Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kelelahan


__ADS_3

Pagi yang indah menyapa. Semburat cahaya kuning mentari pagi, menghangatkan setiap hati yang penuh dengan asa untuk menyambut hari yang baru.


Kabar kehamilan Aini jelas langsung sampai ke telinga orang-orang terdekat Aini. Termasuk Ratna dan Imron yang berada di Semarang. Mereka jelas langsung memberondongi Aini dengan nasehat yang begitu panjang. Mengingat, Aini pernah keguguran dulu.


Tapi dalam hati Imron dan Ratna yang jauh di Semarang itu yakin, Ardi akan menjaga istri mungilnya itu dengan sangat baik. Termasuk menjaga calon anaknya.


Dan pagi ini, dua minggu sudah kabar kehamilan Aini mulai mengudara. Hari ini juga, Aini menerima tamu yang tidak ia duga.


"Assalamu'alaikum." Sapa seorang wanita yang baru saja memasuki rumah Ardi.


Aini yang tadi mendengar ada yang datang, sedang berjalan perlahan ke arah pintu. Ia cukup penasaran dengan tamu yang datang pagi ini. Karena seingatnya, ia tidak sedang menunggu siapapun. Dan kalaupun ada tamu dari penguni rumah yang akan berkunjung, biasanya mereka akan mengatakannya lebih dulu. Apalagi, hari masih cukup pagi. Ardi saja belum berangkat ke kantor.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Aini begitu saja sambil berjalan dari arah lantai dua rumahnya.


Ardi pun mengikuti Aini berjalan di belakangnya. Ia juga cukup penasaran dengan tamu yang datang.


"Erna?" Ucap Aini tak percaya, saat melihat seorang wanita dengan perut buncit tersenyum padanya.


Wanita itu tersenyum makin lebar, saat melihat Aini berjalan ke arahnya bersama dengan Ardi. Dia Erna. Dia datang dengan Angga.


Aini mempercepat langkahnya, agar bisa segera memeluk Erna. Hatinya beberapa hari ini terasa begitu merindukan Erna, wanita yang sudah menemaninya selama satu tahun saat ia di Banyuwangi.


Karena memang, sebulan belakangan, Erna sedang pulang ke panti asuhan menemui pemilik panti yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya. Jadi, Aini merasa sangat rindu padanya.


"Pelan-pelan, Sayang!" Tegur Ardi, saat melihat Aini berjalan cepat.


"Iya, Mbak. Pelan-pelan jalannya!" Timpal Erna cemas.


Erna pun akhirnya juga berjalan ke arah Aini. Begitu juga Ardi, yang mempercepat langkahnya. Dan,


"Astaghfirullah." Seru Aini terkejut, dengan tubuh yang terhuyung ke depan.


Ardi dengan segera meraih tubuh Aini. Erna yang masih berjarak tiga langkah dengan Aini, pun refleks mengulurkan tangannya untuk menangkap tubuh Aini yang hampir saja jatuh. Angga yang juga melihat kejadian itu, juga refleks untuk membantu Aini dan juga tetap tidak lupa menjaga istrinya.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Cemas Ardi, setelah memegangi Aini dengan yakin.


Aini sejenak diam. Ia juga terkejut karena nyaris tersungkur baru saja. Jantungnya mendadak berdetak dengan sangat cepat.


Ardi membantu Aini berdiri dengan tegak. "Kamu tidak apa-apa, kan?"


Ardi mengamati Aini dengan seksama. Aini masih diam.


"Mbak Aini nggak papa?" Cemas Erna.


"Iya, Buk. Bu Aini tidak apa-apa, bukan?" Timpal Angga tak kalah cemas.


Karena tidak mendapat respon, Ardi segera membopong Aini dan membawanya ke sofa. Ia mendudukkan Aini di sana. Angga dan Erna pun mengikuti Ardi.


"Sayang! Kamu nggak papa, kan?" Tanya Ardi lagi, setelah ia berlutut di depan Aini.


Aini mengangguk pelan. "Maaf, Mas. Aku tidak hati-hati tadi. Rok bagian depanku terinjak tadi."


Ardi, Angga dan Erna pun lega, karena Aini akhirnya menjawab pertanyaan mereka.


"Makanya Mbak, nurut sama pak Ardi! Kan tadi udah dibilangin di suruh pelan-pelan." Celetuk Erna santai.


Ardi dan Aini meloleh pada Erna.


"Iya, iya." Sahut Aini lebih tenang.


Erna pun mengusap lengan Aini dengan lembut. Ia lega, Aini tadi tidak terjatuh dan sudah lebih baik sekarang.


"Maaf ya, Mas. Aku terlalu senang melihat Erna tadi, jadi aku tidak mendengarkanmu." Jujur Aini.


