Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Tawaran


__ADS_3

Apa yang melewati gendang telinga, tak selamanya selalu seperti itu adanya. Terkadang, ada hal yang tersembunyi, yang harus dicari tahu kebenarannya sebelum kita menilainya.


"Tubuhmu." Sahut Ardi singkat.


Kata itu menggema di telinga dan otak Aini dengan begitu jelasnya. Dunianya mendadak hening. Ia tak menyangka, ada orang yang bisa dengan mudahnya mengatakan hal itu dihadapannya.


Ardi yang menyadari ekspresi dan gelagat Aini, segera menyadari ucapannya sedikit kurang pas.


"Maaf. Maksud saya, saya ingin meminta salah satu organ tubuhmu, untuk didonorkan pada seseorang." Jelas Ardi segera.


Ekspresi wajah Aini seketika berubah.


"Ada seseorang yang membutuhkan donor organ tubuh. Saya sudah berusaha mencarikan donor untuknya, tapi, tingkat kecocokannya terlalu rendah." Imbuh Ardi.


"Siapa?" Sela Aini penasaran.


Ardi yang tadi memandang keluar mobil, segera mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua matanya menatapnya intens penuh perhatian.


"Kenzo."


"Kenzo? Ada apa dengan Kenzo? Dia sakit apa sebenarnya?" Tanya Aini cemas.


Ardi terdiam. Pikirannya melayang pada sosok putra semata wayangnya. Memunculkan memori-memori kebersamaannya bersama Kenzo yang selalu membahagiakannya.


"Saya sedikit mendengar dari bu Mala dan Umar, bahwa Kenzo sakit sejak masih bayi. Apa itu sangat serius?" Sambung Aini.


"Dia menderita leukemia." Jawab Ardi singkat.


Hati Aini terkejut bukan main. Ia tahu betul, itu bukanlah sebuah penyakit yang ringan. Karena ada salah satu kerabatnya yang juga menderita itu hingga harus kehilangan nyawanya.


"Selama ini, dia selalu tergantung pada obat. Ia tak mau menjalani kemo terapi, karena tak ingin rambutnya rontok hingga mengalami kebotakan. Ia malu pada teman-temannya jika itu terjadi." Jujur Ardi getir.


Hati sang ayah tampan itu, selalu melow ketika mengingat kondisi putranya. Ia sungguh merasa sedih, ketika semua yang dimilikinya, tak bisa membuat sang putra sembuh dari sakitnya. Meski ia sudah mencoba banyak cara.


"Sejak kapan?" Ucap Aini membuyarkan lamunan Ardi.


"Sejak ia berusia tiga bulan."


"Ibu,, oh, maaf."


Ucapan Aini tertahan, karena ia teringat cerita Mala. Bahwa ibu kandung Kenzo meninggalkannya sejak ia masih kecil, demi mengejar karirnya.


"Aku ingin membeli sumsum tulang belakangmu. Dan jika sumsum tulang belakangmu cocok dengan Kenzo, aku akan segera mengembalikan hak asuh Umar padamu. Bahkan sebelum kalian menjalani operasi tranplantasi." Jelas Ardi segera.


Aini terdiam.


"Umar."


Batin Aini bergejolak kembali karena mendengar penawaran dari Ardi yang sangat tidak pernah ia bayangkan. Seolah-olah, do'a yang selama ini ia panjatkan pada Sang Kuasa, mulai terkabul perlahan. Meski, ia harus kembali mendonorkan organ tubuhnya terlebih dahulu.


"Bagaimana jika tidak cocok?" Tanya Aini penasaran.


"Anda harus membayar mahal, jika ingin Umar kembali pada Anda." Sahut Ardi datar.


Aini menghela nafasnya.


"Dengan tubuhmu." Sambung Ardi tanpa menatap Aini.


Aini mengerutkan keningnya. Ia tak percaya, orang sehebat Ardi, bisa dengan mudahnya mengatakan itu padanya.


Ardi sebenarnya hanya ingin meminta Aini mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Kenzo. Ia sama sekali tak berniat meminta yang lebih dari itu pada Aini. Mengingat, Aini sudah sangat baik dan menyayangi Kenzo dengan tulus.


Tapi, Ardi tak ingin Aini melihat sisi baik dan lemahnya secara utuh. Ia selalu menutupi sisi baik dan lemahnya dengan beberapa cara yang terkadang diluar kepribadiannya yang sebenarnya.


"Maaf, Pak, Bu." Sela Dika tiba-tiba dari samping mobil yang pintunya terbuka.


"Ada apa?" Tanya Ardi segera.


"Pak Rama menelepon. Kenzo pingsan di rumah." Jujur Dika.


