
Pagi menyapa nusantara. Ditemani awan hitam yang menutupi sinar mentari, rintik hujan pun membasahi bumi yang masih terasa dingin dan redup. Memberi nuansa sendu, pada setiap asa yang mungkin telah tercipta.
Pukul enam pagi. Ardi masih berada di salah satu rumah sakit swasta di Pasuruan bersama Gilang. Ardi bahkan tidak tidur semalaman karena memikirkan Aini.
Aini masih belum membuka kembali kelopak matanya. Mata bulat nan teduh itu, masih tertutup rapat tanpa gerakan sedikit pun.
Aini harus dirawat di ICU. Kondisinya sangat buruk. Berhari-hari tanpa makanan dan minuman, membuat tubuhnya makin kurus dan mengalami ketosis (Kondisi saat tubuh kekurangan karbohidrat untuk dibakar menjadi energi. Sebagai gantinya, tubuh akan membakar lemak untuk mencukupi kebutuhan energinya. Dan proses ini menghasilkan senyawa bernama keton.)
"Kamu nggak pulang dulu?" Tanya Gilang perhatian.
"Aini bagaimana? Aku tak mau meninggalkan dia sendirian lagi." Jawab Ardi lemas.
Sejak Aini dipindahkan di ruang ICU, Ardi hanya memandangi Aini tanpa henti. Batinnya begitu pedih melihat kondisi wanitanya terlelap tak berdaya.
Gilang sudah berusaha menghibur dan menguatkan Ardi sejak semalam. Tapi tetap saja, perasaan sedih itu begitu dalam menggelayuti hati Ardi, hingga Gilang belum berhasil mengusirnya.
"Bukankah ada pengawalmu?"
"Aku tak mau meninggalkannya, Lang." Jawab Ardi tegas.
"Bagaimana dengan Kenzo? Dia pasti akan menanyakanmu pada om dan tante."
Ardi terdiam. Ia sejenak lupa dengan putranya yang saat ini, masih berada di rumah sakit.
Sebenarnya, Kenzo hari ini sudah diijinkan pulang oleh Gilang. Tapi, dengan tidak adanya Aini dan Ardi di rumah nanti, Kenzo pasti akan segera mencari keberadaan mereka.
"Aku akan me,," Ucapan Gilang disela oleh Ardi tiba-tiba.
"Pindahkan Aini ke Surabaya!" Usul Ardi yakin.
"Terlalu beresiko untuk saat ini. Kondisinya belum stabil, Di." Sanggah Gilang tak kalah yakin.
"Kamu dokternya, kan? Kamu harus bisa membawa Aini ke Surabaya! Di sana dia bisa mendapatkan perawatan terbaik. Jadi, kondisinya pun akan segera membaik."
"Aku tak bisa, Di. Kondisi Aini masih kritis."
"Apa yang kamu butuhkan? Jet pribadi? Keperluan medis? Apa? Katakan padaku! Aku akan menyiapkannya untukmu."
"Aku butuh kesabaran dan ketabahanmu, Di."
"Apa maksudmu?"
"Biarkan kondisi Aini stabil lebih dulu! Setelah stabil, kita pindahkan dia ke rumah sakit terbaik di Surabaya."
"Sampai kapan?"
"Hanya Allah yang tahu, Di."
Hati Ardi kembali menciut. Hati yang sedang sangat sedih itu, tadi sempat memiliki harapan besar dengan rencana yang ada di kepalanya. Tapi saat sang dokter menolaknya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Katakan pada Kenzo yang sebenarnya! Mungkin, kehadiran Kenzo bisa membuat kondisi Aini lekas stabil." Usul Gilang tulus.
"Tapi,,"
"Aku yakin! Kenzo bisa menghadapi hal ini." Jawab Gilang yakin.
Ardi yang sedang fokus dengan Aini sejak kemarin, tak begitu memahami maksud Gilang. Tapi ia yakin, sahabatnya itu bisa diandalkan dan dipercaya.
Pukul delapan pagi, Dika dan Reno tiba di rumah sakit itu. Mereka segera menghampiri Ardi dan Gilang.
Dika dan Reno baru saja kembali setelah membereskan Reni dan anak buahnya. Mereka membawa Reni dan para anak buahnya ke sebuah tempat, yang sudah cukup lama tidak disambangi Ardi.