"Yang penting, kalian tidak apa-apa. Oke? Perutmu tidak sakit, kan?"


Aini pun tersenyum. "Alhamdulillah enggak, Mas."


"Alhamdulillah." Ucap Ardi, Angga dan Erna.


"Tapi, bener juga yang dibilang Erna tadi." Timpal Ardi tiba-tiba.


"Yang mana, Mas?" Bingung Aini.


"Kalau dibilangin sama suami yang nurut, Mbak." Santai Erna.


Ardi mengangguk untuk mengiyakan. Aini malah tersenyum.


"Iya, iya."


Aini lalu tiba-tiba memeluk Erna. "Aku kangen sama kamu, Na."


Erna pun membalas pelukan Aini. "Erna juga, Mbak."


Ardi pun semakin lega melihat hal itu. Ia lalu membiarkan Aini dan Erna berpelukan melepas rindu. Padahal, baru juga sebulan nggak ketemu.


"Makasih, ya." Tulus Ardi seraya berdiri, pada Angga yang duduk di belakang Erna.


"Jangan sungkan, Pak." Jawab Angga yakin.


Sebenarnya, Ardi yang meminta Angga membawa Erna ke rumah. Karena beberapa hari yang lalu, Aini mengatakan pada Ardi, jika ia merasa rindu dengan Erna. Tapi ia juga tahu, jika Erna sedang berada di Surabaya.


Jadi, Ardi pun menghubungi Angga, dan meminta Angga untuk mengantar Erna ke rumahnya, jika Erna sudah pulang dari Surabaya. Dan Angga menyanggupi hal itu.


Dan hari inilah Erna datang ke rumah Ardi, setelah dua hari yang lalu tiba dari Surabaya. Dan itu tidak diketahui Ardi. Karena Angga tidak dalam masa libur beberapa hari ini.


"Kamu di sini dulu saja, Na! Aini sangat rindu padamu." Pinta Ardi.


"Boleh, Mas?" Tanya Erna pada sang suami.


"Iya." Jawab Angga sambil mengangguk.


"Kalau nggak boleh, aku yang turun tangan." Sahut Ardi tiba-tiba.


Aini, Erna dan Angga segera menatap Ardi.


"Maass!" Tegur Aini.


"Aku bercanda, Sayang." Yakin Ardi.

__ADS_1


Aini pun tersenyum.


"Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu, ya. Papa dan mama sedang ke rumah baru untuk mengecek keadaannya. Mereka tidak akan lama. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku! Reno juga berjaga di depan." Pesan Ardi.


Aini mengangguk yakin.


"Kalau mau jalan-jalan, minta Reno untuk mengantar kalian! Tapi ingat, kabari aku! Dan jangan kelelahan!" Pesan Ardi lagi.


Aini kembali mengangguk. Ia pun segera menyalami tangan Ardi dan mencium punggung tangan itu dengan cinta. Tak lupa, Ardi pun mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Aini.


Dan hal itu juga yang dilakukan Angga dan Erna. Angga pun berpamitan pada Erna. Ia akan mengantar Ardi lebih dulu, sebelum melakukan tugasnya di kantor rahasianya.


Aini segera mengobrol banyak dengan Erna. Aini bahkan mengajak Erna memasak kue. Karena memang, saat di Banyuwangi dulu, mereka sering membuat kue bersama.


"Mbak Aini nggak papa?" Cemas Erna, karena melihat Aini seperti sedang kelelahan.


"Rasanya agak capek, Na. Bentar ya, aku duduk dulu!" Jujur Aini.


"Iya, Mbak."


Erna segera mengambilkan minum untuk Aini. "Mungkin karena Mbak sedang hamil, jadi cepet lelah."


"Mungkin, Na. Tapi, waktu aku hamil Umar dulu, nggak gini banget, Na?"


"Kondisi tubuh kan nggak selalu sama, Mbak."


"Iya mungkin, Na."


Aini memang mendadak merasa sangat kelelahan. Padahal, ia dan Erna hanya mengobrol saja sejak tadi. Dan bahkan, adonan kue yang sedang mereka buat saja belum jadi. Tapi tubuh Aini suda merasa sangat lelah.


Aini lalu berdiri perlahan, setelah mengatur nafasnya yang sedikit tidak beraturan karena kelelahan. Aini pun mulai melangkahkan kakinya pelan-pelan.


"Mbak mau kemana?" Cemas Erna saat melihat kondisi Aini.


"Mau,, telepon mas,,"


BRUK. Aini mendadak pingsan begitu saja. Erna yang tadi ikut duduk di kursi dekat Aini, tidak bisa refleks meraih tubuh Aini saat mendadak terjatuh.


