Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Pagi menyapa para penduduk bentala. Menyapa setiap raga dengan cara yang sama, tapi terasa berbeda bagi setiap jiwanya.


Aini pagi ini kembali menyiapkan sarapan untuk semua orang. Ia sudah terbiasa dengan kegiatan pagi. Apalagi, ia tak bisa berleha-leha begitu saja di rumah orang yang sudah begitu baik padanya. Begitu pemikiran Aini.


Hari ini, Aini sudah menempati kamar barunya. Kamarnya berada di lantai satu. Bersebelahan dengan kamar Tika. Sedang kamar Sri dan Prapto, suami Sri sekaligus tukang kebun di kediaman Ardi, berada di seberang kamar Aini dan Tika.


Aini akhirnya diijinkan menempati kamar ART yang kosong di lantai satu. Sedang Umar, tetap berada di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Kenzo. Itu keputusan Rama dan Niken.


Suara bel di pintu utama, mengalihkan perhatian Aini yang baru saja turun, setelah selesai membantu Umar dan Kenzo bersiap untuk sekolah. Ia pun dengan langkah santainya, berjalan menuju pintu untuk membukakannya.


"Pagi!" Sapa seorang wanita cantik yang berada di depan pintu.


"Iya, selamat pagi." Jawab Aini ramah.


Aini memperhatikan wanita di hadapannya. Wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai, rambut hitam panjang yang dikucir tinggi dan rapi. Serta tubuh proporsional dengan kulit putih mulus, dan kaki yang jenjang nan indah.


Tak lupa, sebuah dres ketat berwarna navy selutut dan berlengan pendek, begitu terlihat pas di badannya. Dan juga high heels sepuluh senti berwarna senada dengan dres dan tas tangannya, terlihat begitu pas di segala sisi. Membuat penampilannya nyaris paripurna.


"Anda? Ingin bertemu dengan siapa?" Tanya Aini ramah.


"Kamu kan, wanita yang ada di pemberitaan itu?" Ucap wanita itu, setelah sedari tadi memperhatikan Aini dengan seksama.


"Pemberitaan?" Tanya Aini bingung.


"Iya. Calon istri Ardi." Jawabnya sedikit meledek.


Aini memang menjadi bahan pembicaraan beberapa orang dalam dua hari terakhir. Apalagi kalau bukan karena ulah Ardi saat di rumah Adit kemarin, yang dengan jelas mengatakan bahwa Aini adalah calon istrinya.


Meski Ardi bukanlah public figure, tapi ia cukup dikenal oleh orang-orang sebagai salah satu pengusaha muda yang sukses di negeri ini. Dan lagi, status dudanya yang cukup menarik perhatian beberapa orang.


"Bukan, Bu. Saya bukan calon istri pak Ardi. Saya hanya,,"


"Iya. Dia calon istri Ardi. Memangnya kenapa?" Sela Niken tiba-tiba.


Ucapan Aini tadi terpotong oleh Niken, yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Rama karena mendengar bel rumahnya berbunyi.


Aini segera menoleh pada Niken dengan penuh tanya. Lagi-lagi ia terjebak dalam situasi yang canggung dan aneh, karena ucapan Ardi tempo hari.


"Mama jangan bercanda, ah!" Sahut wanita itu tak percaya.


"Jangan panggil aku seperti itu!' Jawab Niken kesal.


Deg. Aini dan wanita itu sama-sama tertegun. Sebenarnya, wanita itu sudah pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Niken. Tapi tak ia hiraukan.


Aini menatap Niken dan wanita itu bergantian dengan tatapan penuh tanya.


"Ada apa kamu kemari? Kamu tak pernah diterima lagi di rumah ini." Ucap Niken tegas.

__ADS_1


Hati Aini medadak berdetak kencang karena ucapan Niken. Ia tak tahu, kenapa Niken bisa bersikap seperti itu pada wanita cantik yang baru saja datang ini.


"Oliv ingin ketemu Kenzo, Ma." Jujur wanita itu.


"Apa Ardi sudah mengijinkanmu?" Tanya Niken cepat.


"Ardi sudah mengijinkannya, Ma." Jawabnya ragu-ragu.


"Tak mungkin. Ardi pasti mengatakannya jika ia mengijinkanmu. Kamu pasti belum mendapatkan ijin darinya, bukan?" Cibir Niken.


Ya, wanita itu Oliv. Indah Olivia, ibu kandung Kenzo. Dia pagi iji nekat peegi ke kediaman Ardi untuk menemui Kenzo. Ia tahu, ia bisa menemui Kenzo saat pagi sebelum ia berangkat ke sekolah. Dan ia juga tahu, jika Ardi sedang keluar kota saat ini.


"Oliv hanya,,"


"Mamaa!"


