
Pagi yang basah, mengawali hari. Hujan sudah turun sejak dini hari tadi. Membasahi sang bumi dengan segala kebaikannya. Tapi membuat sinar hangat sang surya sedikit terhalang oleh awan hitam yang membawanya.
Pagi ini, suasana kediaman Ardi masih ramai. Kehadiran keluarga kecil Imron membuat rumah itu lebih ramai dari biasanya. Tamu Rama dan Niken itu, rencananya akan pulang sore ini, setelah kemarin menyelesaikan acara dengan lancar. Mereka menunggu kepulangan pengantin baru dari malam pertama mereka untuk berpamitan.
Oh iya, bagaimana malam pertama Ardi dan Aini? Apa Ardi berhasil menuntaskannya? Atau malah tertunda karena ucapan Aini?
Di kamar yang bernomor dua puluh satu, seorang laki-laki baru saja membuka matanya. Ia tersenyum dengan segera, saat melihat seorang wanita yang ada di hadapannya, yang matanya masih tertutup rapat.
"Terima kasih, Sayang." Bisiknya lirih.
CUP. Laki-laki itu mengecup kening wanita di hadapannya. Hingga membuat wanita itu terbangun, tapi dengan mata yang masih terpejam.
"Maaass! Aku masih lelah." Gumam wanita itu.
"Tapi ini sudah masuk waktu sholat subuh, Sayang." Sahut sang laki-laki, yang tak lain adalah Ardi.
"Aku masih mengantuk dan lelah, Mas. Biarkan aku tidur sebentar lagi, Mas." Manja Aini.
"Tidurnya nanti lagi, Sayang! Sekarang bangun dan sholat dulu." Pinta Ardi, sambil mengusap lembut wajah Aini yang tepat berada di depan wajahnya.
Aini diam tak menjawab. Ia malah kembali terlelap karena terlalu lelah dan mengantuk. Pergulatannya dengan sang suami semalam, benar-benar membuatnya kehilangan banyak tenaga. Apalagi, Ardi begitu pandai membuat Aini meledak-ledak tak karuan. Dan entah, sampai berapa kali Ardi melakukan itu, hingga Aini benar-benar kewalahan, tapi merasa ketagihan.
Ardi jelas tak tinggal diam. Ia tak mau, istrinya sampai tidak mengerjakan kewajibannya sebagai seorang hamba. Jadi Ardi pun berusaha membangunkan Aini.
"Ayo Sayang, bangun! Kita sholat dulu!" Pinta Ardi lagi.
Aini tetap masih terlelap. Ide nakal Ardi pun muncul di benaknya. Dan itu, jelas bisa membuat Aini bangun sekarang.
"Sayaaang! Siap, ya! Aku datang." Bisik Ardi.
Aini tidak menghiraukan ucapan Ardi. Tubuhnya yang lelah dan mengantuk, membuatnya untuk tetap terlelap saja.
Ardi sedikit bangkit dari tidurnya. Ia sedikit mendorong tubuh Aini agar berubah telentang. Ia lalu segera menghujani wajah Aini dengan kecupan yang bertubi-tubi. Dan itu membuat tidur Aini terganggu.
"Maasss!" Keluh Aini sambil berusaha menggelengkan wajahnya.
"Bangun dulu, Sayang! Atau aku akan membuatmu mend*sah lagi sebelum kita sholat." Goda Ardi.
Aini pun akhirnya membuka matanya. Wajahnya ditekuk dengan kesal. Karena sungguh, ia masih sangat lelah.
"Gimana? Mau sholat dulu, atau mau mend*sah dulu?" Tanya Ardi gemas.
"Maass! Apa Mas tidak lelah? Aku saja masih lelah, Mas." Rajuk Aini.
"Aku tidak lelah jika bersama denganmu, Sayang." Santai Ardi.
Aini kehabisan akal menghadapi suami barunya ini. Ia akhirnya menganggukkan kepala dengan lemas.
"Iya apa, Sayang? Sholat atauuu,," Goda Ardi semangat.
__ADS_1
"Katanya tadi ngajak sholat, Mas?"
"Siapa tahu, kamu ingin melakukannya lagi?"
Aini tersenyum dan merangkul leher Ardi dengan kedua tangannya.
"Yang itu, nanti lagi ya, Mas." Manja Aini.
CUP. Aini mengecup bibir Ardi, yang semalam sangat memanjakannya. Ardi pun tersenyum mendapat hadiah pagi dari istrinya.
"Nggak sekarang aja?"
"Maaasss! Tenagamu begitu kuat, aku belum terbiasa. Jadi, biarkan aku mengumpulkan tenaga lagi untuk mengimbangimu nanti."
Ardi pun tersenyum makin lebar mendengar ucapan istrinya. Hatinya bahagia, karena Aini bisa begitu manja dan jujur mengatakan hal itu. Padahal, Aini yang ia kenal selama ini, sangat pemalu.
"Baiklah, Sayang. Aku akan menantikannya."
Mereka berdua saling tersenyum bahagia. Dan setelah itu, mereka segera turun dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat subuh.
Seusai sholat subuh, Ardi membiarkan Aini kembali terlelap seperti janjinya tadi. Ia pun akhirnya ikut tertidur untuk mengisi tenaganya agar bisa memanjakan istrinya lagi nanti.
Pukul satu siang.
Mobil Ardi mulai memasuki gerbang rumahnya. Kedatangan mereka jelas disambut oleh seluruh penghuni rumah. Dan yang paling heboh adalah dua putra mereka, Kenzo dan Umar.
"Papa sama Bunda dari mana?" Tanya Kenzo segera, saat Ardi dan Aini baru saja turun dari mobil.
