Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pindah


__ADS_3

Gemerlap lampu kota, memberi suasana meriah di malam yang setia menyapa. Malam yang selalu menggantikan siang, sebagai pertanda, bahwa waktu bagi sang rembulan dan bintang untuk bersinar, telah tiba.


Pukul sepuluh malam, Aini sudah tiba di rumah Galih kembali. Ia pun segera membersihkan diri sejenak dan bersiap untuk tidur. Karena pekerjaan yang menantinya esok hari, cukup banyak. Hingga, Dewi mengetuk pintu kamarnya.


"Gimana tadi? Kamu diapain sama Ardi?" Tanya Dewi, setelah ia duduk bersama Aini dan Galih di depan tv.


"Maksud, Ibu?" Tanya Aini bingung.


"Ya, kalian ngapain aja tadi di hotel? Kalian cuma berdua, kan?"


"Ngobrol aja, Bu'." Jujur Aini.


"Yang bener? Terus, dia nggak nagih biaya pengacanya?"


Aini terdiam. Ia teringat bagaimana ia sempat berpikiran mesum pada Ardi tadi, saat di hotel.


"Eeemm,, nagih sih, Bu, secara nggak langsung." Jawab Aini lirih.


"Nah kan, bener Mas." Ucap Dewi antusias.


"Terus, kamu, iya gitu aja, Ni?" Timpal Galih tiba-tiba.


Aini mengangguk.


"Kalian udah melakukannya?" Tanya Galih makin penasaran.


"Enggak, Pak. Bukan itu maksud saya." Sahut Aini bingung.


"Maksud kamu?" Ucap Galih dan Dewi bersamaan.


Flashback On


"Kamu masih mau jadi pendonor untuk Kenzo, bukan?" Tanya Ardi setelah Aini membaca dengan seksama surat dari Gilang.


"Tentu, Pak. Saya akan mendonorkan sumsum tulang belakang saya untuk Kenzo." Jawab Aini segera.


Ardi tersenyum lega.


"Apa selama ini, Anda belum mendapatkan pendonor untuk Kenzo?" Tanya Aini penasaran.


"Iya. Aku sudah mencari pendonor untuk Kenzo sejak ia masih balita. Tapi, tingkat kecocokannya terlalu rendah. Gilang tidak berani mengambil resiko." Jujur Ardi.


"Maaf, Pak. Ibu kandung Kenzo?"


"Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri." Jawab Ardi datar.


Aini yang menyadari nada bicara dan ekspresi wajah Ardi berubah seketika, segera paham dengan apa yang ada di pikiran dan hati Ardi.


"Jadi, kapan donornya akan dilakukan? Lebih cepat, lebih baik, bukan?" Tanya Aini untuk mengalihkan perhatian Ardi.


"Segera. Setelah sidang hak asuh Umar selesai."


"Apa harus menunggu persidangan itu selesai?"


"Persidangan mungkin akan selesai dua minggu lagi. Dan setelah itu, kamu harus pindah ke rumah yang sama dengan Kenzo."


"Kenapa, Pak?"


"Itu permintaan Gilang."


"Dokter Gilang?"


"Iya. Dengan kamu dan Kenzo berada di rumah yang sama, Gilang akan lebih mudah memantau kondisi kalian. Sebelum dan setelah donor dilakukan." Jelas Ardi singkat.


Aini menganggukkan kepalanya. Ia cukup paham dengan maksud permintaan Gilang. Meski, ia tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi padanya nanti setelah donor dilakukan.


"Jadi, sebelum kamu pindah rumah, mintalah pada atasanmu untuk mencari penggantimu! Atau atasanmu sudah punya penggantimu?" Imbuh Ardi.


"Oh, belum Pak. Pak Galih dan Bu Dewi masih belum menyiapkan ganti asisten rumah tangga." Jujur Aini mendadak sedih.


"Maka dari itu, esok mintalah pada mereka menyiapkan penggantimu!"


"Ya, Pak."


