
"Mas, biarkan aku menjelaskan semuanya!" Ucap Aini, setelah menghampiri Ardi.
Ardi diam tak menjawab. Ia menatap ke arah Adit, yang sedang santai bercengkrama dengan Umar. Hatinya jelas mulai bergemuruh.
"Kamu mengingkari janjimu." Lirih Ardi penuh penekanan.
"Maafkan aku, Mas! Tapi kumohon, dengarkan penjelasanku dulu!" Mohon Aini.
Ardi menatap Aini dengan penuh kekecewaan. Dan Aini jelas menyadari itu.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan mama Heni dan papa Arif di depan tadi, Mas. Mereka juga ternyata ingin menemui mbak Ratri." Jelas Aini segera.
"Lalu, kenapa kamu juga bertemu dengan laki-laki itu?"
"Mama dan papa yang ingin menemui mas Adit, Mas."
"Kamu bisa pergi dan membatalkan kunjunganmu, bukan?" Sindir Ardi.
"Rafa tidak mau lepas dari Umar, Mas."
"Rafa?"
"Iya. Anak pertama mbak Ratri."
"Kamu bisa menitipkan Umar pada orang tua Ratri."
"Aku,, aku,,"
"Kenapa? Kamu memang ingin bertemu dengan mantan suamimu itu sekarang, bukan?"
"Apa maksudmu, Mas?"
Ardi terdiam dengan perasaan cemburu yang menutupi hatinya. Hatinya terasa begitu kecewa pada Aini saat ini.
"Aku tidak bisa menemukan alasan untuk menitipkan Umar pada mama dan papa, Mas. Aku tidak ingin mereka tahu, jika mas melarangku menemui mas Adit hari ini. Karena ini urusan rumah tangga kita, Mas." Jelas Aini penuh sesal.
Ardi yang merasa sangat kecewa pada Aini, masih tetap setia mendengarkan apa yang Aini katakan.
"Maaf, Mas! Aku tadi sudah berusaha menghubungimu, tapi kamu tidak menjawab teleponku, Mas." Sedih Aini.
Aini segera memeluk Ardi tanpa rasa canggung. Hatinya begitu takut jika sampai Ardi marah padanya. Apalagi, sekarang mereka di tempat umum. Akan sangat tidak baik jika sampai Ardi meluapkan amarahnya di tempat ini. Meski, Ardi belum pernah marah padanya selama ini. Tapi Ardi hanya diam saja.
"Papa!" Panggil Umar tiba-tiba.
Suara itu jelas terdengar ke telinga Ardi. Ia segera menoleh ke sumber suara. Dan nampak begitu jelas di netranya, Umar sedang turun dari kursi dan segera berlari ke arahnya.
Bahkan, Kenzo yang sedari tadi juga mengobrol dengan Oliv, juga ikut mengalihkan perhatiannya ke arah Umar. Ia akhirnya juga berlari menghampiri papa tersayangnya itu. Meninggalkan orang yang sedang asik bersamanya tadi.
Aini lalu melepaskan pelukannya. Ia sedikit mengusap wajahnya yang mulai basah karena air matanya sempat menetes tadi.
Ardi bukanlah laki-laki yang baru saja menjadi ayah. Ia tahu, ia harus menyembunyikan permasalahan yang sedang dihadapinya dari putra-putranya. Jadi, ia segera memasang wajah bahagianya, dan menyambut Umar dan Kenzo dengan senyuman.
"Papa ke sini? Nggak jadi besok?" Polos Umar.
"Enggak. Kebetulan, pekerjaan Papa udah selesai tadi. Jadi, Papa nyusul kalian kemari." Bohong Ardi.
Iya, Ardi berbohong pada Umar. Sebenarnya, pekerjaannya belum selesai di kantor. Tapi karena perasaannya yang diliputi kecemburuan tak berdasar, membuatnya kalut dan memutuskan untuk menyusul Aini dan dua putranya ke lapas. Demi meyakinkan hatinya, bahwa Aini tidak akan mengingkari ucapannya.
Tapi ternyata, takdir berkata lain. Aini menemui Ardi tanpa ijinnya. Ia jelas kecewa pada Aini. Tapi, ia laki-laki yang baru saja tiba itu, jelas menutupinya dari kedua putranya dan orang-orang di sekitarnya.
Dan hal itu, membuat Aini sedikit lega. Karena setidaknya, orang lain tidak akan tahu, jika sedang terjadi kesalahpahaman antara dia dan sang suami.
"Mas Umar!" Panggil Rafa manja, setelah berlari menghampiri Umar.
