Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kepergian Ardi


__ADS_3

Waktu terus berputar. Hingga hari demi hari pun terlewati. Perlahan namun pasti, menapaki setiap takdir yang telah tergariskan oleh tinta Sang Maha Kuasa.


Empat minggu telah berlalu, sejak sidang pertama kasus penculikan Aini. Semuanya berjalan dengan lancar, karena para pelakunya mengakui bahwa mereka melakukan hal-hal yang dituduhkan pada mereka.


Tapi mereka juga tidak lupa, mereka tidak menyebutkan nama Ardi sedikit pun dalam persidangan atau pada kerabat mereka. Meski, mereka sudah dibujuk untuk menyebutkan nama pelaku penculikan mereka, agar mungkin bisa meringankan hukuman yang mereka dapatkan.


Hakim telah menjatuhkan putusannya bagi para pelaku penculikan itu. Termasuk para anak buahnya. Tak ada yang terlewat satu pun. Dan Adit, yang menerima hukuman paling berat. Karena ia adalah dalang dari penculikan itu. Sementara Oliv dan Reni, mendapatkan masa hukuman yang sama. Dan Ratri, mendapat masa hukuman paling sedikit.


Di sisi lain, Aini menjalani hari-harinya seperti biasa di rumah Ardi. Ia mengurus Umar dan Kenzo, serta membantu pekerjaan Sri.


Sebenarnya, Aini sudah mulai merasa tak nyaman tinggal di sana. Alasannya jelas, karena di rumah itu ia adalah tamu. Tapi diperlakukan dengan sangat istimewa di sana. Dan ia bahkan menjalin hubungan dengan si pemilik rumah.


Malam ini, Aini tidak bisa tidur. Esok hari, Ardi akan pergi ke Bandung. Tepat seperti ucapannya beberapa waktu yang lalu, Ardi akan menjemput seseorang ke Jakarta yang akan berkunjung ke rumahnya di Surabaya. Selain itu, ada beberapa hal yang harus Ardi urus juga di Bandung.


"Kenapa firasatku tak baik sejak kemarin?" Monolog Aini, sembari menatap langit-langit kamarnya.


Tok, tok, tok. Suara ketukan di pintu kamar Aini, membuyarkan lamunan Aini.


"Iya, sebentar!" Sahut Aini.


Aini segera bangun dari tempat tidurnya. Ia sedikit melirik ke arah jam yang ada di atas meja kamarnya. Dan jam itu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Siapa yang malam-malam begini terbangun? Apa Umar?" Gumam Aini sembari membenarkan jilbabnya.


Ceklek. "Mas Ardi?"


Aini terkejut bukan main, saat melihat Ardi di hadapannya. Ardi berdiri dengan santai dengan setelan piyama berwarna navy.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Ardi ragu.


"Tidak, Mas. Aku belum bisa tidur sejak tadi." Jujur Aini.


"Kenapa?"


"Aku,, aku memikirkanmu." Jawab Aini malu.


Ardi tersenyum kecil.


"Mas Ardi ada apa? Mas butuh sesuatu?" Tanya Aini segera, demi mengalihkan rasa malunya.


"Bisa kita mengobrol sebentar?" Tanya Ardi perlahan.


Aini mengangguk pelan. "Mas mau aku buatkan minum hangat?"


"Tak perlu. Aku hanya ingin mengobrol denganmu saja." Jujur Ardi.


Aini pun mengangguk lagi. Aini dan Ardi lantas berjalan menuju ruang keluarga. Suasana rumah sudah sangat sepi dan hening. Semua penghuninya sudah terlelap di kamar masing-masing.


Ardi juga tidak bisa terlelap malam ini. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Karena memang, ada beberapa masalah yang sedang menghampiri dirinya. Tidak hanya masalah pekerjaan, tapi juga masalah pribadi.


Apalagi, ia harus pergi ke Bandung esok hari. Yang berarti, ia harus berpisah dengan Aini. Dan hal itu juga yang menjadi pikiran Ardi sejak kemarin.


"Duduklah!" Pinta Ardi, saat ia dan Aini sampai di dekat sofa panjang di ruang keluarga.


