Perjalanan Hati Aini

Perjalanan Hati Aini
Pesanan


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Takdir Allah pun terus bergulir tanpa henti. Merangkai cerita demi cerita yang mungkin tidak akan terlupa. Dan membawa setiap perannya, pada apa yang telah tertuliskan.


Tak terasa, tiga bulan sudah Aini disibukkan dengan warung makan Dian. Ia setiap satu minggu sekali datang ke rumah Dian untuk memberikan laporan singkat pada Dian tentang warungnya. Dan juga, menengok kembar kecil yang kini makin menggemaskan pastinya.


Dian pun merasa lega, karena bantuan Aini sangatlah membantunya. Ia jadi bisa benar-benar fokus pada dua bayi kembarnya.


Perlahan, hubungan Aini dan Dian pun makin dekat. Mereka saling bertukar cerita saat bertemu ataupun hanya melalui pesan singkat. Dan hal itu, membuat mereka lebih saling mengenal satu sama lain.


Kita memang tidak pernah tahu, kapan Allah mengirimkan orang-orang hebat yang akan menemani kita merangkai cerita indah dalam setiap langkah hidup ini.


Seperti biasa, Aini berangkat ke warung diantar oleh Reno. Beberapa hari ini, semua warung Dian memang cukup ramai. Dan bahkan, mereka juga harus melayani pesanan nasi kotak untuk jumlah yang tidak sedikit. Hingga memaksa Aini juga harus ikut campur tangan membantu semuanya.


"Selamat siang." Sapa seorang laki-laki berwajah lembut.


Aini yang baru saja selesai merapikan uang di kasir, segera menoleh dan tersenyum.


"Iya, selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Sahut Aini ramah.


"Saya ingin memesan nasi kotak untuk minggu depan. Apa bisa?" Tanya laki-laki tadi.


"Oh, bisa, Pak. Sebentar ya, Pak!" Ramah Aini.


Aini lalu menoleh ke para karyawan. "Ira. Tolong layani bapak ini!" Pinta Aini.


"Sepertinya, ini pemilik warungnya. Cantik." Batin laki-laki tadi.


"Iya, Mbak." Jawab seorang wanita, yang baru saja mengantarkan pesanan minuman pada pembeli.


"Sama mbak yang itu ya, Pak! Dia akan mencatat detail pesanan, Bapak." Jelas Aini.


"Iya. Terima kasih." Jawab laki-laki tadi.


Laki-laki itu lantas berbalik badan untuk menghampiri Ira, yang tadi dipanggil Aini. Ira pun juga segera menghampiri laki-laki itu dengan senyum ramah.


"Silahkan, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ira ramah.


"Saya ingin memesan nasi kotak untuk minggu depan." Jawab laki-laki itu yakin.


"Untuk hari apa ya, Pak?"


"Rabu. Lima ratus kotak."


"Apa?" Tanya Ira tidak percaya.


Aini yang juga mendengar ucapan laki-laki tadi, pun ikut terkejut. Karena dari cerita Dian dan para karyawannya, selama ini, belum pernah ada yang memesan nasi kotak sebanyak itu di warung ini.


Ira yang kebingungan, segera melirik Aini untuk meminta bantuan. Ia tidak bisa mengambil keputusan begitu saja, untuk pesanan laki-laki itu.


Aini yang menyadari tatapan Ira, segera berdiri dan menghampiri Ira serta laki-laki tadi.


"Banyak sekali, Pak. Ada hajatan, ya?" Basa-basi Aini.


"Tidak. Untuk program amal yang diadakan oleh beberapa rekan saya." Jujur laki-laki itu.


"Masya Allah. Mulia sekali kegiatan itu."


"Hanya sedikit berbagi untuk mereka yang membutuhkan."


"Alhamdulillah. Allah masih menganugrahi orang-orang sebaik Anda beserta rekan-rekan di sekitar kami." Puji Aini.


"Bukan hal besar, Bu."


"Mungkin bagi Anda itu bukan hal besar. Tapi, bagi beberapa orang, apa yang Anda dan rekan-rekan Anda lakukan, adalah hal luar biasa besar."


"Anda benar, Bu. Terima kasih."


"Kalau boleh tahu, menu apa yang Anda ingin pesan?"


