Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pembelaan


__ADS_3

Apa yang akan terjadi di masa depan, tak akan ada yang mengetahuinya. Hal apa yang harus kita terima sebagai konsekuensi dari yang kita lakukan di masa lalu, selalu menjadi misteri yang tak pernah terjawab.


"Eeehh,,"


Aini tersentak karena tubuhnya mendadak ditarik oleh Ardi. Bahkan, laki-laki tegap yang baru saja menghampirinya itu, segera memeluknya dengan lembut dihadapan banyak orang.


Umar yang masih memeluk Aini, pun ikut tertarik secara tidak sengaja. Ia langsung menatap bingung pada laki-laki yang sudah mengasuhnya selama sebulan terakhir.


Aini segera menoleh dan menatap Ardi penuh tanya. "Pak Ar,, inii??"


Aini menoleh ke arah Adit dan Ardi bergantian. Ia cukup kebingungan menanggapi sikap Ardi yang barusan.


"Iya, Anda benar Pak Adit. Saya sudah terhasut oleh Aini. Hingga saya ingin menjadikannya istri saya. Apa Anda keberatan?" Jawab Ardi santai.


"Seharusnya Anda tidak keberatan bukan, Pak Adit? Karena dia hanyalah mantan istri Anda." Imbuh Ardi sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya


Semua orang membulatkan matanya mendengar penuturan Ardi. Tak terkecuali, Aini dan Dika. Ya, bahkan Dika tak mengetahui hal yang satu itu.


Aini menatap Ardi makin tajam, dengan tatapan penuh tanya, penuh kebingungan. Aini sedikit meronta dari pelukan Ardi. Tapi Ardi malah mengeratkan pelukannya. Ardi pun segera menoleh pada Aini.


"Sebentar!" Ucap Ardi lembut.


Makin bingunglah Aini. Ia pun akhirnya diam.


"Anda jangan tertipu dengan penampilannya saja, Pak Ardi! Dia ini benar-benar wanita tak tahu diri. Dia itu wanita penuh tipu daya." Maki Adit lagi.


Hati Aini begitu hancur mendengar kalimat itu kembali terucap dari mulut Adit. Ia bahkan langsung menutupi kedua telinga Umar, agar putranya tak mendengar kalimat yang tidak sepantasnya itu. Ia menatap Umar dengan lembut. Umar pun menatap ibunya dengan tatapan sedih.


"Terima kasih Pak Adit, atas perhatian Anda. Tapi, saya lebih percaya pada setan dalam diri Aini, daripada, setan yang ada pada diri saya sendiri." Jawab Ardi yakin.


Aini menoleh dengan cepat pada Ardi. Ia sungguh tak menyangka, Ardi mengatakan hal seperti itu. Dan saat itu juga, Ardi menoleh pada Aini, lalu tersenyum lembut padanya.


Hati Aini bergetar mendapat perlakuan seperti itu dari Ardi. Mulut Aini seketika terbungkam dengan begitu rapat setelah mendapat senyuman dari Ardi. Ia tadinya ingin mencoba mencegah Ardi melakukan hal lain yang lebih gila, tapi ternyata semua lenyap dalam sesaat.


"Apa kami boleh mensholatkan jenazah almarhum?" Tanya Ardi santai.


"Tidak untuk wanita ini!" Sela Suharti tiba-tiba.


Suharti tadi masih di dalam rumah, menyambut para tamu yang bertakziah. Ia lalu keluar karena mendengar kegaduhan dan suara Adit yang terdengar marah. Ia segera mengajak Ratri dan cucunya untuk keluar melihat.


"Kenapa tidak, Bu?" Tanya Ardi pelan.


"Dialah penyebab kematian suamiku. Dia yang membuat kondisi ayah Adit memburuk sebulan terakhir." Tuduh Suharti tanpa ragu.


"Bagaimana mungkin itu karena saya, Bu?" Tanya Aini tak terima.


"Karena kamu mengambil Umar dari kami." Jawab Suharti marah.


Aini terdiam. Wajahnya seketika tertunduk sedih.


"Tenanglah!" Hibur Ardi seraya mengusap lembut lengan Aini.


Aini diam tak bereaksi. Ia sedikit terpengaruh dengan ucapan Suharti. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Ardi dan Dika menyadari gelagat Aini. Dika segera mendekat dan berbisik pada Ardi.


"Anda lebih baik membawa bu Aini pergi dari sini, Pak. Beliau sedikit terpengaruh sepertinya." Bisik Dika di telinga kiri Ardi.