Teriakan Kenzo mengalihkan perhatian keempat orang yang ada di dekat pintu. Mereka segera menoleh pada Kenzo yang sedang berlari dengan bahagianya ke arah ibu kandungnya.


Oliv tersenyum lebar melihat putranya sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya. Ia pun merentangkan tangannya untuk menyambut Kenzo.


Oliv segera memeluk putranya itu dengan begitu erat. Dan begitupun sebaliknya. Kenzo juga memeluk mamanya itu dengan begitu eratnya.


"Kenzo kangen Mama." Ucap Kenzo polos.


"Mama juga kangen." Jawab Oliv singkat.


Umar pun segera memeluk ibunya. Ia menatap penuh tanya pada Aini.


"Itu siapa, Bunda?" Tanya Umar.


"Itu, ibu kandungnya Kenzo." Jelas Aini perlahan.


Umar hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia paham maksud Aini.


"Mama, kenalin! Ini Bunda Aini dan Umar. Mereka tinggal di sini sekarang. Karena Bunda akan ngerawat Kenzo setelah operasi nanti." Ucap Kenzo antusias.


"Operasi?"


"Iya. Papa udah dapet pendonor buat Kenzo, Ma. Jadi, Kenzo bisa sembuh. Dan setelah operasi, Bunda yang akan merawat Kenzo." Jelas Kenzo bahagia.


"Ooohh,," Sahut Oliv dengan nada mengejek sambil melirik ke arah Aini.


Aini tersenyum bahagia melihat Kenzo begitu antusias dengan kedatangan ibunya. Tapi tidak dengan Niken. Ia begitu kesal karena kedatangan tamu yang tak diundang itu.


Niken sebenarnya sejak dulu kurang begitu suka dengan Oliv. Tapi karena Ardi yang begitu mencintai Oliv saat itu, ia akhirnya merestui hubungan Ardi dan Oliv.


"Ayo, Mama antar ke sekolah!" Ajak Oliv semangat.

__ADS_1


"Nggak boleh!" Bentak Niken segera.


"Iya. Biar Joko yang mengantar Kenzo dan Umar seperti biasa." Timpal Rama tiba-tiba.


"Tapi,,"


"Kamu mau identitas Kenzo terbongkar? Ardi sudah berusaha sangat keras selama ini menutupi identitasnya demi keselamatannya. Dan kamu malah mau membongkarnya begitu saja?" Tantang Niken dengan amarah yang mulai tersulut.


"Tenang, Ma!" Pinta Rama halus.


Niken mendengus kesal.


"Benar kata oma, Ma. Kenzo dan Umar berangkat sama pak Joko saja seperti biasa." Usul Kenzo.


Oliv pun mendadak kesal karena ucapan Kenzo. Tapi, ia berusaha menutupi hal itu. Ia pun tersenyum lembut pada putranya.


"Ya sudah, belajar yang giat ya!" Pesan Oliv.


Kenzo pun mengangguk patuh.


"Joko!" Panggil Niken sambil berteriak.


Tak lama, seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan, datang dengan pakaian satpamnya. Ia pun sudah bersiap mengantar Kenzo dan Umar seperti biasa sedari tadi.


"Antarkan Kenzo dan Umar ke sekolah!" Pinta Niken tegas.


"Baik, Bu." Jawab Joko patuh.


Kenzo dan Umar lantas berpamitan pada semua. Dan seperti biasa, Aini mengantar keduanya hingga depan rumah. Salah satu hal sederhana yang sudah lama Aini rindukan.


"Pulanglah! Kamu tak diharapkan lagi di sini." Pinta Niken ketus.


"Tapi Ma, ada yang ingin Oliv sampaikan." Ucap Oliv ragu-ragu.


"Sampaikan saja pada Ardi."


Hati Oliv benar-benar kesal karena perlakuan mantan mertuanya itu. Tapi, ia berusaha menutupi kekesalannya. Ia akhirnya memilih untuk berpamitan pada mantan mertuanya itu.


Saat di depan, Oliv bertemu dengan Aini.


"Kamu, jangan pernah berpikir untuk kecentilan sama Ardi! Ingat itu!" Pinta Oliv ketus.


Aini kebingungan dengan permintaan Oliv. Tapi, ia tak menghiraukannya. Karena memang, ia tak pernah berniat seperti itu pada Ardi.


Oliv pun melenggang dengan angkuhnya meninggalkan Aini. Ia berjalan dengan langkah sombongnya menuju mobilnya yang tadi ia bawa sendiri.


Terkadang, apa yang terlihat baik dan indah dari luar, tak selalu indah pula di dalamnya. Tak ada salahnya menilai sesuatu. Tapi, jangan hanya terpaku oleh luarnya saja. Karena mungkin, akan kita temukan hal yang sangat berbeda di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2