"Mbak! Astaga!"


Erna segera berdiri dan menghampiri Aini.


"Bik! Bibik! Tolong mbak Aini, Bik!" Teriak Erna sekencang-kencangnya.


"Mas Reno! Mas!"


Inah yang sedang menyapu halaman rumah, jelas segera berlari masuk ke rumah. Reno yang juga mendengar teriakan Erna, segera masuk bersama Inah.


"Astaga! Bu Aini?" Panik Reno.


"Bawa ke sofa, Mas!" Pinta Erna cepat.


Reno dengan segera membopong tubuh Aini. Erna dan Inah pun mengikuti langkah Reno.


"Bik, ada minyak kayu putih?" Tanya Erna segera.


Inah segera berlari ke kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih.


"Bu Aini kenapa tadi, Na? Kenapa bisa pingsan?" Tanya Reno, sambil sedikit menepuk-nepuk pipi Aini.


"Nggak tahu, Mas. Mbak Aini cuma bilang, dia lelah. Tadi udah duduk dan istirahat bentar. Trus kayaknya mau ambil ponsel di meja ini, mau telepon siapa nggak tahu. Belum selesai bicara, mbak Aini tiba-tiba pingsan." Jujur Erna.


Inah pun datang dengan botol minyak kayu putihnya. Reno segera membuka dan mendekatkan botol itu ke hidung Aini.


"Kabari pak Ardi, Na!" Singkat Reno.


"Iya, Mas."


Erna segera menghubungi Ardi dan mengabari bahwa Aini pingsan di rumah. Ardi pun tanpa berpikir panjang, segera pulang dengan mobil Dika. Tak lupa, ia meminta Gilang untuk datang ke rumah memeriksa Aini.


Reno, Erna dan Inah masih terus berusaha menyadarkan Aini. Karena tidak kunjung sadar, Reno akhirnya menghubungi Gilang untuk menanyakan bagaimana cara membuat seseorang segera sadar saat pingsan.


Tepat pukul sepuluh, Ardi sudah kembali sampai di rumah. Bertepatan dengan itu, Gilang juga memasuki gerbang rumah Ardi dengan motornya. Mereka berdua segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Kamu kenapa, Sayang?" Cemas Ardi, seraya berlari menghampiri Aini yang masih tiduran di sofa.


Aini tersenyum melihat Ardi.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Ardi lagi.


"Enggak, Mas." Jawab Aini lirih.


"Kamu yakin?"


Aini hanya mengangguk. Badannya masih terasa lelah, jadi ia enggan untuk banyak bicara.


"Biar aku periksa dulu!" Sela Gilang tanpa ragu.


Ardi segera memberikan ruang pada Gilang untuk memeriksa Aini. Aini yang masih merasa lemas, hanya pasrah saat Gilang memeriksanya.


"Gimana?" Tanya Ardi cemas.


"Kamu lagi nggak enak badan?" Tanya Gilang pada Aini.


"Enggak kok, Mas." Jujur Aini.


"Kamu habis ngapain? Kenapa bisa sampai pingsan?"


"Aku cuma ngobrol tadi sama Erna. Mau bikin kue aja, belum jadi adonannya."


"Oke." Santai Gilang.


"Apa ada masalah, Mas?"


"Enggak. Cuma memastikan aja."


"Kamu yakin, Aini nggak papa?" Cemas Ardi.


"Kamu meragukanku?" Sindir Gilang.

__ADS_1


"Lha kenapa Aini bisa pingsan?"


Gilang mendengus kesal. "Periksa sendiri kalau nggak percaya!"


Gilang lalu berlalu ke arah ruang makan Ardi. Ia mengambil air minum sendiri seperti biasanya.


Ardi lalu duduk di samping Aini yang masih berbaring. "Kamu kenapa, Sayang?"


"Maaf, Mas! Tapi aku juga nggak tahu kenapa. Aku tadi udah istirahat waktu ngerasa capek. Tanya aja sama Erna! Iya kan, Na?" Manja Aini.


"Iya, Mbak."


"Kamu pusing?"


"Enggak, Mas. Cuma tiba-tiba capek aja."


"Ya sudah, aku bicara sama Gilang sebentar, ya!"


Aini mengangguk yakin. Ardi pun segera berdiri dan menghampiri Gilang, yang sudah berpindah tempat ke taman belakang, sembari membawa segelas air putih dan sepotong kue yang disajikan Inah. Erna pun segera menemani Aini lagi.


"Aini kenapa?" Tanya Ardi tanpa basa-basi.


"Aku rasa, ini karena efek samping dari pendonoran ginjalnya dulu." Jawab Gilang cemas.


"Itu sudah lama sekali. Dan dia belum pernah seperti ini. Dia tidak melakukan hal berat, Lang."