Aini pun duduk di salah satu sisi sofa. Ardi juga segera duduk dan sedikit mengambil jarak dari Aini. Tapi sejurus kemudian, tanpa permisi dan ijin dari Aini, kepala Ardi sudah mendarat di pangkuan Aini.


"Mas??" Ucap Aini terkejut dan bingung, dengan mata yang mengikuti arah tubuh Ardi yang mencoba menyamankan diri di pangkuannya.


"Biarkan seperti ini, Sayang! Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti." Jawab Ardi, seraya menatap wajah Aini yang terkejut.


"Tapi Mas, akan tidak nyaman jika ada yang melihat." Tolak Aini halus.


"Semua sudah tidur, Sayang." Jawab Ardi, dengan tangan yang meraih tangan Aini.


"Eehh,,"


Aini makin terkejut, saat Ardi meraih tangannya yang tadi terangkat ke atas dan membeku, lalu membawanya ke dalam dekapan tangannya. Memeluk tangan mungil nan lembut itu dengan sangat hangat di dadanya. Hingga tangan lembut itu, bisa merasakan detak jantung orang yang mendekapnya.


Detak jantung Aini berdegup kencang. Ia mendadak gugup tidak karuan karena sikap Ardi. Meski, dalam hati kecilnya, ia bahagia karena Ardi bersikap seperti itu padanya.


Aini yang tadi sedikit kaku, akhirnya melemaskan kedua tangannya, dan membiarkan Ardi mendekap tangannya dengan hangat. Satu tangannya yang lain pun, perlahan mengusap lembut rambut Ardi.


CUP. Ardi mengecup punggung tangan Aini, sambil memejamkan netra tajamnya.


"Aku mencintaimu, Sayang." Ucap Ardi lembut.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawab Aini.


Ardi pun membuka matanya. Ia tersenyum dan menikmati usapan lembut tangan Aini di kepalanya.


"Kamu masih percaya padaku bukan, Sayang?" Tanya Ardi ragu.


"Kenapa aku harus tidak mempercayaimu, Mas? Apa Mas ada masalah?" Tanya Aini cemas.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"


Aini tertegun. "Aku percaya padamu, Mas."


"Terima kasih."


Aini hanya mengangguk dan tersenyum.


Ardi lalu kembali memejamkan kedua matanya. Sembari menikmati usapan lembut tangan Aini, yang masih setia mengusap kepalanya dengan penuh perhatian.


"Semoga semua akan baik-baik saja." Batin Aini, sambil menatap wajah Ardi yang ada di pangkuannya.


Perlahan-lahan, Ardi terlelap di pangkuan Aini. Rasa kantuk pun juga akhirnya menghampiri Aini. Tapi, ia jelas tidak bisa membangunkan Ardi yang sudah terlelap di pangkuannya. Jadi, Aini pun menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dan mulai terlelap dengan posisi duduk.


Memang, terkadang kita hanya memerlukan hal sederhana untuk bisa merasakan sebuah kenyamanan. Kenyamanan yang mungkin benar-benar kita butuhkan.


Pukul tiga pagi, Ardi terbangun. Dengan sangat hati-hati, ia beranjak dari pangkuan Aini. Karena takut, Aini akan terbangun nanti.


Ardi lalu perlahan-lahan membenarkan posisi tidur Aini. Ia menaikkan kedua kaki Aini ke atas sofa, dan memindahkan posisi kepala Aini ke sandaran tangan. Hingga Aini bisa tidur dengan posisi yang lebih baik.


"Terima kasih, Sayang. Aku pasti akan mengingat malam ini. Dan tolong, maafkan aku jika saat aku kembali nanti, aku melakukan hal yang sungguh tidak kita harapkan! Aku hanya tidak ingin kamu terluka terlalu dalam nantinya. Tapi kuharap, aku tidak perlu melakukan itu besok." Ucap Ardi lirih, seraya menatap wajah Aini yang tertidur pulas.


Dan tanpa diduga, Aini menganggukkan kepalanya, meski matanya terpejam. Seolah-olah, ia mendengar dan mengerti semua yang Ardi katakan, meski ia tertidur pulas.


Ardi tersenyum kecil. Ia lalu berdiri dan meninggalkan Aini di ruang keluarga sendirian. Ia lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke bandara.