"Iya." Jawab Umar sedikit terkejut.
Rafa jelas memasang wajah sedikit takut pada Ardi. Ia seolah tak rela, jika Umar jauh darinya. Ia lalu menarik satu tangan Umar.
"Sebentar, Dek!" Pinta Umar perhatian.
"Dia?" Tanya Ardi penasaran.
"Namanya Rafa, Pa. Adikku. Tapi dari mama Ratri." Jelas Umar.
Ardi mengangguk paham. "Hai Rafa, anak ganteng."
Rafa hanya diam.
"Dek, ini papanya mas Umar." Jelas Umar pada Rafa.
"Rafa bisa panggil om Ardi." Imbuh Aini.
Rafa menoleh sejenak pada Aini. Ia lalu mengangguk kecil.
"Halo, Om." Jawab Rafa lirih.
Ardi dan Aini tersenyum mendengar jawaban Rafa. Mereka senang, Rafa bukan anak yang pemalu dan takut dengan orang asing.
"Ayo ke sana!" Ajak Ardi, sembari menunjuk ke tempat dimana Aini dan yang lainnya sedang mengobrol tadi.
Semua pun setuju. Mereka kembali ke tempat tadi. Dan Ardi, jelas disambut bahagia oleh Arif dan yang lain.
"Selamat Pak Ardi, atas pernikahan Anda. Maaf, kami tidak bisa hadir saat itu. Alya sedang sakit. Jadi, kami tidak mungkin membawanya bepergian jauh." Tulus Arif.
"Tidak apa-apa, Pak Arif. Tapi, Alya sudah kembali sehat, bukan?" Ramah Ardi.
"Alhamdulillah, sudah. Itu, sedang bermain dengan ibunya." Tunjuk Arif ke arah Ratri yang sedang asik bercanda dengan Alya.
__ADS_1
"Syukurlah."
Semua mengobrol santai. Bahkan, Ardi pun begitu ceria bercengkrama dengan semua orang. Bahkan, dengan Oliv dan Adit. Ia sejenak mengesampingkan egonya demi dua putranya. Karena ia juga sadar, apa yang Aini lakukan pada dua putranya adalah benar. Tetap menyambung silaturahmi pada orang tua mereka, meski kini tidak bersama lagi.
Tapi, itu semua tidak berarti Ardi sudah memaafkan Aini begitu saja. Dalam hati Ardi, ia masih merasa kecewa dan sedikit marah pada Aini, karena mengingkari ucapannya. Ia memilih untuk menutupi itu, agar masalah pribadi rumah tangganya, tidak diketahui oleh orang lain.
Dan itu juga yang sempat membuat Aini tidak bisa menitipkan Umar dan Kenzo pada Arif dan Heni tadi. Ia tidak mau, jika Arif dan Heni tahu, Ardi melarangnya menemui Adit, meski Adit hanyalah mantan suaminya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Arif dan Heni berpamitan pada putri dan menantunya. Ardi dan Aini pun akhirnya juga ikut berpamitan pulang.
Tiga orang tahanan itu merasa berat ditinggal pulang oleh orang-orang yang baru saja mengunjungi mereka. Tapi mereka sadar, itu semua harus terjadi, karena apa yang telah mereka perbuat.
Ardi, Aini serta dua putranya melepas Arif dan Heni lebih dulu. Barulah mereka pulang.
"Ayo Sayang, kita pulang!" Ajak Aini pada Umar dan Kenzo.
Umar dan Kenzo mengangguk patuh. Mereka segera masuk mobil, dan meninggalkan Ardi dan Aini yang masih berdiri berjajar.
"Pulanglah dulu dengan Kenzo dan Umar!" Datar Ardi.
Aini jelas menyadari nada bicara Ardi. Ia yang tadi sempat merasa lega dengan sikap Ardi yang sangat hangat pada semua orang, mendadak kembali ciut hatinya. Ia tidak menyangka, Ardi masih marah dan kecewa padanya.
"Apa pekerjaan Mas belum selesai?" Tanya Aini hati-hati.
"Belum." Singkat Ardi.
Ardi berlalu begitu saja meninggalkan Aini. Ia pergi ke mobilnya yang tadi ia bawa sendiri. Dan Aini, hanya bisa menatap punggung suaminya saja. Karena tak mungkin, ia sedikit berdebat dengan Ardi di tempat umum dan bahkan di depan kedua putranya.
