
Langit nampak muram. Butiran-butiran air langit pun mulai berjatuhan menghampiri bumi. Menetes dan membasahi segala hal yang mereka kehendaki. Memberi kebaikan pada setiap hal yang selalu menantinya.
Pagi ini, Aini bangun dengan perasaan yang bahagia. Ada secercah harapan yang tersirat jelas dari wajah cantiknya. Harapan bahwa rumah tangganya dengan sang suami, akan kembali menghangat seperti dulu.
Memang, rumah tangga Aini dengan Adit mulai renggang kembali. Dengan banyaknya drama dari sang madu yang tengah hamil, serta ibu mertuanya yang tetap tidak menyukainya, membuatnya benar-benar menjauh dari Adit. Tak banyak yang bisa Aini lakukan.
Dan saat asa itu nyaris hilang, Allah hadir dengan pertolongan-Nya yang tidak disangka-sangka. Memberikan harapan pada Aini yang mulai putus asa dengan semua hal yang selama ini ia terima.
Aini masih belum mengatakan pada siapapun tentang firasat baiknya. Ia ingin memastikan lebih dulu sebelum mengatakan pada orang lain, bahwa itu bukan hanya firasat saja. Selain itu, ada firasat tak baik yang juga menghampirinya selama beberapa hari ini.
Pagi ini, Aini menitipkan Umar pada Ratmini karena Ratri akan melakukan cek kandungan bersama Adit siang nanti. Ia tak ingin Umar mengganggu mereka saat di rumah sakit.
Saat jam pulang kerja, Aini menyempatkan diri mampir ke suatu tempat. Ia sudah merencanakan hal itu sejak kemarin. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Fajar. Mereka bersama-sama memarkirkan motor mereka di depan tempat itu.
"Hai Ni!" Sapa Fajar ramah.
"Oh, Hai Jar! Mau cari apa?" Tanya Aini seraya melepas helmnya.
"Ah iya, kebetulan ketemu sama kamu. Aku boleh minta tolong nggak?"
"Tolong apa?"
"Eemmhh, beli test pack." Ucap Fajar sedikit berbisik di samping kanan kepala Aini.
"Beli sendiri aja! Udah di sini juga." Sahut Aini santai sambil menahan tawanya.
"Aku malu Ni. Tika nggak mau beli sendiri." Jawab Fajar memelas.
"Ya kamu sebagai suami yang tanggung jawab donk! Masak cuma beliin test pack buat istrimu aja malu." Cibir Aini.
"Ayolah Ni! Please!" Rayu Fajar sambil menangkupkan kedua tangannya.
Aini berpura-pura menghela nafasnya kesal.
"Iya-iya. Mau beli berapa?" Tanya Aini berpura-pura ketus.
"Dua. Nih uangnya! Yang bagus ya!" Pinta Fajar sambil menyerahkan uang lembaran berwarna biru pada Aini.
"Nanti aja."
Aini melenggang masuk tanpa menerima uang dari Fajar. Ia lantas masuk ke apotek sendirian. Ia pun berbelanja kebutuhannya dan juga pesanan Fajar pastinya.
Tak lama, Aini keluar dengan membawa dua kantong plastik kecil berisi beberapa obat dan test pack yang ia beli. Fajar pun segera menghampiri Aini.
"Nih pesenanmu!" Ucap Aini sambil menyerahkan salah satu kantong plastik yang ia bawa.
"Berapa Ni totalnya?" Jawab Fajar sumringah, sambil menyerahkan uang yang sedari tadi masih ia pegang.
"Udah bawa,,"
Belum sempat Aini menyelesaikan kalimatnya, ia dikejutkan dengan suara yang cukup keras dan sangat familiar untuknya.
"Aini! Jadi begini kelakuanmu di luar?" Bentak Adit, yang baru saja tiba di depan apotek setelah menyebrangi jalan.
Aini menoleh. "Mas Adit."
