
"Bolehkah, Kenzo memanggil Tante, bunda? Seperti Umar." Ucap Kenzo lebih hati-hati.
Kenzo tertunduk. Ia cemas dengan jawaban dan reaksi yang akan Aini berikan nanti. Jari-jemari tangannya sangat dingin saat ini. Tapi, keringatnya keluar cukup banyak di sekujur tubuhnya.
Di ruang sebelah, Ardi sudah mulai melangkahkan kakinya. Ia ingin menghampiri putranya dan memeluknya erat saat ini. Ia sungguh tidak menyangka, pertanyaan itu akan keluar dari mulut Kenzo.
Tapi langkah tegap pria nan gagah dan tampan itu, kembali ditahan dengan begitu eratnya oleh sang ibu. Niken menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk mencegah Ardi pergi ke ruangan sebelah.
"Tapi, Ma?" Ucap Ardi lirih.
Niken hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab dan mencegah Ardi pergi menemui putranya.
"Boleh ya, Bunda! Kenzo kan jarang sekali bertemu dengan mamanya." Celetuk Umar tiba-tiba.
Aini pun segera menoleh kepada putranya, yang ternyata baru saja selesai menghabiskan makanannya. Ia pun tersenyum pada Umar.
Kenzo tadi sudah mengatakan hal itu pada Umar terlebih dahulu. Ia juga ingin meminta ijin pada Umar untuk memanggil Aini dengan panggilan yang sama sepertinya, bunda.
Anak laki-laki berusia delapan tahun itu sungguh merindukan sosok ibu dalam kesehariannya. Meski ia dilimpahi kasih sayang yang begitu besar dari nenek yang selama ini merawat dan menjaganya, tapi itu tak pernah bisa sebanding dengan kasih sayang seorang ibu. Dan itu yang selalu Kenzo rindukan dalam diam.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kenzo mendapatkan kasih sayang layaknya seorang ibu dari Aini. Ia sungguh bahagia dengan kehadiran Aini beberapa bulan terakhir. Ia juga bersyukur, Umar tak pernah keberatan berbagi kasih sayang ibu kandungnya dengan dia.
Dan tadi sebelum pelajaran dimulai, Kenzo memberanikan diri meminta ijin pada Umar untuk memanggil Aini sengan sebutan bunda.
"Tentu saja boleh, Sayang." Sahut Aini hangat.
Aini tak pernah mengira, Kenzo akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Ia tahu, Kenzo ditinggal oleh ibunya sejak kecil. Tapi, ia tak pernah tahu, siapa sosok orang tua Kenzo sebenarnya.
Hati Aini yang tulus, tak pernah bisa menolak permintaan sederhana seorang anak kecil. Apalagi, ia tahu sedikit kisahnya selama ini. Dan ia pun juga teringat, ia pernah kehilangan calon anaknya dulu. Jadi, ia tak menolak permintaan sederhana Kenzo tadi.
Kenzo segera mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah mungil Aini yang ternyata sedang tersenyum hangat padanya. Ia pun menarik sudut bibirnya dengan lega.
"Bunda!"
Sebuah panggilan nan sederhana itu, akhirnya keluar dari mulut Kenzo. Hatinya bergetar kala panggilan itu keluar dari mulutnya.
"Iya, Sayang." Jawab Aini bahagia.
Aini segera mengulurkan tangannya untuk menyambut Kenzo. Kenzo pun dengan senang hati menyambut tangan Aini yang siap memeluknya. Mereka pun berpelukan dengan perasaan yang sangat bahagia.
Hingga tanpa terasa, air mata bahagia itu menemani momen sederhana itu.
"Jadi, sekarang Bunda punya dua orang jagoan yang tampan. Bukan begitu?" Ucap Aini, setelah ia juga memeluk Umar dan mengecup puncak kepala Umar dan Kenzo bergantian.
Dua anak laki-laki dalam pelukan Aini pun, mengangguk bahagia bersama.
"Terima kasih, Bunda, Umar." Ucap Kenzo sambil sedikit terisak.
__ADS_1
"Iya." Jawab Aini dan Umar bersamaan.
Mala yang duduk tepat dihadapan ketiga orang itu, ikut menangis haru menyaksikan adegan sederhana itu. Ia yang sangat tahu bagaimana kehidupan Kenzo selama ini, bisa ikut merasakan bagaimana perasaan Kenzo saat ini.