"Kamu benar." Jawab Ardi lirih.


Ardi menoleh sejenak pada Aini. Wanita mungil yang masih dalam dekapan satu tangannya itu, masih tertunduk diam. Ia bahkan bisa merasakan, tubuh Aini bergetar karena menahan tangisan.

__ADS_1


"Maaf Bu Hadi, Pak Adit. Sepertinya, kehadiran kami kemari, membuat suasana di sini sedikit gaduh. Kami pamit undur diri saja, agar semua kembali lebih tenang." Ucap Ardi menengahi.


"Tentu tidak, Pak Ardi. Kehadiran Anda, tidak membuat gaduh sama sekali. Wanita di samping Andalah penyebabnya." Hardik Adit lagi.


"Sini Le, sama Uti!" Pinta Suharti sambil mengulurkan tangannya pada Umar.


Aini menoleh pada Suharti, lalu pada putranya. Umar ternyata segera menggelengkan kepalanya. Ia bahkan begitu ketakutan melihat ayah dan neneknya.


"Kamu apakan cucuku, Ni? Hingga dia tidak mau denganku?" Tuduh Suharti lagi.


"Maaf, Bu Hadi. Jangan salahkan Aini jika Umar tidak mau dengan Anda lagi. Ia pasti sekarang ketakutan setelah melihat sikap Anda dan Pak Adit pada Aini baru saja." Jawab Ardi santai.


Adit dan Suharti terdiam. Mereka paham dengan maksud ucapan Ardi baru saja. Mereka akhirnya menghela nafas berat dengan perasaan kesal.


"Ayo, kita pulang!" Ajak Ardi lembut.


Aini diam tak menjawab. Hatinya sungguh belum ingin pergi dari tempat ini. Ia ingin menyolatkan jenazah mantan mertua yang selalu baik padanya itu.


Tapi apa mau dikata. Kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh keluarga almarhum. Hingga ia tak bisa berbuat banyak.


"Maafkan Aini, Pak! Aini tidak bisa menyolatkan Bapak. Tenanglah di sana, Pak! Semoga kelak, kita bisa bertemu di tempat yang lebih baik." Batin Aini sedih.


"Kami permisi dulu, Pak Adit, Bu Hadi." Pamit Ardi segera.


"Terima kasih, Pak Ardi. Dan berhati-hatilah dengan wanita licik ini!" Jawab Adit.


"Bunda tidak seperti itu!" Sela Umar keras.


Semua terkejut mendengar ucapan Umar.


Umar sebenarnya ingin membela Aini sejak tadi. Tapi, nyalinya cukup kecil untuk beradu pendapat dengan ayahnya yang cukup keras sifatnya. Hingga akhirnya, ia tak bisa lagi mendengar ibunya dihina oleh ayahnya sendiri.


"Sudah, Sayang! Sudah!" Bujuk Aini sambil memeluk Umar lebih erat.


"Ayo, Umar! Sama Om, ya?" Sela Ardi setelah Aini melepaskan pelukannya dari Umar.


Umar mengangguk patuh pada Ardi. Ardi pun tanpa ragu dan ijin dari Aini, lalu menggendong Umar yang masih sesenggukan. Ia cukup paham, bagaimana perasaan Umar saat ini.


"Pak,,??" Panggil Aini bingung.


Ardi tak menghiraukan panggilan Aini. Ia memilih melangkahkan kakinya dengan satu tangan menggendong Umar dan tangan yang lain menggandeng Aini. Ia tak memikirkan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya.


"Kami permisi, Pak, Bu." Pamit Dika segera.


Semua masih terpaku dengan pemandangan yang langka ini. Beberapa orang yang mengenali Ardi, tak melewatkan momen ini. Mereka segera mengabadikannya dengan perasaan penuh tanda tanya.


Tak terkecuali Adit dan keluarganya. Mereka benar-benar tak mengira, jika Aini bisa bersama dengan seorang laki-laki sehebat Ardiansyah El Baraja. Bahkan, Umar pun bisa begitu menurut pada Ardi tanpa penolakan apapun.


Seperginya Ardi dan Aini, suasana di rumah duka kembali kondusif. Semua orang kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing.


"Awas kamu, Ni! Tunggu pembalasanku!" Batin Adit, sambil menatap tajam pada Aini yang mulai memasuki mobil Ardi.