Aini bahagia melihat suaminya datang menghampirinya. Ia pun tersenyum pada Adit yang datang dengan wajah yang terlihat marah dan kesal.
"Mbak Ratri sudah selesai cek kandungannya? Bagaimana Mbak kondisi bayinya? Sehat kan?" Tanya Aini antusias.
"Sudah Ai. Semuanya baik kok." Jawab Ratri singkat.
"Alhamdulillah."
Saat Aini dan Ratri sedikit mengobrol, Adit mengamati Fajar dengan seksama.
"Dia laki-laki yang di foto itu kan?" Tanya Adit sedikit keras, hingga mengalihkan perhatian Aini dan Ratri.
"Apa Mas?" Tanya Aini bingung.
__ADS_1
Fajar pun seketika mengerutkan keningnya.
"Dia laki-laki yang memelukmu di foto itu kan?" Jelas Adit marah.
"Tunggu dulu Bro! Apa maksudmu dengan memeluk Aini? Dan foto apa?" Tanya Fajar bingung.
"Bukankah kamu yang beberapa waktu lalu memeluk Aini di tempat kerjanya?" Tanya Adit tanpa ragu.
Fajar terdiam. Ia berusaha memahami ucapan Adit yang cukup singkat tapi dengan nada kesal dan marah.
"Oh, yang waktu itu? Iya. Aku menangkap Aini karena tubuh mungilnya ditubruk oleh pelanggan yang berlari." Jawab Fajar santai.
Hati Adit menjadi lebih bergemuruh. Ia sedang tak bisa berpikir jernih. Ia sudah diliputi oleh amarah yang disulut dengan sangat baik oleh sang istri kedua.
Iya, Adit dan Ratri tidak sengaja melihat Aini dan Fajar yang kebetulan datang ke apotek yang sama tadi. Adit dan Ratri, baru saja selesai membeli cemilan yang Ratri inginkan, tepat di sebrang jalan apotek itu berada.
Adit sebenarnya tidak melihat Aini di sebrang jalan tadi. Tapi Ratri yang melihatnya. Dan Aini tidak menyadari itu.
Ratri yang memang sudah termakan oleh bujuk rayu ibu mertuanya, untuk menjauhkan Aini dari Adit, pun dengan senang hati mulai menyalakan bara api dalam hati Adit yang sempat padam.
Flashback On
"Aini?" Ucap Ratri lirih, saat netranya meangkap sosok yang sangat familiar baginya.
Ratri menatap lurus ke arah sebrang jalan, dimana ia berada saat ini. Ia baru saja selesai membeli beberapa camilan untuk stok di rumah. Ia dan Adit, baru saja kembali dari rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
Adit yang berdiri tepat di samping Ratri, segera menoleh pada sang istri, karena mendengar apa yang diucapkan istrinya. Ia pun ikut melihat kemana arah netra Ratri memandang.
Dan saat itulah, Adit melihat Aini sedang mengobrol santai dengan seorang laki-laki di depan apotek. Mereka terlihat sangat begitu akrab. Apalagi, laki-laki itu bahkan terlihat membisikkan sesuatu pada Aini.
Hati Adit pun bergemuruh seketika. Ada kilatan kecemburuan dan kemarahan yang langsung memenuhi aura wajah tampannya. Ia hendak menghampiri Aini, tapi tangannya dicegah oleh Ratri.
"Jangan Mas! Kita lihat dari sini saja!" Pinta Ratri cepat.
Adit pun menuruti perkataan Ratri. Karena memang, Aini segera masuk ke apotek meninggalkan laki-laki itu seorang diri.
Setan dalam diri Ratri membisik lirih ke hatinya. Menggoda dan merayu dengan sangat lembut untuk menyalakan bara api di hati sang suami pada istri pertamanya.
"Apa dia yang ada di foto itu Mas?" Tanya Ratri tiba-tiba.
Adit menoleh pada Ratri.
"Iya Mas. Dia sepertinya laki-laki yang memeluk Aini di foto yang Ibu tunjukkan waktu itu." Imbuh Ratri cepat.
