Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Berjalan Lancar


__ADS_3

"Resepsinya dibatalin aja, Ma!" Pinta Ardi saat melihat ibunya menggandeng Aini.


"Kamu nggak usah aneh-aneh deh, Di!" Sahut Niken sedikit kesal.


"Iya, Mas. Kenapa dibatalin? Kan ini udah mau mulai." Timpal Aini sembari memegangi gaunnya.


Rama dan Imron yang tadi berjalan bersama Ardi, hanya mengerutkan keningnya karena bingung. Mereka mencoba menerka alasan apa yang membuat Ardi mengatakan hal itu. Karena memang sedari tadi, tak ada hal aneh yang terjadi.


"Dibatalin aja pokoknya! Atau, ditunda dulu sebentar." Sahut Ardi yakin.


"Kamu ini kenapa sih? Semua udah siap gini juga." Kesal Niken.


"Tamu-tamu udah mulai datang, Di." Sela Rama.


"Kalau mau gulat sama Aini, nanti kalau acara udah selesai! Sekarang sabar dulu!" Santai Niken.


Ardi yang sedari tadi belum memikirkan hal itu, mendadak pikirannya jauh melayang. Ia sedikit membayangkan pergulatan hebat yang akan ia lalui bersama Aini, yang kini sudah halal menjadi miliknya.


Aini yang berada di sebelah Niken, segera menoleh. Ia terkejut, Niken bisa sangat santai mengatakan hal itu, meski sedikit diplesetkan.


"Mama!" Tegur Aini malu.


"Mama kok malah mancing Ardi sih?" Tantang Ardi.


"Lha terus, kenapa kamu mendadak ingin dibatalin acara resepsinya?" Sahut Niken, dengan tangan yang masih setia menggandeng Aini.


Ardi sedikit terdiam. Ia memikirkan kalimat yang pas untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"MUA-nya mana? Mereka belum pergi, kan?" Tanya Ardi, sambil sedikit celingukan ke arah dalam ruangan.


"Belum. Mereka masih membereskan peralatannya." Jawab Niken sambil sedikit menoleh ke belakang.


Tanpa aba-aba dan permisi, Ardi segera melangkah masuk ke dalam ruang rias Aini tadi. Ia pun meraih tangan Aini yang tidak digandeng oleh Niken. Meski sedikit memaksa, tapi Ardi menggandeng tangan Aini dengan lembut.


"Ayo Sayang, sebentar!" Ajak Ardi.


"Mas? Mas mau ngapain?" Tanya Aini sedikit cemas.


Aini yang tadi masih bingung dengan sikap Ardi, mendadak cemas dengan apa yang akan Ardi lakukan padanya, setelah ucapan Niken tadi.


"Di! Nggak ada kamar tertutup di sini." Sahut Niken cepat.


Aini menoleh pada Niken yang masih menahan tangan Aini.


"Di! Kamu nggak malu apa? Ini masih banyak orang. Kalian juga sedang ditunggu untuk acara resepsi." Cegah Niken lagi.


Langkah Ardi tersendat karena satu tangan Aini masih ditahan oleh Niken. Ia pun menoleh pada ibunya.


"Ma, lepasin tangan Aini!" Pinta Ardi.


"Enggak! Mama nggak akan lepasin tangan Aini. Kamu nggak malu apa mau lakuin itu di sini?" Kesal Niken.


Kegaduhan antara ibu dan anak itu, membuat para perias di ruangan itu menghentikan aktivitas mereka. Mereka pun menoleh dan melihat mempelai laki-laki yang sedikit berdebat dengan ibunya. Apalagi, mereka juga mendengar perdebatan itu, yang membuat mereka sedikit tidak nyaman. Dan kini, para laki-laki yang datang bersama Ardi, pun ikut masuk ke ruang rias.


"Mama apaan, sih?" Kesal Ardi.


"Kamu yang apaan? Acara udah mau mulai, malah mau unboxing di sini." Jawab Niken tak kalah kesal.


"Siapa juga yang mau unboxing, Ma?" Sahut Ardi mengalah.


"Terus?"


"Makanya, tangan Aini dilepasin dulu, Ma!" Pinta Ardi memaksa.


"Jawab Mama dulu! Kamu mau apain Aini?" Keukeuh Niken.


Ardi pun mendengus kesal. Ia lalu menatap tajam pada para perias yang sedari tadi masih diam dan menonton saja.


"Kemari sebentar, Mbak!" Pinta Ardi ke arah para perias.