"Bapak bisa pulang lebih dulu! Bu Aini, biar saya dan Reno yang menjaganya." Saran Dika.
"Benar yang Dika katakan. Nanti, ajaklah Kenzo dan Umar kemari. Biarkan mereka mengetahui kondisi Aini yang sebenarnya." Imbuh Gilang.
Setelah begitu banyak saran dan rayuan, Ardi akhirnya setuju untuk pulang ke Surabaya terlebih dahulu. Dan akan memberitahu Kenzo dan Umar tentang kondisi Aini. Ia pun kembali ke Surabaya bersama Gilang.
"Mau kamu apakan dalang penculikan itu?" Tanya Gilang pada Ardi, saat mereka berkendara menuju Surabaya.
"Kamu akan tahu besok." Jawab Ardi singkat.
Ardi jelas sudah memiliki rencana balas dendamnya. Dan itu harus segera ia lakukan dan tanpa sepengetahuan Aini. Karena jika sampai Aini tahu, Aini bisa saja menggagalkan rencana itu. Hanya karena kelembutan hatinya.
Setelah Ardi mengantarkan Gilang pulang, ia pun pulang ke rumah. Ia disambut dengan Umar yang kembali demam, meski anak delapan tahun itu, baru saja pulang dari rumah sakit. Semalaman ia dirawat oleh Sri karena ditinggal oleh Ardi.
Ardi tidak berkantor hari ini. Ada terlalu banyak urusan pribadi yang harus ia tangani.
Selepas dzuhur, Kenzo pulang bersama Rama dan Niken. Dan ternyata, Gilang pun ikut bersama mereka ke rumah Ardi.
Rama dan Niken sudah mendengar tentang Aini dari Gilang. Dan menjadi PR Ardi untuk memberi tahu Kenzo dan Umar tentang Aini.
__ADS_1
"Bunda mana, Pa?" Tanya Kenzo antusias.
"Umar juga kemana, Pa? Kenapa sepi?" Tanya Kenzo lagi.
Ardi mulai kebingungan menjawab pertanyaan Kenzo. Ia tadi sebenarnya sudah merangkai kata agar bisa memberi tahu Umar dan Kenzo kabar itu, tapi semua hilang saat bertemu dan bertatapan langsung dengan Kenzo.
Ardi menarik nafas panjangnya. " Umar di kamarnya, dia sedang sedikit demam."
"Kenapa Umar akhir-akhir ini sering sakit, Pa?" Polos Kenzo.
Kenzo segera menoleh pada Gilang. Ia pun langsung menarik Gilang dan membawa Gilang ke kamar Umar. Semua langsung paham sikap Kenzo.
"Om, ayo periksa Umar!" Pinta Kenzo cepat, sambil berjalan.
"Iya. Makanya, Om juga ikut kesini tadi." Jawab Gilang sabar.
Kenzo tersenyum lega. Semua pun mengikuti langkah Kenzo dan Gilang ke kamar Umar.
Di dalam kamar, Umar sedang tiduran. Ia segera bangun dari posisinya, saat melihat teman rasa saudaranya itu datang ke kamarnya.
"Kamu sudah pulang, Ken?" Ucap Umar antusias.
Kenzo mengangguk sambil tersenyum. "Om, cepat periksa Umar!"
Umar yang memang masih sedikit demam, hanya bisa pasrah saat Gilang mulai memeriksanya. Semua menunggu dengan sabar.
"Nggak papa. Nanti istirahat yang cukup, dan minun penurun panas, kamu pasti segera sembuh. Oke?" Ucap Gilang pada Umar yang tengah berbaring.
Umar mengangguk patuh. Kenzo pun segera duduk di samping Umar.
"Bunda dimana, Mar?" Tanya Kenzo segera.
Umar menoleh pada Ardi. Ia sudah diberi tahu Ardi sejak awal, bahwa Kenzo tidak tahu jika Aini diculik sejak beberapa hari yang lalu. Kenzo juga tak tahu, jika ia sempat dirawat di rumah sakit, tepat di sebelah kamarnya kemarin.
Ardi yang mengetahui tatapan Umar, segera mendekat pada dua anak laki-laki itu. Ia duduk dengan sangat pelan di depan Kenzo. Kenzo pun memperhatikan ayahnya.
"Kalian mau ketemu bunda?" Tanya Ardi pelan.
Umar tiba-tiba bangun. "Bunda udah ketemu, Pa?"