Adit berusaha melihat lebih seksama laki-laki yang sedang bersama Aini. Ia cukup ingat, tubuh laki-laki itu memang sedikit tambun.
Adit mulai bertambah geram. Ia pun langsung menyeberangi jalan yang cukup lengang, setelah melihat Aini yang telah selesai membeli sesuatu di apotek.
Flashback Off
"Dia Fajar, Mas. Temanku saat kursus dulu." Ucap Aini setenang mungkin, demi menutupi rasa cemas yang mulai memenuhi hatinya.
Aini cukup paham, apa yang sedang Adit rasakan saat ini, dari raut wajahnya. Ia berusaha meredam amarah sang suami, yang terpancar jelas dari wajahnya.
Fajar yang tidak tahu menahu tentang masalah rumah tangga Aini dan Adit, berusaha bersikap ramah pada suami temannya itu. Ia mengulurkan tangannya untuk sekedar berkenalan dengan Adit.
"Fajar." Ucap Fajar ramah.
Tapi sayang, Adit tak menghiraukannya sama sekali. Ia mengacuhkan uluran tangan Fajar sambil menatap marah pada sang istri pertama.
Fajar pun mulai kikuk dengan keadaan di sekitarnya. Ia pun menarik kembali tangannya dengan kaku.
"Pulanglah dulu Jar! Tika pasti sudah menunggumu!" Pinta Aini cepat.
"Oke. Aku pulang dulu. Mari semuanya!" Ucap Fajar seramah mungkin.
Tapi, dari tiga orang lain yang ada di sana, hanya Aini yang menganggukkan kepalanya ramah untuk menjawab Fajar. Fajar pun segera melajukan motornya meninggalkan apotek itu.
Fajar paham, jika Aini tak ingin urusan rumah tangganya dicampuri oleh orang lain. Jadi, saat Aini menyarankan untuk pulang, ia segera menurutinya. Ia tak ingin mengganggu urusan rumah tangga Aini. Meski, ada sedikit ganjalan di hatinya karena ucapan Adit tadi.
__ADS_1
"Jadi seperti ini kelakuanmu setelah kuijinkan kamu untuk kembali bekerja? Pantas saja kamu menolak untuk kembali ke Bharata. Ternyata ini niatmu sejak awal? Untuk berselingkuh!" Tuduh Adit tanpa ragu.
"Aini sudah mengatakan padamu bukan Mas, Aini tak pernah berselingkuh darimu." Jawab Aini yakin.
"Lalu, apa yang terjadi barusan? Kamu berdekatan dengannya, dan bahkan kalian terlihat sangat akrab." Cecar Adit sedikit membentak.
"Kami tak sengaja bertemu Mas." Jujur Aini.
"Benarkah? Kebetulan sekali ya?" Sindir Adit sinis.
Aini yang menyadari sedang berada di tempat umum, berusaha keras untuk tidak terpancing dengan kemarahan Adit. Ia berusaha untuk tak menjawab, agar amarah Adit segera mereda.
"Cukup Mas! Ini di tempat umum!" Sela Ratri tiba-tiba.
Adit yang juga mulai tersadar, karena amarah yang meliputinya sedikit mereda, segera berlalu begitu saja dari hadapan Aini. Ia kembali menyeberangi jalan untuk menuju mobilnya tadi. Ratri pun segera mengikuti Adit.
Aini pun segera menyalakan mesin motornya, dan bersiap untuk menjemput sang putra yang sedang berada di rumah neneknya, setelah mobil Adit meninggalkan tempatnya. Dan di sepanjang perjalanan, Aini tak hentinya berdo'a, agar Adit tak marah lagi padanya.
Setelah sampai di rumah Ratmini, Aini segera membersihkan diri. Melepaskan sejenak rasa lelah, setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.
"Ni, dicari temenmu. Katanya namanya Fajar." Ucap Ratmini, saat Aini selesai mandi.