Aini akhirnya juga masuk ke mobil yang tadi membawanya ke lapas. Reno pun juga lantas menyusul Aini. Reno tadi mengira, atasannya itu akan pulang bersama. Tapi ternyata tidak.
"Papa?" Tanya Kenzo saat Aini masuk mobil.
"Papa mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Ken. Kita pulang dulu ya, sama om Reno?" Jawab Aini sekenanya.
Kenzo mengangguk paham. Mereka lalu pulang bersama Reno. Dan Ardi, pergi ke suatu tempat. Yang pasti bukan kembali ke kantor.
Memang terkadang, hati manusia bisa diselimuti oleh perasaan yang tidak seharusnya. Hingga membuat sang pemilik hati, terbutakan oleh perasaan itu tanpa disadarinya.
...****************...
Malam telah tiba. Suara kumandang adzan isya', telah menggema dari surau-surau. Menelusup dengan sempurna, ke setiap hal yang dilaluinya.
Aini keluar kamar setelah sholat isya. Ia segera disambut oleh Rama dan Niken serta dua putranya, untuk makan bersama.
"Bunda belum lapar, Sayang. Kalian makan dulu sama oma dan dan opa, ya!" Lembut Aini.
"Bunda udah makan tadi?" Tanya Umar.
"Belum. Tapi Bunda belum ingin makan. Kalian makan dulu aja, ya?"
"Iya, Bunda."
Selesai makan, Rama mengajak Kenzo dan Umar bercengkrama di kamar Kenzo. Untuk memberikan waktu pada Niken dan Aini sedikit berbincang.
"Kamu kenapa, Ni? Ada masalah?" Tanya Niken, saat ia melihat Aini termenung di halaman belakang.
"Apa? Ah, tidak, Ma." Bohong Aini.
"Jangan bohong sama, Mama! Kamu itu tidak pandai untuk hal yang satu itu." Cibir Niken santai.
Aini tertunduk sedih. Tubuhnya sedikit bergetar. Niken pun segera duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa? Ada masalah dengan Ardi?"
"Mas Ardi marah padaku, Ma." Adu Aini sedikit terisak.
"Marah padamu? Bagaimana bisa?"
"Aku sudah berusaha mengiriminya pesan dan meneleponnya berkali-kali, Ma. Tapi tidak dibalas satu pun oleh mas Ardi."
"Kenapa kalian bertengkar? Tadi pagi, sepertinya semua baik-baik saja."
"Tadi siang,,"
Aini pun sedikit menceritakan apa yang terjadi di lapas tadi pada Niken. Dan ia cukup terkejut, karena Ardi bisa sampai marah pada Aini. Karena setahu dirinya, Ardi tidak akan marah pada orang yang disayanginya hanya karena hal itu.
"Biar Mama coba telepon Ardi." Usul Niken.
Aini hanya mengangguk pasrah. Ia sudah tidak tahu lagi, bagaimana menghubungi Ardi. Dan ia juga tidak mungkin menyusul Ardi ke kantor. Ia takut, akan terjadi perdebatan di tempat yang tidak seharusnya.
"Kenapa Ardi tidak bisa dihubungi?" Gumam Niken bingung.
Hati Aini makin putus asa.
"Sebentar, Mama coba hubungi Dika!" Usul Niken lagi.
Karena memang, ponsel Ardi tidak bisa dihubungi.
"Halo, Dik. Apa Ardi masih di kantor?" Tanya Niken segera, saat panggilannya tersambung.
"Tidak, Bu. Pak Ardi sudah keluar kantor sejak siang."
"Sejak siang? Sendirian?"
"Iya. Saya tidak tahu beliau kemana siang tadi. Tapi, tadi sepulang kerja, saya sempat mengantarkan ponselnya ke rumah lama. Beliau sepertinya tidak sengaja meninggalkan ponselnya di kantor tadi siang. Dan mungkin, beliau masih di sana sekarang."
"Oh, baiklah, Dik. Terima kasih."
__ADS_1
"Iya, Bu. Sama-sama."
Niken segera menutup sambungan teleponnya. "Sebentar, aku akan menghubungi pak Nanang!"
Nanang adalah penjaga rumah lama Ardi yang di Surabaya. Selama rumah itu tidak ditempati, Nanang yang menjaga dan merawatnya.
Aini yang sedikit mendengar percakapan Niken dengan Dika, berharap apa yang dikatakan Dika tadi benar adanya.
"Pak Nanang. Apa Ardi di sana?" Tanya Niken cepat.
"Iya, Bu. Pak Ardi baru saja selesai berenang."
"Ya. Terima kasih, Pak."