Tiga orang perias wanita yang baru saja menyelesaikan tugas mereka itu, sejenak saling pandang. Mereka akhirnya menuruti permintaan Ardi yang nampak cukup kesal karena perdebatan kecil dengan ibunya.


"Dandani ulang Aini!" Tegas Ardi.


"Apa?" Ucap tiga perias itu tak percaya.


Tiga perias itu menatap Aini dengan seksama. Mereka ingin memastikan, bahwa penampilan Aini sudah sangat paripurna saat ini. Karena pasti bukan tanpa alasan, Ardi meminta mereka merias ulang Aini.


"Rias ulang istriku!" Ucap Ardi lebih tegas.


"Tapi, kenapa, Mas?" Tanya Aini segera.


"Iya, A'? Kenapa enengnya harus di rias ulang? Ini, udah sempurna, atuh. Enengnya cantik banget gini." Tanya salah satu perias.


"Ya karena itu, rias ulang dia! Jangan rias istriku terlalu sempurna dihadapan banyak orang! Aku tak mau, dia terlalu cantik di hadapan banyak orang." Tegas Ardi.


Semua orang yang mendengar ucapan Ardi, jelas terperangah. Mereka terkejut bukan main dengan apa yang baru saja Ardi ucapkan.


Bagaimana tidak? Jika biasanya, para pengantin ingin penampilan mereka begitu sempurna di hari pernikahan mereka, ini malah sebaliknya. Sang mempelai pria ingin mempelai wanitanya didandani yang biasa saja. Agar ia tidak tampil terlalu cantik di hadapan para tamu.


Memang, para perias profesional itu, berhasil merias Aini dengan begitu paripurna. Apalagi, Aini tidak terbiasa berdandan dengan riasan yang tebal dan bermacam-macam. Jadi, ketika saat ini ia dirias dengan riasan yang cukup lengkap, penampilannya begitu cantik dan nampak begitu berbeda.


"Aa' nggak salah bicara?" Tanya perias tadi.


"Apa ucapanku tadi kurang jelas?" Kesal Ardi.


"Tante Niken! Anaknya pinter ngelawak ya?" Celetuk perias lain sambil tertawa kecil.


Niken pun melepaskan tangan Aini dan segera menghampiri Ardi. Ia langsung memukul lengan Ardi dengan kesal.

__ADS_1


"Kamu ini apa-apaan, sih?" Geram Niken.


"Mama apaan, sih?" Sahut Ardi kesal.


"Dimana-mana itu, pengantinnya jelas tampil cantik. Kalau Aini sampai bisa secantik ini, ya kamu harusnya bersyukur. Bukan malah meminta MUA buat ngerias ulang."


"Ardi nggak mau, Ma."


"Terus, kalau Aini juga nggak mau kamu keluar dengan penampilan seperti ini, gimana? Kamu mau pake celana kolor di acara resepsi pernikahanmu?"


"Aku kan nggak dirias kayak Aini, Ma. Lagian, mana ada pengantin pake celana kolor diacara resepsi pernikahannya."


"Ya kamu jadi yang pertama kalau nggak ada."


"Nggak mau, Ma."


"Tuh! Kamu aja nggak mau tampil biasa di acara resepsimu. Masa, Aini kamu minta dirias biasa aja. Nggak adil banget kamu!" Sahut Niken puas.


Ardi terdiam. Ia benar-benar tak bisa menang, jika berdebat dengan ibu kandungnya. Ia pun menoleh pada Aini, yang ternyata, sedang tersenyum menatapnya.


"Mereka sudah bekerja keras meriasku, Mas. Mas nggak kasihan, kalau mereka harus meriasku ulang? Itu akan memakan waktu yang lama, Mas." Saran Aini.


"Tapi Sayang,,"


"Mas juga sudah mengirimkan undangan pada para teman dan keluarga Mas yang lain. Mereka juga pasti datang di waktu yang sudah tertera di undangannya. Mas mau mengecewakan mereka? Bukankah, nanti hal itu juga akan berpengaruh pada penilaian orang-orang pada pihak WO yang sudah Mas sewa? Banyak yang akan dirugikan karena hal itu, Mas." Jelas Aini perlahan.


"Tuh, dengerin Aini!" Sela Niken.


"Bagaimanapun, aku sudah menjadi istrimu, Mas. Kamu tak perlu mengkhawatirkan apapun!" Imbuh Aini, seraya menggenggam tangan Ardi yang belum melepaskannya.


"Si Eneng bener atuh, A'. Ibunya Aa' juga bener. Aa' juga bener, karena nggak mau istrinya berdandan cantik di depan laki-laki lain. Iya, kan? Tapi, tolong dipertimbangkan yang dibilang sama istri dan ibunya Aa', atuh!" Timpal perias tadi.


