Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
(Masih) Pengantin Baru


__ADS_3

"Atau, kita nggak usah pulang aja? Kita nginap di hotel lagi malam ini. Atau, kita ke rumah baru papa dan mama?" Usul Ardi tanpa ragu.


"Kalau kita nggak pulang, Kenzo sama Umar pasti nyari, Mas. Dan, maksud Mas gimana? Rumah baru papa dan mama?" Sahut Aini bingung.


"Nanti kita bilang sama anak-anak, kita ikut ke Semarang." Jawab Ardi sekenanya.


"Mas ini ada-ada aja. Mereka mana percaya kalau itu alasannya, Mas."


"Terus gimana dong, Sayang? Masak pengantin baru tidurnya rame-rame?"


Aini melirik jam di tangannya dan menghela nafasnya perlahan. Ia tahu, bagaimana perasaan Ardi saat ini. Tapi, ia juga tidak mungkin mengabaikan dua putranya itu.


"Menepilah sebentar, Mas!" Pinta Aini lembut.


"Kenapa, Sayang?"


"Kita bicarakan perlahan. Jangan sambil mengemudi!"


Ardi mengangguk paham. Ia lalu menepikan mobilnya di depan sebuah ruko kecil yang sudah tutup. Aini lalu mengenggam dan mengusap satu tangan Ardi.


"Mereka putra kita, Mas." Ucap Aini selembut mungkin.


"Aku tahu, Sayang. Dan kita menyayangi mereka." Jawab Ardi mulai tenang.


"Ini resiko kita Mas, karena kita menikah setelah sama-sama gagal mempertahankan rumah tangga. Kita tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja, hanya demi keinginan kita menikmati masa pengantin baru kita."


Ardi terdiam. Ia mulai tahu kemana arah pembicaraan dan keputusan Aini. Karena sebenarnya, ia juga sependapat dengan Aini. Ia lalu tersenyum pada Aini.


"Aku memang tidak salah memperjuangkan dan menantimu selama ini." Kagum Ardi, yang kini gantian menggenggam dan mengusap tangan Aini.


Aini mengerutkan keningnya bingung. Tapi Ardi malah tersenyum manis.


"Tapi besok, kamu harus ikut denganku!" Pinta Ardi manja.


"Ikut kemana, Mas?"


"Bulan madu."


"Bulan madu? Lalu, Umar dan Kenzo bagaimana, Mas?" Cemas Aini.


"Mereka akan bersama mama dan papa selama kita bulan madu."


"Tapi Mas, apa tidak akan merepotkan mama dan papa?"


"Tidak akan, Sayang. Karena sebenarnya, mama yang sudah menyiapkan acara bulan madu kita besok."


"Mama?"


"Iya. Sehari sebelum aku memesan vila untuk kita berbulan madu, mama sudah memberikan bukti reservasi vilanya padaku. Dan mama bilang, itu untuk bulan madu kita."


"Mas nggak bohong, kan?"


"Apa aku terlihat sedang berbohong?"

__ADS_1


Aini menatap Ardi dengan seksama. Mencoba membaca raut wajahnya yang mungkin saja itu hanya rayuannya. Karena sungguh, Aini tidak merasa nyaman jika harus menitipkan Umar dan Kenzo pada Rama dan Niken, sementara ia dan Ardi pergi berbulan madu.


"Jika aku berbohong, kamu bisa menghukumku." Celetuk Ardi tiba-tiba.


"Hukuman?"


"Iya."


"Hukuman apa?"


"Cium aku, Sayang."


Aini tersenyum geli. "Itu bukan hukuman, Mas. Itu sih maunya kamu, Mas."


"Istriku pinter banget, sih!" Goda Ardi, sambil mencolek hidung Aini.


Aini tersenyum malu. "Udah, Mas! Ayo pulang!"


"Cium dulu dong!" Manja Ardi, dengan tangan yang masih memegangi tangan Aini.


"Kelihatan dari luar, Mas. Malu dilihat orang." Jawab Aini, sambil melihat ke luar mobil.


"Berarti kalau nggak ada orang lain yang lihat, nggak malu dong?" Goda Ardi semangat.


"Mas apaan, sih?"


Wajah Aini jelas langsung berubah sedikit merah karena tersipu. Apalagi, bayangan pergulatan dengan peluh kenikmatan bersama Ardi semalam, tiba-tiba saja muncul di benaknya.


"Ayo pulang, Mas!" Pinta Aini manja.


Entah sihir apa yang Aini berikan pada Ardi. Ardi yang tadinya kesal karena malam ini gagal menikmati masa pengantin barunya dengan Aini, sekarang bisa dengan santai dan begitu bahagia menerima keputusan Aini. Padahal, ia begitu menginginkan sang istri malam ini.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ardi dan Aini berbincang sambil sesekali bercanda. Mereka benar-benar menikmati waktu berdua mereka saat ini.


Pukul setengah sepuluh malam, keluarga kecil Ardi bersiap untuk beristirahat. Umar dan Kenzo nampak begitu bahagia menapaki anak tangga menuju kamar sang ayah, meski sudah mengantuk.


