
"Mama?" Ucap Ardi tak percaya, saat menemukan sosok yang mengejutkannya.
"Kamu apain Aini? Kenapa dia bisa di kamarmu dan bahkan tak mengenakan jilbab? Apa yang kalian lakukan?" Tanya wanita itu penuh selidik, sambil berjalan menghampiri Ardi.
Ardi berusaha keras mengumpulkan kesadarannya setelah baru saja terbangun. Ia berusaha meyakinkan diri, bahwa wanita yang berjalan ke arahnya adalah memang ibunya, Niken.
Ardi mengusap wajahnya begitu saja. Ia segera menoleh ke arah wanita yang semalaman ia jaga. Dan sampai saat ini, ternyata masih belum juga tersadar.
"Jawab Mama!" Bentak wanita itu, yang memang adalah Niken.
Ardi kembali menoleh pada Niken. Ia masih belum yakin bahwa itu adalah mamanya. Karena memang, ini masih sangat pagi. Atau lebih tepatnya, masih dini hari. Dan semalam, ibunya itu belum pulang. Tapi saat ini, tiba-tiba ia bisa muncul begitu saja.
"Ini beneran Mama?" Tanya Ardi tak percaya.
"Lalu, siapa lagi? Hantu? Kamu nyumpahin Mama cepat mati?" Jawab Niken kesal.
"Mama kapan pulang?"
"Dia malah balik nanya." Cibir Niken makin kesal.
Ardi sejenak menoleh ke arah ranjangnya. Ia lantas segera menarik tangan Niken untuk keluar kamar. Niken pun pasrah mengikuti kemana langkah putraya membawanya.
Ardi membawa Niken keluar kamar. Ia tak ingin, suara melengking Niken, mengusik Aini. Ia pun menutup pintu kamarnya, agar pembicaraan yang tak tahu akan seperti apa nantinya itu, tak terdengar oleh Aini yang belum membuka matanya.
"Jangan keras-keras, Ma! Aini masih belum sadar sejak semalam." Ucap Ardi, setelah melepaskan tangan Niken.
Niken membulatkan kedua bola matanya.
"Kalian?" Tuduh Niken penuh keterkejutan.
"Mama jangan mikir kejauhan!" Bantah Ardi cepat.
"Lalu?"
"Semalam Ardi nemuin Aini pingsan di atas saat hujan." Jelas Ardi singkat.
"Pingsan?" Ulang Niken tak percaya.
"Iya, Ma. Kemarin Aini sempat kehujanan di jalan, dan demam setelah itu. Dan semalam, tak tahu bagaimana, ia bisa pingsan setelah Ardi mengobrol dengannya sebentar. Ardi menemukannya di bawah guyuran hujan, setelah Ardi membahas beberapa hal dengan Dika."
"Lalu?"
"Gilang sudah memeriksanya semalam. Ia bilang, tunggu hingga Aini sadar. Pagi ini, dia akan kembali kemari untuk memeriksanya lagi."
Niken menghela nafasnya. Ada perasaan lega dan sedih mendengar penuturan putranya barusan.
"Tolong bantu Ardi, Ma!" Rengek Ardi tiba-tiba.
Niken menatap aneh pada putranya. Tak biasanya putra semata wayangnya itu bersikap seperti itu.
"Bantu apa?" Sahut Niken datar.
"Tolong katakan pada Aini, bahwa Mama yang mengganti bajunya semalam!" Pinta Ardi yakin.
Niken segera mengerutkan keningnya. Ia berusaha memahami permintaan aneh putranya. Kedua tangannya segera digenggam oleh putranya, dengan tatapan memelas dan penuh pengharapan.
"Maksud kamu gimana?" Tanya Niken santai.
"Nanti saat Aini sadar, kalau Aini tanya siapa yang mengganti bajunya semalam, tolong katakan padanya, kalau Mama yang menggantinya!" Jelas Ardi.
"Kok Mama? Mama kan baru dateng. Lagian, emangnya siapa yang gantiin baju Aini semalam? Kamu?" Selidik Niken.
"Iy,, iya Ma. Ya, Ma? Ardi mohon, Ma!" Pinta Ardi tanpa ragu.
__ADS_1
Niken terdiam. "Kamu nggak apa-apain dia, kan?"
"Enggak, Ma. Ardi nggak apa-apain Aini." Jawab Ardi cepat, sambil menggelengkan kepalanya, dan mengangkat tangannya sambil menunjukkan huruf v dengan dua jari.