Ardi segera meminta Dika untuk membawa mereka kembali ke rumah. Tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Aini hanya sibuk menenangkan putranya yang masih sesenggukan. Ia pun berusaha menenangkan hatinya yang sedang tak karuan.


Dan saat sampai di rumah, Ardi membiarkan Aini dan Umar kembali ke kamar mereka. Ia lantas duduk bersama Niken di ruang keluarga, yang ada di dekat tangga.


"Ma, tolong jangan ganggu Aini dan Umar dulu! Biarkan mereka menenangkan diri terlebih dahulu." Pinta Ardi pada ibunya.


"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi di sana tadi?" Tanya Niken penasaran.


"Benar dugaan kita, Ma. Aini ditolak mentah-mentah di sana."

__ADS_1


"Lalu?"


Ardi terdiam. Ia teringat, bagaimana ia bisa dengan sangat yakin, menarik tubuh Aini dan memeluknya, hingga mengucapkan bahwa ia ingin menjadikan Aini istrinya.


"Pak Ardi membelanya, Bu." Sela Dika tiba-tiba.


"Oh, ya? Bagaimana kamu membelanya?" Tanya Niken makin penasaran.


"Ya, Ardi bela gitu aja." Jawab Ardi malu.


Niken menyadari gelagat aneh putranya. Ia segera berpindah mendekati Dika. Ardi menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya.


"Gimana ceritanya, Dik?" Tanya Niken pada Dika.


Dika sejenak menoleh pada Ardi. Ia ingin meminta ijin untuk menceritakan apa yang terjadi tadi. Tapi ternyata, Ardi malah tak menyadarinya.


"Ayolah, Dik! Ceritain dikit aja!"


"Ayolah, Dik!"


"Nanti kalau Ardi marah, biar aku yang tanggung jawab." Rayu Niken.


Dika pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi di rumah Adit tadi.


"Alhamdulillah. Akhirnya, aku bakalan punya mantu lagi." Ucap Niken bahagia.


"Udah deh, Ma! Nggak usah lebay gitu! Ardi tadi cuma membela Aini, nggak lebih." Sahut Ardi sedikit kesal.


"Kamu mengatakan itu di depan orang banyak, Di. Kamu tahu kan konsekuensinya?" Kesal Niken tiba-tiba.


"Iya Ma, Ardi tahu. Tapi memang, Ardi tadi cuma berniat membela Aini, nggak lebih. Ardi tadi terbawa suasana, Ma. Nggak mungkin juga Ardi menaruh hati pada Aini, Ma." Jawab Ardi sedikit ragu.


"Kualat kamu, mainin hati orang lain!" Marah Niken.


"Terserah Mama! Ardi mau ke kantor dulu." Ucap Ardi datar, sambil berdiri dari kursi.


Ardi berniat mengambil tas kerjanya yang tertinggal di kamar. Saat ia sampai di depan tangga, ia jelas melihat Aini sedang berdiri di depannya, dan hanya berjarak tiga anak tangga darinya.


"Aini?"


"Sejak kapan dia di situ? Apa dia mendengar semuanya?"


Ardi mendadak panik. Ia tak tahu, sejak kapan Aini berada di sana. Ia khawatir, jika Aini mendengar percakapannya dengan sang ibu barusan.


Niken dan Dika segera menoleh. Mereka bisa melihat ekspresi wajah Aini yang sangat sulit untuk diartikan.


"Ni, aku bisa,," Ucapan Ardi terpotong segera.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih karena Bapak tadi membela saya dan Umar." Sela Aini.


"Oh, iya." Jawab Ardi bingung.


"Maaf, saya terlambat berterima kasih pada Anda."


"Tidak apa-apa."


Aini segera menganggukkan kepalanya. Ia lalu berbalik dan kembali ke kamar Umar.


Ardi pun menatap Aini yang melangkah meninggalkannya. Hatinya dilanda perasaan aneh saat ini. Ada rasa takut jika Aini mendengar percakapannya dengan sang ibu tadi. Tapi, ia kebingungan mengatasi perasaannya sendiri.


Sedang Aini, merasa begitu sedih secara tiba-tiba. Aini tadi memang berniat mengucapkan terima kasih pada Ardi karena membelanya. Ia juga ingin menanyakan, tentang ucapan Ardi saat di rumah Adit tadi. Tapi ternyata, pertanyaannya sudah terjawab bahkan sebelum ia bertanya.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa sedih? Astaghfirullah, sadarlah, Ni! Ingat posisimu! " Batin Aini bingung.


__ADS_2