"Iya Bu'."
Aini segera menghampiri Fajar yang ada di teras depan, setelah selesai berpakaian.
"Aku tadi lupa belum ganti uangmu Ni." Ucap Fajar cepat sambil menyodorkan uang yang tadi sudah ia niatkan untuk diberikan pada Aini saat di apotek.
"Sudah! Pakai saja. Harganya juga nggak seberapa." Jawab Aini tulus.
"Tapi Ni,,"
"Oh, jadi kalian diam-diam janjian bertemu di sini?" Sela Adit tiba-tiba.
"Mas?"
Aini terkejut mendapati Adit berada di rumah ibunya. Ia yang sedang mengobrol dengan Fajar, makin merasakan sesuatu yang tak baik akan terjadi.
"Maaf Bro! Jangan asal tuduh! Aku tak pernah janjian bertemu dengan Aini. Bagaimana aku janjian dengannya, jika aku saja tidak memiliki nomor ponsel istrimu." Jujur Fajar.
Adit hanya diam.
"Aku kemari hanya ingin mengganti uang yang tadi Aini pakai untuk membelikan pesanan Tika di apotek. Aku tadi lupa memberikan padanya karena kehadiranmu yang terlihat marah tadi." Imbuh Fajar.
Adit masih tidak bereaksi. Hatinya sedang bergelut dengan logikanya.
"Maaf Jar! Bisakah kamu pulang dulu? Uangnya tak perlu kamu ganti, pakai saja. Dan tolong sampaikan salamku untuk Tika!" Pinta Aini cepat.
Aini sadar, Adit masih diliputi oleh amarah. Ia tak ingin masalahnya di ketahui oleh Fajar.
"Oke Ni, aku mengerti. Aku akan pulang. Sampaikan salamku untuk ibu dan putramu." Jawab Fajar tulus.
Aini hanya mengangguk
"Maaf Bro! Aku kesini karena karena tidak tahu alamat rumah kalian dimana. Aku dapat alamat ibu Aini pun, dari Yoga, teman kursus kami dulu. Rumahnya di kampung sebelah. Ia juga tak tahu dimana rumah kalian." Jelas Fajar sebelum pergi.
Fajar pun segera meninggalkan rumah Ratmini. Ia tak ingin mencampuri urusan rumah tangga Aini.
"Setidaknya, aku sudah mengatakan yang sejujurnya. Semoga rumah tangga Aini baik-baik saja. Dan siapa wanita tadi? Apa dia istri kedua Adit?" Gumam Fajar, saat di perjalanan.
Memang, tak banyak yang tahu, jika Adit telah memiliki dua istri. Pernikahan keduanya yang tertutup, membuat berita itu tidak tersebar dengan cepat. Meski, sudah satu tahun lebih mereka menikah.
Adit meninggalkan rumah Aini begitu saja setelah Fajar pergi. Ia bahkan tidak menyapa mertuanya sama sekali. Dan Ratmini merasakan kejanggalan sikap Adit padanya.
Ratmini yang sempat mendengar obrolan tiga orang di teras rumahnya tadi, bisa menebak. Bahwa rumah tangga putrinya sedang diuji. Ia pun membiarkan Aini menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri.
"Jika memang butuh Ibu, jangan ragu untuk kemari dan bercerita pada Ibu. Ya?" Pesan Ratmini tulus.
Aini hanya mengangguk. Ia lantas berpamitan pada ibunya bersama Umar. Ia harus segera kembali ke rumah untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang kembali terjadi antara dirinya dan Adit.
__ADS_1
Apa yang terlihat, terkadang memang tak seperti itu adanya. Ada banyak hal dan alasan yang mungkin mendasari apa yang sedang terjadi di depan mata. Pahami dan pikirkan dengan baik apa yang akan dilakukan. Sebelum penyesalan itu datang saat semua telah terjadi. Dan kita tak bisa mengulangnya kembali untuk memperbaiki.