Ardi mendengarkan dengan seksama, ucapan Aini dan periasnya. Ia pun membenarkan apa yang mereka katakan. Ia lalu menatap pada orang-orang yang ada di sekitarnya, yang ternyata juga menatapnya dengan sedikit berbeda.


Ardi menghela nafas pelan. Ia akhirnya menurunkan egonya dan menuruti permintaan semua orang.


Semua pun lega setelah Ardi mau mengalah. Ardi dan Aini pun mulai berjalan keluar menuju tempat diadakannya acara resepsi bersama yang lain Sepanjang perjalanan, Aini tiada hentinya mencoba menenangkan hati Ardi. Agar nantinya, tidak mempengaruhi acara yang akan berlangsung.


Dan ternyata, sudah ada beberapa tamu yang hadir di sana. Mereka semua menyambut pengantin baru yang nampak begitu serasi dan bahagia itu.


Untuk sesi acara yang pertama, tamu-tamunya adalah para kolega bisnis Ardi dan rekan dari ayah dan ibunya. Sedang sesi yang kedua, tamu kedua mempelai adalah teman-teman diluar pekerjaan Ardi dan Aini. Tak terkecuali, Galih dan Dewi, serta Fajar dan Tika.


Pukul empat sore.


Suasana tempat acara sudah sepi. Hanya tinggal beberapa orang keluarga saja. Mereka pun sudah bersiap untuk pulang. Semuanya bersyukur, acara hari ini berjalan dengan lancar. Meski tadi sempat ada sedikit keanehan dengan mempelai laki-laki.


Dan pukul setengah lima sore, keluarga kecil Imron, Rama dan Niken, serta Umar dan Kenzo, akhirnya juga ikut pulang. Meninggalkan Ardi dan Aini yang akan menginap satu malam di penginapan yang disediakan, yang merupakan bagian dari paket pernikahan yang dipesan Ardi.


Ardi dan Aini diantar oleh salah satu karyawan penginapan menuju kamar mereka. Aini terkesima dengan suasana kamar yang baru saja dimasukinya.


Kamar yang dihiasi oleh nuansa romantis dari puluhan lilin dan lampu-lampu kecil yang tertata indah sebagai penerangnya. Ribuan kelopak bunga yang menghiasi beberapa sudut kamar. Belum lagi, karangan bunga yang terangkai sempurna di atas ranjang kamar, yang didominasi warna putih dan merah.


"Memangnya kenapa, Sayang?"


"Ini, cantik banget kamarnya. Kamu yang pesen?" Tanya Aini, sembari menyapukan netranya ke seluruh sudut kamar yang dapat dijangkaunya.


"Ini bagian dari paket pesta yang aku pesan, Sayang. Gimana? Kamu suka?" Sahut Ardi, seraya mengikuti langkah Aini, yang perlahan mengabsen kamar.


Aini menghentikan langkahnya dan segera berbalik badan. Ia langsung menatap Ardi dan tersenyum. Ia pun mengangguk manja pada Ardi.


"Suka banget, Mas."Jawab Aini dengan senyum lebarnya.


Ardi jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menarik pinggang Aini, hingga tubuh mungil istri barunya itu, menempel sempurna di bagian depan tubuhnya. Dan karena Aini mengenakan sepatu hak tinggi, tubuhnya yang tadinya nampak mungil jika bersanding dengan Ardi, kini hanya terpaut sedikit dengan Ardi.


"Kalau begitu, berikan aku hadiah!" Goda Ardi.


"Hadiah?"


"Iya. Aku memberimu hadiah kamar yang indah malam ini. Dan kamu menyukainya bukan. Jadi, sekarang giliranmu memberikanku hadiah." Manja Ardi.


Aini berpikir sejenak. Ia cukup kebingungan dengan permintaan Ardi. Karena ia tak menyiapkan hadiah apapun untuk Ardi. Tapi tiba-tiba, ada sebuah ide muncul dibenaknya.


"Mas mau hadiah apa?" Pancing Aini, sembari melingkarkan tangannya di pinggang Ardi.


"Terserah kamu. Apapun yang kamu berikan, aku pasti suka." Jujur Ardi.


"Yakin? Mas nggak akan marah kan nanti?" Goda Aini.


"Kenapa aku harus marah? Memangnya, kamu ingin memberiku hadiah apa?"


"Hadiahku sangat sederhana, Mas."


"Apa?" Tanya Ardi makin penasaran.