Pesawat Ardi sebenarnya berangkat pukul tujuh pagi. Tapi, ia sengaja berangkat lebih awal, karena takut tidak bisa berpamitan dengan Aini nantinya. Jadi, ia memutuskan untuk berangkat, saat Aini masih terlelap.


Ardi sudah berpamitan pada Umar dan Kenzo semalam, sebelum mereka tidur. Dan ia juga sudah mengatakan niat hatinya untuk berangkat lebih awal pada Niken dan Rama. Jadi, hanya Aini saja yang tidak tahu.


Tiga puluh menit kemudian, Ardi sudah siap berangkat ke bandara. Niken dan Rama juga sudah bangun dan siap mengantar kepergiannya.


Ardi lalu melangkah ke luar bersama Rama dan Niken.


"Kamu yakin, Aini tak akan marah atau sedih nanti?" Tanya Niken, saat ia mengantar Ardi ke depan.


"Ardi tak tahu, Ma." Jawab Ardi lesu.


"Kamu ada masalah dengannya?" Tanya Niken lagi.


Ardi menggeleng lemah.


"Jika kamu ada masalah, jangan ragu untuk mengatakannya pada kami! Kami pasti akan membantumu." Ucap Rama, sembari menepuk bahu putra kesayangannya itu.


"Iya, Pa. Terima kasih." Jawab Ardi haru.


Rama segera memeluk putranya itu dengan bangga. "Hati-hati! Segera selesaikan semua urusanmu! Setelah itu, kita harus segera ke Semarang untuk meminang Aini."


"Iya, Pa. Ardi mengerti." Jawab Ardi datar.


Rama dan Niken jelas mengerutkan keningnya melihat dan mendengar jawaban Ardi. Mereka segera paham, ada sesuatu yang terjadi pada Ardi.


"Fokuslah pada pekerjaanmu di sana! Urusan di sini, serahkan pada Papa dan mama! Kamu tak perlu khawatir!" Imbuh Rama.


Ardi mengangguk sambil tersenyum. Meski hatinya, sedang sangat tidak tenang saat ini. Ardi lalu berangkat dengan diantar oleh salah satu pengawalnya ke bandara.


"Pa, coba Papa tanya pada Dika atau Reno nanti!" Pinta Niken, seraya menatap mobil yang membawa Ardi perlahan menjauh dari rumahnya.


"Iya, Ma. Papa mengerti."


"Ya sudah, Mama mau bangunin Aini dulu. Kasihan dia tidur di sofa."


"Iya, Ma."


Rama dan Niken lalu masuk kembali ke dalam rumah. Niken segera menghampiri Aini yang masih tertidur. Sedang Rama, kembali ke kamarnya.


"Ni! Aini!" Panggil Niken perlahan, seraya sedikit menggoyangkan lengan Aini.

__ADS_1


Aini perlahan mengerutkan dahinya dan membuka matanya.


"Bu Niken?" Ucap Aini terkejut. Ia pun segera duduk.


"Kamu kenapa tidur di sini?" Polos Niken.


"Apa?"


Aini segera celingukan melihat sekitar. Ia segera ingat, semalam ia mengobrol berdua dengan Ardi di sana. Dan Ardi terlelap di pangkuannya.


"Kamu ngelindur, Ni?" Tanya Niken lagi.


"Tidak, Bu. Semalam saya tidak bisa tidur, jadi saya keluar kamar untuk cari udara segar. Malah ketiduran di sini." Jawab Aini sekenanya.


Niken hanya ber-oh ria dan tersenyum.


"Tadi Ardi titip pesan, dia minta maaf karena tidak bisa berpamitan langsung padamu. Dia bilang, dia sudah mencoba membangunkanmu tadi, tapi mungkin tidurmu terlalu lelap, jadi kamu tidak kunjung bangun." Bohong Niken.


"Mas Ardi sudah berangkat, Bu?" Tanya Aini cemas.


"Sudah. Baru saja." Jawab Niken santai.


Ekspresi wajah Aini seketika berubah. Ia pun segera berlari menuju pintu, dan sejenak melupakan kehadiran Niken di sana. Dengan harapan, masih bisa melepas kepergian Ardi. Tapi sayangnya, pintu gerbang depan, bahkan sudah tertutup rapat.


