
Selamat pagi dunia. Pagi yang sedikit berawan, mengawali hari ini di Kota Kembang, Bandung. Setelah semalam cuaca langit cukup cerah, pagi ini, beberapa kumpulan awan hitam, menghiasi langit biru. Meski tidak begitu pekat, namun mampu menghalangi sinar mentari menghangatkan bumi.
Lalu, bagaimana kabar sejoli baru kita?
Ardi bangun dengan sangat bersemangat pagi ini. Hal itu jelas karena semalam ia berhasil melamar Aini dan mendapatkan jawaban yang begitu ia harapkan. Aini menerima lamarannya.
Meski masih ada satu hal yang mengusik hati Ardi, dan itu adalah PR besar baginya. Tapi ia berusaha tetap berpikir positif agar semuanya pun berakhir baik.
Aini? Ia jelas juga bahagia, karena apa yang ia harapkan juga terjadi. Tapi, ia tidak berani keluar dari kamarnya. Ia merasa malu jika harus bertemu dengan Rama dan Niken. Yang notabene, secara tidak langsung, sekarang menyandang status calon mertuanya.
Tok, tok, tok. Suara ketukan di pintu kamar Aini, sedikit mengejutkan penghuninya. Ia yang baru selesai mengaji karena tidak berani keluar kamar, mulai panik dengan siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Apa itu mama?" Gumam Aini cemas.
Tok, tok, tok. Ketukan itu kembali terdengar.
"Sayang! Kamu baik-baik saja, kan?" Teriak Ardi dari luar dengan nada cemas.
"Mas Ardi." Gumam Aini.
Aini pun segera membukakan pintu untuk Ardi. Dan benar, Ardi berada di depan pintu kamar dengan wajah yang cukup cemas.
"Kamu nggak papa, kan? Kenapa belum keluar kamar dari tadi?" Cemas Ardi seraya memegangi lengan Aini.
"Aku,, aku tidak apa-apa, Mas." Gagap Aini.
Ardi mengamati Aini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia bahkan menyentuh kening Aini untuk memastikan jika Aini tidak sedang sakit.
"Aku tidak apa-apa, Mas." Ulang Aini.
"Lalu, kenapa dari tadi belum keluar kamar? Kata mama dan bi' Mar, kamu belum keluar kamar sejak semalam. Kamu tidak biasanya seperti itu. Kenapa? Apa ada yang mengusikmu?" Cemas Ardi.
"Emmm,," Aini tertunduk bingung.
"Ada apa? Katakan padaku, Sayang!"
"Itu Mas,,"
Aini lalu mengangkat wajahnya dan menatap Ardi dengan bingung. Ia bingung, bagaimana mengatakan rasa malunya bertemu dengan Rama dan Niken, setelah semalam menerima lamaran Ardi.
"Kenapa?" Tanya Ardi makin cemas.
"Tak perlu malu padaku, Ni." Sela Niken tiba-tiba.
Ardi dan Aini menoleh pada Niken yang dengan santainya berjalan mendekati mereka.
"Mama?" Ucap Ardi dan Aini bersamaan.
Ardi segera menoleh kembali pada Aini. "Kamu malu pada mama? Malu kenapa?"
"Maaass,," Rajuk Aini lirih.
Ardi berusaha memahami maksud ucapan ibunya dan sikap Aini barusan. Ia pun kembali teringat, jika calon istrinya itu, mudah merasa malu.
"Aku mau nikah sama Aini, Ma." Ucap Ardi yakin, dengan tangan yang menarik Aini ke dalam pelukannya.
"Mas, lepas!" Pinta Aini cepat sambil menahan malu.
Aini sedikit meronta agar Ardi melepaskan pelukannya. Tapi bukannya melepaskan, Ardi malah semakin erat memeluk Aini dengan satu tangan dan memeganginya dengan tangan yang lain.
"Papamu?" Goda Niken.
__ADS_1
"Aini sudah menerima lamaranku, Ma. Semalam." Jawab Ardi yakin.
