Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Bertemu Denganmu


__ADS_3

"Bukankah waktu itu sudah ada kesepakatan? Kenapa ada demo lagi?" Marah Ardi pada para bawahannya.


"Ada yang memprovokasi warga lagi, Pak." Sahut salah satu orang di sana, sambil sedikit tertunduk.


"Temukan orang itu dan tangkap dia! Jangan hanya mengandalkan namaku saja!" Kesal Ardi.


Ardi marah besar saat ini. Orang baru yang ia percayai menangani proyek pembangunan hotel dan mall di Banyuwangi ternyata masih sangat amatir. Ia bahkan tidak bisa menangani warga yang kembali menggelar demo karena ada provokator diantara mereka.


Ardi sebenarnya sudah menyerahkan segala urusan proyek pembangunan itu pada bawahannya. Tapi, orang baru yang ia percayai, malah membawa-bawa nama Ardi, dan menjanjikan pada warga, bahwa Ardi akan datang dan merundingkan lagi masalah pembebasan lahan itu, langsung dengan mereka.


Ardi pun akhirnya turun tangan untuk masalah itu. Ia jauh-jauh terbang dari Bandung untuk menyelesaikan masalah itu. Dan, ada maksud lain juga sebenarnya. Apalagi kalau bukan menengok Aini.


Ardi jelas tahu keberadaan Aini. Ia bahkan menyempatkan waktu setiap bulan untuk menengok Aini ke Banyuwangi. Tapi tanpa sepengetahuan Aini pastinya.


Ardi berusaha menepati janjinya pada Aini. Ia hanya melihat Aini dari seberang jalan. Tanpa mau menghampiri atau bahkan menyapanya.


Dan itu juga yang menjadi tujuan Ardi mengunjungi kota paling ujung timur pulau Jawa kali ini. Ia ingin menengok Aini seperti yang sudah biasa ia lakukan.


Sebenarnya, setelah Ardi pindah ke Bandung satu tahun yang lalu, sudah ada beberapa wanita yang mendekatinya. Maklum, pesona Ardi masih terlalu kuat bagi para wanita. Meski ia sudah menyandang status duda.


Apalagi, setelah kabar berakhirnya hubungan Ardi dan Aini tersebar. Bahkan, para karyawannya di Bandung, dengan terang-terangan mendekati Ardi. Tapi jelas, Ardi menolek mereka semua. Karena di dalam hatinya masih terukir jelas nama Khadijah Isnaini.


Ardi sudah sampai di Banyuwangi bersama Dika sejak pagi. Mereka langsung menemui penanggung jawab proyek. Ardi pun langsung meminta pengawalnya untuk mencari sang provokator masa.


Demo dimulai pukul sepuluh pagi. Tapi, Ardi memberikan kesempatan bawahannya untuk menyelesaikan masalah itu lebih dulu. Dia juga ingin menilai, sejauh apa kemampuan orang baru itu. Meski, ia sudah terlanjur kecewa karena terjadi hal yang tak diharapkannya.


Menjelang dzuhur, demo masih belum selesai. Tapi, masa mulai membubarkan diri untuk sejenak beristirahat siang. Apalagi, cuaca sedang cukup terik hari ini.


Ardi pun akhirnya pergi melaksanakan sholat terlebih dahulu di masjid terdekat. Tapi, ia sudah mengantongi nama provokator demo hari ini. Dan ia ingin berhadapan langsung dengan orang itu setelah dibisiki sesuatu oleh Dika, setelah mereka selesai sholat.


"Anton Saputro. Dia laki-laki yang selalu di belakang orator demo tadi." Ucap Dika yakin.


"Siapa dia?"


"Dia salah satu pemilik tanah yang berada di belakang bangunan lama."


"Begitu rupanya."


"Daann,," Dika sedikit menggantung kalimatnya.


Ardi menoleh pada Dika dengan penasaran.


"Dia mencoba mendekati bu Aini selama beberapa bulan terakhir."


