Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Kunjungan Part 1


__ADS_3

Matahari senja menggantung indah di ufuk barat. Menjadi penanda, bahwa sang malam akan segera tiba. Menjadi penanda, bahwa langit akan mulai dihiasi oleh warna-warni kerlip sang bintang.


Ardi termenung melihat putranya yang sedang terlelap. Ia baru saja makan, setelah seharian perutnya kosong karena harus puasa sebelum operasi. Dan setelah makan, ia terlelap begitu saja.


Ardi sebenarnya sudah cukup kelelahan hari ini. Menunggui operasi yang memakan waktu hampir lima jam, membuatnya sangat kelelahan. Belum lagi, pikirannya jelas bercabang pada sosok yang sama-sama sedang terbaring lemah di rumah sakit itu. Hanya saja, berbeda ruangan.


Saat Kenzo terlelap, Ardi keluar kamar dan berpindah ke kamar yang sebelahnya. Niken dan Rama baru saja dari sana. Dan kini, giliran Ardi yang ke sana. Dan kini, Umar pun ikut bersama Rama dan Niken. Umar akan pulang bersama Rama nanti. Karena ia tidak diijinkan menginap di rumah sakit.


"Gimana kondisimu?" Tanya Ardi penuh perhatian.


"Sudah lebih baik, Mas. Bagaimana Kenzo?" Tanya Aini sedikit cemas.


"Dia sedang tidur, setelah makan tadi."


"Apa dia menanyakanku?"


"Iya. Tapi tenanglah, aku sudah membuatkan alasan yang bisa membuatmu cukup beristirahat! Karena aku juga tak ingin kondisimu melemah seperti tadi."


"Apa yang Mas katakan pada Kenzo?"


"Aku bilang, kamu sedang tidak enak badan, jadi butuh istirahat dulu di rumah."


"Kenapa Mas tidak memberitahu Kenzo saja yang sebenarnya?"


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk merahasiakan hal itu dari Kenzo. Jadi, aku tak bisa melanggarnya."


"Tapi, ini akan menyulitkanmu, Mas?"


"Kamu tak perlu memikirkan hal itu! Kamu hanya perlu beristirahat untuk saat ini. Oke?"


Aini diam tak menjawab. Ia menatap Ardi dengan seksama.


"Aku ke kamar Kenzo sebentar! Ada yang harus kukatakan pada mama."


Aini mengangguk paham. Ardi pun segera kembali ke ruang rawat Kenzo. Dan saat ia masuk, tepat saat Rama akan pulang dengan Umar.


"Mama pulang saja dengan papa! Aku akan di sini menjaga Kenzo." Pinta Ardi segera.


"Aini?" Tanya Niken bingung.


"Aku akan menjaga mereka bergantian. Akan aneh rasanya, jika Mama yang menjaga Kenzo di sini. Dan Kenzo pasti akan menanyakan itu nanti." Jelas Ardi singkat.


"Kalau begitu, biar Mama yang jaga Aini."


"Jangan, Ma! Mama juga pasti lelah menunggui operasi Kenzo tadi. Mama pulang saja dengan papa. Nanti akan Ardi kabari jika Ardi butuh sesuatu atau ada apa-apa."


"Iya, Ma. Lagian, Ardi juga nggak sendirian, kan?" Timpal Rama.


"Kasihan Ardi, Pa." Bela Niken.


"Ardi nggak papa, Ma. Mama pulang aja sama papa dan Umar!"


"Tapi Di,,"


Ardi segera mengambil tas Niken. Ia pun lalu menghampiri Niken dan memaksa Niken untuk pulang bersama Rama dan Umar.


Niken akhirnya menyerah. Ia pun pulang bersama Rama dan Umar. Dan tinggallah Ardi seorang diri yang menemani Kenzo dan Aini.


Awalnya, Ardi lega karena Niken membantunya menemani Kenzo di rumah sakit. Tapi ia menyadari, akan sangat aneh jika Niken yang menemani Kenzo di rumah sakit, bukannya Ardi. Karena awalnya, ia yang akan menemani Aini jika malam hari.


Ardi juga kasihan pada ibunya, karena pasti kelelahan karena hampir seharian berada di ruang tunggu operasi di rumah sakit. Demi cucu kesayangannya.


Setelah Rama, Niken dan Umar pulang, serta memastikan Kenzo masih terlelap, Ardi pergi ke kamar sebelah. Pastinya untuk menemui Aini.


"Kenzo?" Tanya Aini segera, setelah melihat Ardi masuk ke ruang rawatnya.