Kenzo menoleh pada Umar dengan bingung. "Maksudnya apa, Mar?"
"Nanti akan Papa jelaskan, Ken." Sahut Ardi sambil mengusap lengan Kenzo.
"Bunda beneran udah ketemu, Pa? Sekarang dimana? Apa bunda udah pulang?" Tanya Umar antusias.
"Kalian mau ketemu bunda?" Tanya Ardi hati-hati.
"Bunda beneran udah ketemu, Pa?" Tanya Umar makin tak sabar.
Ardi mengangguk pada Umar.
"Apa bunda sudah pulang? Bunda dimana? Kenapa belum nemuin Umar?"
Umar mulai bingung setelah mendapat jawaban Ardi. Ia pun segera bersiap untuk turun dari ranjang. Dan hal itu, jelas menarik perhatian Kenzo yang tak tahu apa-apa.
"Kenapa kamu bilang gitu, Mar?" Tanya Kenzo cepat.
Ardi pun segera memegang tangan Umar, untuk mencegahnya turun dari ranjang. Umar pun menoleh pada Ardi.
"Dengarkan Papa bicara dulu!" Pinta Ardi lembut.
Umar dan Kenzo pun mulai penasaran dengan apa yang ingin Ardi katakan. Terlebih Kenzo. Karena ia tak tahu apapun tentang kasus penculikan Aini.
"Bunda belum pulang. Bunda masih berada di suatu tempat dan belum bisa menemui kalian saat ini. Jika kalian ingin menemuinya, Papa akan antarkan kalian kesana nanti." Jelas Ardi pelan-pelan.
"Memang bunda kemana, Pa? Sudah seminggu bunda nggak nemuin Kenzo." Adu Kenzo manja.
"Bunda diculik, Ken." Ucap Umar segera.
Semua orang segera menoleh pada Umar. Dua bola mata jernih Umar pun mulai basah dengan air mata.
"Apa? Bunda diculik? Jangan asal bicara kamu, Mar?" Kesal Kenzo.
"Yang dibilang Umar, benar, Ken. Bunda diculik beberapa hari yang lalu. Dan kemarin, bunda sudah ditemukan." Jelas Ardi sabar.
"Kenapa Papa nggak bilang sama Kenzo?" Marah Kenzo.
"Papa ingin kamu lekas pulih, Ken."
"Tapi Pa,,"
__ADS_1
"Lihat Umar! Dia sebenarnya baru saja keluar dari rumah sakit karena demam tinggi setelah tahu tentang penculikan bunda. Dan dia juga kini demam lagi, karena memikirkan bunda yang belum ditemukan sampai tadi malam."
Kenzo menoleh pada Umar sejenak.
"Papa nggak mau kondisimu menurun pasca operasi. Kamu harus pulih dulu, Ken. Maka dari itu, Papa dan yang lain merahasiakan hal itu darimu. Kami hanya ingin kamu pulih lebih dulu."
Kenzo mendengarkan dengan seksama ucapan ayahnya. Ia berusaha memahami setiap kata yang ayahnya ucapkan.
"Lalu, dimana bunda sekarang? Apa bunda baik-baik saja?" Tanya Kenzo sedih.
"Tidak. Bunda tidak baik-baik saja. Bunda sedang dirawat sekarang." Jujur Ardi berat.
"Dimana, Pa?" Tanya Umar lagi.
"Nanti kita kesana, ya?" Sahut Ardi perhatian.
"Sekarang saja, Pa!" Rengek Umar.
"Iya, Pa. Ayo sekarang saja kita ke tempat bunda!" Timpal Kenzo.
Ardi menoleh pada kedua orang tuanya. Rama dan Niken pun mengangguk setuju. Karena sebenarnya, mereka juga ingin tahu, bagaimana kondisi Aini saat ini.
"Ya sudah. Kalian bersiaplah! Papa tunggu di bawah, ya?" Setuju Ardi.
"Iya, Pa."
Umar dan Kenzo segera bersiap. Sebenarnya, hanya Umar yang bersiap. Karena Kenzo juga masih mengenakan pakaian yang sejak pulang tadi belum ia ganti. Pakaian yang cukup nyaman untuknya pastinya.
