" Sahut Ratna terkejut.


"Mbak kenapa? Mama bilang apa sama, Mbak?" Tanya Aini khawatir.


"Oh itu,, eh,, tunggu sebentar! Kamu tadi bilang apa, Ni? Mama?"

__ADS_1


Aini tertegun sejenak. "Itu, Mbak. Bu Niken yang memintaku memanggilnya seperti itu."


Ratna sedikit mendengus kesal. Ia tak menyangka, Aini malah sudah memanggil Niken dengan sebutan mama. Ratna pun berniat menginterogasi Aini. Tapi,,


"Bunda! Aku laper. Tadi belum puas makan di pesawat." Manja Kenzo, yang baru saja menghampiri Ratna dan Aini.


"Kenzo mau makan apa?" Tanya Aini perhatian.


"Apa aja boleh, Bunda."


"Aku juga mau makan, Bunda." Timpal Umar tiba-tiba.


"Tapi Budhe belum belanja tadi. Cuma ada telur di kulkas." Sahut Ratna sedih.


"Nggak papa, Mbak. Biar aku masakin lauk buat mereka. Mbak sama yang lain udah makan?" Jawab Aini santai.


"Atau kita keluar sebentar, cari makan malam. Aku tadi rencana cuma mau masak mi aja buat makan malam." Jujur Ratna.


"Gitu juga nggak papa, Mbak."


"Yuk!" Ajak Ratna bahagia.


Aini mengangguk yakin.


"Bunda sama budhe beli makanan sebentar ya? Kalian di rumah aja." Pinta Aini.


"Oke, Bunda." Jawab Umar dan Kenzo bersamaan.


Ratna pun segera bersiap untuk pergi sebentar dengan Aini. Tak lupa, mereka berpamitan pada yang lain juga.


"Maaf, Pak Imron! Apa boleh, saya dan Kenzo menginap beberapa hari di sini? Kebetulan, Kenzo juga sedang libur sekolah." Tanya Ardi.


"Pak Ardi sepertinya sangat serius dengan Aini." Batin Imron.


"Tentu boleh, Pak Ardi. Tapi, kami hanya memiliki tiga kamar tidur." Sahut Imron bingung.


"Tidak apa-apa, Pak Imron. Saya bisa tidur dimana saja."


"Pak Ardi ada-ada saja."


Imron lalu sedikit mengubah tempat tidur keluarga kecilnya. Agar tamu-tamunya yang baru datang, bisa istirahat dengan tenang di rumahnya.


Diperjalanan, Aini pun mengungkapkan niat hatinya untuk menginap beberapa hari di rumah Ratna. Tentu saja bersama Ardi dan Kenzo juga.


Ratna awalnya bingung dengan keadaan rumahnya yang kecil. Dan memilih untuk berunding dengan Imron lebih dulu bagaimana baiknya.


Pagi yang cerah di ibukota provinsi Jawa Tengah, Semarang. Suara-suara alam, bermain indah di setiap sudut kota. Menyambut sang mentari, menyapa para penghuni bumi dengan kehangatannya yang paripurna.


Malam yang menyenangkan bagi para tamu Imron dan Ratna. Mereka bangun dengan suasana hati yang lebih baik pagi ini.


Semalam, Imron akhirnya tidur di depan tv bersama Ardi. Ratna dan Aini, tidur di kamar Ratna. Kamar Rafi, digunakan oleh Umar dan Kenzo. Sedang Rafi dan Deni, menempati kamar Deni untuk tidur.


Imron sebenarnya sangat tidak enak hati dengan Ardi. Karena ia malah membuat Ardi tidur di depan tv bersamanya. Tapi mau bagaimana lagi, karena memang rumah Imron sangat jauh berbeda dengan rumah Ardi.


"Pa, ayo ke sawah!" Rengek Kenzo tiba-tiba.


"Ke sawah? Ngapain?" Sahut Ardi bingung.


"Panen singkong." Polos Kenzo.


Ardi menatap Kenzo dengan kening yang berkerut sangat dalam. Ia belum memahami permintaan putranya, yang sebenarnya sangat sederhana.


"Kenzo mau singkong?" Tawar Imron.


Kenzo mengangguk yakin. Dan itu jelas membuat Ardi semakin bingung. Karena sepengetahuan Ardi, Kenzo tidak begitu menyukai singkong. Tapi ini, Kenzo malah nampak sangat antusias dengan bahan makanan satu itu.


"Biar Pakdhe cabutkan di sawah nanti. Kamu di rumah saja, ya?" Sahut Imron perhatian.


"Nggak mau, Pakdhe. Kenzo mau ikut. Mau lihat panen singkongnya Pakdhe." Tolak Kenzo manja.


"Bukan panen, Ken. Pohonnya cuma ada beberapa."


"Nggak papa, Pakdhe. Pokoknya Kenzo mau ikut ke sawah."


"Pak Imron juga bertani?" Tanya Ardi bingung.


"Hanya mengelola lahan milik majikan tempat Ratna bekerja. Beliau belum ingin menjualnya, dan malah meminta saya untuk mengelola lahannya." Aku Imron.


"Begitu rupanya."


Ardi memang tidak tahu, jika Imron juga bisa bertani. Karena setahu Ardi, Imron bekerja di sebuah peternakan sapi yang cukup besar, yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Dan Ratna, bekerja menjadi ART di rumah salah satu tetangganya dalam beberapa tahun terakhir.


