
Rasa tanggung jawab. Harus dimiliki oleh setiap orang. Sebagai sebuah hal yang menjadi pelengkap dalam kehidupan. Agar kehidupan itu, menjadi lebih baik dalam setiap perjalanannya.
Gilang baru saja tiba. Ia langsung menuju kamar Ardi. Ia terhubung dengan Ardi melalui telepon sejak tadi. Ia harus memantau apa yang terjadi pada Aini.
"Gimana kondisinya?" Tanya Gilang saat memasuki kamar Ardi.
Ardi diam tak menjawab. Ia terduduk lemah di samping tubuh Aini yang ia selimuti dengan dua selimut tebalnya. Suhu di kamar Ardi pun begitu hangat. Tapi mata Aini masih tetap terpejam, dengan wajah yang masih begitu pucat.
"Sudah kamu ganti bajunya, kan?" Tanya Gilang khawatir.
"Sudah."
"Cantik juga Aini." Batin Gilang, saat melihat dengan seksama wajah Aini yang belum sadarkan diri.
Gilang segera menyiapkan peralatannya. Ia segera memeriksa kondisi Aini. Dimulai dengan menyentuh kulit wajahnya dan bola matanya.
"Jangan dibuka!" Cegah Ardi, saat Gilang ingin membuka selimut Aini untuk memeriksanya.
"Kamu nggak usah aneh-aneh! Aini sedang dalam bahaya." Bentak Gilang tanpa ragu.
Ardi terdiam. Ia akhirnya membiarkan Gilang melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Gilang pun mulai membuka bagian atas selimut yang Aini kenakan. Gilang sedikit terkejut, karena Aini mengenakan baju Ardi. Dan ada dua bagian kecil yang sedikit menonjol dari dalam baju yang Aini kenakan.
Gilang sejenak menoleh pada Ardi, dengan tatapan penuh tanda tanya. Tapi tangannya, sibuk menyiapkan alatnya untuk memeriksa kondisi Aini.
"Siapa yang ganti baju Aini?" Tanya Gilang tanpa basa-basi.
"Nggak usah banyak tanya! Cepat periksa Aini!" Bentak Ardi.
"Kamu nggak apa-apain dia, kan?" Tuduh Gilang santai.
"Maksudmu?" Tanya Ardi sok polos.
"Nggak usah belagak polos! Jangan kira aku tak tahu! Kamu ini, cassanova kelas teri, yang mudah tergoda dengan hal yang sedikit sexy. Apalagi, kamu udah puasa beberapa bulan, kan?" Cibir Gilang santai
"Sialan kamu!" Kesal Ardi.
"Udah, cepetan ngaku! Kalau enggak, aku visum Aini besok." Ancam Gilang.
"Visum aja! Aku bakalan cabut ijin praktek doktermu." Balas Ardi santai.
Gilang mendengus kesal. Ia lalu dengan begitu fokus memberikan pertolongan pada Aini setelah memeriksa semua kondisi vital Aini. Gilang bahkan harus memasangkan infus pada Aini agar kondisinya lekas membaik dan lebih stabil.
Ardi memilih diam, karena tak ingin mengganggu sahabatnya itu melakukan tugasnya. Ia juga ingin, agar wanitanya bisa segera mendapat pertolongan dan segera sadar.
Ardi duduk di sofanya. Mengingat hal mendebarkan yang tadi ia lakukan.
Flashback On
"Kenapa kamu harus bangun sekarang?" Gumam Ardi sambil menatap bagian atas celananya, yang mulai menonjol.
Ardi yang seorang duda, jelas sudah lama berpuasa dengan hal yang membuat setiap insan bisa menikmati indahnya surga dunia. Ia pun menjadi sedikit sensitif dengan hal-hal kecil yang mungkin bisa membangkitkan hasratnya.
Ardi mengatur nafasnya yang perlahan-lahan mulai memburu. Suhu di kamarnya pun terasa lebih panas secara mendadak. Meski, memang tadi sempat ia naikkan suhu penghangat ruangannya.
Ardi membulatkan hatinya. Ia harus menolong Aini. Ardi menutupi tubuh Aini dengan selimut. Ia pun mulai menelusupkan tangannya ke bawah selimut dan mulai meraih gamis Aini.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Ardi sedikit menarik ke bawah gamis yang Aini kenakan. Tanpa sengaja, bahu mulus itu pun, satu per satu, mulai terpampang indah di depan mata Ardi, karena tanpa sengaja, selimut itu terseret oleh tangan Ardi. Hingga hal yang begitu menggoda imannya pun mulai menggelitik pertahanan Ardi.