Tak lama, Ardi dengan kedua orang tua dan putranya, juga Gilang, segera bertolak ke kota dimana Aini kini sedang berada. Sepanjang perjalanan, Umar dan Kenzo bertanya banyak hal tentang Aini pada Ardi. Ardi pun menjawabnya dengan sabar.
Hampir sembilan puluh menit mereka berkendara. Mereka kini sudah tiba di sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar.
"Apa bunda dirawat di sini, Pa?" Polos Kenzo.
"Iya. Ayo masuk!"
Mereka sempat dicegat oleh pihak keamanan rumah sakit. Karena Umar dan Kenzo belum diijinkan masuk ke area rumah sakit, sesuai peraturan yang berlaku. Ardi dan Rama akhirnya berusaha bernegosiasi dengan pihak rumah sakit.
Setelah perundingan, pihak rumah sakit akhirnya mengijinkan Umar dan Kenzo masuk ke rumah sakit dengan beberapa syarat. Umar dan Kenzo pun lega mendengar keputusan itu.
Ardi lalu menggandeng tangan kedua putranya itu. Mereka menyusuri lorong demi lorong rumah sakit untuk bisa menemui Aini. Dan saat sampai di ruang tunggu ICU, mereka disambut oleh Dika dan Reno pastinya.
"Itu bunda! Bunda masih belum sadar. Do'akan bunda, agar lekas membaik!" Ucap Ardi, sambil menunjuk pada sebuah ranjang di ruang ICU, dimana Aini tengah terbaring.
Netra polos dua anak laki-laki itu membola sempurna. Mereka sangat terkejut melihat kondisi Aini.
Bagaimana tidak? Netra Aini masih terpejam sempurna. Belum lagi, alat bantu pernapasan juga terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Ada lagi, beberapa kabel yang menempel di tubuh Aini dan terhubung ke alat yang ada di dekatnya.
Jangan lupakan, dua kantong infus yang yang tergantung dan terhubung ke tubuhnya. Dan juga, beberapa bekas kemerahan yang masih telihat cukup jelas di wajah dan tangannya.
"Bunda!" Rintih Umar dan Kenzo bersamaan.
Hati dua anak laki-laki itu benar-benar sedih saat ini. Mereka tak mengira, kondisi Aini seburuk itu. Mereka bahkan menitikan air mata dan mulai menangis karena terlalu sedih setelah melihat kondisi Aini.
Ardi, Rama, Niken dan Gilang berusaha menenangkan mereka bersama-sama. Karena jelas, akan mengganggu pengunjung lain jika sampai mereka tak segera berhenti menangis.
"Menangislah sekarang! Karena setelah ini, kalian tak boleh menangis lagi! Kalian harus mendo'akan bunda agar segera sadar dan pulih. Kalian juga harus menjaga bunda lebih baik lagi nantinya, agar bunda tidak mengalami hal serupa." Nasehat Ardi, pada dua anak laki-laki yang ada di pelukannya.
Dua anak laki-laki itu, seketika berhenti menangis. Mereka segera membersihkan sisa airmata di wajah mereka.
"Siapa yang melakukan itu pada bunda, Pa" Tanya Kenzo segera.
"Iya, Pa. Siapa?" Timpal Umar.
"Ada. Beberapa orang jahat. Kalian tak perlu tahu siapa mereka. Tugas kalian, adalah menjaga bunda dan membuat bunda lebih bahagia nantinya. Agar bunda lekas pulih." Jawab Ardi, dengan pikiran yang melayang jauh pada orang-orang yang telah menyakiti Aini.
"Tentu, Pa." Jawab Umar dan Kenzo yakin.
Ardi tersenyum melihat kesanggupan dua putranya. Ia bahagia, Kenzo bisa menerima kabar itu tanpa adanya hal buruk yang mengikutinya.
"Kalian di sini dulu dengan opa dan oma! Papa mau bicara dengan om dika dan om Reno." Pamit Ardi cepat.
"Iya, Pa."
Ardi segera berdiri dan menghampiri Dika dan Reno. Mereka lantas berjalan keluar dan menjauh dari ruang tunggu ICU. Mereka mencari tempat yang sedikit sepi.
"Jemput mereka dengan halus!" Pinta Ardi tegas.
"Baik, Pak." Paham Dika.
"Apa sudah ada hasil dari interogasinya?" Tanya Ardi datar.
__ADS_1
"Sudah, Pak." Jawab Reno yakin.
"Mereka mengatakan, bahwa bu Aini,,,,"