
"Wajahmu cantik, Sayang. Ingat itu!" Akhir Ardi lembut.
Aini pun mengangguk perlahan. Ardi lalu tersenyum lega melihat reaksi Aini.
"Terima kasih, Mas." Tulus Aini sambil tersenyum kecil.
Mereka duduk santai sambil menikmati suasana taman. Mereka saling diam. Aini masih sibuk memikirkan luka-luka yang ada di wajahnya tadi. Sedang Ardi, merasa bersalah karena Aini harus melihat kenyataan tadi.
Ardi menyadari sikap diam Aini. Ia tahu, Aini masih memikirkan apa yang dilihatnya.
"Hai, Om, Tante!" Sapa seorang anak perempuan yang duduk di kursi roda, yang baru saja tiba di taman.
Ardi dan Aini segera menoleh. Nampak seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahunan, duduk di kursi roda sendirian. Salah satu kakinya, dipasangi gips di bagian kaki bawah. Mereka tersenyum dan membalas sapaan anak itu.
"Hai juga. Siapa namamu, Cantik?" Sahut Aini bahagia.
"Lina, Tante. Nama Om dan Tante siapa?"
"Nama yang cantik. Ini om Ardi. Kamu bisa panggil Tante, tante Aini."
"Oke. Tante sakit apa? Dan, kenapa dengan wajah, Tante?"
Aini tertegun mendengar pertanyaan gadis kecil itu. "Dicakarin kucing."
Aini sedikit cengengesan demi menutupi getir hatinya. Karena seketika, ia ingat, bagaimana perlakuan Oliv kemarin padanya.
"Kucingnya pasti nakal banget ya, Tante?" Tanya Lina gemas.
"Iya, Lin. Kucingnya nakal." Singkat Aini.
"Kamu sendirian?" Timpal Ardi.
"Tadi sama perawat, Om. Mama sedang keluar karena ada urusan." Jujur Lina.
"Kakimu kenapa, Lina?" Tanya Aini penasaran.
"Jatuh dari tangga karena di dorong papa, Tante." Jujur Lina.
Ardi dan Aini jelas terkejut mendengar ucapan Lina. Mereka bertiga lantas mengobrol santai dan saling menghibur.
Ardi lega, karena ada Lina yang menyapa mereka tadi. Sehingga, perhatian Aini sejenak teralihkan dari luka-luka di wajahnya.
Setelah beberapa saat, seorang perawat menghampiri Lina dan memintanya kembali ke ruang rawatnya, karena sang dokter akan memeriksa kondisinya. Lina pun berpamitan pada Ardi dan Aini.
Aini menatap Lina dengan seksama. Hatinya merasa sedih, ketika mengingat cerita Lina, yang mendapat perlakuan buruk dari ayah tirinya, hingga membuatnya mengalami patah tulang kaki.
"Kasihan ya Mas, Lina." Iba Aini.
"Iya."
"Anak seumuran dia, harus mendapat perlakuan seburuk itu."
Ardi diam tak menjawab. Ia menahan geram sebenarnya sejak tadi, karena cerita Lina. Ia teringat perlakuan tiga orang yang telah menculik Aini kemarin.
"Kamu mau liburan lagi, Sayang? Setelah kamu pulih nanti." Tanya Ardi segera, demi mengalihkan perhatian Aini dan rasa geramnya.
Aini terdiam sejenak. "Aku ingin pulang ke Jogja, Mas. Atau mungkin ke Semarang, ke tempat mbak Ratna."
Ekspresi wajah Ardi, segera berubah. Ia melihat keseriusan dari wajah Aini. Dan itu jelas membuatnya khawatir.
"Kenapa?"
"Aku ke Surabaya demi bisa dekat dengan Umar. Dan sekarang, Umar sudah bisa bersama denganku selalu. Aku juga sudah memenuhi perjanjian kita, Mas. Aku akan melanjutkan kehidupanku bersama Umar." Jawab Aini santai.