Ardi jelas tak suka mendengar hal itu. Keningnya berkerut dalam. Ia jadi merasa kesal secara tiba-tiba.


"Kita lihat, siapa yang lebih unggul!" Batin Ardi angkuh.


Ardi akhirnya menemui para pendemo. Ia pun mencoba berunding dengan hati-hati dengan perwakilan masa. Dan di sana, jelas ada laki-laki yang bernama Anton Saputro itu.


Anton memang nampak ingin memaksa Ardi untuk menerima tuntunan baru para pendemo itu. Tapi dengan kelihaian Ardi dalam bertutur kata, ditambah dengan Dika yang memang pandai dalam memainkan perannya dalam membantu Ardi, akhirnya, kesepakatan baru tidak terjadi. Masa akhirnya menyetujui kesepakatan lama dan berjanji untuk tidak lagi menggelar demo di area proyek.


Ardi tersenyum lega setelah semuanya selesai. Masa pun mulai membubarkan diri dari area proyek pembangunan.


"Aku beri satu kesempatan lagi. Selesaikan proyek ini tanpa masalah! Maka aku tidak akan memecatmu." Tegas Ardi.


"Terima kasih, Pak." Jawab si penanggung jawab.


Ardi lalu keluar dari area proyek bersama Dika dan para pengawalnya. Ardi dan Dika berada satu mobil dengan dua pengawalnya. Dan dua pengawal lain, mengikuti mereka menggunakan motor.


Dika sudah mengatakan pada sang sopir untuk menuju sebuah tempat terlebih dahulu sebelum kembali ke Surabaya. Sang sopir pun dengan segera melajukan mobilnya dengan santai menuju tempat itu. Karena itu permintaan Ardi.


"Astaghfirullah!" Seru semua orang yang ada di dalam mobil yang Ardi tumpangi.


Ada seseorang yang membawa motor dengan ugal-ugalan di jalan, hingga menyerempet seorang anak laki-laki yang sedang bersepeda bersama tiga temannya. Padahal, empat anak yang bersepeda tadi sudah bersepeda di jalur yang benar.


Sang sopir segera menghentikan laju mobilnya. Mereka berempat pun segera turun dari mobil.


"Kejar mereka!" Pinta Ardi tegas pada dua pengawalnya yang memakai motor.


Mereka segera menghampiri keempat anak itu, yang segera membantu temannya yang jatuh dari sepeda.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Ardi perhatian, sambil mulai berjongkok.

__ADS_1


Keempat anak itu segera menoleh. Dan saat ini, anak yang terjatuh tadi membulatkan kedua bola matanya.


"Papa?" Ucap anak itu tak percaya.


"Umar?" Sahut Ardi tak percaya juga.


Iya, anak yang terserempet motor tadi adalah Umar. Ia dan tiga temannya berniat untuk pulang setelah cukup bermain. Tapi sayang, Umar yang bersepeda paling belakang, malah diserempet oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Ketiga teman Umar nampak terkejut mendengar Umar memanggil papa pada laki-laki yang baru saja menghampiri mereka. Karena mereka juga tak pernah tahu, seperti apa sosok ayah Umar.


Ardi segera meraih tubuh Umar. Dan tanpa ragu segera menggendongnya menuju mobil.


"Ke rumah sakit!" Pinta Ardi cepat.


Dika lalu memberitahu tiga teman Umar,,


"Tolong katakan pada ibunya Umar, Umar sedang dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama!" Ucap Dika pelan.


"Baik, Om. Terima kasih." Jawab tiga teman Umar itu bersamaan.


"Iya."


Salah satu pengawal Ardi, membantu Ardi membuka pintu mobil. Sedang pengawal lain, memasukkan sepeda Umar ke bagasi belakang.


Setelah semua selesai, Ardi segera membawa Umar ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan. Sebenarnya tak banyak luka di tangan dan kaki Umar, tapi Ardi tetap tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Umar yang masih terkejut karena bertemu Ardi, hanya menuruti setiap apa yang Ardi lakukan padanya. Dan bahkan, saat di dalam mobil, Umar tanpa ragu memeluk Ardi dengan begitu eratnya. Ia ingin melepas rindunya pada Ardi.


