
Riuh suara alam, mulai bersahutan menyapa setiap telinga. Memberi pertanda, bahwa sang surya siap untuk menunjukkan sinar hangatnya pada dunia. Menjadi awal yang indah, bagi setiap langkah yang akan ditapaki.
"Bunda! Umar mau main sama Bagus." Pamit Umar, selepas sholat dzuhur.
"Mau main kemana? Cuaca panas gini." Sahut sang bunda, yang sedang menuruni tangga.
"Ke rumah Anjar, Nda." Jujur Umar.
"Ya sudah, jangan kesorean ya pulangnya!"
"Siap, Bunda."
Si anak laki-laki, segera menyalami tangan bundanya. Lalu mengucap salam dan berjalan keluar.
"Mbak Erna, titip bunda ya!" Pesan Umar santai.
"Iya, Mar." Sahut seorang wanita, yang sedang sibuk membuatkan minuman.
"Eh, Mar!" Panggil wanita tadi, yang tak lain adalah Erna.
Umar yang sudah berlari untuk menghampiri temannya, segera menghentikan langkahnya.
"Iya, Mbak?" Jawab Umar setelah menoleh.
"Nanti masih ada demo di proyek sana. Jangan main deket proyek, ya!" Pinta Erna perhatian.
"Oke, Mbak." Jawab Umar yakin.
Erna lalu mengacungkan ibu jarinya pada Umar. Umar pun membalas dengan hal yang sama.
Umar lalu pergi ke depan menghampiri temannya yang sudah menunggu. Ia bersama seorang temannya, lalu mengendarai sepeda untuk menuju rumah temannya yang lain.
"Demo apa, Na?" Tanya Aini, setelah berada di dekat Erna.
"Aku denger, masalah pembebasan lahannya belum kelar." Jawab Erna ragu.
"Lhah? Proyek udah jalan gitu, masak pembebasan lahannya belum kelar?"
"Setahuku sih udah kelar, Mbak. Tapi ada beberapa oknum yang memprovokasi untuk meminta harga yang lebih tinggi."
"Astaghfirullah. Ada-ada aja orang-orang itu. Trus, perusahaan konstruksinya gimana?"
"Yang aku denger, hari ini pemilik perusahaannya mau dateng nemuin pendemo dan berunding sama mereka. Nyari jalan tengah."
"Wah, tanggung jawab banget itu pemilik perusahaannya. Sampai-sampai mau turun tangan langsung." Sahut Aini santai.
"Iya, Mbak." Jawab Erna sambil tersenyum manis.
Erna lalu mengantarkan minuman yang ia buat pada pembeli yang sedang menikmati santap siangnya di warung itu.
"Perusahaan konstruksinya masih baru kali, ya? Kok sampai ada masalah kayak gitu." Celetuk Aini, setelah Erna kembali.
"Enggak kok, Mbak. Udah lama perusahaannya. Udah banyak pencapaiannya juga perusahaan ini."
"Oh, ya?"
"Iya, Mbak."
"Apa nama perusahaannya?" Tanya Aini penasaran.
Memang, ada sebuah proyek pembangunan hotel dan mall yang sedang berlangsung di dekat warung Aini. Jaraknya sekitar dua kilometer. Tapi Aini tak pernah tahu, perusahaan apa yang menanganinya.
Erna sedikit menatap Aini dengan ragu. Ia bahkan ragu menjawab pertanyaan Aini. Erna pun diam terlebih dahulu.
Aini yang tadi menatap lurus ke arah jalan raya, akhirnya menoleh pada Erna yang bersiap duduk di dekatnya.
"Kamu kok diem, Na?" Tanya Aini bingung.
"Maha Karya Construction, Mbak." Jawab Erna perlahan.
Aini yang tadi berwajah polos, ekspresi wajahnya mendadak datar. Ia lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalan raya.
"Mas Ardi." Batin Aini segera.