"Bukan menu yang aneh-aneh. Mungkin, nasi dengan lauk ayam goreng dan sedikit sayur dan buah. Apa bisa?"


"Akan diambil jam berapa kira-kira besok?"


"Apa bisa, diantar ke sebuah alamat. Tidak begitu jauh dari sini."


"Diantar?" Gumam Aini.


"Kalau nasi kotak sebanyak itu, butuh armada yang memang untuk mengangkut barang. Apa mas Ardi punya armada untuk itu? Karena nggak mungkin juga, dianter bolak-balik pake motor." Batin Aini penuh pertimbangan.


"Sebentar, Pak! Pesanannya, untuk jam berapa, ya Pak?" Tanya Aini lagi.

__ADS_1


"Kalau bisa, pukul dua siang harus sudah diantar ke lokasi. Bagaimana? Apa bisa?" Tanya laki-laki tadi meyakinkan.


"Sebentar, Pak!" Pinta Aini lagi.


"Tentu. Silahkan!".


Aini lalu berunding dengan Ira. Mereka sedikit menjauh dari laki-laki tadi.


"Gimana, Ra? Apa bisa, lima ratus kotak untuk jam dua?" Bisik Aini.


"Aku nggak yakin, Bu. Apalagi, kita harus ngelayanin pembeli lain juga." Sahut Ira bingung.


Karena sebenarnya, Ira juga tidak ingin melepaskan pesanan ini. Tapi, ada beberapa hal yang juga harus dipertimbangkan.


"Kalau gitu, kita tutup aja besok, pas hari itu. Kita fokus buat pesanan bapak ini." Usul Aini.


"Tapi,,"


"Nanti biar aku yang bilang ke Dian."


"Bukan itu, Bu."


"Terus?"


"Saya takutnya, kalau kurang orang, Bu."


"Itu gampang besok. Aku bisa minta mas Reno dan teman-temannya buat bantuin."


"Emang, mereka bisa masak?"


"Yang masak kan kita. Mereka bagian packing atau yang lain."


"Oke, Bu. Saya setuju."


"Oke." Jawab Aini senang.


Aini dan Ira lalu kembali menghampiri laki-laki tadi.


"Baik, Pak. Kami akan menerima pesanan, Bapak." Yakin Aini.


"Bagus." Jawab laki-laki tadi lega.


Aini, Ira dan laki-laki tadi, lalu duduk bertiga. Ira pun segera mencatat detail pesanan laki-laki itu. Dan tak lupa, menanyakan nama dan alamat tujuan lengkap.


"Sama-sama, Bu. Apa boleh saya minta nomor rekeningnya? Akan saya transfer sekarang untuk pembayarannya." Pinta laki-laki itu yakin.


"Tentu."


Ira segera mengambil secarik kertas yang memang bertuliskan nomor rekening warung, yang beberapa waktu lalu, didaftarkan oleh Aini untuk keperluan warung. Setelah mendapat ijin dari Dian pastinya. Ira pun segera menyodorkan kertas itu pada laki-laki yang bernama Agung tadi.


Agung lalu sejenak sibuk dengan ponselnya untuk mentransfer total tagihan pesanannya. Aini sebenarnya hanya meminta DP untuk tanda kesepakatan, tapi Agung berkeras untuk membayar lunas semua tagihannya. Jadi Aini pun menurut saja.


"Sudah saya transfer. Bisa Anda cek dulu, Bu!" Pinta Agung setelah selesai dengan ponselnya.


"Baik, Pak. Saya cek dulu."


Dan kini, giliran Aini yang mengutak-atik ponselnya. Ia mengecek transferan biaya tagihan pesanan Agung, yang memang jumlahnya tidak sedikit.


"Baik, Pak. Sudah masuk. Terima kasih." Ramah Aini.


"Apa alamatnya sudah jelas?" Tanya Agung meyakinkan.


Aini dan Ira saling pandang. Karena memang, Aini tidak begitu paham dengan kota Bandung.


"Kamu udah tahu kan, Ra? Aku belum begitu tahu daerah Bandung." Jelas Aini.


"Sudah, Bu. Tapi, besok berarti saya yang anter pesanan?" Bingung Ira.


"Oh, iya. Kalau gitu, bentar, aku panggil mas Reno aja!" Usul Aini.


