Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Operasi


__ADS_3

Pagi yang cerah menyapa. Sinar sang surya, perlahan menelusup ke setiap ruang yang ada di setiap penjuru bumi yang disapanya. Menggantikan hawa dingin malam, dengan kehangatan yang hakiki bagi setiap hal yang dilaluinya.


Dan hari ini, tepat pukul sepuluh pagi, Kenzo dan Aini akan menjalani operasi pencangkokkan sumsum tulang belakang. Dan sampai detik ini juga, Kenzo masih belum tahu, siapa pendonor untuknya. Ia hanya tahu, ada seorang bidadari cantik yang dikirim Allah untuk menolongnya. Itu yang Ardi katakan pada putranya.


"Bunda! Jangan tinggalin Kenzo ya! Bunda harus nemenin Kenzo setelah operasi nanti!" Rengek Kenzo manja.


"Iya. Kamu harus semangat ya, biar operasinya berjalan lancar!" Hibur Aini.


"Iya, Ken. Kamu juga harus cepet pulih! Nanti kita main dan berenang bareng lagi kalau kamu udah sehat." Imbuh Umar antusias.


"Oke." Jawab Kenzo semangat, sambil mengangkat satu tangannya untuk mengajak tos teman rasa saudaranya itu.


Umar hari ini bolos sekolah, karena ingin menunggui Aini dan Kenzo yang akan menjalani operasi. Ia pun sudah berjanji pada Kenzo, akan menungguinya saat ia menjalani operasi pencangkokkan sejak beberapa minggu yang lalu.


Ardi sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit tentang Aini. Ia meminta para dokter sedikit bersabar dengan Aini yang harus mengantar Kenzo sampai di depan ruang operasi dengan pakaian biasa. Yang seharusnya, Aini juga bersiap dengan operasi yang akan dijalaninya.


"Kenzo harus kuat, ya Nak! Bunda dan yang lain nungguin Kenzo di sini. Kenzo harus segera bangun nanti! Oke?" Hibur Aini penuh semangat.


"Iya, Bunda." Jawab Kenzo tak kalah semangat.


Kenzo benar-benat menempel dengan Aini sejak pagi. Ia tidak melepaskan Aini sedetik pun sejak tadi. Bahkan, saat dokter ingin memeriksa kondisi Aini, mereka harus sedikit bersabar, karena harus menunggu Aini mencari alasan yang sangat logis untuk Kenzo, agar ia tak curiga.


Dan saat ini, Kenzo sudah masuk lebih dulu ke ruang operasi. Dan baru setelah para perawat memastikan Kenzo tak melihat Aini lagi, Aini segera mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menemani Kenzo di ruang operasi sebagi pendonornya.


Rama, Niken, Ardi dan Umar, bersama-sama duduk di depan ruang operasi. Mereka menunggu dengan do'a yang tak henti mengalir dengan tulus, dari lubuk hati terdalamnya. Mereka saling menguatkan satu sama lain.


Setelah menunggu, Aini ternyata keluar dari ruang operasi lebih dulu. Ia pun sudah sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan dokter untuknya tadi.


"Kenzo?" Ucap Aini lirih, saat ia bertatap muka dengan empat orang yang menungguinya sejak tadi.


"Dia belum keluar." Jujur Ardi setenang mungkin.


"Ini sudah berapa lama?"


"Jangan memikirkan hal itu! Kamu istirahatlah dulu! Umar akan menemanimu di kamar." Pinta Ardi perhatian.


"Mas? Sudah berapa lama operasinya berlangsung?"


Hati Aini sangat cemas karena Kenzo ternyata belum selesai melakukam operasi. Ia sebenarnya sudah diberitahu Gilang kemarin, bahwa mungkin, ia akan keluar dari ruang operasi lebih dulu daripada Kenzo. Tapi tetap saja, hatinya tak tenang, karena tak mendapat jawaban pasti dari Ardi.


"Tenanglah, Ni! Kamu istirahatlah dulu di kamar! Efek obat biusnya pasti belum sepenuhnya hilang dari tubuhmu. Kamu juga harus memulihkan kondisimu lebih dulu." Saran Niken yang juga menyambutnya keluar dari ruang operasi.


Aini masih sedikit lemah karena memang efek obat bius di tubuhnya belum hilang sempurna. Jadi, ia cukup kesulitan mendebat orang-orang yang menungguinya sejak tadi.