"Bodoh kamu, Di! Kenapa nggak kamu apa-apain sih, Di? Kalau kamu apa-apain, kan Mama bisa cepet punya mantu lagi." Batin Niken sedikit kecewa.
"Kenapa nggak minta tolong mbok Sri atau Tika?" Tanya Niken lagi.
"Mbok Sri nggak enak badan sejak sebelum Mama berangkat ke Malang, kan? Ardi nggak enak hati, kalau harus bangunin dia malam-malam." Jujur Ardi.
"Tika?"
"Mama tahu sendiri, Tika kecentilan sama Ardi. Ardi malas meladeni tingkahnya, Ma." Jawab Ardi sedikit kesal.
Ardi teringat sesuatu ketika Niken menyebut nama pengasuh lama putranya itu. Ia berusaha meredam sesuatu yang tiba-tiba bergemuruh memenuhi hatinya.
"Kamu mau bohongin Aini?" Cecar Niken.
"Ardi akan mengatakannya nanti, Ma. Ardi takut, kalau nanti dia tahu yang sebenarnya sekarang, kondisinya akan memburuk." Jelas Ardi penuh kecemasan.
Niken terdiam. Ia memikirkan apa yang putranya utarakan. Ia juga setuju dengan pemikiran Ardi. Tapi, tak baik juga, jika harus menutupi sesuatu dari orang yang tak tahu apa-apa seperti Aini.
"Ya sudah. Tapi, kamu harus mengatakan yang sejujurnya pada Aini setelah kondisinya membaik!" Pinta Niken tegas.
"Iya, Ma." Jawab Ardi bahagia.
"Ya sudah, Mama turun dulu. Mama akan siapkan sarapan untuk kalian." Pamit Niken.
"Makasih, Ma." Ucap Ardi haru, sambil memeluk erat ibunya.
"Iya, iya." Jawab Niken, sambil membalas pelukan Ardi.
Niken pun turun setelah mereka berpelukan. Niken sebenarnya sudah tahu, jika Aini pingsan semalam. Ia bersama Rama, sebenarnya akan pulang pagi ini. Tapi karena firasat yang kurang baik, dan putranya semalam tak bisa dihubungi, ia mencoba menelepon Dika. Dari Dika-lah Niken tahu, bahwa Aini pingsan.
Dan selepas ibadah malamnya, Niken akhirnya berangkat kembali ke Surabaya. Karena sebenarnya, Prapto juga mengkhawatirkan istrinya yang sudah tak enak badan sejak keberangkatannya kemarin.
Sedang di dalam kamar yang paling luas di rumah itu, sepasang kelopak mata yang tertutup sejak semalam, mulai terbuka perlahan. Sebuah hal sederhana, tapi terasa begitu berat bagi sang pemilik kelopak mata. Yang tak lain adalah Aini.
"Kepalaku pusing sekali." Batinnya, sambil perlahan membiasakan dua bola matanya dengan keadaan sekitar.
Aini melirik ke kanan dan ke kiri. Ada yang berbeda dan terasa aneh.
"Aku dimana? Tapi, rasanya ini tidak asing." Gumamnya.
Aini mulai menoleh perlahan. Ia mulai menyadari dimana ia berada, setelah menemukan sebuah foto yang terpajang di atas nakas. Foto Ardi bersama Kenzo.
"Ini kan kamar mas Ardi?" Gumam Aini bingung.
"Kamu sudah sadar, Ni?"
Suara seorang laki-laki, menggema indah di seluruh penjuru kamar. Aini pun menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki dengan langkah tegapnya, berjalan ke arahnya dengan senyum bahagia.
"Mas Ardi?" Ucap Aini lirih.
Ardi segera duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah tubuh Aini. Aini sedikit beringsut.
"Sejak kapan kamu sadar? Maaf, aku mengobrol dengan mama di luar tadi. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ardi perhatian.
Aini diam tak menjawab. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia masih belum paham dengan situasinya saat ini. Apalagi, kepalanya masih terasa berdenyut cukup keras.
"Kamu kenapa diam? Apa ada yang sakit?"
Ardi begitu cemas karena tak mendapat respon dari Aini. Ardi pun reflek menggenggam tangan Aini. Hingga tanpa sengaja, menekan bagian jarum infus yang tertancap di tangan Aini. Aini pun spontan merintih.