Semalam, saat Ardi dan Aini pulang berkencan, rumah sudah sangat sepi. Semua penghuninya sudah berada di kamar masing-masing. Jadi, Ardi dan Aini belum memberitahukan tentang apa yang terjadi pada mereka semalam. Meski sebenarnya, Rama dan Niken sudah tahu karena mendapat laporan dari Dika.
"Benarkah?" Cibir Niken.
Ardi lalu menunjukkan tangan kiri Aini, yang semalam berhasil ia semati cincin yang dibelikan Rama. Niken hanya menatapnya santai.
"Kalau Mama masih belum percaya, Mama bisa tanyakan pada Gilang dan Maya. Teman-teman Ardi juga jadi saksi semalam waktu Ardi melamar Aini." Ucap Ardi yakin.
"Tapi,," Gumam Aini lirih.
"Kenapa, Sayang?"
"Kalau mama belum tahu, kenapa mama bisa tahu alasan aku belum keluar kamar sejak tadi, Mas?" Bisik Aini pada Ardi.
Ardi menoleh dengan bingung pada Aini.
"Mama udah tahu kan?" Terka Ardi segera.
"Tahu apa?" Polos Niken.
"Nggak usah sok polos gitu deh, Ma!" Santai Ardi.
"Mas. Jangan kayak gitu!" Tegur Aini.
Niken tersenyum remeh pada Ardi karena dibela oleh Aini.
"Udah! Ayo sarapan dulu! Ditunggu Kenzo sama Umar di meja makan." Ajak Niken.
"Kan bener. Mama pasti udah tahu, kan?" Paksa Ardi.
Niken tak menanggapi Ardi. Ia lalu berbalik badan untuk berniat kembali ke ruang makan. Tapi, Ardi segera mencegahnya.
"Mama udah tahu, kan?"
"Udah. Kalian kelamaan sih semalam kencannya. Mama harus tanya sama Dika buat tahu hasilnya." Kesal Niken.
"Maaf, Ma." Lirih Aini.
"Nggak papa, Ni. Ardinya aja yang kelamaan ngajak kamu kencan semalam." Sahut Niken santai, sambil melirik ke arah Ardi.
Ardi lalu melepaskan ibunya. Ia pun bergantian menggandeng calon istrinya menuju meja makan. Niken pun akhirnya meninggalkan Ardi dan Aini lebih dulu.
"Mas!" Tegur Aini sambil sedikit meronta agar Ardi melepaskan tangannya.
"Nggak papa, Sayang. Papa dan mama pasti mengerti." Kilah Ardi.
"Aku malu, Mas. Nggak enak hati sama mereka."
"Kalau gitu, kita cari pak ustadz atau langsung ke KUA sekarang. Biar langsung sah, dan kamu bisa lebih nyaman. Ya?"
"Mas!"
Ardi cekikikan melihat ekspresi kesal Aini.
"Iya, iya. Kita akan ke Semarang nanti sore. Setelah mendapat restu dari mbak Ratna, kita baru ke KUA." Sahut Ardi yakin.
"Nanti sore?"
"Iya. Aku harus menghadiri rapat yang sudah tertunda siang ini. Setelah itu, kita akan berangkat ke Semarang."
__ADS_1
"Tapi,,"
"Aku tidak mau menunggu terlalu lama dan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi, Sayang."
Aini menatap wajah Ardi untuk membaca keseriusannya. Dan dari wajah Ardi, tak ada sedikit pun ekspresi keraguan di sana. Aini pun mengangguk paham.
"Umar dan Kenzo?"
"Mereka jelas ikut, Sayang."
Aini hanya mengangguk bahagia. Ia tak menyangka, Ardi akan seserius itu dengannya. Bahkan, ia segera ingin mendapatkan restu dari Ratna. Yang mana ia ingat betul, Ratna sangat marah pada Ardi waktu itu setelah mendapat kabar dari Aini, kalau Aini pergi ke Banyuwangi.
Iya. Ratna benar-benar marah dan kecewa pada Ardi. Ia bahkan waktu itu tidak segan mengusir Ardi dari rumahnya, saking marahnya. Imron sampai harus meminta maaf pada Ardi atas sikap Ratna yang lepas kendali saat itu.