"Anda melihatnya sendiri bukan, Pak Ardi? Bagaimana kedekatan Kenzo dengan Bu Aini dan Umar." Batin Mala sambil melirik ke arah ruangan sebelah.
Sedang di ruangan sebelah, Ardi akhirnya terduduk lemas mendengar isak tangis bahagia sang putra. Ucapan terima kasih yang begitu mendalam dari putranya pada Aini dan Umar, untuk sebuah hal sederhana.
Ardi tak pernah menyangka, putranya ternyata begitu mengharapkan kehadiran seorang ibu selama ini. Apalagi, dengan kondisi tubuhnya yang tidak sempurna.
Hingga akhirnya, momen sederhana nan indah itu, harus terhenti karena bel istirahat telah usai. Umar dan Kenzo pun berpamitan pada Aini untuk kembali ke kelas.
"Berikan Bunda satu kecupan!" Ucap Aini manja, sambil menunjukkan jari telunjuk kanannya.
Umar dan Kenzo yang baru saja menyalami tangan Aini secara bergantian, segera saling pandang. Mereka saling melempar senyuman tampannya.
CUP.
Kedua pipi Aini pun segera mendapat serangan secara bersamaan dari Umar dan Kenzo. Aini pun tersenyum bahagia. Umar dan Kenzo segera meninggalkan ruang tamu itu untuk kembali ke kelas.
"Terima kasih, Bu Aini." Ucap Mala tulus, seraya membersihkan sisa air mata yang tadi sempat membasahi pipinya.
"Untuk apa, Bu Mala?" Tanya Aini bingung.
"Karena Anda menyetujui permintaan Kenzo."
Mala terdiam.
"Saya tidak tahu siapa orang tua Kenzo. Saya takut, jika orang tuanya akan salah paham dengan hal ini nanti."
Mala masih diam. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat untuk Aini.
"Apa saya boleh meminta bantuan Anda, Bu Mala?" Tanya Aini ragu.
"Jika saya bisa, saya akan membantu Anda, Bu Aini." Sahut Mala cepat.
"Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada orang tua Kenzo untuk yang tadi, Bu Mala. Bukan maksud saya ingin menggantikan sosok ibu kandung Kenzo dalam kesehariannya. Saya hanya tidak bisa menolak permintaan sederhana itu karena saya menyayanginya begitu saja." Pinta Aini sedikit cemas.
"Tentu saja, Bu Aini. Nanti akan saya sampaikan." Sahut Mala yakin.
"Terima kasih, Bu Mala."
"Sama-sama, Bu Aini."
Mereka saling melempar senyum hangatnya. Aini pun segera berpamitan pada Mala. Ia tak bisa berlama-lama di sana seperti biasa.
Tapi sebelum Aini pergi, Mala memberikan sebuah undangan pada Aini. Undangan acara perayaan lustrum yayasan yang akan diadakan minggu depan. Dan Umar dan Kenzo akan menampilkan pertunjukan kecil bersama teman-temannya besok.
__ADS_1
"Saya tidak bisa hadir, Bu Mala. Mantan suami saya pasti akan hadir besok." Jawab Aini cepat.
"Saya akan membantu Anda, Bu Aini. Apa Anda tidak ingin melihat dua putra Anda menampilkan kebolehan mereka di atas panggung?" Tawar Mala tanpa ragu.
"Jika ayah Umar melihat saya, dia pasti akan sangat marah, Bu Mala. Saya tidak ingin membuat kekacauan."
"Bu Aini tenang saja! Besok, saya akan membantu Ibu, agar Pak Adit tidak mengetahui keberadaan Ibu." Jawab Mala yakin.
Mala dengan sungguh-sungguh merayu Aini. Karena ia yakin, dalam lubuk hati Aini, pasti ingin melihat putranya tampil di atas panggung bersama teman-temannya.
"In shaa Allah, Bu Mala." Sahut Aini ragu.
Mala tersenyum sedikit lega. Ia lantas mengantar Aini ke depan seperti biasa. Dan setelah Aini keluar dari area sekolah, ia kembali melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Termasuk menemani sang empunya sekolah dan yayasan yang menaunginya.
...****************...
