Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Menyelesaikan


__ADS_3

Semilir angin yang berhembus pelan, menambah sejuknya malam yang baru saja menyapa. Menemani setiap raga yang disibukkan dengan beragam aktivitasnya, meski sang rembulan sudah mulai menampakkan sinarnya.


Ardi baru saja keluar dari kolam renang. Tubuh kekarnya masih basah kuyub saat kumandang adzan isya sampai ke telinganya. Ia duduk santai di tepi kolam sambil mendengarkan kumandang adzan.


Ardi sedang berada di rumah lamanya. Selepas dari lapas tadi, ia mengendarai mobilnya menuju rumah lamanya. Dan saat sore tadi, ia meminta penjaga rumahnya untuk mengisi air kolam renangnya, karena ia ingin melepas penat hati dan pikirannya.


Dan di sinilah Ardi sekarang. Di tepi kolam renang. Ia berenang sejak selesai sholat maghrib tadi. Ia bahkan tidak begitu menanggapi Dika tadi, saat mengantarkan ponselnya.


"Astaghfirullah! Kenapa aku bisa bersikap seperti itu pada Aini?" Monolog Ardi, saat melihat riwayat panggilan di ponselnya.


Dan benar, ada beberapa panggilan telepon dari Aini siang tadi. Tapi karena Ardi pergi dengan terburu-buru dari kantor tadi, ponselnya tertinggal di kantor. Dan itu membuatnya tidak tahu, jika Aini menghubunginya berkali-kali.


"Aini sudah berusaha menghubungiku tadi. Ia pasti ingin mengatakan hal itu tadi. Astaghfirullah."


Ardi memang baru membuka ponselnya saat ini. Karena memang, Dika tadi mengantar ponsel Ardi setelah ia pulang dari kantor. Ia tidak tahu, jika ponsel Ardi tertinggal di kantor. Dan saat ia tahu, ia segera menanyakan pada pengawalnya dimana Ardi berada untuk mengantarkan ponsel itu pada pemiliknya.


"Apa yang dilakukannya sudah benar. Ia tidak ingin masalah rumah tangga kami diketahui orang lain. Kenapa aku bisa berpikiran sangat jauh?"


"Dia saja masih mau menerimaku setelah apa yang aku lakukan padanya dulu. Kenapa aku berpikir bahwa dia masih mengharapkan mantan suaminya? Bodoh kamu, Di! Bodoh!"


Baru saja Ardi ingin menghubungi Aini, tapi tiba-tiba, ponselnya malah mati karena kehabisan daya baterai.


"Argh! Kenapa pake mati segala sih?" Kesal Ardi.


Ardi segera beranjak dari tepi kolam. Ia segera masuk ke dalam rumah dan mengeringkan tubuhnya, lalu berganti pakaian. Dan tanpa pikir panjang, ia lalu mengendarai mobilnya.


Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera bisa sampai tempat tujuannya. Sampai-sampai, ia lupa untuk mengisi daya baterai ponselnya. Ponselnya hanya ia letakkan begitu saja di saku celananya. Ia lebih memilih fokus pada jalanan, agar segera sampai ke tempat tujuan.


Setelah mengebut, Ardi sudah sampai di rumah.


"Aini!"


Teriakan Ardi menggema ke seluruh penjuru rumah. Niken yang baru saja sampai di lantai dua untuk menghampiri Rama dan dua cucunya, segera melongok ke bawah.


"Lhoh? Kamu kok di sini, Di?" Tanya Niken bingung, sambil kembali menuruni anak tangga.


"Aini mana, Ma?" Tanya Ardi tergesa-gesa.


"Aini nyusul kamu ke rumah lama, dianter Reno."


"Apa?"


"Tadi ponselmu tidak bisa dihubungi. Jadi, Mama telepon Dika buat nanyain kamu. Aini bingung di rumah sejak tadi nungguin kamu."


"Argh, sial!" Geram Ardi.


"Kamu juga kenapa nggak bisa dihubungi dari tadi?" Kesal Niken.


Tapi, bukannya menjawab, Ardi malah berbalik badan dan pergi keluar lagi.


"Eh, mau kemana kamu? Bukannya jawab Mama, malah pergi."