Aini yang mengetahui cerita kemarahan Ratna, sedikit cemas dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari, jika sampai Ardi kembali dalam kehidupannya. Karena mungkin, Ratna benar-benar akan mempersulit hubungannya dengan Ardi.
...****************...
Sore pun tiba. Ardi pulang dari kantor lebih awal. Ia tadi pagi sudah mengatakan niat hatinya untuk pergi ke Semarang bersama Aini dan dua putranya pada Rama dan Niken. Dan kedua orang tuanya menyambut baik hal itu. Rama pun sanggup membantu pekerjaan Ardi, selama Ardi di Semarang.
Ardi memboyong calon keluarga kecilnya ke Semarang dengan pesawat. Ardi dan Aini sepakat, mereka tidak memberitahukan kedatangan mereka pada keluarga kecil Ratna.
Dan selepas maghrib, pesawat Ardi mendarat di ibukota provinsi Jawa Tengah dengan lancar. Umar dan Kenzo pun sangat antusias untuk mengunjungi Ratna dan Imron.
Sepanjang perjalanan dari Bandung hingga ke Semarang, perasaan Ardi dan Aini diliputi kekhawatiran. Kekhawatiran jika Ratna akan menolak kedatangan Ardi dan bahkan tidak merestui hubungan mereka.
Ardi mengemudi seorang diri dari bandara hingga ke rumah Ratna. Dika sudah menyiapkan mobil untuk Ardi dengan bantuan pengawalnya. Butuh waktu sekitar empat puluh menit bagi Ardi, untuk menerobos lalu lintas Kota Semarang, agar sampai ke rumah Ratna.
Di salah satu desa yang tidaklah terlalu jauh dari keramaian kota, Ardi mulai melambatkan laju mobilnya. Hatinya makin gelisah tak karuan. Ingatan tentang bagaimana kemarahan Ratna padanya dulu, segera bermain indah di kepalanya.
Hingga, mobil Ardi berhenti di depan sebuah rumah yang cukup luas. Ia pun mulai memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dan saat itu terjadi, sang empunya rumah, nampak membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Budhe!" Panggil Umar segera, saat ia keluar dari mobil dan melihat Ratna di depan rumah.
"Oh, ponakan Budhe yang dateng ternyata." Sambut sang empunya rumah dengan antusias, Ratna pastinya.
Ratna segera menghampiri Umar dengan langkah pasti. Tapi langkahnya tiba-tiba melambat, saat melihat anak laki-laki lain, keluar dari pintu mobil yang sama dengan Umar tadi.
"Kenzo?" Lirih Ratna dengan perasaan yang mulai tidak nyaman.
Tapi, Umar yang langsung memeluk Ratna, mengalihkan perhatian Ratna. Ratna pun membalas pelukan Umat dengan gemas. Umar pun segera menyalami Ratna.
"Budhe, Kenzo juga ikut lho." Ucap Umar bahagia.
Ratna terpaku menatap Umar.
"Halo Budhe Ratna." Sapa Kenzo ramah.
Ratna pun akhirnya menoleh pada Kenzo, yang sudah berdiri di belakang Umar. Ia lalu tersenyum pada Kenzo.
"Halo juga, Kenzo." Balas Ratna tak kalah ramah.
Ratna sadar, Kenzo tak memiliki kesalahan tentang apa yang terjadi di masa lalu. Jadi, ia pun menyambut Kenzo dengan baik. Kenzo pun segera mengulurkan tangannya untuk menyalami Ratna.
"Assalamu'alaikum, Mbak." Panggil Aini, setelah ia keluar mobil dan berada di dekat Ratna.
"Wa'alaikumussalam. Kenapa nggak ngabarin kalau mau dateng?" Sahut Ratna cepat.
Aini hanya tersenyum, senatural mungkin, demi menutupi gelisah dan cemas hatinya. Ratna dan Aini pun segera berpelukan untuk melepas rindu.
Dan saat itu terjadi, Ratna melihat laki-laki yang baru saja keluar dari mobil dan mulai berjalan menghampiri dirinya dan Aini. Laki-laki yang cukup ia kenali sosoknya.
__ADS_1
"Pak Ardi?" Lirih Ratna tak percaya.