Aini tertunduk sedih. Ia sedikit merasa sedih karena harus pergi dari rumah yang setahun terakhir ia tempati. Harus berpisah dari orang-orang yang selalu baik dan menerimanya tanpa banyak keluhan. Meski, ia sering merepotkan mereka secara tidak langsung.


Bukan Aini berubah pikiran, hanya saja, berpisah dengan Dewi dan Galih setelah kembali bersama Umar, tak pernah sekalipun Aini membayangkan itu. Karena bagi Aini, Dewi dan Galih sudah seperti keluarganya sendiri di tempat yang asing baginya. Meski ia hanya menyandang status asisten rumah tangga di rumah mereka.


"Tiga hari setelah sidang putusan hakim keluar, Dika akan menjemputmu ke rumah. Dia akan membantumu dan mengantarmu pindah ke rumah Kenzo."


Aini masih diam.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" Tanya Ardi setelah tak mendapat tanggapan dari Aini.


"Oh, tidak Pak." Jawab Aini singkat.


Aini masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan Ardi memahami itu. Ardi tahu, hubungan Aini dan atasannya sangat baik. Jadi, ia membiarkan Aini memikirkan hal yang baru saja ia beritahukan.


"Satu hal lagi. Jangan beri tahu Kenzo, jika kamu yang menjadi pendonor untuknya!" Pinta Ardi sebelum Aini pergi.


"Tapi, bukankah saya dan Kenzo akan berada di bawah satu atap? Dia pasti akan bertanya, kenapa saya tinggal di rumah yang sama dengannya nanti." Jawab Aini bingung.


Ardi terdiam. Ia belum memikirkan hal itu sebelumnya.


"Jawab saja, kamu akan menjadi perawat sementaranya setelah operasi!" Jawab Ardi sekenanya.


Aini berpikir sejenak. Ia akhirnya menganggukkan kepalanya, meski ia masih sedikit bingung.


Aini akhirnya berpamitan pulang lebih dulu pada Ardi. Karena memang, malam sudah mulai larut. Dan ia tak bisa jika harus pulang terlalu malam.


Ardi sempat menawarkan pada Aini untuk mengantarnya pulang, tapi ditolak oleh Aini. Dengan alasan, Aini masih bisa pulang sendiri. Ardi pun akhirnya mengalah.


Flashback Off


"Jadi, kamu bisa jadi pendonor buat Kenzo?" Tanya Dewi tak percaya.


Aini mengangguk ragu.


"Syukurlah, Ni. Kamu bisa menolong anak itu secara tidak langsung nantinya." Imbuh Dewi.


"Iya, Bu. Tapi, saya juga tidak bisa bekerja di sini lagi Bu." Ucap Aini perlahan.


"Kenapa?"


"Pak Ardi bilang, saya harus tinggal di rumah yang sama dengan Kenzo nantinya. Agar memudahkan dokter pribadi Kenzo memantau kondisi saya dan Kenzo, sebelum dan setelah pendonoran. Itu permintaan dokter pribadi Kenzo." Jelas Aini pelan.


Galih yang sedari tadi juga memperhatikan cerita dan obrolan Aini dan Dewi, akhirnya menoleh pada istrinya yang kebetulan juga menoleh padanya. Mereka lalu menghembuskan nafas beratnya.


"Tak apa, Ni. Setidaknya, kamu pindah dari sini, untuk sesuatu hal yang baik." Hibur Dewi.


"Tapi Bu,,"


"Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, kapan pun kamu mau datang." Imbuh Dewi yang mengerti perasaan Aini.


"Maaf, Pak, Bu!" Ucap Aini sedih.


Aini yang sedari tadi tertunduk, segera menoleh pada Dewi yang sudah duduk di sampingnya. Dewi pun segera memeluknya dengan hangat dan penuh perhatian.


Dewi sebenarnya juga tak ingin Aini pergi. Ia sudah cukup nyaman dan puas dengan pekerjaan Aini. Tapi, ia juga sadar, Aini pergi bukan untuk sekedar pergi begitu saja. Ia ingin menolong seseorang yang butuh bantuannya. Dan Dewi memahami hal itu. Apalagi, ia juga tahu, bahwa Kenzo sudah memanggil Aini dengan sebutan bunda seperti Umar.