Aini lalu beranjak dari kursinya. Ia lalu memilih keluar dari warungnya sejenak. Menikmati hiruk pikuk jalan raya, yang cukup ramai dengan lalu lalang para penggunanya.
Inilah kehidupan Aini sekarang. Setelah ia memutuskan untuk menjauh dari Ardi satu tahun yang lalu, ia memulai kehidupan barunya bersama Umar. Ia merintis usaha kecil untuk mencukupi kebutuhannya dan Umar.
Aini merintis usaha warung makannya di keramaian Kota Banyuwangi. Ia mendapatkan ruko yang cukup strategis, dengan harga sewa yang sedikit murah dari kenalan anak budhenya.
Aini menggunakan uang yang Ardi kirimkan ke rekeningnya sebelum ia pergi dari rumah Ardi, satu tahun lalu. Awalnya, Aini mengira uang itu hanya beberapa juta saja. Sebagai gajinya merawat Kenzo selama beberapa hari. Tapi ternyata tidak. Ardi mengirimkan uang ke rekeningnya dengan jumlah yang sangat fantastis.
__ADS_1
Flashback On
"Apa? Banyak sekali ini?" Ucap Aini penuh keterkejutan, saat melihat saldo rekeningnya di ATM.
Aini kehabisan uang cash saat ini. Setelah empat hari ia berada di Banyuwangi bersama Umar. Ia berniat mengambil beberapa lembar uang sebagai bekal hidupnya bersama Umar. Tapi malah dibuat terkejut dengan saldo rekeningnya.
"Kenapa mas Ardi mengirimiku uang sebanyak ini?" Gumam Aini bingung.
"Aku harus segera mengembalikannya." Akhir Aini.
Aini segera keluar dari bilik transparan itu. Ia lalu menuju bank terdekat, untuk mengembalikan uang yang Ardi kirimkan.
"Maaf, Bu! Uangnya ditransfer langsung dari teller. Kami tidak bisa mengembalikannya. Ibu bisa meminta nomor rekening orang yang mengirimkan uang ini terlebih dahulu. Baru setelah itu, kami bisa mengirimkan kembali pada beliau." Ucap teller bank yang melayani Aini.
Aini terdiam. Ia tak mungkin menghubungi Ardi saat ini. Karena ia saja meminta Ardi untuk tidak menemuinya kemarin.
"Oh iya, pak Dika." Batin Aini yakin.
"Baik, Mbak. Sebentar, saya akan mengubunginya!" Pinta Aini pada teller.
"Iya, Bu. Silahkan!"
Aini lalu mengambil ponsel Umar yang ia bawa. Ia lalu mencari nomor Dika yang sempat ia simpan di ponsel itu kemarin.
"Maaf, Bu Aini! Saya tidak bisa." Jawab Dika, setelah Aini mengutarakan maksud hatinya.
"Tapi Pak Dika, ini banyak sekali."
"Pak Ardi yang meminta saya mengirimkan uang itu untuk Anda."
"Tapi, kenapa sebanyak ini?"
"Apa yang Ibu berikan untuk pak Ardi, tidaklah sebanding dengan uang itu. Atau, apakah jumlahnya kurang?"
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa untuknya."
"Ibu menjadi pendonor untuk Kenzo."
"Bukankah hal itu sudah ditukar dengan mengembalikan Umar pada saya."
"Pak Ardi tulus membantu Anda dengan Umar."
" ..... "
"Oh, tidak ada, Pak." Sahut Aini gelagapan.
"Kalau begitu, akan saya tutup teleponnya."
"Tapi Pak Dika, bagaimana saya mengembalikan uang mas Ardi?"
"Anda tidak perlu mengembalikannya. Anda bisa memakainya untuk memenuhi kebutuhan Anda dan Umar."
"Tapi,,"
"Maaf Bu, saya harus segera pergi."
"Oh, baiklah."