"Tapi,,"
"Terima kasih, karena telah membantuku bisa kembali bersama Umar, Mas. Aku tak akan melupakan semua kebaikanmu dan semua orang yang sudah membantuku sejauh ini, Mas."
__ADS_1
Ardi menatap bingung pada Aini. Ia kehabisan kata saking terkejutnya.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu, Mas. Bisakah kita kembali ke ruang rawat?" Ucap Aini perlahan.
Ardi hanya mengangguk tanpa berucap. Ia lalu berdiri dan mulai mendorong kursi roda Aini untuk kembali ke ruang rawatnya.
Sepanjang perjalanan kembali, tak ada yang mereka obrolkan. Aini jadi teringat obrolannya dengan Imron dan Ratna kemarin.
Flashback On
"Jadi, kamu mau melanjutkan hubunganmu dengan pak Ardi?" Tanya Ratna ragu.
"Apa Mbak merestuinya, kalau aku melanjutkannya?" Tanya Aini cemas.
"Enggak. Mbak nggak mau kamu disakiti lagi." Jawab Ratna tegas.
Aini sedikit terkejut mendengar jawaban kakaknya. Ia tak menyangka, ketakutannya selama beberapa waktu terakhir, menjadi kenyataan. Ratna menentang hubungannya dengan Ardi.
"Buuu,," Panggil Imron pelan.
Ratna mendengus pelan. "Iyaa."
"Tapi, Mbak akan mendukung semua keputusanmu. Kalau memang kamu bahagia dengannya, Mbak akan mendukungmu. Tapi jika kamu memutuskan untuk tidak melanjutkannya, Mbak pun juga pasti mendukungmu." Jelas Ratna perhatian.
"Mbaakk,,"
"Nggak usah cengeng! Karena nanti, kalau sampai kamu dibuat nangis oleh pak Ardi, jangan cari Mbak!" Canda Ratna.
"Mbak kok gitu?" Manja Aini.
"Ya karena, Mbak udah ingetin kamu dari sekarang."
"Mbak kok malah do'ain, sih?"
"Bukannya Mbak do'ain atau berburuk sangka sama pak Ardi, hanya saja, kita kan bisa lebih hati-hati dan belajar dari yang sudah terjadi, Ni."
"Iya, Mbak Ratna sayang." Jawab Aini tersenyum lega.
Ratna pun segera melakukan hal yang sama dengan Aini. Ia pun segera menyambut Aini dan memeluknya dengan penuh perhatian.
"Mbak cuma pengen kamu bahagia, Ni." Ucap Ratna, saat ia memeluk Aini.
"Terima kasih, Mbak." Jawab Aini sambil mengangguk.
Dua kakak beradik itu tak dapat menahan airmata haru mereka. Buliran bening itu, perlahan membasahi dua pasang pipi wanita yang sedang berpelukan itu.
"Aku nggak diajak?" Sela Imron demi memecah suasana.
"Nggak!" Jawab Ratna dan Aini bersamaan.
Imron yang tadi sedikit cengengesan, saat mendengar jawaban dua wanita itu, segera beringsut karena terkejut. Tapi ia lega, karena tidak terjadi perdebatan antara Ratna dan Aini karena keputusan Ratna yang kurang menyetujui hubungan Aini dan Ardi.
Tiba-tiba, tawa Ratna dan Aini pecah. Mereka tertawa bersama karena tak menyangka, akan menjawab Imron dengan jawaban yang sama dan sangat kompak. Mereka pun lalu kembali mengobrol beberapa hal.
Flashback Off
Ardi mendorong kursi roda Aini dengan kurang fokus. Beruntung, tidak terjadi apa-apa saat ia mendorongnya sampai ruang rawat lagi. Ardi pun perlahan membantu Aini kembali ke ranjangnya. Ia lebih hati-hati saat ini. Karena tak ingin membuat Aini meringis menahan sakit seperti tadi.