"Hadiahku,,"


Dan tanpa permisi, Aini mengalungkan tangannya ke leher Ardi dan mendaratkan bibirnya di bibir Ardi yang sudah beberapa kali mendarat di bibirnya juga. Ardi pun segera membalas ciuman dari sang istri, dengan begitu lembut dan penuh perhatian. Dan ini, adalah ciuman pertama mereka setelah sah menjadi suami istri.


Pasangan pengantin baru itu, hanyut dalam ciuman pertama mereka. Saling menyatu dalam rasa yang perlahan-lahan mulai menggelora dan memenuhi rongga dada. Merasuk dan meresap dalam setiap aliran darah yang mengalir makin cepat.


Mereka akhirnya berhenti setelah sama-sama hampir kehabisan pasokan oksigen. Ardi pun mengecup bibir yang baru saja ia ***** habis itu.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat suka hadiahmu." Ucap Ardi lembut.


Aini pun tersenyum manis. Ia lalu menarik Ardi dan memeluknya erat. Ardi pun menyambutnya dengan senang hati.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih karena mau menunggu dan memperjuangkanku." Haru Aini.


"Tentu saja, Sayang. Terima kasih juga, karena kamu juga mau menunggu dan percaya padaku."

__ADS_1


Aini mengangguk di pelukan Ardi. Mereka pun hanyut dalam pelukan yang penuh dengan kasih dan sayang itu.


Setelah beberapa saat,,


"Mas mandilah dulu! Aku akan membersihkan riasan dan menyiapkan baju gantimu." Pinta Aini.


"Iya, baiklah."


Ardi pun akhirnya melepaskan jas dan dasi yang ia kenakan, dan bersiap untuk mandi. Sedang Aini, segera menyiapkan baju ganti untuk Ardi, baru setelah itu membersihkan riasan wajahnya.


Setelah Ardi selesai, giliran Aini untuk mandi. Dan selama Aini mandi, Ardi memesankan makan malam untuk mereka.


Dan saat malam makin bergulir, pasangan pengantin baru itu, masih bersantai di sofa yang ada di kamar mereka. Aini bergelayut manja di dada Ardi, sembari melihat isi galeri ponsel Ardi dan banyak bertukar cerita. Ia bersandar di dada Ardi yang duduk di belakangnya.


"Kapan Mas memotret ini?" Tanya Aini, saat menemukan foto dirinya sedang bermain bersama Umar dan Kenzo.


"Saat di Surabaya kemarin. Sebelum kita ke Jogja." Jawab Ardi setelah melihat foto yang ditunjukkan Aini.


Aini hanya mengangguk paham. Lalu,,


"Sayaaang,,"


"Heemmm,,," Sahut Aini, yang masih tetap fokus pada ponsel Ardi yang ada di tangannya. Karena ternyata, ada banyak foto dirinya di sana.


"Yaanngg,,,"


"Iya, Mas. Kenapa?" Jawab Aini, tapi dengan netra yang masih melihat isi ponsel Ardi.


"Boleh aku membuka jilbabmu, Sayang?"


Aini segera menghentikan aktivitasnya. Ia memang belum membuka jilbabnya di hadapan sang suami sejak tadi. Ia pun meletakkan ponsel di tangannya, dan berbalik ke arah Ardi.


"Tentu saja boleh, Mas. Kamu sudah menjadi suamiku sekarang." Jawab Aini sambil tersenyum.


Ardi pun tersenyum lega. Dan perlahan, ia mulai membuka jilbab instan yang Aini kenakan.


Aini sedikit tertunduk karena malu. Ia belum terbiasa membuka jilbab di hadapan orang lain, meski ia sudah pernah menikah.


Ardi lalu perlahan menarik dagu Aini agar bisa melihat wajah sang istri dengan sempurna. Aini pun hanya pasrah, saat tangan kekar itu, dengan lembut menarik dagunya. Ada gelanyar tak biasa yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Kamu cantik sekali, Sayang." Puji Ardi.


Aini yang masih sedikit malu, hanya bisa tersenyum.


"Aku menginginkanmu, Sayang." Lembut Ardi, seraya mengusap pipi Aini yang polos tanpa jilbab.


Aini yang paham dengan maksud Ardi, lalu mengangguk perlahan. Meski sebenarnya, ia sangat malu untuk menjawab itu. Dan karena hal itu, jantungnya berdetak begitu kencang. Perasaan gugup yang tak diundang, pun tiba-tiba hadir dan singgah tanpa permisi.


Dan perlahan, kini giliran Ardi yang lebih dulu mencium Aini. Aini pun membenarkan posisi duduknya agar bisa lebih nyaman dalam memenuhi tugasnya sebagai seorang istri.