Umar begitu merindukan Ardi selama ini. Ia sudah berjanji pada Aini, bahwa ia tidak akan menghubungi Ardi. Tapi, Aini masih mengijinkan Umar untuk menghubungi Kenzo.


Ardi yang menyadari pelukan Umar, pun tanpa ragu membalas pelukan itu. Ia tidak mempedulikan, jika saja bajunya kotor terkena darah yang sedikit keluar dari luka Umar.


"Umar rindu, Pa." Adu Umar.


"Iya, Sayang. Papa juga rindu padamu." Jawab Ardi yakin.


"Tenanglah! Papa akan membawamu ke rumah sakit lebih dulu. Setelah itu, kita akan mengobrol sangat banyak." Pinta Ardi perhatian.


Umar hanya mengangguk patuh di pelukan Ardi. Ia seolah tak ingin melepaskan Ardi sedikitpun.


Sedang di sisi lain, tiga teman Umar segera menuju warung Aini. Mereka pun menyampaikan apa yang Dika pesankan pada mereka.


"Bulik! Bulik!" Panggil ketiga teman Umar bersama, seraya memasuki warung Aini.


Ketiga anak itu jelas menjadi pusat perhatian di warung Aini yang sedang ada beberapa pengunjung. Tak terkecuali tiga karyawan Aini yang sedang bekerja.


"Kenapa? Mana Umar?" Jawab Erna, yang baru saja selesai melayani pembeli.


"Bulik Aini mana, Mbak Erna?" Tanya salah satu diantara mereka.


"Baru di atas. Kenapa?"


"Umar diserempet motor, Mbak. Di deket bank."


Saat teman Umar menjawab pertanyaan Erna, bertepatan dengan Aini yang tiba di lantai bawah setelah menuruni tangga. Ia jelas mendengar jawaban teman Umar itu.


"Apa? Terus, Umar mana sekarang?" Sahut Aini panik.


"Tadi ada om-om yang nolongin, Bulik. Umar dibawa ke rumah sakit katanya." Jujur teman Umar.


Kaki Aini mendadak lemas. Ia hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada meja di dekatnya. Erna dan dua karyawan Aini yang lain segera menghampiri Aini.


"Umar!" Lirih Aini.


"Tenang, Mbak! Umar udah ditolong. Kita tunggu mereka saja!" Saran Erna.


Aini menatap kosong. "Ke rumah sakit mana Umar dibawa?"


"Nggak tahu, Bulik. Om-nya tadi cuma bilang, Umar mau dibawa ke rumah sakit biar dapet pertolongan pertama."


Saat itu terjadi, tiba-tiba ponsel Erna yang ia letakkan di meja kasir berdering. Erna pun segera mengambil dan menjawab telepon yang masuk.


"Oh, iya. Saya mengerti." Ucap Erna singkat saat menerima telepon.

__ADS_1


Erna lalu kembali menghampiri Aini. "Tenang, Mbak! Umar pasti baik-baik saja."


Aini tak menghiraukan ucapan Erna. Pikirannya melayang pada putra semata wayangnya yang belum ia ketahui kondisinya.


Aini segera berdiri. Ia lalu berjalan ke depan warung seraya meraih kunci motornya yang ia letakkan di meja kasir.


"Mbak mau kemana?" Tanya Erna cepat.


"Nyari Umar." Singkat Aini.


"Tenang dulu, Mbak! Tunggu sebentar lagi! Umar pasti pulang sebentar lagi dan dia juga pasti nggak papa, Mbak." Bujuk Erna.


"Aku tidak tenang, Na."


"Tapi Mbak mau cari kemana?"


"Rumah sakit terdekat."


"Tunggu di rumah saja, Mbak!" Bujuk Erna lagi.