"Kenapa kamu tak bilang padaku Mas, jika kamu berangkat sepagi ini?" Gumam Aini sedih, sembari menatap kosong ke arah pintu gerbang.


Niken yang melihat reaksi Aini, merasa tak enak hati karena berbohong pada Aini. Ia akhirnya mengikuti langkah Aini ke arah pintu depan.


"Apa Ardi tidak mengatakan padamu, jika dia berangkat pukul setengah empat pagi?" Tanya Niken perlahan.


Aini segera menoleh pada Niken, yang sudah berdiri di belakangnya.


"Tidak, Bu. Lagian, untuk apa mas Ardi mengatakan hal itu pada saya?" Jawab Aini tak enak hati.


"Aku sudah tahu hubungan kalian. Ardi sudah mengatakan semuanya. Percayalah, Ardi pasti memiliki alasan untuk itu." Hibur Niken.


"Bu Niken,,"


Aini kebingungan menghadapi Niken saat ini. Ia sangat malu, karena hubungannya dengan Ardi ternyata sudah diketahui oleh Niken.


Bukan Aini tak bahagia, hanya saja, ia masih bingung menempatkan diri dan bagaimana akan bersikap pada Rama dan Niken nantinya. Karena ia tinggal di rumah mereka.


Niken hanya tersenyum. "Ayo masuk! Kembalilah ke kamar!"


Niken lalu berjalan meninggalkan Aini yang masih kebingungan dengan keterkejutannya. Ia kembali ke kamarnya menyusul sang suami.


Aini pun akhirnya kembali ke kamarnya. Dan mencoba menerima keputusan Ardi yang tidak berpamitan padanya secara langsung tadi. Serta mencoba memahami nasehat Niken tadi, untuk percaya pada Ardi.


"Aku percaya padamu, Mas." Gumam Aini, sembari mengingat obrolannya dengan Ardi semalam.


...****************...


Satu minggu telah berlalu. Sudah satu minggu pula, Ardi pergi ke Bandung. Dan selama satu minggu itu juga, Ardi tidak pernah sekalipun menghubungi Aini atau membalas pesan yang Aini kirim.


Aini sudah mencoba menghubungi Ardi di kala jam istirahat kantor, atau mungkin saat ia berada di rumah, tapi tidak pernah direspon oleh Ardi sama sekali. Ia juga mencoba menghubungi Dika yang juga ikut pergi ke Bandung, tapi Dika selalu menjawab, jika Ardi sedang sibuk dan tidak bisa menerima telepon. Aini pun akhirnya pasrah dengan keadaannya.


Kemarin, adalah hari penerimaan rapor siswa. Jadi, hari ini adalah hari pertama libur kenaikan kelas. Pagi ini, Rama dan Niken mengajak Kenzo ke panti asuhan seperti biasa. Hanya saja, Umar tidak ikut seperti sebelumnya. Umar sedikit malas hari ini, karena masih merasa mengantuk, sebab semalam tak bisa tertidur cepat.


Niken sudah berpesan pada Aini tadi pagi sebelum berangkat, bahwa Ardi akan pulang hari ini. Jadi, ia meminta Aini menyiapkan makanan kesukaan Ardi untuk makan siang nanti. Aini pun dengan senang hati menyanggupinya.


Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil terlihat memasuki gerbang rumah Ardi. Aini yang sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Ardi, segera berlari ke depan untuk memastikan, apakah itu Ardi atau bukan. Dan ternyata, itu memang Ardi. Dan ia bersama seorang perempuan cantik.


"Ayo masuk!" Ajak Ardi santai.


"Oke." Jawab wanita itu manja.


Wanita dengan tubuh semampai dan kulit putih seperti susu itu, berjalan dengan anggun di samping Ardi. Rambut panjangnya tergerai indah, menambah paripurna penampilannya.


Aini dengan segera membukakan pintu untuk sang tuan rumah beserta tamunya. Ia pun tersenyum ramah saat berpapasan dengan dua orang itu.


"Kamu, orang baru ya?" Tanya wanita itu ramah, saat melihat Aini.


"Iya, Bu." Jawab Aini sopan.


"Oh. Oke. Kenalkan! Aku Kamila. Tunangan Ardi." Ucap wanita itu dengan senyum indahnya.

__ADS_1


__ADS_2