"Ayo, Pa! Aku udah ngantuk." Rajuk Kenzo.


"Iya, Pa. Aku juga udah ngantuk." Timpal Umar.


"Ya udah, ayo ke kamar papa duluan! Nanti papa biar nyusul kita ke kamar." Sahut Aini, yang sudah merangkul dua putranya.


"Ke kamar sama bunda dulu, ya! Papa nyusul bentar lagi." Jawab Ardi.


Aini, Umar dan Kenzo lalu menaiki tangga. Diiringi dengan tatapan bingung dari Rama dan Niken.


"Umar sama Kenzo mau tidur di kamar kalian?" Tanya Niken segera.


"Iya, Ma. Mereka tadinya minta tidur sama Aini aja, tapi, masa iya, aku tidur sendirian?" Pasrah Ardi.


Rama dan Niken jelas menertawai Ardi. "Sabar, Di! Besok, kamu sekap itu Aini di kamar, biar puas kalian menikmati masa pengantin baru!"


"Kalau itu udah pasti, Pa." Yakin Ardi.

__ADS_1


"Aini udah kamu kasih tahu?" Tanya Niken.


"Udah tadi, Ma."


"Kenzo sama Umar juga udah Mama kasih tahu tadi. Mereka ingin menyusul kalian saat akhir pekan nanti." Tutur Niken.


"Apa nggak kejauhan, Ma? Mama reservasi vilanya di Bali, kan?"


"Kalian kan di sana empat hari. Setelah itu, pulanglah ke Surabaya! Nanti Mama dan papa akan menemui kalian di sana, sama Kenzo dan Umar." Tulus Niken.


"Oh, oke, Ma." Jawab Ardi bahagia.


"Jaga Aini dan keluargamu dengan baik, Di!" Pinta Rama.


"Tentu, Pa. Ardi ingin, ini yang terakhir, dan bisa hingga ke akhirat, Pa."


"Aamiin. Papa dan mama juga berharap seperti itu." Jujur Rama.


Ada rasa haru yang menyeruak tanpa permisi, memenuhi rongga dada pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut itu. Mereka sungguh ingin, keluarga anak semata wayangnya bisa harmonis dan bahagia selalu.


Mengingat, Ardi pernah gagal dalam membina rumah tangga. Itu jelas menjadi momok tersendiri bagi Rama dan Niken. Hingga mereka tidak sembarangan memilih menantu.


Ardi lalu pergi ke kamarnya untuk menyusul keluarga kecilnya. Mereka benar-benar tidur bersama malam ini. Pasangan pengantin baru itu, mengapit dua putra mereka di kasur Ardi yang memang berukuran cukup besar.


Hingga, selepas tengah malam, Aini terbangun karena merasa ada yang berdiri di samping ranjang. Ia pun membuka mata, dan sedikit terkejut.


"Mas Ardi?"


Aini segera menoleh ke arah tepi ranjang dimana Ardi tadi tertidur. Dan ternyata, memang tidak ada sang suami di sana. Ia lalu kembali menoleh pada Ardi yang sekarang membungkuk ke arahnya, dengan jari telunjuk yang menempel ke hidungnya.


"Ayo, Sayang!" Lirih Ardi.


"Ayo apa, Mas?" Sahut Aini juga tak kalah lirih.


"Ayo keluar sebentar!" Ajak Ardi, seraya menarik tangan Aini.


"Kemana? Ini masih malam, Mas."


"Satu ronde saja, Sayang!"


Aini segera mengerutkan keningnya. Ia pun mulai paham dengan ajakan Ardi.


"Tapi, Umar sama Kenzo gimana?"


"Makanya, ayo sebentar saja! Mumpung mereka baru terlelap. Mereka jarang bangun jam segini." Ajak Ardi makin tak sabar.


Aini tersenyum kecil. Ia tak mengira, Ardi sangat memahami dua putra mereka. Hingga mau menahan gejolak rasa dalam tubuhnya, agar tidak mengganggu kedua putranya beristirahat.


Ardi belum terlelap sejak tadi. Gejolak hasrat dalam tubuhnya sebagai laki-laki normal, yang sudah lama berpuasa dari kegiatan penuh kenikmatan itu, membuatnya kesulitan untuk memejamkan mata. Apalagi, melihat wajah sang istri yang hanya terhalang oleh dua putranya, membuat otaknya menggila mengingat pergulatannya dengan sang istri semalam.


Aini segera bangun dari posisinya. Ia pun dengan sangat perlahan turun dari ranjang, agar dua putranya tidak terbangun. Pasangan pengantin baru itu segera keluar dari kamar dan pindah ke kamar kosong yang ada di sebelah kamar Umar.


Memang, kebahagiaan itu kita yang menciptakan. Begitu juga dengan pasangan pengantin baru itu, yang tetap berusaha memberikan kebahagiaan pada diri mereka sendiri, tanpa mengabaikan putra mereka yang juga jelas membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.

__ADS_1


Ardi dan Aini menikmati masa pengantin baru mereka dengan caranya sendiri. Mereka sadar, mereka tidak bisa egois terhadap dua putra mereka hanya demi yang namanya masa indah pengantin baru.


__ADS_2