"Iya, Bu."
"*Ed*an cah kae! Yahmene renang." Gumam Niken setelah menutup teleponnya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Aini cemas.
"Tidak. Ah iya, Ardi ada di rumah lama. Dia baik-baik saja pasti." Jelas Niken menenenagkan.
"Rumah lama?"
"Iya. Rumah peninggalan kakeknya Ardi. Sayang kalau dijual. Kami hanya merenovasinya saja."
"Kenapa mas Ardi kesana?"
"Anak itu, kalau ada masalah, pasti pergi kesana untuk menenangkan diri. Tapi tidak lama. Dia pasti segera pulang."
"Apa jauh dari sini, Ma?"
"Tidak juga. Sekitar tiga puluh menit dari sini. Kamu ingin menyusulnya?"
Aini mengangguk pasti. Hatinya sudah sangat tidak tenang karena masalah kecil dengan sang suami. Jadi, ia ingin segera menyelesaikannya.
"Mintalah Reno mengantarmu!" Saran Niken.
"Titip Umar dan Kenzo ya, Ma!" Jawab Aini tak sabar.
"Iya. Hati-hatilah! Reno sudah tahu tempatnya."
"Iya, Ma. Terima kasih, Ma."
Niken mengangguk lega. Ia berharap, masalah salah paham yang terjadi antara Ardi dan Aini dapat segera selesai.
Aini segera beranjak dari kursinya. Ia segera meminta Reno untuk mengantarnya ke rumah lama. Dan tak lama, Reno sudah tiba dan siap mengantarnya.
"Tunggu aku, Mas! Aku mohon, Mas bisa memaafkanku!" Batin Aini, saat Reno mulai melajukan mobil.
Lima belas menit kemudian, ada mobil yang masuk ke halaman rumah Ardi. Dan sejurus kemudian,,
"Aini!"
Teriakan itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Niken yang baru saja sampai di lantai dua untuk menghampiri Rama dan dua cucunya, segera melongok ke bawah.
"Lhoh? Kamu kok di sini, Di?" Tanya Niken bingung.
"Aini mana, Ma?" Tanya Ardi tergesa-gesa.
"Aini nyusul kamu ke rumah lama dianter Reno."
"Apa?"
"Tadi ponselmu tidak bisa dihubungi. Jadi, Mama telepon Dika buat nanyain kamu. Aini bingung di rumah sejak tadi nungguin kamu."
"Argh, sial!" Geram Ardi.
"Kamu juga kenapa nggak bisa dihubungi dari tadi?" Kesal Niken.
Tapi, bukannya menjawab, Ardi malah berbalik badan dan pergi keluar lagi.
"Eh, mau kemana kamu? Bukannya jawab Mama, malah pergi."
Ardi tak menjawab Niken sedikit pun. Ia menuju garasi rumahnya untuk mengambil tunggangannya yang lama tidak ia pakai. Sebuah motor sport, yang dulu pernah menemaninya kemanapun.
Niken mengikuti langkah Ardi. Ia sedikit terkejut, saat Ardi menggeber motor lamanya, yang ternyata masih berfungsi dengan baik.
"Hati-hati!" Pesan Niken singkat.
"Iya, Ma." Jawab Ardi, sebelum ia melajukan motornya.
Ardi lalu melajukan motornya menuju tempat yang sudah sangat pasti.
"Semoga semua baik-baik saja!" Gumam Niken, sembari menatap Ardi pergi dengan motornya.
...****************...
Assalamu'alaikum readers 🤗🤗
Othor, mau minta maaf niih 🙏🙏, Othor nggak bisa rutin update selama ini 🙏🙏😁😁 Banyak hal di dunia nyata yang sangat menguras waktu, hingga kurang sempat buat update ✌✌😁😁 Maaf ya 😘😘
Tapi, terima kasih juga, buat semua yang masih setia sama kisahnya Ardi sama Aini sampai episode ini 🥰😍🤩❤ lope yuu semuanyah pokoknyah 😘😘
Dan, Othor juga mau minta maaf buat semua hal yang Ohor lakukan yang mungkin kurang berkenan di hati readers 🙏🙏
Selamat menjalankan ibadah puasa Romadhon, bagi para readers yang menjalankannya 🙏😊 Semoga kita semua diberi kelancaran, keberkahan dan selalu mendapat ridho dari Allah dalam menjalankan ibadah di bulan Romadhon nanti. Aamiin.
__ADS_1
Okey, see you next episode 😘😘
Wassalamamu'alaikum readers 🤗🤗