Ardi tak menjawab Niken sedikit pun. Ia menuju garasi rumahnya untuk mengambil tunggangannya yang lama tidak ia pakai. Sebuah motor sport, yang dulu pernah menemaninya kemanapun.


Niken mengikuti langkah Ardi. Ia sedikit terkejut, saat Ardi menggeber motor lamanya, yang ternyata masih berfungsi dengan baik.


"Hati-hati!" Pesan Niken singkat.


"Iya, Ma." Jawab Ardi, sebelum ia melajukan motornya.

__ADS_1


Ardi lalu melajukan motornya menuju tempat yang sudah sangat pasti.


"Semoga semua baik-baik saja!" Gumam Niken, sembari menatap Ardi pergi dengan motornya.


"Oh iya, aku sebaiknya mengabari Aini." Monolog Niken, seraya memainkan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Ni." Ucap Niken, saat Aini menjawab teleponnya.


"Wa'alaikumussalam, Ma. Ada apa, Ma?"


"Ardi baru saja pulang. Tapi, dia lalu pergi lagi. Dia mungkin menyusulmu ke sana."


"Mas Ardi sudah pulang, Ma?"


"Iya. Tapi, dia langsung pergi lagi dengan motornya. Aku yakin, dia kembali ke rumah lama. Apa kamu sudah sampai?"


"Belum, Ma."


"Apa masih jauh, Mas Reno?" Sambung Aini di seberang telepon.


"Tidak, Bu. Sebentar lagi sampai." Jawab Reno.


"Ya sudah, kamu tunggu saja di sana jika Ardi belum sampai! Aku yakin, Ardi menyusulmu ke sana." Pinta Niken.


"Iya, Ma."


"Selesaikan salah paham kalian!"


"Tentu, Ma. Terima kasih, Ma."


"Iya. Ya sudah, Mama tutup teleponnya. Wassalamu'alaikum."


Niken menghela nafas pasrah. Ia masih belum tahu pasti, bagaimana perasaan hati Ardi saat ini. Karena Ardi tadi masih terlihat kesal. Dan Niken tidak tahu, apa alasan kekesalan Ardi.


Ardi memilih memakai motornya agar ia segera sampai kembali di rumah lamanya. Karena jelas, jika memakai mobil, akan sangat sulit membelah keramaian lalu lintas Kota Surabaya.


Tak butuh waktu lama bagi Ardi untuk sampai ke rumah lamanya lagi, dengan motor kesayangannya. Ia langsung memarkirkan motornya di halaman rumah.


Reno dan Aini juga belum lama tiba. Reno lalu mengantar Aini masuk ke dalam rumah dan memperkenalkannya pada Nanang.


Aini sejenak meminta Reno mengajaknya melihat-lihat rumah itu. Rumah yang terlihat cukup modern, meski itu adalah rumah peninggalan kakeknya Ardi. Itu pemikiran Aini.


Reno lalu keluar rumah dan meninggalkan Aini yang berjalan ke arah halaman belakang.


"Kembalilah dengan motorku! Minta pak Nanang pulang juga malam ini!" Pinta Ardi, saat ia berpapasan dengan Reno di gerbang.


Ardi jelas tak ingin berlama-lama di sana. Ia ingin segera menyelesaikan masalah kecilnya dengan Aini dan segera pulang ke rumah. Berkumpul lagi dengan keluarganya. Jadi, ia meminta hal itu pada Reno.


"Baik, Pak." Patuh Reno.


"Dimana Aini?"


"Beliau sepertinya di halaman belakang."


Tanpa berucap lagi, Ardi segera masuk ke rumah. Ia bahkan sedikit berlari agar segera sampai dan bisa bertemu dengan Aini.


Reno pun memenuhi permintaan Ardi. Ia meminta Nanang untuk pulang. Karena biasanya, Nanang akan bermalam di rumah itu, jika sang empunya rumah atau orang suruhan Ardi berkunjung. Jaga-jaga, jika mereka membutuhkan sesuatu. Karena hanya Nanang yang menjaga rumah itu. Sri, hanya sesekali berkunjung untuk membersihkan rumah dan merawat beberapa perabotan.


Di halaman belakang, Aini mendengar suara langkah kaki yang mendekat padanya. Ia mengira itu adalah Reno. Jadi, ia tetap asik memandangi pantulan cahaya bulan yang ada di kolam renang.