"Ma, Ardi anter Aini ke ruangannya sebentar." Pamit Ardi segera.


"Iya."


"Nanti kalau Kenzo sudah keluar, segera kabari Ardi, Ma!" Pinta Ardi cemas.


"Iya. Udah sana, kasihan Aini!" Jawab Niken kesal.


Ardi, Umar dan dua perawat yang mengantar Aini keluar dari ruang operasi tadi, mengantar Aini ke ruang rawatnya. Ruang rawat Aini berada tepat di sebelah ruang rawat Kenzo, yang berada di lantai lima rumah sakit itu.


Aini hanya pasrah, saat Ardi membantu dua perawat tadi, memindahkannya ke ranjang ruang rawatnya. Dua perawat itu memastikan kondisi Aini stabil sebelum mereka pergi.


Aini segera celingukan mencari keberadaan jam di ruang rawatnya. Ia sangat terkejut, saat mendapati jam berapa saat ini.


"Sudah hampir empat jam, Mas? Dan Kenzo belum keluar?" Tanya Aini panik.


"Tenanglah! Gilang dengan yang lainnya, sedang melakukan yang terbaik untuk Kenzo." Hibur Ardi lagi.


"Kamu mau ngapain?"


"Bunda mau kemana?"


Tanya dua laki-laki beda generasi itu bersamaan, saat Aini tiba-tiba memaksakan diri untuk bangun dari posisinya.


"Kita kembali ke ruang tunggu tadi, ya?" Sahut Aini lirih.


"Ayolah, Ni! Istirahatlah dulu! Biarkan kondisimu pulih dulu." Rayu Ardi segera.


"Tapi Mas, Kenzo masih belum keluar. Dan ini sudah lama sekali." Rengek Aini sekuat yang ia mampu.


"Iya, aku tahu. Tunggulah dari sini saja! Aku akan mengabarimu nanti, jika Kenzo sudah keluar dari ruang operasi." Saran Ardi.


"Tapi Mas,,"


"Nggak ada tapi! Nanti kalau Kenzo keluar dari ruang operasi, dan ternyata kondisimu belum pulih, dia pasti akan cemas, Ni. Dan itu pasti akan mempengaruhi kondisinya juga"


Aini terdiam. Ia menatap seksama wajah cemas Ardi yang nampak sedikit kelelahan.


"Iya, Bunda. Benar yang dikatakan om Ardi." Imbuh Umar yang sudah duduk di tepi ranjang Aini.


"Kamu dengar sendiri kan kata Umar? Jadi, istirahatlah di sini dengan Umar. Aku pasti akan mengabari kalian, jika Kenzo sudah keluar dari ruang operasi nanti."


Aini akhirnya mengalah. Ia menyetujui saran Ardi. Ia akan menunggu Kenzo di ruang rawatnya, sembari memulihkan kondisinya. Ditemani putra semata wayangmya pastinya.


"Oke, Umar! Kamu jaga bunda baik-baik, ya! Nanti segera hubungi Om, kalau bunda ngeyel atau terjadi sesuatu! Oke?" Pinta Ardi setelah Aini kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Siap, Om." Jawab Umar semangat.


Ardi tersenyum lebar pada Umar. Ia pun segera berpamitan pada Aini dan Umar untuk kembali ke ruang tunggu operasi. Karena Niken juga belum mengabari sejak tadi.


"Umar, sudah makan, Nak?" Tanya Aini lirih, setelah Ardi pergi.


"Belum, Bunda. Nungguin, Bunda." Jujur Umar yang masih duduk di tepi ranjang.


"Makan dulu, Sayang! Bunda belum bisa makan sebelum buang angin." Pinta Aini sedikit cemas.


"Tapi, aku pengen makan bareng Bunda." Rengek Umar.

__ADS_1


"Iya, boleh. Tapi, sekarang Umar makan dulu! Nanti kalau Bunda sudah boleh makan, Umar bisa makan lagi kan bareng Bunda." Rayu Aini.


"Tapii,,"


"Umar nggak mau jagain Bunda di sini?"


"Maksud, Bunda?"


"Kalau Umar nggak mau makan, nanti kan perut Umar jadi sakit. Umar kan jadi nggak bisa jagain Bunda nanti kalau sakit."


"Enggak, Bunda. Umar nggak mau sakit."


Umar segera turun dari tepi ranjang Aini. Ia segera menuju ke sofa di ruangan itu. Umar pun lalu membuka kotak makanan yang dipesankan Ardi tadi, dan segera mamakannya.