__ADS_1
Aini melihat tangannya yang terasa sakit. Ia terkejut, ada jarum infus di sana. Ia lalu mengikuti arah selang infus, yang kantong infusnya tergantung di atas pojok ranjang.
"Kenapa,," Ucap Aini makin bingung.
"Kamu semalam pingsan di atap dan kehujanan. Gilang yang memasangkan infus untukmu. Nanti dia akan kembali untuk memeriksa kondisimu." Jelas Ardi lembut.
"Saya pingsan?"
Aini tak ingat, jika ia sempat pingsan semalam. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi malah membuat kepalanya makin sakit. Aini pun meringis kesakitan. Tangannya refleks memegangi kepalanya. Dan saat itu ia baru sadar, bahwa ia tidak mengenakan jilbab.
"Kamu kenapa?" Tanya Ardi khawatir, saat Aini meringis kesakitan.
Ekspresi Aini berubah seketika, saat menyadari tak ada kain penutup di kepalanya. Ia berusaha meyakinkan diri, dengan mengangkat kedua tangannya untuk meraba kepalanya.
"Jilbabku?" Ucapnya panik.
Ardi mendadak kikuk karena reaksi Aini. Ia sedikit kebingungan mengungkapkan bahwa ia yang melepaskan jilbabnya semalam.
Dan saat masih dilanda kebingungan, Aini pun mulai menyadari, ada yang lain dengan pakaiannya. Ia tak memilki pakaian berwarna abu-abu, seperti yang ia kenakan saat ini. Ia lalu mengintip di bawah selimutnya.
"Kenapa,, kenapa,, ini,,??" Aini menatap satu per satu keanehan di dirinya.
Aini benar-benar kebingungan dengan semua yang ia temukan. Ia bahkan tak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana menanyakan semua itu pada Ardi.
"Tenanglah! Aku akan jelaskan padamu!" Pinta Ardi lembut, sambil memegangi kedua lengan Aini.
Aini menatap nanar pada Ardi. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang terjadi saat ini. Ia sudah kepalang basah, Ardi jelas sudah melihatnya tanpa jilbab. Lalu, bagaimana dengan pakaian yang ia kenakan?
"Mas Ardi, tidak,,?" Ucap Aini terbata dan makin lirih.
"Tenanglah dulu! Aku akan jelaskan perlahan!" Pinta Ardi sedikit memaksa.
Hati Aini mendadak terasa pedih tak terkira. Ia tak menyangka, akan berada dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan. Air matanya pun mengalir tanpa permisi, melewati kedua pelipisnya.
Sepasang tangan kekar nan lembut, segera mengusap air mata itu tanpa ijin. Menyapu dengan penuh perhatian dan kelembutan.
"Jangan menangis, kumohon!" Ucap Ardi penuh sesal.
Aini sedikit sesenggukan. Ia berusaha menahan air matanya, agar tak melewati singgasananya.
"Maaf, aku melepaskan jilbabmu semalam." Jujur Ardi, dengan tatapan sendu pada Aini.
Hati Aini mendadak makin pedih. Ia tak mengira, Ardi yang melepaskan jilbabnya. Dan itu tanpa ijinnya.
"Maaf, aku tak meminta ijin padamu terlebih dahulu. Karena kamu tak sadarkan diri semalam. Dan semalam, semua pakaianmu basah karena hujan." Jujur Ardi makin sendu.
Ada rasa bersalah menghantam hati Ardi. Ia sebenarnya juga tak ingin melakukan itu, tapi situasi yang sedikit memaksanya semalam.
Tubuh Aini mendadak lemas dan makin lemas. Tangannya tergeletak begitu saja tanpa tenaga. Pikirannya mulai jauh melayang tak tentu arah.
"Jika Mas Ardi yang melepaskan jilbab saya, lalu, siapa yang menggantikan pakaian saya? Apa Mas Ardi juga yang melakukannya?" Tanya Aini cemas.
Ardi terdiam. Wajahnya yang tadi menatap Aini penuh perhatian, tiba-tiba tertunduk begitu dalam. Bahkan, tangan kekar itu, perlahan melepaskan diri dari wajah sang wanita, yang sedari tadi membuatnya begitu cemas.
"Ituuu,," Ardi kesulitan menjawab pertanyaan Aini.
****************
Mohon dukungannya ya readers untuk karya othor 🙏😁
Terima kasih dan matur nuwun semuanya 😉
Love you all 😍😍
__ADS_1