Ardi berusaha sangat keras mengabaikan pemandangan indah di depan matanya. Apalagi, kulit mulus Aini, beberapa kali tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya, hingga membuat sesuatu di dalam tubuh Ardi semakin meronta. Ingin untuk dilepaskan.
Ardi akhirnya berhasil melepaskan gamis Aini. Tapi masih ada sebuah celana panjang yang Aini kenakan, dan juga sepasang pakaian yang melindungi bagian sensitifnya. Sejenak Ardi menghentikan aktivitasnya.
"Sabar! Sabar ya, wahai senjataku! Belum saatnya." Gumam Ardi, saat merasakan sesuatu yang semakin sesak dan menonjol di bagian celananya.
Ardi kembali melanjutkan apa yang tadi sedang ia lakukan. Perlahan, ia kembali menelusupkan tangannya dan menarik ke bawah celana panjang Aini untuk melepaskannya. Dan itu bukan hal yang sulit bagi Ardi.
Nafas Ardi makin memburu. Jantungnya berdegup makin kencang. Desiran darahnya pun makin tak karuan. Tatkala tubuh wanita yang sedang terbujur lemah tak berdaya itu, yang ia yakini, nyaris telanjang di bawah selimut itu. Dan itu karena dirinya pastinya.
Gejolak dalam diri Ardi, jelas meronta ingin untuk dilepaskan. Ia masih laki-laki normal. Apalagi, ia sudah puasa cukup lama untuk hal itu. Tatapannya tak lepas dari tubuh yang tertutup selimut itu.
"Haaaiisshh!"
Ardi akhirnya berusaha sangat keras meredam gejolak hasrat yang mulai mempengaruhinya. Ia mengambil nafas panjang berkali-kali demi menenangkan dirinya.
Tapi, Ardi masih memiliki pekerjaan yang cukup sulit. Apalagi kalau bukan melepaskan penutup bagian sensitif Aini, yang juga jelas begitu basah karena kehujanan.
Ardi menghirup nafas panjang. Bersiap melakukan hal yang cukup sulit baginya saat ini.
Perlahan, tangan kekar itu mulai menelusup ke bawah selimut. Mencoba mencari sesuatu yang menjadi tujuannya. Ia sedikit memiringkan tubuh Aini agar lebih mudah menjangkaunya. Dan beberapa detik saja, pengait itu segera terlepas. Dengan sangat hati-hati, Ardi menariknya dan melepaskannya.
Sungguh, iman Ardi sedang sangat diuji saat ini. Kalah sedikit saja, bisa terjadi sebuah kekhilafan yang begitu indah dan tak terlupakan bagi Ardi.
Ardi lantas berpindah ke tubuh bagian bawah Aini. Ia benar-benar menyiapkan mental dan imannya agar tak terjadi kesalahan. Karena ia tahu, itu hal sensitif yang sangat menggodanya sejak tadi.
Ardi kembali menelusupkan tangannya ke bawah selimut. Ia segera menemukan hal yang ia cari. Ardi begitu hati-hati melepaskan pakaian terakhir yang Aini kenakan. Agar tak membuat selimut itu tersingkap. Dan berhasil.
Ardi segera berdiri dan menjauh dari Aini. Ia berusaha begitu keras menekan gejolak tubuhnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Menggelitik dan meronta tak terkendali.
"Aku harus segera menyelesaikan ini!" Monolog Ardi lagi.
Ardi kembali mendekati Aini, setelah meyakinkan hati dan dirinya dengan begitu keras. Ia pun mengangkat tubuh di balik selimut itu ke sisi lain ranjangnya yang kering. Ia berusaha sangat keras tak menghiraukan godaan-godaan setan yang semakin tak terkendali.
Setelah meletakkannya kembali tubuh Aini, Ardi segera meraih baju ganti yang tadi ia siapkan untuk Aini. Ia mengambil celana training berwarna hitam dan bersiap memakaikannya pada Aini.
Pelan-pelan, Ardi memakaikan celana itu dengan tubuh Aini yang masih tertutup selimut. Ia berusaha agar tubuh polos Aini tidak terpampang di depan kedua bola matanya. Ia sungguh takut, jika ia tak bisa menahan godaan yang begitu indah itu nantinya.
Setelah selesai, Ardi mulai meraih kaos lengan panjang miliknya. Ia pun dengan segera memakaikan kaos berwarna abu-abu itu pada Aini. Dan kini, ujiannya kembali dimulai. Ia harus bisa, kembali memakaikan pakaian pada Aini tanpa menyingkap selimut yang menutupi tubuh Aini.
Ardi berusaha lebih keras saat ini. Karena, ia harus naik ke ranjangnya, dan sedikit mengungkung Aini demi bisa meraih salah satu tangan Aini yang berada di bawah selimut. Ia benar-benar fokus dengan pekerjaannya satu ini.