"Iya. Kenapa semalam tidak pulang?" Timpal Umar.
Ardi dan Aini sejenak saling pandang.
"Kan kemarin Bunda sama papa udah pamitan sama kalian. Bunda mau nemenin papa menghadiri acara di luar kota." Jawab Aini lembut.
"Kenapa nggak pulang?" Tanya kenzo lagi.
"Acaranya sampai malam, Sayang. Kasihan papa kalau menyetir malam-malam dan jarak jauh. Kan kemarin papa seharian sudah ada acara. Papa pasti lelah setelah acara, Nak" Jelas Aini perlahan.
Aini melirik pada Ardi yang berjalan ke arahnya. "Capek apanya? Semalam bisa sampai beberapa kali gitu."
"Kenapa ponsel Bunda sama papa tidak bisa dihubungi?" Tanya Umar penasaran.
Aini mendadak kehilangan fokus karena teringat perlakuan Ardi semalam. Ia sedikit kebingungan menjawab pertanyaan Umar.
"Papa sama bunda lupa nggak bawa charger, Sayang. Kemarin kan acara seharian, kami lupa tidak mengisi baterai ponselnya lebih dulu." Sahut Ardi perhatian.
Kenzo dan Umar lalu mengangguk paham akan kebohongan kedua orang tuanya. Ardi dan Aini sebenarnya berharap tidak melakukan itu pada kedua putranya. Tapi mengingat usia Kenzo dan Umar yang masih kecil, mereka akhirnya terpaksa melakukan itu.
"Berarti, sekarang pekerjaan Papa udah selesai, kan?" Tanya Kenzo penasaran.
__ADS_1
"Sudah. Memangnya kenapa?" Sahut Ardi tanpa berpikir panjang.
Kenzo segera memeluk Aini. "Nanti malam Bunda tidur sama Kenzo sama Umar, ya?"
Aini menatap Kenzo dengan bingung. Ia jelas ingat, janjinya yang ia ucapkan pada Ardi tadi pagi. Dan jika malam ini ia tidur dengan Kenzo dan Umar, berarti Ardi akan tidur sendiri malam ini.
Ardi yang mendengar itu, juga mendadak mendapat serangan panik. Bayangannya untuk bisa kembali menikmati masa pengantin barunya dengan Aini, jelas akan gagal.
"Masa iya, pengantin baru tidur sendirian?" Batin Ardi panik.
"Iya, ya, Bunda?" Timpal Umar.
"Terus, Papa tidur sama siapa, dong?" Rengek Ardi tiba-tiba.
"Papa kan udah biasa tidur sendiri." Polos Kenzo.
"Kan kemarin Papa belum menikah, Ken. Sekarang Papa kan udah nikah sama bunda. Jadi, Papa tidurnya ditemenin bunda." Sahut Ardi dengan nada polos.
Kenzo terdiam sejenak. "Tapi Kenzo juga mau tidur bareng bunda, Pa."
"Lain kali aja, ya!" Pinta Ardi tanpa malu.
"Kalau gitu, kita tidur berempat aja. Di kamar Papa. Kan kasurnya lebih besar." Timpal Umar santai.
"Ide bagus itu, Mar." Sambut Kenzo bahagia.
"Iya kan, Bunda? Kita nanti malam tidur berempat aja di kamar papa. Eh, berarti kamar Bunda juga kan sekarang." Imbuh Umar tak kalah bahagia.
Aini melirik pada Ardi. Yang ternyata, wajahnya sudah mulai sedikit ditekuk karena tidak bisa membayangkan, bagaimana malam nanti akan ia lalui tanpa bermain dengan istri barunya. Untuk menikmati malam indah pengantin baru.
"Oke, Pa. Nanti malam Umar sama Kenzo tidur di kamar Papa sama bunda." Ucap Kenzo bahagia.
Ardi belum menjawab apapun. Ia masih berusaha mencari ide untuk menolak permintaan dua putranya itu. Yang jelas akan merusak malam indah pengantin baru.
Aini yang memahami ekspresi wajah Ardi, juga berusaha mencari ide untuk menolak dengan halus permintaan putranya. Tapi, tidak kunjung tiba ide itu.
Kenzo dan Umar pun menggandeng pasangan pengantin baru yang sedang kebingungan itu masuk ke dalam rumah. Mereka segera disambut oleh semua penghuni rumah.
Selepas maghrib, Ardi dan Aini mengantar Imron dan keluarga kecilnya ke stasiun. Mereka akan kembali ke Semarang malam ini dengan kereta api. Ardi sudah menawarkan tiket pesawat pada mereka, tapi ditolak. Dengan alasan, mereka belum pernah naik pesawat sebelumnya. Jadi mereka takut jika nantinya akan merepotkan seluruh penumpang pesawat jika ada yang terjadi.
Dan sampai saat ini pasangan pengantin baru ini, belum menemukan alasan untuk menolak dan membatalkan permintaan dua putra mereka
"Masa iya Yang, kita nanti tidur berempat? Kamu sudah janji padaku tadi pagi, kan? Kamu akan mengumpulkan tenaga untuk mengimbangiku. Kamu tidak lupa, kan?" Rengek Ardi saat diperjalanan pulang dari stasiun.
"Iya Mas, aku tahu. Tapi aku tidak punya alasan untuk menolak mereka." Jujur Aini sedih.
"Atau, kita nggak usah pulang aja? Kita nginap di hotel lagi malam ini. Atau, kita ke rumah baru papa dan mama?" Usul Ardi tanpa ragu.
Ide itu muncul begitu saja di kepala Ardi. Lalu, apakah Aini akan menyetujuinya, demi menepati janjinya pada Ardi? Atau, akan tetap memenuhi permintaan dua putranya?
__ADS_1