Erna pun segera mengejar Aini dan berusaha mencegah Aini untuk mencari Umar.


"Aku ibunya, Na. Aku tak mungkin diam saja." Kesal Aini.


"Iya, Mbak. Tapi kan tadi Bagus udah bilang, Umar baru dibawa ke rumah sakit sama yang nolongin. Kita tunggu di rumah saja!"


"Tapi Na,,"


"Yakin deh, Mbak! Kalau yang nolongin Umar itu orang baik." Bujuk Erna tanpa lelah.


Perlahan-lahan, Erna mengambil kunci motor yang sudah terpasang. Ia benar-benar berusaha mencegah Aini mencari Umar ke rumah sakit. Karena ia tahu, Ardi yang menolong Umar. Ia tadi dikabari oleh Dika melalui telepon.


"Kalau Mbak pergi, dan ternyata Umar udah dibawa pulang sama yang nolongin, kan Mbak malah nggak tahu kan? Mbak malah nggak di rumah." Rayu Erna.


Aini yang masih panik, mulai bisa berpikir lebih tenang. Ia mengerti maksud ucapan Erna. Dan ia juga akhirnya berpikiran seperti itu.


"Kamu bener, Na."


"Makanya Mbak, tunggu di rumah saja! Orang yang nolong Umar pasti orang baik, karena ia mau menolong Umar."


Aini diam.


"Udah Mbak, kita tunggu di dalam saja! Nggak baik juga kalau Mbak sendirian naik motor dengan emosi Mbak kayak gini."


Aini menghela nafas lesu. "Jaga putraku, Ya Allah!"


Aini akhirnya menuruti saran Erna. Ia pun kembali ke dalam dan mengurungkan niatnya mencari Umar.


Ketiga teman Umar tadi, sebenarnya ingin menceritakan kejadian yang mereka alami pada Aini. Apalagi, saat Umar memanggil sang penolongnya dengan sebutan papa. Tapi karena Aini yang langsung panik, ketiga teman Umar itu, akhirnya mengurungkan niat mereka. Mereka lalu berpamitan pulang.


Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil terlihat memarkirkan diri di depan warung Aini. Aini jelas melihat itu. Dan sejurus kemudian, Umar keluar dari mobil itu.


"Umar!"


Aini segera berlari menghampiri Umar. Ia sedikit melupakan orang yang sudah menolong putranya. Ia terlalu fokus pada Umar yang di tangan dan kakinya ada perban yang menempel.


Umar pun segera menyambut Aini. Karena hanya luka lecet tak begitu besar, Umar pun bisa berjalan menghampiri Aini seperti sedia kala.


"Mana yang sakit, Nak?" Ucap Aini cemas, seraya mengamati dengan teliti tubuh Umar.


"Cuma lecet dikit, Bunda." Jujur Umar.


Aini pun segera memeluk Umar. Hatinya cukup lega setelah mendengar jawaban Umar dan melihat sendiri kondisinya.


"Oh iya, mana orang yang nolongin kamu? Kata Bagus, ada om-om yang nolongin kamu." Tanya Aini perhatian.


"Iya, Bunda. Aku tadi ditolongin sama pa,, eh,, om Ardi maksudnya." Jujur Umar sedikit gelagapan.


"Mana dia? Apa dia juga yang mengantarmu pulang? Kamu udah bilang makasih sama om Ardi?" Tanya Aini panjang lebar.


Aini tak memiliki firasat apapun meski mendengar nama itu. Karena ia tahu, pemilik nama itu, bukan hanya orang yang kini masih singgah di hatinya.


"Iya, udah. Itu!" Tunjuk Umar ke arah mobil yang tadi ditumpanginya.

__ADS_1


Aini pun refleks mengikuti kemana arah tangan Umar menunjuk. Dan di saat yang bersamaan, dari mobil yang tadi Umar tumpangi, nampak dua orang hendak turun.


"Mas Ardi." Gumam Aini lirih, saat netranya melihat salah satu orang yang turun dari mobil.


__ADS_2