Jantung Aini berdetak kencang mendengar penuturan Dika.

__ADS_1


"Telepon Gilang!" Pinta Ardi panik.


"Dokter Gilang sedang ke Malang mengunjungi mertuanya sejak kemarin."


Ardi mendengus kesal.


"Kita pulang!" Pinta Ardi segera.


"Baik, Pak."


Ardi segera menoleh pada Aini yang ternyata, sedang menatapnya penuh belas kasih. Matanya memancarkan sebuah perhatian yang begitu besar.


"Maaf, saya harus segera pulang. Pikirkanlah tawaran saya tadi! Jika Anda sudah memutuskannya, temui saya di kantor! Ini alamat kantornya."


Ardi menyerahkan kartu namanya pada Aini. Sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tinta emas sebagai penanda nama pemiliknya.


Aini pun menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Perasaannya sangat cemas, mendengar Kenzo pingsan di rumah. Apalagi, ia baru saja mengetahui, bahwa Kenzo menderita sebuah penyakit yang cukup parah.


"Ada yang ingin Anda katakan?" Tanya Ardi, membuat keterkejutan Aini sedikit berkurang.


"Oh, tidak Pak. Kalau begitu, saya permisi." Pamit Aini sambil mengangguk kecil.


"Iya."


Aini segera keluar dari mobil Ardi. Ia lalu menutup pintu mobil Ardi dengan hati-hati.


Dika yang sudah duduk dibalik kemudi, segera menyalakan mesinnya. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju kediaman sang atasan. Hatinya ikut cemas, setiap kali mengetahui Kenzo pingsan.


Aini menatap laju mobil Ardi yang mulai menyatu dengan hiruk pikuk lalu lintas. Dan mulai menghilang diantara kendaraan-kendaraan lain.


"Cieee, habis dilamar nih kayaknya." Celetuk Dewi tiba-tiba yang sudah berada di samping Aini.


Aini terkejut karena suara Dewi. Ia bahkan sedikit berjingkat saking terkejutnya.


"Ibu, ada-ada saja. Mana ada hal seperti itu?" Sahut Aini yakin.


"Terus, ngomongin masalah pribadi apa tadi?" Tanya Dewi penasaran.


"Kenzo."


Aini mengangguk.


"Kenapa sama Kenzo?"


"Kenzo ternyata anaknya Pak Ardi."


"Apa? Bukannya kamu bilang, kalau dia dikucilin sama temen-temen sekolahnya? Emang dia kenapa?"


"Dia,,"


Obrolan dua wanita itu, akhirnya terhenti karena ada orang yang datang ingin membeli sesuatu di konter Dewi. Dewi pun dengan segera melayaninya.


Sedang Aini, kembali ke rumah untuk meneruskan pekerjaannya. Tapi, otaknya masih memikirkan apa yang baru saja ia obrolkan dengan Ardi.


Sebuah tawaran yang sangat menggoda iman Aini. Menggoda lubuk hati terdalam Aini.


Bersama kembali dengan Umar, adalah salah satu do'a yang tak pernah lelah ia pinta pada Sang Maha Kuasa. Dan kini, itu ada di depan mata.


"Tapi, bagaimana jika tidak cocok?" Gumam Aini khawatir.


Aini ingat betul, jawaban Ardi tadi.


"Apa maksud Pak Ardi? Aku harus membayar dengan tubuhku? Apa Pak Ardi laki-laki yang tak baik sifatnya?" Terka Aini sembari sibuk menyiapkan beberapa bahan makanan untuk makan malam.


Selain itu, pikiran Aini juga melayang pada Kenzo yang tadi ia dengar pingsan di rumah. Meski Kenzo hanya teman Umar, Aini sudah menyayangi anak itu dengan sepenuh hatinya. Apalagi, ia juga seorang ibu. Yang akan khawatir jika mendengar sesuatu yang buruk terjadi pada putranya.


Malam pun menyapa. Bintang dan bulan kembali menghiasi langit dengan sejuta pesonanya. Memberikan kehangatan pada setiap hati yang terkadang sepi dan sendiri.


Setelah makan malam, Dewi mengajak Aini mengobrol bersama Galih, setelah kedua putranya tertidur. Dewi sudah menceritakan tentang kedatangan Ardi ke rumahnya tadi pada sang suami. Ia juga mengatakan bahwa asisten Ardi yang mengikuti Aini minggu lalu.


"Sepertinya, kita sebentar lagi harus cari ART baru, Ma." Goda Galih, ketika Aini tiba dengan dua cangkir kopi hangat pesanan sang majikan.

__ADS_1


"Kenapa, Pa?" Tanya Dewi polos.