Umar memang tak mau makan apapun sejak Aini masuk ke ruanh operasi tadi. Ia hanya sesekali menengguk air putih untuk membasahi kerongkongannya.


Umar sangat mencemaskan Aini yang sedang menjalani operasi, hingga tak mau makan apapun. Ardi, Rama dan Niken, sudah berusaha merayu Umar agar mau makan sesuatu selama mereka menunggu Aini dan Kenzo. Tapi Umar sama sekali tak mau makan apapun.


Ardi sebenarnya sudah memesankan makanan untuk empat orang yang sedang dilanda kekhawatiran dalam lubuk hatinya itu. Tapi sama sekali tak ada yang menyentuh makanan itu. Dan akhirnya, Ardi meminta pengawalnya untuk membawa makanan itu ke ruang rawat Aini.


"Siapa yang beliin makanannya, Sayang?" Tanya Aini sedikit lega.


"Pap,, papanya Kenzo, Bunda. Om Ardi tadi yang beli." Jawab Umar sedikit gelagapan.


"Nanti jangan lupa bilang makasih ya, sama Om Ardi!"


"Siap, Bunda!" Jawab Umar, sambil terus mengunyah makanannya.


Putra pertama Aini itu, sebenarnya sudah sangat lapar sejak tadi. Tapi, rasa cemasnya mengalahkan rasa lapar di perutnya.


Tiga puluh menit kemudian, Kenzo keluar dari ruang operasi. Pengaruh obat bius yang diberikan padanya pun sudah hilang. Ia langsung dibawa ke ruang rawatnya.


"Bunda?" Tanya Kenzo lirih, setelah ia sampai di ruang rawatnya.


Rama, Niken dan Ardi jelas kebingungan. Karena mereka juga belum melihat kondisi Aini setelah keluar dari ruang operasi tadi.


"Bunda di sini, Ken." Ucap Aini lirih, sambil berjalan masuk ke ruang rawat Kenzo.


Pintu ruang rawat Kenzo, tidak tertutup rapat. Jadi, Aini dan Umar bisa masuk tanpa diketahui oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.


Rama, Niken dan Ardi sangat terkejut melihat Aini masuk ke ruangan itu. Apalagi, tak ada jarum infus yang terpasang di tangannya. Ia pun terlihat biasa. Tak nampak raut wajah lelah atau lemas sedikitpun di wajahnya.


"Bunda dari mana?" Tanya Kenzo penasaran, dengan suara yang masih lirih.


"Bunda habis beli kue buat kamu sama Umar." Jawab Aini, seraya menunjukkan tas plastik yang ada di tangannya.


Aini berjalan pelan menghampiri Kenzo. Umar pun dengan setia memegangi tangan Aini dan berusaha menjaga ibunya itu dengan semaksimal mungkin.


Kue yang Aini bawa, sebenarnya dibelikan oleh Ardi semalam. Ia meminta Ardi untuk membelikan kue untuknya. Yang sebenarnya, akan dijadikan alasan oleh Aini untuk Kenzo, saat Kenzo mencarinya setelah keluar dari ruang operasi. Seperti yang baru saja terjadi.


Ardi berusaha keras menahan diri untuk tidak bereaksi terlalu berlebihan pada Aini. Karena itu pasti, akan sangat mencurigakan bagi Kenzo. Padahal, ia sangat ingin membantu Aini saat ini. Atau bahkan, memintanya untuk tetap tinggal di ruang rawatnya agar kondisinya segera pulih.


"Maaf ya, Sayang! Bunda tadi pergi sebentar dengan Umar." Ucap Aini perlahan.


Kenzo hanya mengangguk pasrah. Hatinya sudah cukup lega setelah melihat Aini dan Umar.


"Apa Aini baik-baik saja, Di?" Bisik Niken khawatir.


"Ardi juga tak tahu, Ma."


Niken dan Ardi melihat setiap gerak-gerik Aini dengan seksama. Mereka sangat mencemaskan kondisi Aini. Mereka tak tahu pasti, bagaimana kondisi Aini saat ini.


Setelah beberapa saat, Aini merasa tubuhnya mulai lemah. Ia yang tak mendapat bantuan infus pasca operasi, merasakan tubuhnya makin melemah. Ia berniat untuk berpamitan pada Kenzo. Tapi, saat ia berdiri dari kursinya, tubuhnya seketika sedikit oleng. Semua segera menghampirinya.