"Pak Imron tidak bekerja?" Tanya Ardi.


"Tidak, Pak. Saya ijin tidak bekerja untuk beberapa hari."


Ardi seketika merasa tidak enak hati. Karena ia yakin, Imron absen dari pekerjaannya karena kedatangannya.

__ADS_1


Kenzo kembali merengek pada Ardi untuk ikut ke sawah. Dan akhirnya, para penghuni rumah Imron berangkat ke sawah bersama, kecuali Ratna. Karena Ratna harus pergi bekerja. Mereka berjalan kaki bersama, karena memang sawahnya tidak begitu jauh.


Kehadiran Ardi jelas menjadi perhatian tetangga Imron dan Ratna. Mereka cukup penasaran dengan sosok laki-laki yang menjadi tamu Imron. Karena setahu mereka, laki-laki itu belum pernah mengunjungi rumah Imron. Dan mereka juga tahu, jika Aini masih berstatus janda.


"Mas bisa memanen singkong?" Goda Aini.


"Bisa. Mungkin." Jawab Ardi ragu.


Aini tersenyum kecil mendengar jawaban Ardi. Karena ia yakin, Ardi belum pernah melakukan hal itu.


Ardi sedikit melirik ke arah Aini. "Kamu meremehkanku, Sayang?"


"Meremehkan bagaimana?" Sanggah Aini santai.


"Itu. Kamu tertawa."


"Apa tidak boleh aku tertawa? Hem?" Jawab Aini sambil tersenyum geli.


"Aku akan buktikan, aku bisa memanen singkong." Jawab Ardi sedikit ragu.


"Iya, Mas. Iya."


Sampai di sawah, pohon singkong yang Imron tanam sudah terlihat siap untuk dipanen. Imron pun dengan segera bersiap untuk menarik pohon itu, untuk mengambil singkongnya. Ardi jelas memperhatikan dengan seksama apa yang Imron lakukan.


"Kacangnya kapan panen, Mas Imron?" Tanya Aini, setelah melihat tanaman kacang yang Imron tanam sudah siap panen juga.


"Besok, Ni. Ratna besok ijin dua hari." Santai Imron, sambil mulai mencabut pohon singkong.


"Waahh, pas banget ya Mas, aku pulang ke sini." Sahut Aini santai.


"Iya. Besok jadi ada bala bantuan tambahan."


"Siap Mas, kalau itu."


"Panen kacang? Gimana caranya?" Batin Ardi.


"Pa! Papa cabut yang itu!" Pinta Kenzo, sambil menunjuk ke pohon yang nampak paling rimbun daunnya.


Ardi menoleh segera. Ia mulai ragu, apakah ia bisa mencabut pohon itu. Imron saja, yang sudah terbiasa mencabut pohon singkong, nampak sedikit kesusahan dengan pohon yang lebih kecil.


Aini pun ikut menoleh ke arah Kenzo menunjuk. Ia tersenyum geli, setelah melirik ekspresi wajah Ardi yang nampak ragu dan bingung.


"Ayo Mas, aku bantu!" Ajak Aini santai, sambil berjalan mendekati Ardi.


"Aku saja. Kamu nanti bagian yang mengolahnya di rumah. Oke?" Sahut Ardi cepat.


"Mas bisa?" Remeh Aini.


"Kamu meremehkanku, Sayang?"


"Sedikit, hhihi."


"Apa? Baiklah kalau begitu. Kalau aku bisa mencabutnya, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?" Tantang Ardi.


"Aku masakin singkongnya, sesuai permintaan Mas."


"Hanya itu?"


"Terus? Kan sayang Mas, kalau singkongnya nggak dimasak."


"Ya kasih hadiah apa gitu,,"


"Kan cuma nyabut singkong, Mas. Masa pake hadiah segala?" Cibir Aini.


"Ini kan pertama kali buatku, Sayang."


Aini jelas terkekeh geli mendengar jawaban Ardi. Imron pun bahkan menahan tawanya agar tidak menyakiti perasaan Ardi.


"Ini beneran, Sayang. Aku belum pernah mencabut singkong." Imbuh Ardi sedikit kesal.


"Iya, Mas. Aku tahu." Jawab Aini sambil tersenyum geli.


Ardi berusaha menahan kekesalannya demi mendapat hadiah dari Aini.


"Ayo, cepat! Kamu mau kasih hadiah apa?" Tantang Ardi.


"Mas ini udah menyandang status duda lhoo,, masa iya, manjanya ngalahin Kenzo?" Cibir Aini.


"Oohh, jadi kamu mau, aku manja-manja sama wanita lain?" Sahut Ardi penuh kemenangan.


"Kok jadi gitu, Mas?"


"Makanya, aku manjanya sama kamu. Atau, kamu memang mau, aku manja sama wanita lain?" Goda Ardi lagi.


Entah karena apa, Aini segera merasa kesal. Ia jelas tak terima, jika Ardi bermanja pada wanita lain selain dirinya. Ia pun berusaha meredam kekesalannya agar Ardi tak melunjak.


"Mas mau dikasih hadiah apa emangnya?" Tanya Aini sesantai mungkin.

__ADS_1


"Aku mauu,,,"


__ADS_2