"Jangan lupa Di, Aini sedang hamil. Itu juga bisa mempengaruhi kondisinya."


Ardi terdiam.


"Coba tanyakan pada kakak Aini, apakah dulu Aini pernah mengalami hal seperti ini saat hamil Umar! Kalau pun iya, berarti memang itu salah satu penyebabnya. Dan kalaupun tidak, kamu harus memeriksakan kondisi tubuh Aini secara menyeluruh untuk memastikannya."


"Apa itu akan berpengaruh pada janinnya?"


"Kalau itu karena efek pendonoran ginjal, itu tidak akan begitu berpengaruh. Itu hanya akan membuat Aini mudah kelelahan tanpa sebab yang jelas seperti tadi. Tapi jika karena hal lain, aku belum bisa memastikannya."


Ardi diam kembali.


"Jangan katakan hal ini pada Aini! Itu akan membuatnya memikirkan hal ini dengan serius. Dan itu jelas akan mempengaruhi kondisinya."


"Kamu benar. Tapi, bagaimana aku mengajaknya memeriksakan diri?"


"Tanyakan pada kakaknya dulu! Semoga memang karena pendonoran itu saja alasannya."


"Oke."


Gilang menghembuskan nafas lega.


"Makasih."


Gilang hanya mengangguk. "Aku ke rumah sakit dulu!"


"Oke."


"Kabari aku jawaban dari kakaknya Aini!"


"Iya. Nanti aku kabari."


Gilang lalu berdiri dan kembali masuk ke rumah. Ia menghampiri Aini dan Erna yang masih mengobrol.


"Aku ke rumah sakit dulu ya, Ni. Jangan kelelahan lagi! Oke?" Santai Gilang.


"Iya, Mas Gilang. Maaf merepotkanmu!" Tulus Aini, seraya berusaha bangun dari posisinya.


"Tenang saja! Ardi masih kuat membayarku jadi dokter pribadinya. Jadi, kamu tak perlu berpikir kalau kamu merepotkanku!" Hibur Gilang.


Ardi melirik Gilang dengan kesal. Sedang Aini malah tersenyum lebar mendengar jawaban Gilang.


"Jangan kelelahan, ya! Kalau Ardi bikin kamu kelelahan, bahkan di atas ranjang, lapor ke aku! Biar aku kasih pelajaran dia." Santai Gilang.


"Mas Gilang ada-ada aja." Sahut Aini malu-malu.


Ardi masih melirik Gilang dengan kesal.


"Udah, ya! Ardi udah ngelirik terus dari tadi. Assalamu'alaikum." Pamit Gilang.


"Iya, Mas. Wa'alaikumussalam." Jawab Aini cekikikan.


Gilang lalu segera meluncur meninggalkan tiga orang itu. Ia harus segera ke rumah sakit untuk memulai pekerjaannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ardi cemas, saat Aini berdiri.


"Ngelanjutin bikin kue, Mas. Sayang adonannya." Jujur Aini.


"Nggak ada bikin kue lagi hari ini. Kamu harus istirahat! Oke?" Cegah Ardi.


"Tapi Mas, aku kan bikin kue cuma di dapur. Lagian sama Erna juga."


"Nggak boleh! Kamu ingin buat kue apa? Kita beli aja!"


"Tapi aku ingin buat sendiri, Mas."


"Kamu lupa pesan Gilang barusan? Kamu nggak boleh kelelahan, Sayang."


"Tapi Mas,,"


"Bener yang dibilang pak Ardi, Mbak. Mbak Aini isitirahat dulu! Jangan kelelahan, seperti yang dibilang dokter Gilang tadi." Timpal Erna.


"Tapi Na,,"


"Mbak lupa kejadian waktu aku dateng tadi pagi? Mbak nggak nurut sama pak Ardi, trus hampir jatuh, kan?"


Aini menatap Erna dan Ardi bergantian. Posisinya kini sedang kalah telak jika berdebat melawan suami dan teman dekatnya itu. Ia pun akhirnya mengalah. Dan hal itu membuat Ardi dan Erna lega.


Erna akhirnya berpamitan pada Ardi dan Aini untuk pulang. Dan membiarkan Aini untuk beristirahat. Ardi lalu meminta Reno mengantar Erna pulang lebih dulu. Dan ia menemani Aini di rumah. Memanjakan istrinya itu agar tidak kelelahan sedikitpun.


Ardi masih memiliki PR yang harus ia rahasiakan dari Aini. Dan itu harus ia lakukan dengan sangat hati-hati. Agar kondisi Aini tetap stabil.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja." Batin Ardi berkali-kali, setiap kali ia teringat ucapan Gilang.

__ADS_1


__ADS_2