"Bunda!" Panggil Umar cemas, dengan tangan yang segera meraih tubuh Aini.


Rama, Niken dan Ardi pun sontak terkejut.


"Kamu tak apa-apa, Sayang?" Tanya Ardi cepat, sambil meraih lengan Aini.


Umar dan Kenzo segera menoleh pada Ardi. Mereka sama-sama terkejut dengan panggilan Ardi pada Aini. Aini pun segera menatap tajam pada Ardi.


"Mas!" Bentak Aini sambil menahan tubuhnya yang makin lemah.


"Astaga! Kelepasan." Batin Ardi, setelah mendapat tatapan tajam dari Aini.


Ardi sudah berjanji pada Aini, untuk tidak menggunakan panggilan sayangnya pada Aini ketika di depan Umar dan Kenzo. Sebelum, mereka memberitahukan hubungan yang sudah terjalin diantara mereka kepada putra mereka masing-masing.


"Kamu kenapa, Ni?" Tanya Ardi lagi, demi mengurai suasana yang tak terduga ini.


"Bawa ke IGD, Di!" Pinta Niken cepat.


"Tidak perlu, Bu Niken. Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena belum makan." Bohong Aini, agar Kenzo tak khawatir.


"Bunda kenapa?" Tanya Kenzo perhatian.


"Nggak papa, Nak. Bunda hanya sedikit pusing." Sahut Aini makin lirih.


"Bunda belum makan?" Cemas Kenzo.


Aini hanya menggeleng lemas.


"Kenapa Bunda belum makan?"


"Bunda nungguin kamu, Nak." Jawab Aini sambil tersenyum dengan sisa tenaganya.


"Duduklah dulu!" Pinta Ardi perlahan.


Aini pun kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kenzo.


"Pa! Beliin bunda makan, Pa!" Rengek Kenzo tiba-tiba.

__ADS_1


"Iya. Papa akan belikan makanan untuk, Bunda." Jawab Ardi dengan penuh kesanggupan.


"Tidak perlu, Mas. Saya akan beli sendiri nanti." Tolak Aini halus.


Aini sebenarnya ingin kembali ke ruang rawatnya sejenak. Ia tahu, tubuhnya makin lemah. Ia belum makan apapun sejak kemarin. Dan ia juga belum sempat makan apapun setelah operasi tadi. Infus yang seharusnya memberinya sedikit asupan energi, malah sudah terlepas dari tubuhnya.


"Tapi Ni,,"


Niken segera menyentuh lengan putranya. Ia berusaha mengingatkan Ardi sesuatu.


Ardi pun menoleh pada Niken, yang ternyata sedang menggelengkan kepalanya dengan tatapan penuh jawaban. Dan Ardi mengetahui arti tatapan itu.


"Ya sudah, ayo, aku antar beli makanan!" Ajak Ardi semangat.


Aini lega, Ardi mengatakan hal itu. Karena sungguh, jika Ardi mendebatnya lagi, ia sudah sangat tidak mampu untuk menjawabnya.


Aini sebenarnya menolak tawaran Ardi untuk membelikannya makanan, adalah alasan agar ia bisa keluar dari ruang rawat Kenzo sebentar. Ia sungguh merasa tubuhnya sudah sangat tidak baik. Jadi ia akan menggunakan alasan itu, untuk bisa kembali ke ruang rawatnya sejenak untuk memulihkan kondisinya.


"Umar tunggu di sini sebentar, ya!" Pinta Ardi segera.


Umar ternyata menggelengkan kepalanya. "Umar mau ikut, Bunda!"


"Umar mau makan lagi?" Tanya Ardi sekenanya.


Umar mengangguk semangat. Yang padahal, dalam hatinya, ia sangat mencemaskan kondisi ibunya.


"Ya sudah, ayo makan sama Bunda!" Ajak Aini, yang paham gelagat putranya.


"Bunda jangan lama-lama!" Sela Kenzo tiba-tiba.


"Iya, Nak. Kenzo mau dibelikan sesuatu?" Jawab Aini lirih.


Kenzo menggelengkan kepalanya. "Jangan lama-lama!"


Aini mengangguk dan tersenyum pada Kenzo. Ia tahu, Kenzo sebenarnya tak ingin ditinggalkan olehnya, barang sejenak. Tapi, ia juga tak bisa bertahan terlalu lama dengan kondisinya saat ini.