"Masih tidur." Jawab Ardi santai.


"Dengan bu Niken?"


"Sendirian."


"Mas jangan bercanda!"


"Beneran. Mama pulang dengan papa dan Umar barusan."


"Lalu, kenapa Mas kemari? Kasihan Kenzo, Mas."


"Dia masih tidur, Sayang. Tenanglah! Aku ingin menemanimu sebentar."


"Maass,, kasihan Kenzo."

__ADS_1


Ardi segera menempelkan jari telunjuknya ke bibir Aini. Aini pun diam seketika.


"Jangan paksa aku untuk menciummu, Sayang!" Ancam Ardi sambil menahan tawa.


Aini akhirnya hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Mereka lantas mengobrol sejenak, sembari Ardi menikmati makan siangnya yang sangat tertunda. Karena memang, hari sudah mulai senja.


Dan saat Ardi menyelesaikan makannya, ponselnya berdering.


"Aku ke kamar Kenzo dulu, ya! Dia sudah bangun sepertinya." Pamit Ardi segera.


"Iya, Mas."


Ardi tersenyum hangat pada Aini. Dengan tangan yang mengusap lembut kepala Aini, dengan penuh kasih sayang.


"Telepon aku, jika kamu butuh sesuatu!" Pinta Ardi sebelum pergi.


Aini hanya mengangguk. Ardi pun segera keluar dari ruang rawat Aini. Dan segera berpindah ke ruang rawat Kenzo.


Dan ternyata, Kenzo memang sudah bangun. Tadi, pengawal Ardi yang menelepon. Ia sudah diminta oleh Ardi, jika Kenzo bangun, agar segera meneleponnya.


Jadi, pengawal yang berjaga di depan ruang rawat Kenzo pun, segera menghubungi Ardi, saat Kenzo terlihat membuka matanya. Dan Ardi sudah memahami itu.


"Papa dari mana?" Tanya Kenzo.


"Papa habis terima telepon tadi, di depan." Bohong Ardi.


Kenzo jelas tak menaruh curiga pada ayahnya. Ia percaya begitu saja pada ayah tersayangnya itu. Yang sebenarnya, sedang sedikit membohonginya.


Waktu terus berlalu. Hingga malam pun telah tiba. Semua terasa begitu tenang. Karena rintik air hujan pun tak menyapa bumi. Hingga,, ceklek.


"Mama?" Panggil Kenzo antusias.


Ardi yang juga sedang menatap pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa permisi, segera membulatkan matanya. Ia sangat terkejut dengan kehadiran dari seseorang yang tidak ia harapkan. Seseorang yang tidak pernah diminta kunjungannya.


"Oliv? Untuk apa dia kemari?" Batin Ardi kesal.


"Iya, Sayang. Mama datang." Jawab sang tamu dengan senyum yang terkembang indah.


Dia memang Oliv. Tamu yang tak diharapkan kunjungannnya itu adalah Oliv. Ia datang seorang diri ke rumah sakit.


Kenzo begitu bahagia melihat ibunya. Ia tak menyangka, ibunya akan datang menjenguknya di rumah sakit. Karena setahu Kenzo, operasi yang ia lakukan tadi, tidak banyak yang mengetahui. Itu yang Ardi katakan padanya.


"Masih sedikit sakit, Ma, punggung Kenzo." Adu Kenzo manja.


Oliv berjalan bergitu saja ke arah Kenzo. Ia tak mempedulikan Ardi yang menatapnya kesal dan marah.


"Tak apa, sayang! Nanti akan sembuh perlahan." Ucap Oliv sambil mengusap lembut pipi Kenzo.


"Iya, Ma." Jawab Kenzo sambil tersenyum.


"Bunda Aini, dirawat dimana, Ken?" Tanya Oliv penasaran.


"Bunda,,"


"Kenzo! Papa mau bicara dengan mama sebentar di luar. Boleh? Ada yang ingin Papa katakan pada mama." Sela Ardi segera.


Kenzo dan Oliv yang tadi sangat asik mengobrol, segera menoleh ke arah Ardi yang berdiri di sebelah Oliv. Oliv menyadari ada sesuatu yang Ardi rahasiakan dan ingin dikatakan padanya. Dan itu pasti menyangkut tentang Aini.


"Iya, Pa. Jangan lama-lama, ya Pa!" Jawab Kenzo cemas.


"Iya. Cuma sebentar kok!" Sahut Ardi sambil tersenyum.