Lama, bibir mereka saling ******* dan mengecap satu sama lain. Benda tak bertulang itu pun saling membelit dan mengabsen setiap rongga lawan mainnya dengan begitu lembut. Hingga saliva mereka pun saling bercampur dan bersatu dengan penuh rasa.


Gelora dalam tubuh Ardi makin membuncah. Meminta sang raga untuk segera memenuhi tugasnya. Apalagi, mengingat Ardi sudah lama puasa untuk hal itu. Dan kini, sudah ada seseorang yang halal untuknya. Gelora itu nyaris tak terkendali.


Ardi perlahan-lahan membuka resleting gamis Aini, dan dengan sangat lembut, menurunkan gamis bagian atasnya, hingga nampaklah dua buah benda yang menggoda Ardi.


Tangan dan wajah Ardi mulai menjelajah turun. Dan segera bermain dengan indah di bagian yang kenyal dan empuk itu. Tak lupa, Ardi juga meninggalkan beberapa bekas indah di tubuh bagian atas Aini.


Aini pun hanya bisa pasrah dengan semua yang dilakukan oleh sang suami. Karena sesungguhnya, ia juga menantikan hal itu. Hasratnya juga segera terpancing oleh perlakuan sang suami.


Aini mulai melenguh dan mendesah karena setiap sentuhan Ardi. Ardi pun makin bersemangat melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.


"Kita pindah tempat, Sayang! Di sini terlalu sempit." Pinta Ardi lembut.


Aini mengangguk pasrah. Ia pun berdiri, hingga membuat gamisnya melorot begitu saja ke lantai. Dan membuat ia hampir tak mengenakan apapun.


Ardi segera meraih tubuh itu dan membopongnya dengan penuh cinta. Mereka bahkan langsung menautkan kembali bibir yang sudah mulai merah itu, karena gejolak rasa yang makin membuncah tak terkendali.


Setelah meletakkan Aini di atas ranjang, Ardi segera melepaskan kaos dan celana pendek yang ia kenakan. Ia pun kini nyaris telanjang seperti Aini. Hanya kain berbentuk segitiga yang menutupi bagian istimewa mereka masing-masing.


Ardi pun segera melanjutkan kegiatannya. Ia mulai mengabsen setiap inci tubuh Aini. Hingga membuat sang empunya raga, menggeliat dan melenguh nikmat tanpa rasa malu.


Apalagi, saat Ardi sudah melepaskan kain terakhir miliknya dan milik Aini. Ardi pun memainkan bagian istimewa milik Aini dengan penuh rasa. Hingga membuat Aini melengkungkan tubuhnya dan mencengkeram kepala Ardi yang bermain-main di bagian istimewanya.


"Maasss,, aaahhhh,,, aaaaa,, kkkuuu,,"


******* Aini makin tak terkendali. Ardi pun jelas tak menghentikan ulahnya. Ia malah mempercepat apa yang dilakukannya dan menanti sang istri mencapai pelepasan pertamanya lebih dulu.


Hingga, Aini mencapai pelepasannya. Ardi pun masih setia mengabsen bagian istimewa Aini, dan membuat Aini meledak-ledak berkali-kali.


"Kamu siap, Sayang?" Tanya Ardi, setelah puas dengan apa yang baru saja dilakukannya, dan kini mulai mengungkung Aini.


Aini menatap Ardi dengan sayu. Pelepasan pertamanya begitu hebat terasa. Maklum, ia juga sudah lama tak disentuh oleh laki-laki. Jadi, ia bagaikan mendapatkan apa yang dinantikannya sekian lama.


Tapi, seketika netra Aini membulat sempurna. Saat melihat bagian istimewa Ardi, tegak berdiri dan siap untuk menghujamnya.


"Mas, itu besar sekali." Ucap Aini tanpa ragu.


Ardi melirik ke arah bagian yang dilihat oleh Aini. "Kenapa, Sayang? Kamu suka?"


"Itu, tidak akan muat, Mas."


"Muat, Sayang. Tenang saja! Aku akan melakukannya perlahan." Jawab Ardi yakin.


"Enggak, Mas. Nggak akan muat. Milikmu besar sekali." Takut Aini.


Ardi jelas berpikir dengan segera. Karena ia tak mungkin menghentikan atau bahkan menunda malam pertamanya hanya karena ucapan Aini.


"Begini saja, Sayang. Kita coba saja dulu. Gimana?" Usul Ardi segera.

__ADS_1


__ADS_2