Dengan semua usahanya itu, Ardi berhasil mengganti baju Aini. Ia segera menjauh dari Aini, demi meredam gejolak di tubuhnya yang masih setia menggodanya. Ardi lalu berjalan menuju walk in closet miliknya, untuk mengambil selimut lagi.
Ardi pun segera menyelimuti tubuh Aini. Ia lalu duduk di samping tubuh Aini. Hatinya mendadak pilu melihat wanita mungil disampingnya itu, terbujur lemah tak berdaya.
"Maafkan aku, Sayang!" Ucap Ardi, sembari mengusap lembut pipi Aini yang masih pucat.
Ardi membenarkan posisi kepala dan merapikan rambut Aini. Ia memandangi wajah pucat itu dengan begitu sendu. Gejolak di tubuhnya yang tadi sempat memuncak, perlahan mulai mereda. Rasa penyesalan di hati Ardi, lebih mendominasi. Hingga membuat gejolak itu pun mereda.
Ardi akhirnya duduk diam menemani Aini, sembari menunggu Gilang tiba. Tatapannya tak lepas sedikitpun dari wajah Aini. Berharap, mata yang tertutup rapat itu, akan segera terbuka.
Flashback Off
"Kenapa kondisi Aini bisa seburuk itu?" Tanya Gilang setelah selesai dengan Aini.
__ADS_1
Ardi menghembuskan nafas pendeknya. Ia masih ingat betul, bagaimana tubuh Aini tergeletak dibawah guyuran hujan. Yang ia tak tahu sejak kapan.
"Sepertinya, dia pingsan di atas, setelah kami mengobrol tadi." Jawab Ardi lesu.
"Di atas?"
"Aku menemukannya di sebelah kursi yang ia tempati tadi. Di sisi lain kolam renang."
"Di tengah hujan seperti tadi?"
Ardi diam tak menjawab. Ia tertunduk dalam. Hatinya begitu menyesal, karena tak mengetahui Aini sedang dalam kondisi tak baik di rumahnya sendiri. Hingga membuat kondisinya seburuk itu.
"Sudahlah, jadikan ini pelajaran! Kamu harus berusaha lebih baik lagi menjaganya." Saran Gilang, yang menyadari sahabatnya itu begitu menyesal.
Tak ada jawaban dari Ardi.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Ardi lemas.
"Kita tunggu dia sadar!" Jawab Gilang singkat.
Ardi menatap Aini pedih dari sofanya. "Tapi dia baik-baik saja, kan?"
"Semoga! Besok antar dia ke klinik atau rumah sakit, untuk memastikan kondisinya! Untuk saat ini, sudah cukup stabil." Jawab Gilang perhatian.
Ardi mengangguk.
Dering ponsel Gilang mengalihkan perhatian sepasang sahabat itu. Ternyata, dari rumah sakit yang menelepon. Ada pasien darurat yang membutuhkan Gilang. Gilang pun segera berpamitan pada Ardi.
"Besok pagi aku akan kemari. Jika Aini sadar, kabari aku!" Pinta Gilang tulus.
Ardi hanya mengangguk.
"Katakan padanya pelan-pelan! Jangan kau tutupi ulah nakalmu tadi!" Ucap Gilang sedikit berbisik.
Ardi menatap Gilang bingung.
"Udah, aku pergi dulu! Jaga Aini yang bener!"
"Thank's." Jawab Ardi singkat.
Gilang pun keluar dari kamar Ardi. Meninggalkan Ardi yang masih cemas dengan kondisi Aini. Ia tetap memandangi Aini dari sofa kamarnya
Perasaan bersalah itu begitu mengusiknya. Menelusup dengan sempurna ke lubuk hati terdalamnya. Ia kembali gagal menjaga wanitanya.
Ardi berusaha tidak terlelap. Agar saat Aini sadar, ia bisa menemaninya dan memberikan apa yang Aini butuhkan.
Hingga pagi menjelang. Bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Ardi tanpa sengaja terlelap di sofa kamarnya, saat menunggu Aini sadar.
"Ardi!"
Suara seorang wanita, menggema cukup keras di kamar sang duda. Sang duda yang tanpa sengaja terlelap itu, segera membuka matanya dengan penuh keterkejutan. Ia pun segera terduduk mencari sumber suara.
"Mama?" Ucap Ardi tak percaya, saat menemukan sosok yang mengejutkannya.
"Kamu apain Aini? Kenapa dia bisa di kamarmu dan bahkan tak mengenakan jilbab? Apa yang kalian lakukan?" Tanya wanita itu penuh selidik, sambil berjalan menghampiri Ardi.
****************
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak readers 🙏😊
Terima kasih dukungannya 🙏🙏 love you all 😍😍