Jadi, ia lebih memilih sedikit tega pada Kenzo, daripada nantinya, Kenzo akan melihatnya jatuh pingsan dan malah mengganggu pikirannya, sehingga akan mengganggu proses pemulihan pasca operasi.


Aini pun perlahan berdiri sambil dipegangi oleh Ardi. Ardi sangat bisa merasakan, tubuh Aini sudah sangat lemas, karena tubuh Aini sudah bertumpu pada tangan Ardi yang memeganginya.


"Kami pergi sebentar, Ma, Pa!" Pamit Ardi cepat.


"Iya. Hati-hati!" Jawab Niken sedatar mungkin.


"Permisi, Pak Rama, Bu Niken!" Pamit Aini makin lirih.


"Iya." Jawab Niken lagi.


Niken sungguh tak tega melihat kondisi Aini. Ia tahu, Aini sudah berusaha bertahan saat ini. Jadi, ia tak banyak mendebat apa yang Ardi dan Aini katakan.


Ardi perlahan-lahan membantu Aini berjalan keluar dari ruang rawat Kenzo. Umar pun masih setia menggandeng tangan ibunya yang ia yakini, tubuhnya makin lemah.


"Kenzo sudah buang angin belum?" Tanya Niken, setelah Ardi menutup pintu ruang rawat.


Kenzo menggeleng. Niken pun berusaha mengalihkan perhatian Kenzo dari kejadian barusan. Ia mengajak Kenzo mengobrol beberapa hal.


Sedang di depan ruang rawat Kenzo, baru saja Ardi menutup pintu ruang rawat, tiba-tiba tubuh Aini merosot begitu saja. Aini sudah tak mampu untuk berdiri, meski masih dalam kondisi sadar.


"Aini!"


"Bunda!"


Tubuh Aini rubuh ke tubuh Ardi. Meski begitu, karena Ardi yang tak siap, tubuh Aini merosot hingga ke lantai.


Tiba-tiba, tiga orang laki-laki menghampiri mereka dengan segera. Umar sangat terkejut melihat tiga orang itu. Sedang Aini, tidak terlalu fokus dengan sekitar, karena kondisinya yang makin lemah.


"Panggil perawat dan Gilang!" Pinta Ardi cepat.


Tiga orang itu segera berdiri dan berlari. Umar menatap mereka dengan penuh kebingungan.


Sedang Ardi, segera mengangkat tubuh Aini dan membawanya ke ruang rawatnya. Tak berselang lama, dua orang perawat segera masuk ke ruang rawat Aini. Mereka terkejut karena melihat Aini yang sudah tak mengenakan baju operasi dan infus yang sudah tidak tersambung ke tubuhnya.


Tanpa berlama-lama, dua perawat itu segera memasangkan kembali infus yang sudah terlepas itu. Dan saat itu terjadi, Gilang pun berlari masuk ke ruang rawat Aini.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Gilang cemas.


"Infusnya lepas, Dok." Jawab seorang perawat.


"Baiklah! Biar aku yang memeriksanya. Kalian kembalilah!" Pinta Gilang.


"Iya, Dok."


Dua perawat itu akhirnya kembali ke ruang jaga mereka. Gilang pun segera memeriksa kondisi Aini.


"Ini yang aku khawatirkan. Kondisimu langsung melemah karena infusmu lepas." Tegur Gilang, sambil menahan kekesalannya.


"Maaf, Dokter." Sahut Aini lirih.


"Cari alasan untuk Kenzo! Aini harus istirahat lebih dulu!" Pinta Gilang, sambil menatap Ardi tajam.


Ardi yang paham dengan maksud Gilang, hanya mengangguk patuh pada sahabatnya itu.


Dan tanpa berucap apapun, Gilang keluar dari ruang rawat Aini. Ia yang masih kelelahan setelah melakukan operasi, tak ingin hilang kendali karena melihat kondisi Aini yang melemah.


"Kamu istirahat dulu, ya! Aku akan ke kamar kenzo." Pinta Ardi perhatian.


Aini hanya mengangguk patuh. Ia tak ingin banyak berdebat.


"Umar, jaga Bunda, ya! Kalau Umar kesulitan, telepon Om! Om akan segera ke sini." Pesan Ardi.


Umar pun mengangguk paham. Ardi lantas kembali ke ruang rawat Kenzo. Ia berusaha mencarikan alasan untuk Kenzo, sesuai permintaan Gilang.

__ADS_1


__ADS_2