Pagi yang redup. Sinar hangat sang surya, sedikit terhalangi oleh gumpalan-gumpalan awan hitam yang berarak memenuhi hampir seluruh langit kota. Memberikan suasana yang tak begitu ceria pagi ini.
Aini masih ragu-ragu dengan keputusannya semalam. Meski ia sudah sedikit meminta saran pada Dewi dan Galih, ia tetap ragu dan cemas dengan keputusannya.
Aini semalam meminta pendapat Dewi dan Galih, tentang undangan yang diberikan Mala minggu lalu. Undangan untuk menghadiri acara lustrum yayasan yang diadakan di sekolah Umar.
Aini sungguh ingin hadir dan melihat kedua putranya tampil di atas panggung. Tapi ia juga tak lupa, bahwa Adit dan Ratri pasti hadir juga hari ini. Dan itu tidak menutup kemungkinan, bahwa Adit akan melihatnya nanti, jika ia hadir di sana. Meski, Mala sudah berjanji akan membantu Aini agar tidak ketahuan oleh Adit.
Dewi dan Galih menyarankan Aini untuk hadir dalam acara itu. Tapi, ia hanya akan masuk ke ruang acara saat Umar dan Kenzo tampil saja.
Aini sebenarnya setuju dengan saran Dewi dan Galih. Hanya saja, hatinya masih cemas dan gelisah, jika nanti Adit akan mengetahui kehadirannya dan akan membuat keributan karena itu.
Aini akhirnya membulatkan tekadnya demi kedua putranya. Mereka juga pasti akan bahagia saat melihatnya hadir di sana. Dan lagi pula, ada seseorang yang sudah berjanji akan membantunya nanti.
Aini pun berangkat ke sekolah Umar. Hanya saja, hari ini ia tak membawa bekal apapun. Karena memang, hari ini ia hanya akan melihat kedua putranya dari kejauhan.
Saat sampai di sekolah, suasana sudah cukup ramai. Banyak mobil dan motor yang sudah terparkir di area parkir dan halaman sekolah. Ia segera menghampiri Mala, yang kebetulan sedang menyambut kedatangan para tamu bersama para guru.
Mala segera mengajak Aini ke ruangannya. Ia menyembunyikan Aini di ruangannya, sementara menunggu acara dimulai dan giliran Umar dan Kenzo tampil nanti. Mala akan menghubungi Aini nanti, saat tiba giliran Umar, Kenzo dan teman-temannya tampil. Aini pun menurutinya.
Cukup lama Aini menunggu di ruangan Mala. Hingga Mala memberitahunya melalui pesan singkat di ponselnya, bahwa acara sudah dimulai. Dan, Umar dan Kenzo akan tampil setelah sambutan dari pemilik yayasan.
Setelah beberapa saat, Mala kembali mengabari Aini, bahwa sang pemilik yayasan sedang memberikan sambutannya. Itu berarti, Umar dan Kenzo akan segera tampil. Dan Aini pun bersiap menuju Aula dimana acara itu digelar.
Dengan langkah ragu, Aini berjalan sambil menoleh kesana kemari. Memantau dan mengamati, bahwa Adit tak ada di sekitarnya. Ia pun masuk melalui pintu belakang, yang tak menjadi pusat perhatian para tamu.
Dan saat Aini masuk, bertepatan dengan sang pemilik yayasan menyelesaikan sambutannya. Sang pembawa acara pun segera melanjutkan acaranya dengan penampilan dari siswa kelas dua. Dan ternyata, mereka menampilkan tarian dan nyanyian bersama-sama.
Aini tersenyum haru melihat kedua putranya. Mereka tersenyum bahagia dan terlihat sangat tampan dengan setelan mereka masing-masing. Aini tak dapat menahan hatinya untuk sedikit melambaikan tangannya pada mereka. Dan ternyata, Umar dan Kenzo menyadari itu. Mereka pun melemparkan senyumnya pada Aini yang berada jauh di belakang.
Hingga, Aini merasakan perasaan yang tak baik secara tiba-tiba. Ia mengedarkan pandangannya. Ternyata, Adit sudah berdiri tegak menatapnya dengan tajam. Hati Aini mendelik seketika. Aini segera berbalik badan dan keluar dari aula.
__ADS_1
"Berhenti!" Teriak Adit tanpa ragu.