__ADS_1


"Sayang!"


Panggilan itu, menelusup sempurna ke indera pendengaran Aini. Ia segera membalikkan badan, karena memang, posisinya berdiri membelakangi pintu.


"Mas Ardi?"


Aini sedikit terkejut, karena ternyata Ardi yang datang. Ia tak mendengar suara mobil atau motor yang datang sedari tadi.


Di bawah cahaya lampu halaman belakang yang tidak begitu terang, Aini tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Ardi. Tapi satu yang pasti, ia bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Ardi sekarang.


Baru saja Aini mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ardi, tapi langkah kaki Ardi lebih cepat. Jadi, Ardi sampai lebih dulu ke Aini. Dan ia bahkan langsung memeluk Aini.


"Maafkan aku, Sayang! Aku berburuk sangka padamu." Sesal Ardi dalam pelukannya.


Aini seketika mematung. Ia terkejut karena Ardi tiba-tiba memeluknya dan langsung minta maaf padanya. Ia yang tadi sudah bersiap dengan banyak penjelasan dan permintaan maaf, seketika kehabisan kata.


"Aku cemburu dan takut kehilanganmu lagi, Sayang. Maafkan sikap kekanak-kanakanku!" Imbuh Ardi.


Aini menghela nafas lega. Hatinya benar-benar lega, mendengar semua ucapan Ardi. Ia bahkan sangat lega, karena berarti Ardi sudah tidak marah lagi padanya. Ia pun segera membalas pelukan Ardi yang selalu bisa menenangkannya.


"Aku yang harusnya minta maaf, Mas. Aku mengingkari ucapanku." Jawab Aini.


"Tidak, Sayang. Kalau saja aku berpikir lebih luas dan tidak mudah terbakar cemburu, ini tidak akan terjadi."


Aini tak menjawab apapun. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada Ardi.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu menghubungiku berkali-kali tadi!" Imbuh Ardi.


"Iya. Kenapa Mas tidak menjawab telepon dan membalas pesanku sama sekali? Apa Mas sangat marah padaku?"


"Tidak, Sayang. Aku tadi terlalu kalut. Aku pergi dari kantor terburu-buru, hingga melupakan ponselku di meja kantor. Dika tadi yang mengantarnya kemari setelah pulang kerja. Dan sekarang, ponselku kehabisan daya baterai." Aku Ardi.


Aini mengendurkan pelukannya. Ia mendongakkan kepalanya, dan menatap wajah sang suami dengan seksama. Ia berusaha membaca raut wajah Ardi yang terlihat sedikit ketakutan saat ini.


Aini lalu tersenyum. Ia yakin, suaminya sudah tidak marah lagi padanya.


"Maaf, Sayang!" Tulus Ardi.


"Aku juga minta maaf, Mas. Tidak segera mengabarimu jika aku bertemu mama Heni dan papa Arif tadi. Aku terlalu bahagia bertemu mereka tadi." Aku Aini.


Ardi mengangguk paham. "Kita jadikan ini pelajaran ya, Sayang! Agar kelak, tidak ada lagi kejadian seperti ini."


"Iya, Mas."


Aini jelas tersenyum haru melihat sikap suaminya yang bisa kembali lembut padanya. Karena itu berarti, salah paham diantara mereka sudah teratasi dengan baik.


Cup. Ardi mendaratkan kecupan hangat di bibir Aini.


"Kok cuma dikecup?" Rengek manja Aini.


Ardi jelas terkejut mendengar ucapan Aini. Setahu dirinya, Aini tidak pernah bersikap seperti itu selama ini. Tapi, ini lain. Aini bahkan memasang wajah manja saat ini.


"Emang maunya diapain?" Goda Ardi.


"Aku mau ini Mas,,"


Aini segera mencium Ardi dengan begitu lembut. Meminta dan memaksa sang suami untuk menyambutnya. Dan Ardi jelas menyambutnya.


Mereka akhirnya hanyut dalam ciuman yang begitu memabukkan. Penuh rasa dan hasrat yang menggebu dalam hati. Aini bahkan mengalungkan lengannya ke leher Ardi dan menarik Ardi lebih dalam. Tiba-tiba,,

__ADS_1


"Maaasss,,," Teriak Aini, dengan tangan yang masih mengalung di leher Ardi.


__ADS_2