"Sebentar ya, Sayang!" Pamit Oliv lembut.


Kenzo mengangguk sambil tersenyum. Dan setelah itu, Ardi segera melangkahkan kakinya keluar ruang rawat. Oliv pun lalu mengikuti langkah Ardi dengan rasa penasaran yang memenuhi kepalanya.


"Kenapa, Mas?" Tanya Oliv segera, setelah ia dan Ardi berada di luar ruang rawat Kenzo.


"Jangan menanyakan apapun tentang Aini pada Kenzo, saat ini!" Pinta Ardi tegas.


"Memangnya kenapa, Mas? Apa dia menyakiti Kenzo?" Tanya Oliv makin penasaran.


Ardi diam tak menjawab. Ardi sebenarnya sangat malas bertatap muka dengan mantan istrinya itu. Tapi takdir berkata lain. Ia harus bertemu dengan Oliv saat ini, karena bagaimanapun, Oliv adalah ibu kandung Kenzo.


"Wanita itu! Sudah kuduga. Dia pasti hanya memanfaatkan kebaikanmu, Mas. Dia pasti sudah melarikan diri, bukan? Dia hanya menginginkan uangmu, sebagai bayaran karena dia telah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Kenzo. Benar bukan, Mas? Dasar, wanita matrialistis!" Umpat Oliv bangga.


"Jaga ucapanmu!" Kecam Ardi.


"Sudahlah, Mas! Tak perlu membela wanita seperti itu! Tenanglah, aku akan membantumu menjaga Kenzo!" Rayu Oliv perlahan.


"Jangan mimpi! Aku masih sangat sanggup menjaga orang-orang yang aku sayangi, tanpa bantuanmu."

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantumu, Mas. Lagipula, aku ibunya Kenzo."


"Ibu kau bilang? Kenzo tak butuh ibu sepertimu! Dia sudah memiliki bunda yang selalu ada untuknya dan rela melakukan apapun untuknya. Ingat itu!"


"Benarkah? Lalu, dimana dia sekarang? Bukankah tadi kamu bilang, dia sudah pergi dengan uang bayarannya?"


"Aku tak pernah mengatakan itu. Kamu sendiri yang mengatakannya. Dan asal kamu tahu, Aini tak pergi kemanapun. Dia hanya sedang memulihkan kondisinya pasca transplantasi. Dia harus kusembunyikan sementara waktu dari Kenzo, agar kondisinya lekas pulih. Karena Kenzo tak tahu, jika Aini yang menjadi pendonor untuknya."


"Apa? Lalu,,? Tapi, kenapa Mas merahasiakan hal itu dari Kenzo?"


Otak Oliv mendadak beku. Ia kebingungan menjawab segala ucapan Ardi. Ia sungguh tak menyangka, Aini masih bertahan di samping Ardi saat ini. Ia yang tadinya sudah sangat bangga karena berhasil menjatuhkan Aini di mata Ardi, ternyata ia sendiri yang tanpa sengaja menunjukkan sisi buruknya di hadapan Ardi.


"Itu bukan urusanmu! Tapi, sepertinya akan sangat menarik, jika Kenzo sampai tahu, bahwa Aini adalah pendonor untuknya." Ucap Ardi, sedikit berbisik di telinga Oliv.


"Maksud, Mas?"


"Bukankah akan sangat baik bagi Aini, jika Kenzo sampai tahu, jika Aini adalah pendonor untuknya. Kenzo pasti akan lebih menyayangi Aini lagi, karena Aini mau menjadi penolongnya. Menjadi pendonor yang secara tidak langsung, menyembuhkan sakit yang dideritanya selama ini. Akan sangat mudah bagiku, membuat Aini menjadi istri sekaligus ibu yang sesungguhnya bagi Kenzo." Jawab Ardi dengan senyum tipis penuh kemenangan.


Oliv segera membulatkan kedua matanya. Ia sangat paham maksud ucapan Ardi barusan. Yang berarti bahwa, ia tak akan lagi memiliki kesempatan untuk bisa kembali pada Kenzo dan Ardi, seperti apa yang telah direncanakannya.


"Oke, aku mengerti. Aku akan merahasiakan itu dari Kenzo. Lalu, dimana Aini sekarang?" Jawab Oliv gelagapan.


"Untuk apa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Ardi santai.


"Aku, aku, aku ingin berterima kasih padanya. Iya, aku ingin berterima kasih padanya."


"Akan kukatakan padanya nanti. Kamu tak perlu tahu, dimana Aini sekarang!"