"Biar saya yang panggil, Bu."


"Oke."


Ira segera berdiri dan meninggalkan Aini dan Agung. Aini sedikit tersenyum menahan geli. Ia cukup tahu, itu hanya alasan Ira untuk bisa sedikit dekat dengan Reno. Karena diam-diam, Ira menaruh hati pada Reno, sejak pertama kali Reno datang mengantar Aini dan Dian.


"Siapa Reno? Apa suaminya? Ah, sayang sekali kalau wanita dihadapanku ini sudah ada yang memiliki. Dia terlihat begitu lembut dan baik." Batin Agung.


Aini menyadari tatapan tak biasa Agung. Ia jadi sedikit merasa kikuk pada Agung.

__ADS_1


"Apa ada yang lain, Pak?" Tanya Aini, untuk mengalihkan rasa kikuknya.


"Em, kalau boleh tahu, siapa nama Anda?" Tanya Agung ragu.


"Saya,,"


"Ada apa, Bu?" Sela Reno tiba-tiba.


Aini dan Agung segera menoleh.


"Oh, iya. Ini Mas Ren, pak Agung ini pesen nasi kotak lima ratus kotak. Besok minta diantar ke lokasi. Mas tolong pastikan lokasinya, ya! Besok saya minta tolong Mas Reno sama temennya buat nganter nasi kotaknya. Bisa, kan?" Ucap Aini segera.


"Lima ratus kotak?" Ulang Reno tak percaya.


"Iya. Ada apa? Apa ada masalah?"


"Armadanya, Buk?"


"Pakai mobil yang biasa?"


"Harus dua kali jalan, Buk."


"Gitu, ya?"


"Atau nanti saya minta Angga carikan mobil box untuk antar pesanan."


"Oke, Mas." Jawab Aini bahagia.


"Sepertinya, Reno ini bukan suaminya." Batin Agung, setelah mendengar percakapan Reno dan Aini.


"Kalau gitu, maaf Pak Agung, bisa tolong Bapak jelaskan lagi alamat tujuannya pada mas Reno! Besok biar mas Reno yang antar pesanan Bapak." Pinta Aini sopan.


Agung mengangguk paham. Ia lalu menjelaskan pada Reno alamat pengantaran pesanannya. Dan diam-diam, dalam hatinya juga merasa lega dan yakin, jika Reno bukanlah suami wanita yang dalam beberapa menit belakangan, telah mencuri perhatiannya.



"Sudah, Buk." Ucap Reno yakin.


"Beneran ya, Mas Ren? Udah tahu alamat jelasnya." Ucap Aini meyakinkan.


"Iya, Buk. Tidak begitu jauh dari rumah Angga dan Erna."


"Benarkah?" Tanya Aini antusias.


"Iya, Buk. Mungkin sekitar lima atau sepuluh menit dari rumah Angga."


"Baguslah kalau begitu."


Reno mengangguk setuju.


"Baiklah, Pak Agung. Terima kasih atas kepercayaan Anda. Kami akan berusaha yang terbaik untuk Anda." Ucap Aini bahagia.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi. Saya tunggu kabar baik dari Anda." Jawab Agung sopan.


"Tentu, Pak. Kami akan mengabari Anda jika pesanan siap diantar."


"Baik. Saya permisi."


"Iya, Pak."


Agung lalu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar warung. Ia pergi dengan rasa penasaran yang masih menggelayut indah di hatinya.


"Aku harus tahu namanya, dan siapa dia." Batin Agung setelah masuk mobil, dan menatap Aini yang sedang berbincang dengan Ira dan Reno.


...****************...


Assalamu'alaikum readers 🤗🤗


Jumpa lagi sama othor ya 😁


Othor cuma mau bilang,,


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H


Taqabalallahu Minna wa Minkum Taqabbal ya Karim


Mohon maaf lahir dan batin 🙏😊


Semoga, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah bulan Ramadhan ini, dan Allah senantiasa memberikan keberkahan dan ridho-Nya dalam setiap langkah dan jalan hidup kita. Aamiin. 🤲😇😊

__ADS_1


Okey,, see you next episode ya readers 😉🤩


Wassalamu'alaikum 🤗🤗


__ADS_2