Dika pun segera mengakhiri sambungan teleponnya. Aini akhirnya cukup kebingungan dengan uang sebanyak itu. Apalagi, ia tidak bisa mengembalikan uang itu.
Aini lalu pulang dengan hati yang bingung. Ia lalu menceritakan apa yang ia alami pada budhe dan pakdhenya.
Mereka menyarankan, untuk menerima saja uang itu saat ini. Mereka juga menyarankan Aini, untuk memulai usaha kecil untuk mencukupi hidupnya dengan sebagian uang itu.
"Tapi Budhe, aku mau mengembalikan uang itu."
"Kembalikan saja nanti, jika kalian bertemu. Kamu pakai dulu sementara untuk modal. Perlahan-lahan, uang itu pasti kembali kan, kalau usahamu sudah jalan. Dan setelah itu, kamu bisa mengembalikannya."
"Tapi Budhee,,"
"Kamu harus mencukupi kebutuhan Umar, kan? Ia juga harus sekolah."
Aini terdiam. Ia memikirkan dengan seksama, apa yang budhenya katakan.
"Aku akan ke Surabaya untuk mengembalikannya." Ucap Aini tiba-tiba.
"Kamu yakin? Bagaimana dengan anak laki-lakinya nanti?"
Aini sudah menceritakan apa yang terjadi padanya pada budhe dan pakdhenya. Karena tak mungkin baginya, datang ke kediaman pakdhe dan budhenya, tanpa alasan yang jelas.
"Aku akan ke kantornya saja, Budhe. Di sana aku tidak akan bertemu Kenzo. Sekalian ambil motor di rumah bu dewi."
__ADS_1
Hati Aini sebenarnya juga ingin bertemu Kenzo. Baru beberapa hari berpisah dengannya saja, ia sudah sangat rindu padanya.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Umar nanti biar di rumah sama Budhe."
"Iya, Budhe. Terima kasih."
Aini pun membulatkan hatinya untuk pergi ke kantor Ardi, yang pernah ia sambangi beberapa bulan yang lalu. Dan keesokan paginya, ia segera berangkat ke Surabaya seorang diri.
"Maaf, Bu. Saat ini, pak Ardi pergi ke Bandung." Jawab sang resepsionis kantor.
"Berapa lama?" Tanya Aini penasaran.
"Saya kurang tahu, Bu. Sepertinya sedikit lama. Karena beliau juga pergi bersama keluarganya. Itu yang saya dengar."
Aini berpikir sejenak. "Baiklah, Mbak. Terima kasih."
"Iya, Bu. Sama-sama."
Aini akhirnya memilih untuk kembali lebih dulu. Lain hari, ia akan kembali lagi ke kantor Ardi, untuk mengembalikan uangnya. Dan tak lupa, ia mampir ke rumah Dewi dan Galih untuk mengambil motornya.
"Kalian tidak bertemu rupanya." Ucap Galih sedih.
"Saya hanya melihatnya dari dalam bis, Pak." Aku Aini.
"Kenapa kamu tidak menemuinya?"
"Tidak, Pak." Singkat Aini sambil tersenyum getir.
Aini masih tetap tidak menceritakan pada Dewi dan Galih tentang apa yang terjadi padanya dan Ardi. Ia tetap menutup rapat masalah pribadinya.
Aini akhirnya kembali ke Banyuwangi dengan motornya. Selama di perjalanan, ia mempertimbangkan usulan budhenya. Untuk menggunakan uang itu lebih dulu. Dan akan mengembalikannya nanti lain waktu saat mereka bertemu.
Dan dengan bantuan anak dari budhenya, Aini mendapatkan ruko di area Kota Banyuwangi, dengan harga sewa yang sedikit berbeda. Aini pun memilih membuka warung makan siap saji sebagai usaha kecilnya. Dan tinggal berdua bersama Umar di sana.