"Tapi Mas, aku ingin mengatakan langsung padanya."


"Tak perlu! Lagi pula, Aini butuh istirahat penuh agar kondisinya segera pulih. Jadi, dia tidak bisa menerima kunjungan dari siapapun saat ini." Tolak Ardi tanpa ragu.


Oliv mendengus kesal. Tapi, ia berusaha keras menahan kekesalannya demi bisa mengambil simpati Ardi yang sempat ia hancurkan sendiri tadi.


"Oke, Mas. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku padanya!" Ucap Oliv seramah mungkin, demi menutupi kesal hatinya.


"Ya."


Ardi lalu melangkahkan kakinya begitu saja, kembali ke ruang rawat Kenzo. Ia tak menghiraukan Oliv yang sangat ia tahu, sedang sangat kesal saat ini.


Sedang Oliv, setelah Ardi masuk kembali ke ruang rawat Kenzo, ia segera menghentakkan kakinya dengan sangat kesal.


"Dasar wanita sialan! Aku harus segera menyingkirkannya!" Umpat Oliv dalam hati, dengan guratan kemarahan di mata indahnya.


Oliv berusaha meredam amarahnya sebelum ia kembali masuk ke ruang rawat Kenzo. Ia tak ingin kejadian tadi terulang kembali. Kejadian dimana ia tak sadar sedang mengumbar keburukannya di hadapan sasarannya.


"Mama mana, Pa?" Tanya Kenzo, setelah Ardi masuk seorang diri.


"Mama sedang mengobrol dengan suster." Bohong Ardi.


Kenzo hanya mengangguk paham. Dan tak lama, Oliv pun masuk ke ruang rawat Kenzo. Oliv tersenyum hangat pada Kenzo. Mereka langsung mengobrol banyak hal. Oliv bahkan menyuapi Kenzo, sesuai permintaan Kenzo.


Dan saat itu terjadi, Ardi pergi ke ruang rawat Aini untuk melihat kondisinya. Aini termenung seorang diri di sana.


"Kenzo?" Tanya Aini khawatir.


"Dengan Oliv." Jujur Ardi.


Aini tertegun. Selama beberapa waktu terakhir, ia melupakan sosok ibu kandung Kenzo itu. Jadi, ia sedikit terkejut, saat mengetahui Oliv sedang bersama Kenzo saat ini.


"Tenanglah! Ia hanya ingin melihat kondisi Kenzo." Ucap Ardi, yang memahami gelagat Aini.


"Oliv tadi juga mengucapkan terima kasih padamu." Imbuh Ardi.


Aini hanya tersenyum kecil. Ia tak tahu kenapa, ada sedikit rasa kecewa dan tak suka saat Ardi menceritakan tentang Oliv padanya. Meski hanya karena sebatas menjawab pertanyaannya tadi.


"Aku akan kembali lagi nanti. Aku tak ingin, Oliv mengatakan hal yang tidak-tidak pada Kenzo saat aku tidak ada." Pamit Ardi perlahan.


Aini hanya mengangguk pasrah. Ia tak bisa menahan Ardi dengan alasan apapun. Karena ia juga tak ingin, Kenzo curiga dengan perginya Ardi dari ruang rawatnya terlalu lama.


"Tenanglah, Sayang! Jangan berpikiran terlalu terjauh! Oke?"


Aini kembali mengangguk.


Ardi pun lantas kembali ke ruang rawat Kenzo. Dan ternyata, Oliv masih menyuapi Kenzo. Ia tak banyak menganggu waktu putranya itu. Ia memilih duduk di sofa sembari memainkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan yang ia tinggalkan seharian ini.


Dan saat jam berkunjung habis, Oliv berusaha merayu Ardi, agar diijinkan untuk menemani Kenzo di rumah sakit malam ini. Tapi jelas, ditolak mentah-mentah oleh Ardi. Oliv pun akhirnya pulang dengan hati yang sangat kesal.


Tapi, dibalik kekesalan hatinya itu, ada sebuah rencana yang sudah terancang rapi dalam kepalanya. Sebuah rencana yang ia rencanakan bersama orang lain, yang tak pernah ia kira sebelumnya.


Setiap manusia pasti memiliki rencana dan keinginannya masing-masing. Memiliki hasrat dan kemauan untuk apa yang direncanakan akan segera terlaksana dan terwujud tanpa cacat. Tapi semua hasil akhir, tetap ada pada Yang Maha Kuasa. Dan itu hal yang tak bisa dielakkan.

__ADS_1


__ADS_2