"Mas, bisa tolong ambilkan minum?" Pinta Aini lirih.
"Iya." Jawab Ardi datar.
Aini sedari tadi tidak menyadari ekspresi wajah Ardi yang berubah drastis. Ia yang sedari tadi duduk di kursi roda, tidak bisa melihat wajah Ardi karena berada di belakangnya.
Ardi pun mengambilkan minum hangat untuk Aini.
"Mas kenapa?" Tanya Aini cemas, sebelum ia minum.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang." Jawab Ardi singkat.
Ardi benar-benar memikirkan ucapan Aini tadi. Karena memang, apa yang diucapkan Aini tadi ada benarnya. Tujuan Aini ke Surabaya adalah untuk dekat dengan Umar. Dan kini, Umar sudah kembali padanya. Dan bahkan, proses pendonoran pun sudah selesai. Ia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal di Surabaya.
"Bagaimana aku mencegahnya? Atau mungkin, aku harus meminta mama dan papa melamarnya pada bu Ratna sekarang?" Batin Ardi bingung.
Ya, Ardi kebingungan mencegah Aini agar tidak kembali ke Jogja. Ia tak ingin, berpisah dengan Aini saat ini.
Memang terdengar kekanak-kanakan, bahkan mungkin melebih Kenzo atau Umar. Tapi, memang itulah yang Ardi rasakan saat ini. Ia tak ingin terpisah jauh dan lama dari Aini.
Aini menikmati air hangat yang diberikan Ardi padanya tadi. Tapi netranya, tetap memperhatikan Ardi yang mendadak diam.
"Mas!" Panggil Aini pelan.
Ardi benar-benar sedang mencari ide untuk mencegah Aini. Hingga ia tidak mendengar Aini memanggilnya.
"Mas! Mas Ardi!" Panggil Aini lagi.
Ardi masih tetap tidak merespon Aini.
"Mas Ardi!" Panggil Aini sedikit keras.
"Apa? Ah, iya, Sayang. Kamu butuh sesuatu?" Jawab Ardi gelagapan.
"Mas kenapa? Ada masalah?" Tanya Aini perhatian.
"Ah, tidak, Sayang. Tidak ada masalah."
"Mas yakin?"
"Iya. Kamu sudah selesai minum?" Tanya Ardi, untuk mengalihkan perhatian Aini.
"Iya, Mas."
Ardi lalu meminta gelas minum Aini, yang masih dipegangi oleh Aini sejak tadi. Ia lalu mengembalikan gelas minum ke meja.
"Mas nggak mau cerita padaku?" Tanya Aini penasaran.
"Cerita apa?" Sahut Ardi, setelah duduk di dekat Aini.
"Yang Mas pikirkan."
"Aku memikirkanmu."
"Jangan bohong, Mas!"
"Aku tidak bohong, Sayang. Aku memikirkanmu tadi."
"Memangnya, ada masalah apa denganku?"
"Tidak ada." Elak Ardi.
"Mas jangan bohong!" Manja Aini.
"Aku tidak berbohong, Sayang." Jawab Ardi senatural mungkin.
Ardi meraih kedua tangan Aini. Mengusap lembut, jari jemari Aini dengan sangat perlahan, agar tidak menyentuh luka di punggung tangannya.
"Boleh aku mengatakan sesuatu, Mas?" Ucap Aini tenang, sambil menikmati kelembutan sikap Ardi.
"Tentu, Sayang. Ada apa? Katakanlah!" Jawab Ardi perhatian.
Aini tersenyum lembut, pada laki-laki yang sedang memanjakannya beberapa waktu terakhir itu. Ardi pun melihat senyum itu dengan sangat bahagia.
Aini meyakinkan hatinya untuk mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. Tatapannya tak lepas dari Ardi, yang sedang memperlakukannya dengan lembut.
"Mas Ardi,,"
__ADS_1
"Iya, Sayang."
"Aku,,"