Dewi akhirnya berlapang dada melepaskan Aini sebagai asisten rumah tangganya. Ia dengan berat hati, menyetujui permintaan Ardi yang sempat disampaikan oleh Aini tadi.


Aini pun sedikit merasa lega setelah obrolannya dengan Galih dan Dewi. Ganjalan hatinya sedari tadi, akhirnya sedikit berkurang.


...****************...


Matahari bersinar cerah pagi ini. Memberikan semangat baru bagi setiap hal yang ia sapa lembut dengan kehangatannya. Hingga asa yang telah terangkai indah pun, mulai menemui jalan terangnya secara perlahan.


Hari ini, kediaman Galih dan Dewi sedikit berbeda. Apalagi kalau bukan karena Aini yang akan pindah dari rumah itu.


Ya, hari ini, tepat tiga hari yang lalu, hakim sudah memutuskan, bahwa hak asuh Umar El Farizki kembali pada ibunya, Aini. Setelah semua bukti yang diberikan dua pengacara Ardi pada hakim, membuat hakim menjatuhkan putusannya untuk Aini.


Adit sudah tak bisa lagi mengajukan gugatan untuk hal itu. Ia sudah benar-benar kehilangan hak asuh Umar. Bahkan kini, ia harus mendapat ijin dari Aini, jika ingin menemui Umar. Itu keputusan dari pengadilan.


"Kamu jadi dijemput, Ni?" Tanya Dewi penasaran.


"Kata pak Ardi, begitu Bu. Tapi, kurang tahu juga. Dan lagian, saya juga ada motor yang harus dibawa. Kalau dijemput, motornya gimana?" Jawab Aini bingung.


Obrolan mereka di teras, akhirnya teralihkan oleh sebuah mobil sedan hitam yang mendadak parkir di depan rumah Dewi. Seorang laki-laki yang familiar dengan mereka pun, turun dari mobil itu. Dan segera masuk menuju halaman rumah.


"Selamat siang, Bu Dewi, Bu Aini." Sapa laki-laki itu, yang tak lain adalah Dika.


"Siang Pak Dika." Jawab Aini ramah.


"Siang Pak." Jawab Dewi singkat.


"Saya diperintahkan pak Ardi, untuk menjemput Anda hari ini, Bu Aini." Jelas Dika langsung.


"Iya, Pak. Aini sudah nunggu dari tadi. Kok pak Ardi nggak ikut? Padahal Aini udah nunggu dari tadi." Sahut Dewi segera.


"Ibu? Mana ada?" Jawab Aini cepat.


Dika tersenyum kecil mendengar penuturan Dewi.

__ADS_1


"Pak Ardi sedang bertemu dengan koleganya saat ini. Beliau akan menemui Bu Aini nanti di rumah." Jujur Dika.


"Oh iya. Kamu kan nanti satu rumah sama pak Ardi."


"Udah, tenang aja! Nanti juga ketemu di rumah." Goda Dewi sambil cekikikan.


"Ibu ini, ada-ada saja." Jawab Aini malu-malu.


Tanpa Aini sadari, ia sedikit salah tingkah karena godaan Dewi tadi. Bahkan, pipinya pun sedikit merona meski tanpa riasan.


"Jadi, apa semua sudah siap, Bu Aini?" Tanya Dika menengahi.


"Sudah, Pak." Jawab Aini.


"Kalau begitu, mari Bu Aini!"


Aini lantas mengambil tas dan barang miliknya yang sudah ia rapikan. Dengan dibantu Dika, Aini membawa barang miliknya ke mobil yang dibawa Dika tadi.


"Pak Dika bisa pergi lebih dulu! Saya akan mengikuti dengan motor." Usul Aini setelah selesai.


"Ibu ikut saya dengan mobil saja! Motor Ibu, biar dibawa oleh anak buah saya."


"Anak buah?"


Aini kebingungan dengan ucapan Dika. Tak lama, ada dua orang laki-laki berpakaian hitam menghampiri mereka dari arah belakang mobil Dika. Mereka terlihat sedikit garang, tapi tiba-tiba, mereka tersenyum ramah pada Aini. Aini pun membalas sapaan mereka dengan tak kalah ramah.