"Kan Aini mau jadi mamanya Kenzo." Sahut Galih santai.


"Pak Galih ada-ada saja." Celetuk Aini segera.


"Mbok yo di aamiin-ke ngono lho, Ni." Jawab Galih datar.


"Apanya yang di aamiin-kan, Pak? Dan lagi, Pak Ardi tadi kesini kan bukan karena hal seperti itu." Jujur Aini.


"Lha tadi Ardi ngobrolin apa sama kamu di mobil?" Sahut Dewi cepat.


Aini terdiam. Ia berpikir, apakah harus ia mengatakan percakapannya dengan Ardi tadi siang pada Dewi dan Galih. Tapi, ia juga butuh solusi dan saran atau mungkin informasi tentang Ardi dan Kenzo. Yang mungkin, Galih dan Dewi mengetahuinya.


"Duduk sini!" Ajak Dewi, sambil menarik tangan Aini.


Aini akhirnya duduk berdampingan dengan Dewi di atas karpet di rumah majikannya itu.


"Nggak mau cerita?" Rayu Dewi sedikit manja.


Aini pun akhirnya menceritakan apa yang dibicarakannya dengan Ardi tadi. Galih dan Dewi pun mendengarkan penuturan Aini dengan seksama.


"Terima saja tawaran pak Ardi. Tak ada salahnya mencoba. Jika memang cocok, kamu bisa menyelamatkan Kenzo bukan?" Saran Galih santai.


"Saya juga berpikiran seperti itu, Pak. Tapi, bagaimana jika tidak cocok?" Sahut Aini ragu.


"Kamu rayu aja itu duda ganteng. Siapa tahu, bisa jadi jodohmu." Goda Dewi lagi.


"Ibu ada-ada saja."


"Bener tuh kata Dewi. Siapa tahu, kamu bisa jadi ibunya Kenzo." Timpal Galih.


"Bapak sama Ibu ini, mana mungkin pak Ardi tergoda sama saya." Sanggah Aini sedikit malu.


"Takdir Tuhan, siapa yang tahu, Ni." Jawab Galih segera.


"Tapi Pak, Bu. Bagaimana jika nanti memang cocok, dan Umar kembali pada saya?"


"Ya alhamdulillah dong, Ni" Sahut Dewi bingung.


"Maksud saya, bagaimana kalau Mas Adit mengajukan gugatan kembali untuk mengambil Umar dari saya? Saya pasti tidak bisa melawannya."


"Itu akan sulit, Ni. Setahuku, pak Ardi itu sangat paham hukum. Dia juga bahkan memiliki firma hukum di beberapa kota. Jika nanti akhirnya pak Ardi membantumu merebut Umar kembali, ia pasti akan memastikan, Adit tak bisa mengambilnya lagi darimu." Jawab Galih yakin.


"Atau, kamu rayu aja dari sekarang. Terus, kamu jadi istrinya deh. Kan pasti kamu dan Umar aman." Usul Dewi semangat.


"Ibu kenapa ke sana terus sih arah pembicaraannya?" Tanya Aini penasaran.


"Aku juga pengen lihat kamu bahagia, Ni." Tulus Dewi.


"Saya sudah sangat bahagia Bu, meski hanya bersama Umar."


"Berarti sekarang nggak bahagia dong?" Cibir Dewi menggoda.


"Bahagia, Bu."


"Harus bahagia dong, Ma. Kan tadi diapelin duda ganteng." Timpal Galih ikut menggoda.


"Oh iya, ya ,Pa." Sahut Dewi makin girang menggoda Aini.


Aini pun akhirnya sedikit salah tingkah karena ulah kedua majikannya. Tapi, ia juga mulai memikirkan ucapan Galih tadi, untuk menerima tawaran Ardi.


Aini pun mulai mencari informasi yang lebih lengkap tentang apa itu leukemia dan transplantasi sumsum tulang belakang. Ia juga mencoba mencari informasi, orang seperti apa Ardi itu.


Di sisi lain, Ardi sedang menemani putranya yang terbaring lemah di ranjang pasien rawat inap. Ia menatap putranya dengan sedih. Ia terngiang ucapan dokter yang tadi menangani putranya.


"Kenzo harus segera mendapatkan pendonor. Kondisinya semakin memburuk."


Ardi sebenarnya sudah mendengar itu dari dokter pribadi Kenzo. Tapi, ia juga masih berusaha mencari orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk sang putra.


Harta memang tak menjamin segalanya. Karena memang, semua berada di tangan Sang Maha Kuasa. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, hanya bisa berusaha, berdo'a dan berpasrah pada-Nya. Agar diberi yang terbaik untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2