Setelah satu bulan berjalan, warung Aini ternyata cukup ramai pembeli. Ia pun mulai kewalahan mengurusi warungnya sendirian. Ia lalu mencari karyawan baru untuk membantunya. Hingga memutuskan untuk menerima dua orang karyawan yang mendaftar.
Dan ternyata, salah satu diantara karyawan barunya adalah pengawal Ardi yang dulu pernah mengikutinya, Erna. Aini menyadari itu sejak pertama kali Erna datang padanya.
Aini akhirnya menerima Erna menjadi karyawannya. Karena memang Erna memiliki kemampuan cukup bagus dalam bidang kuliner. Dan Erna juga berjanji, tidak akan membicarakan tentang Ardi selama ia menjadi karyawan Aini.
Erna memang ditugaskan Ardi menjaga Aini. Dan saat ia tahu Aini membutuhkan karyawan, ia pun memafaatkannya agar bisa lebih dekat dan mudah menjaga Aini.
Tapi tak disangka, ternyata Aini mengetahui identitasnya. Ia akhirnya juga melaporkan hal itu pada Ardi, dan Ardi juga menyetujui syarat Aini.
"Bu Aini meminta saya mengembalikan sebagian uang yang Bapak berikan, dan akan mengembalikan sisanya nanti. Karena sebagian uang yang Bapak berikan, bu Aini pakai untuk membuka usaha." Jujur Erna.
"Baiklah. Ada lagi?"
"Beliau juga meminta saya untuk tidak melaporkan segala hal pribadinya yang mungkin saya ketahui pada Bapak atau anak buah Anda."
"Baiklah. Aku percaya padamu. Jaga dia dengan baik! Katakan padaku hal-hal yang memang perlu kamu katakan padaku!"
"Baik, Pak."
Aini akhirnya berhasil mengembalikan sebagian uang yang Ardi kirim melalui Erna. Dan Erna pun menepati janjinya pada Aini dan Ardi. Ia membantu dan menjaga Aini dengan baik. Dan tetap melaporkan beberapa hal pada Ardi.
Dua karyawan Aini pun tinggal bersama Aini di ruko itu. Mereka berempat menempati lantai dua ruko bersama-sama.
Flashback Off
Erna menatap Aini dengan lesu. "Maaf, Mbak!"
Erna sudah berusaha untuk tidak membicarakan tentang MK Construction pada Aini. Tapi takdir berkata lain. Ia akhirnya mengatakan itu karena Aini yang menanyakannya.
Di tempat lain, saat sang surya mulai semakin bergulir ke barat, Umar bersama tiga temannya memilih untuk pulang. Mereka pun menuruti pesan orang tua mereka, untuk tidak bermain di dekat wilayah konstruksi.
Bruk. Umar tanpa sengaja diserempet oleh pengendara motor yang mengandarai motornya dengan ugal-ugalan. Ia pun jatuh bersama sepedanya di atas aspal. Ketiga temannya pun segera menolongnya. Mereka bahkan meletakkan begitu saja sepeda mereka demi menolong Umar.
"Kamu nggak papa, Mar?" Tanya salah satu teman Umar.
Umar sedikit meringis kesakitan. Kaki dan tangannya sedikit lecet karena terkena aspal.
Dan tanpa keempat anak itu sadari, ada sebuah mobil yang berhenti di belakang mereka. Orang-orang di dalam mobil itu melihat kejadian saat Umar diserempet tadi. Mereka pun segera turun dan berniat membantu Umar.
"Kejar mereka!" Ucap seorang laki-laki, yang baru saja turun dari mobil.
Ketiga teman Umar, masih fokus pada Umar, dan tidak begitu memperhatikan orang yang turun dari mobil dan segera menghampiri mereka.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya salah satu laki-laki itu, setelah berada di dekat keempat anak itu.
Keempat anak itu segera menoleh. Dan saat ini, Umar mendadak membulatkan matanya.
__ADS_1
"Papa?" Ucap Umar tak percaya.