Aini lantas berpamitan pada Dewi dan kedua anaknya. Anak pertama Dewi, kebetulan sudah pulang sekolah. Jadi, ia ikut melepaskan kepergian Aini hari ini. Ditambah, ART baru Dewi yang sudah tiba dua hari yang lalu. Mereka melepas Aini dengan haru.


"Terima kasih, Bu." Ucap Aini tulus, saat ia dipeluk erat oleh Dewi.


"Iya, Ni. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan kabari aku atau mas Galih! Ya?" Sahut Dewi penuh perhatian.


Aini mengangguk pasrah. Ia menangis di pelukan Dewi, yang selama setahun ini, sangat mengerti dirinya, meski status mereka hanya atasan dan bawahan. Aini merasa sangat beruntung bisa berkenalan dengan Dewi dan Galih.


"Titip Aini ya, Pak! Tolong jaga dia!" Ucap Dewi tulus.


"Tentu, Bu Dewi." Jawab Dika yakin.


Aini akhirnya mengikuti langkah Dika menuju mobil. Ia pergi dengan mobil Dika, seperti yang Dika katakan tadi. Dan motornya, dibawa oleh salah satu dari dua orang anak buah Dika tadi.


Lambaian tangan dari keluarga kecil Dewi, mengantarkan kepergian Aini ke rumah barunya sementara. Rumah yang asing baginya.


"Maaf, Pak Dika." Ucap Aini di tengah perjalanan.


"Iya, Bu?"


"Kapan saya bisa bertemu Umar? Dan, apa boleh, Umar nanti tinggal dengan saya di rumah pak Ardi?" Tanya Aini ragu.


Dika yang sedang menyetir, segera menoleh pada Aini yang duduk di kursi belakang.


"Anda akan bertemu dengan Umar di rumah nanti. Dan tentu, Ibu bisa tingga dengannya nanti." Jawab Dika ramah.


Aini tersenyum lega mendengar ucapan Dika.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Bu."


Tak banyak percakapan yang terjadi. Karena Dika fokus menyetir agar segera sampai di kediaman Ardi.


Setelah berkendara membelah keramaian kota dan panjangnya perjalanan, akhirnya mobil yang Dika kendarai, memasuki sebuah kawasan perumahan elit. Dengan deretan rumah-rumah besar dan megah menjadi pemandangan di kanan dan kiri jalan.


Hingga, mobil itu mulai menepi dan memasuki sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi dan pintu gerbang yang tak kalah tinggi juga. Saat pintu pagar terbuka, nampak sebuah taman nan tertata indah dengan segala pernak-perniknya.


"Besar sekali rumah pak Ardi. Bahkan, berkali-kali lebih besar dari rumah mas Adit." Batin Aini, saat melihat rumah yang ada di dalam pagar.


Aini dan Dika lantas turun, setelah Dika menghentikan mobilnya di depan pintu rumah. Dika dibantu oleh pengawalnya membawa masuk barang Aini.


"Mari, Bu Aini!" Ajak Dika ramah.


Aini mengangguk patuh. Ia mengikuti langkah Dika masuk ke rumah besar itu.


Ada perasaan aneh menyergap Aini, saat kakinya melangkah masuk ke rumah itu. Perasaan yang cukup sulit ia artikan.


"Selamat siang, Bu Niken." Sapa Dika, saat seorang wanita paruh baya terlihat menghampirinya dengan penuh tanya.


"Siang, Dik. Siapa dia?" Tanya wanita itu datar, yang tak lain adalah ibu Ardi, Niken.


"Ini, Bu Aini." Jujur Dika.


Niken menatap Aini tanpa ekspresi. Aini segera menganggukkan kepala dan tersenyum ramah pada Niken untuk menyapanya. Suasana cukup hening, menunggu reaksi Niken.

__ADS_1


Jadi, bagaimana Niken akan menyambut Aini? Apa dia akan menerima kehadiran Aini di rumahnya dengan baik? Atau malah sebaliknya?


__ADS_2